Oleh: Fransiskus Borgias M (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Mal.3:1-4; 4:5-6; Mzm.25:4b-5b.8-9.10.14; Luk.1:57-66.
Hari ini hari kedua puluh lima Adven. Pada hari ini ada Peringatan St.Yohanes dr Kety. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini, mengisahkan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada rangkaian mukjizat dalam kisah ini. Pertama, mukjizat kelahiran itu sendiri. Kedua, mukjizat kelahiran pada hari tua. Orang yang sekian lama dianggap mandul kini melahirkan anak. Mandul pada jaman itu dianggap kutukan. Maka kelahiran adalah berkat dan rahmat Allah yang berlimpah. Ketiga, mukjizat mengenai nama anak itu. Ibunya memberi nama Yohanes. Ternyata nama itu juga yang diberikan ayah kepadanya yang ditulisnya pada batu tulis. Keempat, setelah menuliskan nama itu, terlepaslah “rantai” yang mengikat lidah Zakharia sehingga ia berbicara lagi. Lidah yang sekian lama bisu sejak di bait Allah, kini dapat berbicara lagi ketika anak lahir. Mengalirlah dari mulut dan lidah yang sekian lama kelu sebuah kidung pujian yang amat terkenal dalam tradisi Gereja Barat dan dipakai pada doa pagi (Laudes). Kidung ini pun punya nama teknis dalam bahasa Latin, Benedictus. Tentu rangkaian tanda ajaib itu serta merta membuat orang terheran-heran dan bertanya-tanya: siapa gerangan anak ini? Pasti anak ini anak ajaib. Mengapa? Karena “tangan Tuhan menyertai dia.” Mereka sudah bisa menduga, bahwa tanda ajaib yang menandai kelahirannya menyimpan sesuatu tentang masa depan anak itu. Sekarang belum kelihatan, tetapi nanti akan menjadi nyata dan terang benderang.
Selasa, 22 Desember 2009
Senin, 21 Desember 2009
SELASA, 22 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:24-28; MT 1Sam.2:1.4-5.6-7.8abcd; Luk.1:46-56.
Hari ini hari keduapuluh empat Adven. Natal sudah dekat. Mari kita bersihkan hati kita lagi dan lagi. Injil hari ini, juga sangat terkenal karena ini adalah kidung Maria atau Magnificat itu. Lagu ini adalah reaksi Maria ketika ia mendengar dan melihat lonjakan kegirangan dari Elisabet. Teks ini terkenal karena teks ini, dalam Gereja Barat, dipakai pada Ibadat Sore (Vesper). Ini adalah sebuah kidung jemaat gereja purba. Dan ini adalah yang pertama dari keempat kidung serupa dalam gereja purba menurut Lukas. Ada beberapa hal penting yang bisa dikemukakan tentang teks ini. Pertama, teks ini mendasarkan diri dengan kuat pada Abraham, karena nama beliau disebut di sana begitu juga para leluhur yang lainnya (disinggung secara sekilas). Lagu ini mempunyai ciri-corak Yahudi-Kristiani yang sangat kuat dan kental. Kedua, teks ini sering sekali dipandang sebagai model teks dengan tema pembalikan (tema subversif dalam artian paling dasar dari kata itu). Dan tema itu sebenarnya mengikuti tema pembalikan yang sama dalam Perjanjian Lama (1Sam.2:1-10), tetapi tema perjanjian lama itu dimodifikasi di sini. Tetapi inti pewartaannya kurang lebih sama. Mereka yang menindas, sekarang ini akan dijungkir-balikkan. Orang yang hina-dina akan diangkat dan dijunjung tinggi. Orang yang lapar akan dikenyangkan. Sebaliknya mereka yang kini kenyang akan disuruh pergi dengan tangan kosong. Tema pembalikan itu tidak boleh hanya berhenti pada level wacana belaka, melainkan harus menjadi sebuah praksis, sebuah perbuatan, yaitu praksis pembebasan, praksis emansipasi. Itulah yang sebenarnya menjadi motivasi dasar dari teks itu sendiri.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF UNPAR BANDUNG
BcE. 1Sam.1:24-28; MT 1Sam.2:1.4-5.6-7.8abcd; Luk.1:46-56.
Hari ini hari keduapuluh empat Adven. Natal sudah dekat. Mari kita bersihkan hati kita lagi dan lagi. Injil hari ini, juga sangat terkenal karena ini adalah kidung Maria atau Magnificat itu. Lagu ini adalah reaksi Maria ketika ia mendengar dan melihat lonjakan kegirangan dari Elisabet. Teks ini terkenal karena teks ini, dalam Gereja Barat, dipakai pada Ibadat Sore (Vesper). Ini adalah sebuah kidung jemaat gereja purba. Dan ini adalah yang pertama dari keempat kidung serupa dalam gereja purba menurut Lukas. Ada beberapa hal penting yang bisa dikemukakan tentang teks ini. Pertama, teks ini mendasarkan diri dengan kuat pada Abraham, karena nama beliau disebut di sana begitu juga para leluhur yang lainnya (disinggung secara sekilas). Lagu ini mempunyai ciri-corak Yahudi-Kristiani yang sangat kuat dan kental. Kedua, teks ini sering sekali dipandang sebagai model teks dengan tema pembalikan (tema subversif dalam artian paling dasar dari kata itu). Dan tema itu sebenarnya mengikuti tema pembalikan yang sama dalam Perjanjian Lama (1Sam.2:1-10), tetapi tema perjanjian lama itu dimodifikasi di sini. Tetapi inti pewartaannya kurang lebih sama. Mereka yang menindas, sekarang ini akan dijungkir-balikkan. Orang yang hina-dina akan diangkat dan dijunjung tinggi. Orang yang lapar akan dikenyangkan. Sebaliknya mereka yang kini kenyang akan disuruh pergi dengan tangan kosong. Tema pembalikan itu tidak boleh hanya berhenti pada level wacana belaka, melainkan harus menjadi sebuah praksis, sebuah perbuatan, yaitu praksis pembebasan, praksis emansipasi. Itulah yang sebenarnya menjadi motivasi dasar dari teks itu sendiri.
SENIN, 21 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG.
BcE. Kid.2:8-14 (Zef.3:14-18a); Mzm.33:2-3.11-12.20-21; Luk.1:39-45.
Hari ini hari kedua puluh tiga Adven. Natal semakin mendekat. Mari kita mempersiapkan diri dengan semakin baik. Injil hari ini, mengisahkan sebuah kisah terkenal yaitu kunjungan Maria kepada Elisabet. Terkenal karena di sini dikisahkan kisah perjumpaan yang penuh pesona antara Maria dan Elisabet. Terkenal karena di sini terdapat sepenggal kalimat yang sering dipakai umat Katolik dalam doa Salam Maria. Terkenal karena di sini muncul teologi rahim, teologi khas perempuan. Terkenal karena di sini muncul teologi solidaritas, teologi ikatan keluarga yang amat indah dan penuh daya pesona, teologi komunitas, teologi relasi. Kunjungan Maria mungkin tidak diduga oleh Elisabet. Tetapi Maria terdorong datang karena diberitahu malaekat bahwa Elisabet mengandung dan kini sudah bulan keenam. Ia dalam penantian menyongsong kelahiran bayi pertama, di masa tua. Bisa dibayangkan, ia rindu pendampingan dari orang tercinta. Tidak mengherankan ketika salam Maria, sang kerabat dekat, terdengar Elisabet sangat bergembira. Bahkan kegembiraan itu turut dirasakan oleh bayi dalam rahimnya. Hal ini dinyatakan Lukas dua kali. Jadi, betapa itu amat penting. Teologi keluarga, teologi ikatan keluarga muncul di sini. Bahkan teologi moral hidup juga ada di sini: Bahwa bayi dalam kandungan pun sudah bisa berkomunikasi dan bisa mengkomunikasikan diri dengan caranya sendiri yang hanya bisa dirasakan oleh para ibu. Maka jangan pernah melakukan aborsi karena mereka sudah ada, sudah bisa berelasi, bisa berkomunikasi, bisa membentuk satu komunitas, komunitas rahim, komunitas kerahiman. Semoga renungan ini bisa membawa perspektif dan kesadaran baru bagi kita.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG.
BcE. Kid.2:8-14 (Zef.3:14-18a); Mzm.33:2-3.11-12.20-21; Luk.1:39-45.
Hari ini hari kedua puluh tiga Adven. Natal semakin mendekat. Mari kita mempersiapkan diri dengan semakin baik. Injil hari ini, mengisahkan sebuah kisah terkenal yaitu kunjungan Maria kepada Elisabet. Terkenal karena di sini dikisahkan kisah perjumpaan yang penuh pesona antara Maria dan Elisabet. Terkenal karena di sini terdapat sepenggal kalimat yang sering dipakai umat Katolik dalam doa Salam Maria. Terkenal karena di sini muncul teologi rahim, teologi khas perempuan. Terkenal karena di sini muncul teologi solidaritas, teologi ikatan keluarga yang amat indah dan penuh daya pesona, teologi komunitas, teologi relasi. Kunjungan Maria mungkin tidak diduga oleh Elisabet. Tetapi Maria terdorong datang karena diberitahu malaekat bahwa Elisabet mengandung dan kini sudah bulan keenam. Ia dalam penantian menyongsong kelahiran bayi pertama, di masa tua. Bisa dibayangkan, ia rindu pendampingan dari orang tercinta. Tidak mengherankan ketika salam Maria, sang kerabat dekat, terdengar Elisabet sangat bergembira. Bahkan kegembiraan itu turut dirasakan oleh bayi dalam rahimnya. Hal ini dinyatakan Lukas dua kali. Jadi, betapa itu amat penting. Teologi keluarga, teologi ikatan keluarga muncul di sini. Bahkan teologi moral hidup juga ada di sini: Bahwa bayi dalam kandungan pun sudah bisa berkomunikasi dan bisa mengkomunikasikan diri dengan caranya sendiri yang hanya bisa dirasakan oleh para ibu. Maka jangan pernah melakukan aborsi karena mereka sudah ada, sudah bisa berelasi, bisa berkomunikasi, bisa membentuk satu komunitas, komunitas rahim, komunitas kerahiman. Semoga renungan ini bisa membawa perspektif dan kesadaran baru bagi kita.
SABTU, 19 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Hak.13:2-7.24-25a; Mzm.71:3-4a.5-6ab.16-17; Luk.1:5-25.
Hari ini hari Kedua puluh satu Adven. Peristiwa kedatangan Tuhan Yesus semakin mendekat dan mendekat. Injil hari ini, mengisahkan sesuatu yang sangat indah dan menarik bagi kita. Ada dua adegan penting yang dibentangkan di sini. Pertama, adegan Zakharia menjalankan tugasnya untuk mempersembahkan korban di Bait Allah dan masuk ke dalam Kudus Mukadas di Yerusalem. Dalam peristiwa itulah terjadi sebuah visiun kepada Zakharia. Berbeda dengan Maria kemudian, Zakharia tidak percaya akan kabar baik dari malaekat itu. Hal itu wajar saja, sebab baik dirinya maupun isterinya (Elisabet) sudah tua. Jadi, tidak ada harapan lagi untuk dapat mengandung. Kabar kehamilan oleh injil disebut kabar baik (injil). Itu pesan paling fundamental dari injil hari ini terutama di tengah kebudayaan yang menurut istilah Paus Yohanes Paulus II, sangat menekankan the culture of death (kultur kematian) dari pada the culture of life and the culture of love and peace (kultur kehidupan, kultur cinta kasih dan perdamaian). Karena Zakharia tidak percaya maka ia pun menjadi bisu yang akan berlangsung sampai kelahiran anaknya. Kiranya pesan injil ini sangat jelas: Tidak ada alasan untuk berhenti berharap pada tindakan dan campur tangan Allah dalam hidup kita ini. Akan selalu ada saat-saat di mana Allah akan bertindak dalam hidup manusia menurut cara-cara dan ukuran-ukuran yang tidak terduga-duga sama sekali. Itulah yang terjadi atas hidup Zakaria dan Elisabet. Di masa tuanya mereka mengalami perbuatan agung Tuhan, mengalami hesed Allah, kasih setia Allah.
PENELITI CCRS (CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Hak.13:2-7.24-25a; Mzm.71:3-4a.5-6ab.16-17; Luk.1:5-25.
Hari ini hari Kedua puluh satu Adven. Peristiwa kedatangan Tuhan Yesus semakin mendekat dan mendekat. Injil hari ini, mengisahkan sesuatu yang sangat indah dan menarik bagi kita. Ada dua adegan penting yang dibentangkan di sini. Pertama, adegan Zakharia menjalankan tugasnya untuk mempersembahkan korban di Bait Allah dan masuk ke dalam Kudus Mukadas di Yerusalem. Dalam peristiwa itulah terjadi sebuah visiun kepada Zakharia. Berbeda dengan Maria kemudian, Zakharia tidak percaya akan kabar baik dari malaekat itu. Hal itu wajar saja, sebab baik dirinya maupun isterinya (Elisabet) sudah tua. Jadi, tidak ada harapan lagi untuk dapat mengandung. Kabar kehamilan oleh injil disebut kabar baik (injil). Itu pesan paling fundamental dari injil hari ini terutama di tengah kebudayaan yang menurut istilah Paus Yohanes Paulus II, sangat menekankan the culture of death (kultur kematian) dari pada the culture of life and the culture of love and peace (kultur kehidupan, kultur cinta kasih dan perdamaian). Karena Zakharia tidak percaya maka ia pun menjadi bisu yang akan berlangsung sampai kelahiran anaknya. Kiranya pesan injil ini sangat jelas: Tidak ada alasan untuk berhenti berharap pada tindakan dan campur tangan Allah dalam hidup kita ini. Akan selalu ada saat-saat di mana Allah akan bertindak dalam hidup manusia menurut cara-cara dan ukuran-ukuran yang tidak terduga-duga sama sekali. Itulah yang terjadi atas hidup Zakaria dan Elisabet. Di masa tuanya mereka mengalami perbuatan agung Tuhan, mengalami hesed Allah, kasih setia Allah.
JUM'AT, 18 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.23:5-8; Mzm.72:2.12-13.18-19; Mat.1:18-24.
Hari ini hari kedua puluh Adven. Injil hari ini, mengisahkan sesuatu yang sangat indah yaitu kabar gembira dari malaekat Gabriel kepada Yusuf. Jadi, yang mendapat kabar gembira itu tidak hanya Maria, melainkan juga Yusuf. Dalam sebuah visiun (mimpi sebagai sarana wahyu) Gabriel meneguhkan hati Yusuf agar ia tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. Mengapa? Karena anak yang ada dalam rahim Maria itu berasal dari Roh Kudus yang akan menjadi penyelamat umat dari dosa (Yeshuha). Dengan mengutip Yesaya, Matius menetapkan pada awal injilnya bahwa Allah akan senantiasa menyertai kita, Immanuel. Hal itu akan menjadi warta pokok Matius, sebab imanuel itu nanti masih akan muncul di bagian akhir injilnya. Dan yang terpenting ialah keputusan Yusuf yang karena peneguhan dari Malaekat lalu mengambil Maria menjadi isterinya. Yusuf, seorang yang saleh hatinya, bersedia menerima Maria yang sedang mengandung Yesus (keselamatan dari Allah bagi umat) dalam rahimnya. Dengan cara itu Yusuf menjadi sang pelindung Yesus, sang penebus. Itulah sebabnya tradisi Katolik memberi Yusuf sebuah gelar terhormat sebagai pelindung sang Penebus, Protector Redemptoris. Fiat Maria dalam Lukas, diimbangi oleh Matius di sini dengan semacam fiat Yusuf. Kedua fiat itu menjadi model perilaku hidup beriman bagi kita sekalian.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.23:5-8; Mzm.72:2.12-13.18-19; Mat.1:18-24.
Hari ini hari kedua puluh Adven. Injil hari ini, mengisahkan sesuatu yang sangat indah yaitu kabar gembira dari malaekat Gabriel kepada Yusuf. Jadi, yang mendapat kabar gembira itu tidak hanya Maria, melainkan juga Yusuf. Dalam sebuah visiun (mimpi sebagai sarana wahyu) Gabriel meneguhkan hati Yusuf agar ia tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. Mengapa? Karena anak yang ada dalam rahim Maria itu berasal dari Roh Kudus yang akan menjadi penyelamat umat dari dosa (Yeshuha). Dengan mengutip Yesaya, Matius menetapkan pada awal injilnya bahwa Allah akan senantiasa menyertai kita, Immanuel. Hal itu akan menjadi warta pokok Matius, sebab imanuel itu nanti masih akan muncul di bagian akhir injilnya. Dan yang terpenting ialah keputusan Yusuf yang karena peneguhan dari Malaekat lalu mengambil Maria menjadi isterinya. Yusuf, seorang yang saleh hatinya, bersedia menerima Maria yang sedang mengandung Yesus (keselamatan dari Allah bagi umat) dalam rahimnya. Dengan cara itu Yusuf menjadi sang pelindung Yesus, sang penebus. Itulah sebabnya tradisi Katolik memberi Yusuf sebuah gelar terhormat sebagai pelindung sang Penebus, Protector Redemptoris. Fiat Maria dalam Lukas, diimbangi oleh Matius di sini dengan semacam fiat Yusuf. Kedua fiat itu menjadi model perilaku hidup beriman bagi kita sekalian.
Minggu, 20 Desember 2009
MINGGU, 14 FEBRUARI 2010
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.17:5-8; Mzm.1:1-2,3,4,6; 1Kor.15:12,16-20; Luk.6:17,20-26.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang kotbah Yesus di tempat datar (beda dengan Matius, kotbah di bukit yang terkenal itu). Setelah pengantar singkat dalam ayat 17, injil dilanjutkan dengan Ucapan bahagia dan celaka. Di sana muncul empat kali kata “berbahagialah” dan satu kali kata “bersukacitalah” dan “bergembiralah.” Menarik bahwa alasan “berbahagia” itu diletakkan di masa depan, sesuatu yang mungkin kontras dengan pengalaman kini. Di sini Yesus mengajar kita untuk hidup dalam perspektif masa depan dan tidak hanya terkelabu oleh perangkap bentuk dan pengalaman hidup masa kini. Kita tidak boleh hanya hidup dari dan berdasarkan perspektif masa kini, walau kita hidup sekarang dan di sini. Ini pelajaran penting pertama. Kita perhatikan bahwa Yesus memakai kata “celakalah” sebanyak empat kali. Sabda celaka itu dikaitkan dengan pengalaman dan realitas hidup masa kini. Sebagaimana halnya dalam kata-kata pertama yang serba positif dan optimistik, demikian juga dalam pilihan kata-kata bagian ini menjadi cukup jelas, yaitu menetapkan arah orientasi hidup. Hidup harus dihayati dan diarungi dalam konteks bentangan masa depan. Orang jangan sampai hanya terjebak oleh terpaan arus peradaban modern belaka yang menawarkan banyak kemudahan dan kemewahan yang membuat mata kepala dan mata hati orang tertutup. Sabda celaka injil ini sudah terdengar gema awalnya dalam Bac.I. Di sana dikontraskan dua cara hidup: cara hidup yang mengandalkan Allah dan hidup yang mengandalkan manusia. Yang terdahulu dikatakan “Diberkatilah”. Yang kemudian dikatakan “Terkutuklah.” Masing-masing cara hidup itu ditampilkan dengan ibarat yang menarik. Yang satu diibaratkan pohon yang hidup di gurun kering. Yang lain diibaratkan pohon yang hidup di tepi sungai. Yang satu kerdil, yang lain subur. Tinggal kita memilih mau menjadi seperti yang mana? Injil membentangkan hidup dalam perspektif masa depan. Konkretnya perspektif masa depan itu ialah kepercayaan akan kebangkitan. Itulah yang dibicarakan dalam Bac.II. Kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF UNPAR BANDUNG
BcE. Yer.17:5-8; Mzm.1:1-2,3,4,6; 1Kor.15:12,16-20; Luk.6:17,20-26.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang kotbah Yesus di tempat datar (beda dengan Matius, kotbah di bukit yang terkenal itu). Setelah pengantar singkat dalam ayat 17, injil dilanjutkan dengan Ucapan bahagia dan celaka. Di sana muncul empat kali kata “berbahagialah” dan satu kali kata “bersukacitalah” dan “bergembiralah.” Menarik bahwa alasan “berbahagia” itu diletakkan di masa depan, sesuatu yang mungkin kontras dengan pengalaman kini. Di sini Yesus mengajar kita untuk hidup dalam perspektif masa depan dan tidak hanya terkelabu oleh perangkap bentuk dan pengalaman hidup masa kini. Kita tidak boleh hanya hidup dari dan berdasarkan perspektif masa kini, walau kita hidup sekarang dan di sini. Ini pelajaran penting pertama. Kita perhatikan bahwa Yesus memakai kata “celakalah” sebanyak empat kali. Sabda celaka itu dikaitkan dengan pengalaman dan realitas hidup masa kini. Sebagaimana halnya dalam kata-kata pertama yang serba positif dan optimistik, demikian juga dalam pilihan kata-kata bagian ini menjadi cukup jelas, yaitu menetapkan arah orientasi hidup. Hidup harus dihayati dan diarungi dalam konteks bentangan masa depan. Orang jangan sampai hanya terjebak oleh terpaan arus peradaban modern belaka yang menawarkan banyak kemudahan dan kemewahan yang membuat mata kepala dan mata hati orang tertutup. Sabda celaka injil ini sudah terdengar gema awalnya dalam Bac.I. Di sana dikontraskan dua cara hidup: cara hidup yang mengandalkan Allah dan hidup yang mengandalkan manusia. Yang terdahulu dikatakan “Diberkatilah”. Yang kemudian dikatakan “Terkutuklah.” Masing-masing cara hidup itu ditampilkan dengan ibarat yang menarik. Yang satu diibaratkan pohon yang hidup di gurun kering. Yang lain diibaratkan pohon yang hidup di tepi sungai. Yang satu kerdil, yang lain subur. Tinggal kita memilih mau menjadi seperti yang mana? Injil membentangkan hidup dalam perspektif masa depan. Konkretnya perspektif masa depan itu ialah kepercayaan akan kebangkitan. Itulah yang dibicarakan dalam Bac.II. Kalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.
MINGGU, 07 FEBRUARI 2010
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. Yes.6:1-2a,3-8; Mzm.138:1-2a,2bc-3,4-5,7c-8; 1Kor.15:1-11; Luk.5:1-11.
Injil hari ini mengisahkan pemanggilan para murid dari pekerjaan mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala manusia. Setelah mengajar di tepi pantai, Yesus menyuruh Simon agar “duc in altum” untuk menangkap ikan. Petrus berkata bahwa mereka sudah tangkap ikan semalaman tetapi gagal. Kini Petrus mencoba melakukan lagi hal itu karena perintah Yesus. Hasilnya, luar biasa. Hal itu menyebabkan Petrus merasa kecil dan berdosa di hadapan Yesus. Jawaban Yesus mendatangkan perubahan transformatif besar dalam hidup Simon dkk: Mereka diubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Sejak itu, mereka meninggalkan segala sesuatu lalu mengikut Yesus. Sebagaimana dalam injil kita mendengar “panggilan” Petrus dkk, demikian juga dalam Bac.I kita membaca kisah lain, yaitu panggilan Yesaya. Lewat peristiwa visiun dramatis di Bait Allah, Yesaya dipilih, dipanggil dan diutus untuk melaksanakan perintah Allah. Dalam injil peristiwa pemanggilan itu didahului mukjizat yang memurnikan motivasi, demikian juga dalam Bac.I ini panggilan dan penugasan Yesaya didahulu peristiwa ajaib. Dalam injil pemanggilan itu dilanjutkan dengan penugasan, demikian juga di sini pemanggilan Yesaya dilanjutkan dengan penugasan. Bedanya Yesaya menyatakan eksplisit persetujuannya atas penugasan itu sedangkan Simon dkk tidak eksplisit menyatakan hal itu, hanya secara simbolis. Bac.II hari ini mengemukakan sisi lain dari panggilan itu: Bahwa panggilan itu tidak terutama ditentukan oleh disposisi hidup batin seseorang. Apapun disposisi orang itu, kalau Allah memutuskan untuk memilih dan menetapkan orang itu menjadi alatNya, maka hal itu akan terjadi. Itulah yang terjadi dengan kisah Paulus. Ia yang tadinya penganiaya jemaat, kini menjadi pewarta ulung dan tangguh. Itu semua terjadi karena rahmat dan kasih setia Allah semata-mata.
BcE. Yes.6:1-2a,3-8; Mzm.138:1-2a,2bc-3,4-5,7c-8; 1Kor.15:1-11; Luk.5:1-11.
Injil hari ini mengisahkan pemanggilan para murid dari pekerjaan mereka sebagai penjala ikan menjadi penjala manusia. Setelah mengajar di tepi pantai, Yesus menyuruh Simon agar “duc in altum” untuk menangkap ikan. Petrus berkata bahwa mereka sudah tangkap ikan semalaman tetapi gagal. Kini Petrus mencoba melakukan lagi hal itu karena perintah Yesus. Hasilnya, luar biasa. Hal itu menyebabkan Petrus merasa kecil dan berdosa di hadapan Yesus. Jawaban Yesus mendatangkan perubahan transformatif besar dalam hidup Simon dkk: Mereka diubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Sejak itu, mereka meninggalkan segala sesuatu lalu mengikut Yesus. Sebagaimana dalam injil kita mendengar “panggilan” Petrus dkk, demikian juga dalam Bac.I kita membaca kisah lain, yaitu panggilan Yesaya. Lewat peristiwa visiun dramatis di Bait Allah, Yesaya dipilih, dipanggil dan diutus untuk melaksanakan perintah Allah. Dalam injil peristiwa pemanggilan itu didahului mukjizat yang memurnikan motivasi, demikian juga dalam Bac.I ini panggilan dan penugasan Yesaya didahulu peristiwa ajaib. Dalam injil pemanggilan itu dilanjutkan dengan penugasan, demikian juga di sini pemanggilan Yesaya dilanjutkan dengan penugasan. Bedanya Yesaya menyatakan eksplisit persetujuannya atas penugasan itu sedangkan Simon dkk tidak eksplisit menyatakan hal itu, hanya secara simbolis. Bac.II hari ini mengemukakan sisi lain dari panggilan itu: Bahwa panggilan itu tidak terutama ditentukan oleh disposisi hidup batin seseorang. Apapun disposisi orang itu, kalau Allah memutuskan untuk memilih dan menetapkan orang itu menjadi alatNya, maka hal itu akan terjadi. Itulah yang terjadi dengan kisah Paulus. Ia yang tadinya penganiaya jemaat, kini menjadi pewarta ulung dan tangguh. Itu semua terjadi karena rahmat dan kasih setia Allah semata-mata.
Langganan:
Postingan (Atom)
