Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:22-28; Mzm.98:1,2-3ab,3cd-4; Yoh.1:19-28.
Hari ini Peringatan wajib St.Basilius Agung dan Gregorius Naziansus. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Hari ini juga Pesta Nama Yesus Yang Tersuci. Mari kita hormati nama Tersuci itu. Injil hari ini berbicara tentang kesaksian Yohanes tentang dirinya. Yohanes tampil memukau. Orang pun bertanya kepadanya mengenai identitasnya. Ia menjawab dengan jujur: ia bukan Mesias. Ia hanya pembuka jalan bagi Mesias yang masih akan datang. Ia mengidentifikasi diri dengan mengutip nabi Yesaya: Akulah suara yang berseru-seru di padang gurun untuk meluruskan jalan bagi Tuhan. Muncul pertanyaan lanjutan mengenai hakekat pembaptisan yang diberikan Yohanes. Sebab mereka mempersoalkan baptisan Yohanes itu, kalau ia bukan Mesias. Sekali lagi di sini Yohanes memberikan penjelasan singkat mengenai pembaptisannya: pembaptisan yang ia berikan adalah pembaptisan dengan air. Di sini kita melihat bagaimana Yohanes menempatkan diri pada tempatnya yang sepatutnya yaitu di bawah Mesias yang akan datang. Pelajaran moral yang dapat ditarik dari sini ialah sbb: Yohanes memberi kita sebuah teladan agung mengenai martabat seorang utusan. Seorang utusan harus berbicara bukan tentang dirinya melainkan tentang Dia yang baginya ia disuruh untuk menjadi pelopor, berjalan mendahului. Jangan sampai terjadi bahwa pelopor menjadi lebih besar dari yang dipelopori. Kita harus belajar satu spiritualitas kerendahan hati dari Yohanes, sebab dari dialah muncul ucapan terkenal ini: Ia harus semakin besar, dan aku harus semakin kecil. Ya, Yesus harus semakin lebih besar dalam diri dan kehidupan kita, dan diri kita harus menjadi semakin kecil. Dengan demikian kita dapat menjadi Kristiani, menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Senin, 04 Januari 2010
KAMIS, 31 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:18-21; Mzm.96:1-2,11-12.13; Yoh.1:1-18.
Hari ini hari ketujuh oktaf natal. Hari ini juga Peringatan fakultatif, St.Silvester I, Paus. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini amat terkenal; diambil dari pembukaan (prolog) injil Yohanes. Kalau dibaca sekilas, ada tiga bagian besar yang ditampilkan dalam injil hari ini. Pertama, Yohanes berbicara mengenai martabat Firman. Martabat itu sangat luar biasa, karena Firman itu sudah ada pada awal mula. Bahkan Firman itu ada pada Allah, dan juga adalah Allah. Firman itu ikut ambil bagian dalam karya penciptaan pada awal mula. Betapa luar biasanya martabat firman itu. Firman itu hadir di dunia ini sebagai cahaya (terang). Kedua, Yohanes berbicara tentang seseorang yang bernama Yohanes. Yohanes ini datang sebagai saksi bagi terang itu. Ia bukan terang itu. Kesaksian Yohanes ini penting, karena melalui kesaksian dia diharapkan semua orang bisa menjadi percaya. Ketiga, injil berbicara tentang misteri penjelmaan Firman yang pada awal mula itu ada pada Allah. Firman itu dikatakan menjadi manusia. Itulah misteri inkarnasi, verbum caro factum est. Yohanes bersaksi tentang datang dan kehadiran sang Firman yang menjadi manusia ini. Di sini dilukiskan juga mengenai martabat luhur sang firman itu. Kita menerima anugerah demi anugerah dari Dia dan oleh karena kehadirannNya. Yohanes juga berteologi tentang prioritas Yesus di atas Musa. Kalau melalui Musa kita menerima hukum Taurat, melalui Yesus Kristus kita menerima anugerah dan kebenaran. Semoga kita layak menerima dan menghayati martabat baru ini sebagai para pengikut Yesus Kristus, yakni hidup dalam cahaya, dan pada gilirannya menjadi cahaya itu sendiri.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:18-21; Mzm.96:1-2,11-12.13; Yoh.1:1-18.
Hari ini hari ketujuh oktaf natal. Hari ini juga Peringatan fakultatif, St.Silvester I, Paus. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini amat terkenal; diambil dari pembukaan (prolog) injil Yohanes. Kalau dibaca sekilas, ada tiga bagian besar yang ditampilkan dalam injil hari ini. Pertama, Yohanes berbicara mengenai martabat Firman. Martabat itu sangat luar biasa, karena Firman itu sudah ada pada awal mula. Bahkan Firman itu ada pada Allah, dan juga adalah Allah. Firman itu ikut ambil bagian dalam karya penciptaan pada awal mula. Betapa luar biasanya martabat firman itu. Firman itu hadir di dunia ini sebagai cahaya (terang). Kedua, Yohanes berbicara tentang seseorang yang bernama Yohanes. Yohanes ini datang sebagai saksi bagi terang itu. Ia bukan terang itu. Kesaksian Yohanes ini penting, karena melalui kesaksian dia diharapkan semua orang bisa menjadi percaya. Ketiga, injil berbicara tentang misteri penjelmaan Firman yang pada awal mula itu ada pada Allah. Firman itu dikatakan menjadi manusia. Itulah misteri inkarnasi, verbum caro factum est. Yohanes bersaksi tentang datang dan kehadiran sang Firman yang menjadi manusia ini. Di sini dilukiskan juga mengenai martabat luhur sang firman itu. Kita menerima anugerah demi anugerah dari Dia dan oleh karena kehadirannNya. Yohanes juga berteologi tentang prioritas Yesus di atas Musa. Kalau melalui Musa kita menerima hukum Taurat, melalui Yesus Kristus kita menerima anugerah dan kebenaran. Semoga kita layak menerima dan menghayati martabat baru ini sebagai para pengikut Yesus Kristus, yakni hidup dalam cahaya, dan pada gilirannya menjadi cahaya itu sendiri.
RABU, 30 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:12-17; Mzm.96:7-8a.8b-0.10; Luk.2:36-40.
Hari ini hari keenam Oktaf Natal. Injil hari ini mengisahkan salah satu adegan menarik di Bait Allah ketika Yesus dipersembahkan di sana oleh orang tuaNya. Di Bait Allah itu ada dua orang istimewa: Simeon dan Hana. Hari ini kita secara khusus melihat pelukisan mengenai Hana. Ia nabiah (nabi perempuan). Mungkin baik juga kita lihat pelukisan rinci mengenai nabiah ini. Usianya sudah lanjut. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah. Siang dan malam selalu beribadah dengan berdoa dan berpuasa. Bersama Simeon, mereka menjadi model orang yang hidup sepenuhnya dalam kehadiran Allah yang mahakuasa. Hidup sepenuhnya tergantung dan percaya kepada Allah. Sebagaimana halnya Simeon, Hana juga berkidung tentang Anak itu. Hanya kita tidak mempunyai warisan kidung Hana. Tetapi pada kesempatan lain secara imajinatif kiranya kita bisa membuatnya. Inti kidung Hana itu ialah ucapan syukur kepada Allah, dan pelukisan rinci mengenai Anak Ajaib itu. Yang jelas, secara tersirat Hana mengkaitkan kehadiran Anak itu dengan kelepasan Yerusalem. Selanjutnya dikatakan bahwa setelah selesai dengan semua upacara di bait Allah itu, Yesus bersama kedua orang tuaNya kembali ke Nazaret. Kiranya pelajaran moral yang dapat kita tarik dari injil hari ini sangat jelas. Yaitu hidup sepenuhnya dalam kehadiran Allah, menantikan kerajaan Allah. Hidup sepenuhnya tergantung pada Allah dan bukan pada diri sendiri. Dan tepat pada waktunya, mata harus tetap terbuka agar dapat melihat datang dan kehadiran Anak Ajaib yang berasal dari Allah itu.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:12-17; Mzm.96:7-8a.8b-0.10; Luk.2:36-40.
Hari ini hari keenam Oktaf Natal. Injil hari ini mengisahkan salah satu adegan menarik di Bait Allah ketika Yesus dipersembahkan di sana oleh orang tuaNya. Di Bait Allah itu ada dua orang istimewa: Simeon dan Hana. Hari ini kita secara khusus melihat pelukisan mengenai Hana. Ia nabiah (nabi perempuan). Mungkin baik juga kita lihat pelukisan rinci mengenai nabiah ini. Usianya sudah lanjut. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah. Siang dan malam selalu beribadah dengan berdoa dan berpuasa. Bersama Simeon, mereka menjadi model orang yang hidup sepenuhnya dalam kehadiran Allah yang mahakuasa. Hidup sepenuhnya tergantung dan percaya kepada Allah. Sebagaimana halnya Simeon, Hana juga berkidung tentang Anak itu. Hanya kita tidak mempunyai warisan kidung Hana. Tetapi pada kesempatan lain secara imajinatif kiranya kita bisa membuatnya. Inti kidung Hana itu ialah ucapan syukur kepada Allah, dan pelukisan rinci mengenai Anak Ajaib itu. Yang jelas, secara tersirat Hana mengkaitkan kehadiran Anak itu dengan kelepasan Yerusalem. Selanjutnya dikatakan bahwa setelah selesai dengan semua upacara di bait Allah itu, Yesus bersama kedua orang tuaNya kembali ke Nazaret. Kiranya pelajaran moral yang dapat kita tarik dari injil hari ini sangat jelas. Yaitu hidup sepenuhnya dalam kehadiran Allah, menantikan kerajaan Allah. Hidup sepenuhnya tergantung pada Allah dan bukan pada diri sendiri. Dan tepat pada waktunya, mata harus tetap terbuka agar dapat melihat datang dan kehadiran Anak Ajaib yang berasal dari Allah itu.
SELASA, 29 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:3-11; Mzm.96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk.2:22-35.
Hari ini hari Kelima Oktaf Natal. Hari ini ada Peringatan Fakultatif St.Thomas Becket. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang penyunatan Yesus dan penyerahan Yesus kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem. Orang tua Yesus adalah orang Yahudi yang taat, yang tekun melaksanakan perintah dan ketetapan hukum Taurat bagi anak mereka. Salah satu ketetapan itu ialah bahwa anak sulung harus dipersembahkan kepada Allah. Itulah yang dilakukan orang tua Yesus dalam injil hari ini. Sebagai persembahan mereka bawa burung tekukur atau dua anak merpati. Itulah persembahan kaum miskin, kaum anawim. Injil juga mengisahkan tentang kehadiran Simeon di Bait Allah. Ia adalah orang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan Israel. Ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Simeon dipenuhi Roh Kudus sehingga ia bisa mengetahui kehadiran anak itu dan juga mengetahui siapa anak itu. Karena digerakkan oleh Roh Kudus maka Simeon datang ke Bait Allah. Ketika melihat anak itu, ia merasa sangat bersukacita dan ia pun menggendong anak itu lalu melambungkan doa syukur dan pujian kepada Allah. Ia yang menantikan kehadiran Mesias, merasa bahwa hidupnya sudah terpenuhi, sudah sampai pada puncaknya. Ia merasa ia boleh pergi dalam damai sejahtera karena ia melihat Mesias, keselamatan dari Allah. Kidung ini dipakai dalam tradisi doa gereja Katolik untuk doa malam dan dikenal dengan istilah, Nunc Dimittis. Dalam terang Roh Kudus Simeon berbicara tentang anak itu kelak. Ia akan menjadi tanda perbantahan dunia, menjadi sign of contradiction. Hal itu akan menjadi sesuatu yang berat bagi orang tuanya terutama sang ibu. Itulah sebabnya Simeon berkata: kelak suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG
BcE. 1Yoh.2:3-11; Mzm.96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk.2:22-35.
Hari ini hari Kelima Oktaf Natal. Hari ini ada Peringatan Fakultatif St.Thomas Becket. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini mengisahkan kepada kita tentang penyunatan Yesus dan penyerahan Yesus kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem. Orang tua Yesus adalah orang Yahudi yang taat, yang tekun melaksanakan perintah dan ketetapan hukum Taurat bagi anak mereka. Salah satu ketetapan itu ialah bahwa anak sulung harus dipersembahkan kepada Allah. Itulah yang dilakukan orang tua Yesus dalam injil hari ini. Sebagai persembahan mereka bawa burung tekukur atau dua anak merpati. Itulah persembahan kaum miskin, kaum anawim. Injil juga mengisahkan tentang kehadiran Simeon di Bait Allah. Ia adalah orang benar dan saleh, yang menantikan penghiburan Israel. Ketika Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Simeon dipenuhi Roh Kudus sehingga ia bisa mengetahui kehadiran anak itu dan juga mengetahui siapa anak itu. Karena digerakkan oleh Roh Kudus maka Simeon datang ke Bait Allah. Ketika melihat anak itu, ia merasa sangat bersukacita dan ia pun menggendong anak itu lalu melambungkan doa syukur dan pujian kepada Allah. Ia yang menantikan kehadiran Mesias, merasa bahwa hidupnya sudah terpenuhi, sudah sampai pada puncaknya. Ia merasa ia boleh pergi dalam damai sejahtera karena ia melihat Mesias, keselamatan dari Allah. Kidung ini dipakai dalam tradisi doa gereja Katolik untuk doa malam dan dikenal dengan istilah, Nunc Dimittis. Dalam terang Roh Kudus Simeon berbicara tentang anak itu kelak. Ia akan menjadi tanda perbantahan dunia, menjadi sign of contradiction. Hal itu akan menjadi sesuatu yang berat bagi orang tuanya terutama sang ibu. Itulah sebabnya Simeon berkata: kelak suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.
SENIN, 28 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18.
Hari ini hari keempat Oktaf Natal. Hari ini juga Pesta Kanak-kanak Suci. Injil hari ini berkisah tentang dua hal penting di awal hidup Yesus. Pertama, mengenai pengungsian ke Mesir. Keluarga kudus adalah keluarga pengungsi, keluarga perantau. Mereka mengungsi karena ancaman dan tekanan politik. Jadi, termasuk kategori pengungsi politik. Perhatian terhadap pengungsi sangat penting dalam pastoral kita. Itu sebabnya perlu pastoral Migrant dan perantau seperti dianjurkan Erga Migrantes Caritas Christi. Kedua, mengenai pembantaian anak-anak di Betlehem atas perintah Herodes. Ini peristiwa tragis: anak-anak menjadi korban kekejaman penguasa. Hal itu pasti menimbulkan kesedihan dan ratap tangis yang tidak terhiburkan karena anak, masa depan kehidupan, sudah mati, sudah tiada lagi. Anak-anak harus diberi perlindungan dalam hak-hak azasi mereka. Salah satunya ialah hak hidup. Undang-undang perlindungan anak sangat penting. Itu sebabnya kita bersyukur Negara meratifikasi undang-undang perlindungan anak yang sangat penting bagi masa depan kemanusiaan. Ada beberapa pelajaran moral yang dapat kita tarik dari injil hari ini. Pertama, para pengungsi harus diberi perhatian dan perlindungan sebab hal itu adalah kewajiban mendasar dan bersifat kemanusiaan. Mengapa dikatakan demikian? Itu karena ada kondisi yang terjadi yang berada di luar kehendak korban. Pengungsi adalah korban. Dan di hadapan korban kita harus memperlihatkan rasa cinta kasih dan perhatian. Kedua, dalam konflik politik, semua pihak harus sampai pada kesepakatan moral yang harus dilindungi dan diupayakan bersama yaitu agar menghormati hidup dan masa depan. Kalau hal ini tidak terjadi, maka masa depan terancam rusak, masa depan kemanusiaan pun hancur. Jadi, hal itu sangat penting.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
BcE. 1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18.
Hari ini hari keempat Oktaf Natal. Hari ini juga Pesta Kanak-kanak Suci. Injil hari ini berkisah tentang dua hal penting di awal hidup Yesus. Pertama, mengenai pengungsian ke Mesir. Keluarga kudus adalah keluarga pengungsi, keluarga perantau. Mereka mengungsi karena ancaman dan tekanan politik. Jadi, termasuk kategori pengungsi politik. Perhatian terhadap pengungsi sangat penting dalam pastoral kita. Itu sebabnya perlu pastoral Migrant dan perantau seperti dianjurkan Erga Migrantes Caritas Christi. Kedua, mengenai pembantaian anak-anak di Betlehem atas perintah Herodes. Ini peristiwa tragis: anak-anak menjadi korban kekejaman penguasa. Hal itu pasti menimbulkan kesedihan dan ratap tangis yang tidak terhiburkan karena anak, masa depan kehidupan, sudah mati, sudah tiada lagi. Anak-anak harus diberi perlindungan dalam hak-hak azasi mereka. Salah satunya ialah hak hidup. Undang-undang perlindungan anak sangat penting. Itu sebabnya kita bersyukur Negara meratifikasi undang-undang perlindungan anak yang sangat penting bagi masa depan kemanusiaan. Ada beberapa pelajaran moral yang dapat kita tarik dari injil hari ini. Pertama, para pengungsi harus diberi perhatian dan perlindungan sebab hal itu adalah kewajiban mendasar dan bersifat kemanusiaan. Mengapa dikatakan demikian? Itu karena ada kondisi yang terjadi yang berada di luar kehendak korban. Pengungsi adalah korban. Dan di hadapan korban kita harus memperlihatkan rasa cinta kasih dan perhatian. Kedua, dalam konflik politik, semua pihak harus sampai pada kesepakatan moral yang harus dilindungi dan diupayakan bersama yaitu agar menghormati hidup dan masa depan. Kalau hal ini tidak terjadi, maka masa depan terancam rusak, masa depan kemanusiaan pun hancur. Jadi, hal itu sangat penting.
SABTU, 26 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
BcE. Kis.6:8-10. 7:54-59; Mzm.31:3cd-4.6.8ab.16bc.17; Mat.10:17-22.
Hari ini ada Pesta St.Stefanus. Dia adalah sang Martir Pertama dalam sejarah gereja Katolik. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini berkisah tentang nubuat mengenai penganiayaan yang akan datang dan soal keberanain pengakuan iman akan nama Yesus. Dikatakan bahwa akan terjadi peristiwa tragis di mana para pengikut Kristus akan diseret dan diserahkan ke pengadilan, dan di sana mereka akan disiksa, dicambuk, dianiaya. Dan itu semua terjadi karena pengakuan akan nama Yesus. Menakutkan. Mengerikan. Tetapi sekaligus di sini diberikan sebuah janji penghiburan yang membesarkan hati. Dikatakan bahwa jika hal itu terjadi, para murid tidak usah sibuk atau repot memikirkan kata-kata pembelaan mereka. Mengapa? Karena hal itu akan diberikan secara langsung melalui ilham daya Roh Kudus kepada mereka. Ilham itu akan membuat para penguasa dunia tidak berdaya menghadapi mereka. Tentu saja hal ini secara manusiawi amat menakutkan. Dan hal itu wajar saja. Kita juga tentu saja tidak menghendakinya. Tetapi, suatu saat mungkin hal itu tidak terhindarkan lagi. Suatu saat akan terjadi juga, begitu saja. Kalau hal itu sampai terjadi, dan kita bertekun di dalam iman, maka hal itu akan menentukan mutu iman mereka dan juga sekaligus menentukan keselamatan mereka. Apa yang dialami Stefanus adalah contoh kongkret dan sekaligus model pertama dari kemartiran dalam sejarah Gereja Katolik. Ia diseret ke pengadilan agama. Lalu dirajam. Tetapi sebelum itu ia dengan kata-kata cemerlang memberikan pembelaannya di hadapan mahkamah agama di Yerusalem sebagaimana dilukiskan dengan sangat baik dalam Kisah Para Rasul itu. Kasus Stefanus adalah sebuah contoh yang jelas bahwa nasib para murid tidak berbeda jauh dari nasib sang Guru. Guru mati disalib, maka para muridpun jangan mengharapkan nasib yang lebih baik. Ya, kita sudah diberi model. Tinggal kita melihat, belajar, dan melaksanakannya.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies) FF-UNPAR BANDUNG.
BcE. Kis.6:8-10. 7:54-59; Mzm.31:3cd-4.6.8ab.16bc.17; Mat.10:17-22.
Hari ini ada Pesta St.Stefanus. Dia adalah sang Martir Pertama dalam sejarah gereja Katolik. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini berkisah tentang nubuat mengenai penganiayaan yang akan datang dan soal keberanain pengakuan iman akan nama Yesus. Dikatakan bahwa akan terjadi peristiwa tragis di mana para pengikut Kristus akan diseret dan diserahkan ke pengadilan, dan di sana mereka akan disiksa, dicambuk, dianiaya. Dan itu semua terjadi karena pengakuan akan nama Yesus. Menakutkan. Mengerikan. Tetapi sekaligus di sini diberikan sebuah janji penghiburan yang membesarkan hati. Dikatakan bahwa jika hal itu terjadi, para murid tidak usah sibuk atau repot memikirkan kata-kata pembelaan mereka. Mengapa? Karena hal itu akan diberikan secara langsung melalui ilham daya Roh Kudus kepada mereka. Ilham itu akan membuat para penguasa dunia tidak berdaya menghadapi mereka. Tentu saja hal ini secara manusiawi amat menakutkan. Dan hal itu wajar saja. Kita juga tentu saja tidak menghendakinya. Tetapi, suatu saat mungkin hal itu tidak terhindarkan lagi. Suatu saat akan terjadi juga, begitu saja. Kalau hal itu sampai terjadi, dan kita bertekun di dalam iman, maka hal itu akan menentukan mutu iman mereka dan juga sekaligus menentukan keselamatan mereka. Apa yang dialami Stefanus adalah contoh kongkret dan sekaligus model pertama dari kemartiran dalam sejarah Gereja Katolik. Ia diseret ke pengadilan agama. Lalu dirajam. Tetapi sebelum itu ia dengan kata-kata cemerlang memberikan pembelaannya di hadapan mahkamah agama di Yerusalem sebagaimana dilukiskan dengan sangat baik dalam Kisah Para Rasul itu. Kasus Stefanus adalah sebuah contoh yang jelas bahwa nasib para murid tidak berbeda jauh dari nasib sang Guru. Guru mati disalib, maka para muridpun jangan mengharapkan nasib yang lebih baik. Ya, kita sudah diberi model. Tinggal kita melihat, belajar, dan melaksanakannya.
KAMIS, 24 DESEMBER 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)FF-UNPAR Bandung.
(Pagi)
BcE.2Sam.7:1-5.8b-12.16; Mzm.89:2-3.4-5.27.29; Luk.1:67-79.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita Kidung Zakharia yang terkenal dan sangat indah itu. Menurut kisah dalam Injil ini, konon Zakharia mengucapkan kidung ini setelah peristiwa kelahiran Yohanes, anaknya. Kidung ini dipakai dalam tradisi doa Gereja Katolik, untuk ibadat Pagi (Laudes). Secara teknis dikenal dengan istilah Benedictus, karena dalam teks Latin, itulah kata pertama yang dipakai di awal lagu tersebut. Setelah sekian lama membisu, akhirnya Zakharia bisa berbicara lagi sesaat setelah anaknya lahir, setelah janji Allah melalui malaekatnya terbukti atau terlaksana. Zakharia terkagum-kagum di hadapan karya ajaib Allah. Dan sekarang kekaguman itu terluapkan dalam kata-kata atau lagu pujian. Ya, lagu itu adalah sebuah lagu pujian: itu tampak dari baris paling pertama, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel.” Sesudah itu diberikan rangkaian alasan bagi pujian itu. Alasan itu ditemukan terutama dalam tindakan atau perbuatan Allah dalam sejarah bagi umatNya. Lagu ini juga menjelaskan mengenai peranan Yohanes Pembaptis dalam bentangan dan rentangan sejarah keselamatan. Ia harus berjalan mendahului Tuhan. Dan hal itu terjadi untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan shalom Allah. Ia sendiri akan menjadi tanda paling gemilang shalom Allah, yang akan bersinar laksana Surya pagi dari tempat yang tinggi. Datangnya sinar pagi itu akan menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Itu semua akan terarah kepada lorong jalan damai sejahtera. Malam ini, damai sejahtera Allah itu akan kita terima, kita alami dalam peristiwa kelahiran agung Tuhan Kita Yesus Kristus. Semoga kita sudah siap menyongsongnya.
PENELITI CCRS (Center for Cultural and Religious Studies)FF-UNPAR Bandung.
(Pagi)
BcE.2Sam.7:1-5.8b-12.16; Mzm.89:2-3.4-5.27.29; Luk.1:67-79.
Injil hari ini mengisahkan kepada kita Kidung Zakharia yang terkenal dan sangat indah itu. Menurut kisah dalam Injil ini, konon Zakharia mengucapkan kidung ini setelah peristiwa kelahiran Yohanes, anaknya. Kidung ini dipakai dalam tradisi doa Gereja Katolik, untuk ibadat Pagi (Laudes). Secara teknis dikenal dengan istilah Benedictus, karena dalam teks Latin, itulah kata pertama yang dipakai di awal lagu tersebut. Setelah sekian lama membisu, akhirnya Zakharia bisa berbicara lagi sesaat setelah anaknya lahir, setelah janji Allah melalui malaekatnya terbukti atau terlaksana. Zakharia terkagum-kagum di hadapan karya ajaib Allah. Dan sekarang kekaguman itu terluapkan dalam kata-kata atau lagu pujian. Ya, lagu itu adalah sebuah lagu pujian: itu tampak dari baris paling pertama, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel.” Sesudah itu diberikan rangkaian alasan bagi pujian itu. Alasan itu ditemukan terutama dalam tindakan atau perbuatan Allah dalam sejarah bagi umatNya. Lagu ini juga menjelaskan mengenai peranan Yohanes Pembaptis dalam bentangan dan rentangan sejarah keselamatan. Ia harus berjalan mendahului Tuhan. Dan hal itu terjadi untuk memberikan kepada umatNya pengertian akan shalom Allah. Ia sendiri akan menjadi tanda paling gemilang shalom Allah, yang akan bersinar laksana Surya pagi dari tempat yang tinggi. Datangnya sinar pagi itu akan menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut. Itu semua akan terarah kepada lorong jalan damai sejahtera. Malam ini, damai sejahtera Allah itu akan kita terima, kita alami dalam peristiwa kelahiran agung Tuhan Kita Yesus Kristus. Semoga kita sudah siap menyongsongnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
