Senin, 27 April 2009

RABU, 22 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.5:17-26; Mzm.34:2-3,4-5.6-7.8-9; Yoh.3:16-21.


Menurut hemat saya, injil yang kita dengar hari ini amatlah agung karena ada satu wahyu yang besar terjadi atau disingkapkan di sana, yaitu wahyu kasih Allah atas dunia ini. Kasih Allah itulah yang telah menjadi titik awal dari peristiwa agung inkarnasi itu. Kita harus mengetahui hal itu: bahwa Allah sangat mengasihi dunia ini. Karena kasih itulah, Allah telah mengutus puteraNya ke dunia. Tujuannya ialah shalom dunia, atau agar dunia tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal. Kedatangan sang anak ke dunia dimaksudkan agar dunia selamat. Tetapi semua itu masih terpegantung pada sikap orang-orang dalam dunia itu sendiri. Kalau mereka tidak percaya, tentu saja mereka akan binasa. Tetapi kalau mereka percaya, maka mereka akan hidup. Injil ditutup dengan membeberkan tentang kontras antara dua cara hidup. Pertama, hidup di dalam kegelapan, dan kedua, hidup di dalam terang. Dan itu jelas merupakan dua pilihan yang ditawarkan kepada kita untuk kita renungkan dan kita pilih. Mau menempuh yang mana? Mau menempuh yang terangkah, ataukah yang gelap. Itu semua terserah kepada diri dan keputusan kita masing-masing.


SELASA, 21 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.4:32-37; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Yoh.3:7-15.


Injil yang kita baca dan dengar hari ini, merupakan kelanjutan dari injil kemarin. Menurut Yesus orang yang lahir kembali dari roh, akan mendapat kebebasan rohani yang luar biasa, suatu kebebasan seperti angin yang bertiup ke mana saja ia mau. Tetapi lagi-lagi Nikodemus tidak mudah untuk mengerti wacana ini. Inilah ketidak-mengertian Nikodemus yang kedua. Tetapi kali ini Yesus mengecamnya: seorang guru kok tidak mudah mengerti. Mungkin karena mereka berbicara pada level yang berbeda. Nikodemus mencoba memahami dari kacamata dunia ini sesuatu yang diucapkan Yesus dari sudut pandang yang melampaui dunia ini. Yesus berbicara tentang hal-hal yang di atas dan dari atas. Dan hanya Anak Manusia saja yang berbicara dan bersaksi dengan hal-hal itu. Tetapi konsep Anak Manusia tiu harus dimurnikan juga; jangan hanya dipahami dalam keagungan semarak kemuliaannya saja. Anak Manusia yang dibicarakan Yesus harus ditinggikan (exaltatio). Peristiwa peninggian itulahyang menjadi syarat shalom, syarat keselamatan, sekaligus syarat hidup juga.


SENIN, 20 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.4:23-31; Mzm.2:1-3,4-6.7-9; Yoh.3:1-8.


Dari injil hari ini kita tahu bahwa ada seorang tokoh yang bernama Nikodemus yang sangat mengagumi Yesus. Maka ia pun memutuskanuntuk mengikuti Yesus. Tetapi ia mau mengikuti Yesus dengan diam-diam. Itu sebabnya ia datang kepada Yesus pada waktu malam, mungkin supaya tidak ketahuan. Maklum ia adalah anggota mahkamah agama di Yerusalem. Ia menjadi murid terselubung. Takut. Dalam dialog di malam hari antara Nikodemus dan Yesus, terjadilah wacana agung ini: “...jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah.” Jadi, kelahiran kembali itu menjadi syarat untuk dapat “melihat Kerajaan Allah.” Justru hal itu tidak dapat dipahpami oleh Nikodemus. Sebab ia memahami dan memaknai kelahiran itu secara jasmani. Padahal Yesus memaksudkan sesuatu yang bersifat rohani; suatu perubahan, sebuah pembaharuan hidup, sebuah metanoia. Dan itulah inti dari hidup dalam roh. Jika orang hidup dalam roh, maka ia akan menjadi bebas justru karena ia bersifat rohani. Seluruh praksis hidup iman kita tertuju kepada peristiwa kelahiran kembali itu, agar kita dapat melihat dan mengalami realitas kerajaan Allah di dunia ini.


SABTU, 18 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.4:13-21; Mzm.118:1.14-15.16ab-18.19-21; Mrk.16:9-15.


Hari ini Sabtu Dalam Oktaf Paskah. Secara sangat singkat Markus melukiskan secara kilas balik beberapa peristiwa penampakan Yesus. Pertama, penampakan kepada seorang perempuan bernama Maria Magdalena. Perempuan inilah yang menjadi saksi dan pewarta kebangkitan itu, lalu ia pun pergi mewartakan peristiwa kebangkitan itu kepada orang lain. Kedua, penampakan kepada dua orang dari para murid. Mungkin kurang lebih sama seperti kisah perjalanan dua murid ke Emaus itu dalam Injil Lukas. Reaksi terhadap kisah penampakan yang pertama dan kedua sama, yaitu tidak percaya. Maka ada adegan penampakan yang ketiga, yaitu penampakan kepada kesebelas murid. Dalam peristiwa ini terjadilah sebuah pertemuan antara Yesus dan para muridNya. Di sini kita mendengar Yesus mencela mereka karena mereka tidak bisa percaya, dan juga karena hati mereka keras sehingga tidak bisa sampai kepada iman. Rupanya celaan itu mendatangkan sebuah perubahan. Itulah sebabnya untaian kisah ini ditutup dengan kisah pengutusan. Setelah menjadi saksi kebangkitan mereka pun diutus untuk mewartakan kabar sukacita itu ke seluruh bumi.


JUM'AT 17 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
BcE: Kis.4:1-12; Mzm.118:1-2.4.22-24.25-27a; Yoh.21:1-14.


Yesus sudah wafat. Ia juga sudah bangkit. Ia sudah menampakkan diri kepada para murid. Perlu banyak penampakan dan pendampingan Tuhan untuk memulihkan lagi para murid yang dilanda kebingungan. Salah satu yang tampak binung ialah Petrus. Dalam kebingungan ia coba kembali lagi ke pekerjaan lama yang diakrabinya dulu. Itu gejala psikologis yang biasa. Setelah yang baru tampak gagal orang kembali ke yang lama, yaitu menjadi nelayan. Ternyata kebingungan Petrus menulari yang lain. Saya bayangkan kehampaan hati mereka di tepi pantai itu. Pantai nostalgia, tempat pertama kali dulu mereka dipanggil Yesus. Di tengah itu Yesus datang menampakkan diri. Dan murid yang dikasihi langsung bisa mengenali Dia: Itu Tuhan. Pengenalan itu mendorong Petrus dengan semangat datang kepada Dia. Drama panggilan awal diulang di sini. Murid-murid dipanggil lagi untuk masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan. Dalam penampakan ketiga ini Yesus mengadakan Ekaristi. Para mujrid mengikuti hal itu dengan diam; tidak banyak berbicara atau bertanya apalagi mempertahanyakan, karena mereka tahu itu Tuhan. Itulah akar-akar praksis perayaan Ekaristi kita. Tatkala tiba di bagian konsekrasi, kita diam, kita masuk ke dalam keheningan, memberi ruang kepada kehadiran dari Dia yang datang. Dan kita pun sujud menyembahnya dengan penuh hormat dan takzim.

Jumat, 24 April 2009

JUM'AT 19 JUNI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
BcE. Hos.11:1.3-4.8c-9; MT Yes.11:2-3.4bcd.5.6; Ef.3:8-12.14-19; Yoh.19:31-37.

Hari ini juga hari istimewa sebab hari ini adalah hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Ini juga sebuah devosi kerakyatan yang amat populer yang diilhami oleh drama tertusuknya hati Yesus di salib dengan tombak. Itulah yang dipentaskan Injil hari ini. Sesuatu yang amat khas dalam Yohanes. Ketika lambung Yesus ditikam maka dari sana terpancarlah darah dan air (sanguis et aqua). Itulah sumber kehidupan gereja. Ketika sedang menulis ulasan singkat ini saya teringat akan beberapa hal. Pertama, akan Ratzinger yang menulis eklesiologi dengan bertolak dari teks ini, sehingga disebut eklesiologi ekaristik. Kedua, akan banyaknya serikat hidup bakti yang diilhami Hati Kudus ini: MSC, SCY, SSCC, Misericordia, dll. Itulah tanda bukti kesuburan devosi ini karena sanggup menghidupkan banyak aspek kekayaan hidup dalam gereja. Hati Yesus yang tertembus, menjadi tanda bukti cinta kasih Ilahi, akan pathos Allah yang dilukiskan dengan sangat baik oleh Hosea dalam Bac.I: Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Lambung Yesus yang tertikam adalah tanda betapa dalam-Nya kasih Yesus. Paulus berusaha menyadarkan kita dengan doanya akan kedalaman kasih itu (Bac.II): Aku berdoa.....supaya dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus...” Itulah yang mau dicapai dengan penetapan Hari Raya ini: mengenal kedalaman Kasih Kristus.

MINGGU, 14 JUNI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
BcE. Kel.24:3-8; Mzm.116:12-13.15.16bc.17-18; Ibr.9:11-15; Mrk.14:12-16.22-26.

Hari Minggu ini adalah hari istimewa juga sebab hari ini adalah hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Liturgi kita secara khusus memberi tempat dan perhatian akan Hari Raya ini. Dulu hari raya ini dimeriahkan dengan perarakan keliling dengan membawa Monstrans tempat bertahtanya Sakramen Mahakudus. Sebuah pesta rakyat yang mencoba membangkitkan iman orang akan kehadiran Tuhan secara sangat nyata (realis praesentia) dalam Hosti Kudus. Injil hari ini mengajak kita untuk mengenangkan Perjamuan Tuhan. Ini amat penting sebab dalam teks dikatakan: Ambillah, inilah tubuh-Ku. Sebagai orang Katolik kita harus menyadari hal ini. Sebab di sana tidak dikatakan, Ambillah, inilah lambang tubuh-Ku. Juga di atas anggur dikatakan: Inilah darah-Ku. Jadi, Tuhan sendiri sungguh hadir di sana. Kehadiran sungguh nyata itulah yang mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan. Itulah transsubstantio, perubahan substansi roti dan anggur. Itu sebabnya, penulis surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa Kristus adalah Pengantara Perjanjian baru (Bac.I). Itu terjadi, karena kedudukan unggul dan mulia Yesus Kristus, melampaui imam agung manapun, melampaui korban manapun, termasuk korban yang dikorbankan Musa dalam Perjanjian Lama (Bac.II).

MINGGU, 07 JUNI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE.Ul.4:32-34.39-40; Mzm.33:4-5.9.18-19.20-22; Rm.8:14-17; Mat.28:16-20.


Hari ini sangat istimewa, karena hari ini Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Liturgi mempunyai alasan amat tepat menempatkan perayaan ini sesudah Pentakosta, sebab dengan Pentakosta wahyu ketiga pribadi dalam Misteri Trinitas sudah selesai. Muncul tanya, mengapa Injil yang dibacakan diambil dari Matius? Itu karena di sana kita membaca rumusan trinitaris baptis. Kita dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Penyertaan Allah kini menjadi lengkap dan sempurna karena penyertaan (Immanu-El) itu adalah penyertaan Allah Tritunggal Mahakudus. Dari Bac.II kita tahu bahwa Roh-lah yang memungkinkan kita berseru Bapa, Abba kepada Allah. Roh yang menjadikan kita anak-anak Allah, sebab semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Allah telah mengerjakan hal luar biasa dan mengagumkan bagi kita dan di tengah kita. Itulah pesan dari Bac.I. Kita harus sampai pada pengakuan iman akan Allah yang bertindak secara nyata dalam hidup kita. Jika kita sudah sampai pada pengakuan itu, maka kita harus menampakkannya dalam hidup nyata. Hidup kita harus ditandai ketaatan dan kasih kepada Allah. Hanya itulah yang menjadi prasyarat hidup bagi kita.


MINGGU, 31 MEI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE. Kis.2:1-11; Mzm.104:1ab.24ab.29bc-30.31.34; Gal.5:16-25; Yoh.15:26-27; 16:12-15.


Hari ini Hari Raya Pentakosta, Roh Kudus turun ke atas kita. Apa tugas Roh? Roh itu bersaksi tentang Yesus, sebab Ia diutus Bapa dan Yesus. Ia adalah Roh Kebenaran. Ketika Roh itu turun, maka giliran para muridlah yang menjadi saksi Kristus. Itulah panggilan Pentakosta. Masih ada tugas lain dari Roh, yakni menuntun kita ke dalam seluruh kebenaran. Roh itu akan berbicara dan bersaksi tentang Kristus. Ini perlu ditegaskan mengingat ada pihak lain yang mencoba mengembangkan pandangan teologi yang menyimpang dari Kristus dengan bertolak dari teks ini. Roh itu memuliakan Kristus. Ia hanya memberitakan apa yang diterimaNya dari Kristus. Bac.I adalah bacaan standar Pentakosta. Maka teks ini amat terkenal. Hanya satu hal yang mau saya tekankan: Berkat turunnya Roh Kudus, maka kekacau bahasa di Babel, kini dipulihkan. Dengan itu dimulai dunia baru dalam Roh dan Kebenaran. Setelah Roh turun terbukalah dua pilihan cara hidup bagi kita: atau hidup menurut Roh atau hidup menurut daging. Itulah yang dipentaskan Bac.II, teks yang terkenal juga. Saya hanya mengutip buah-buah roh: Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Beberapa dari buah ini adalah keutamaan Kristiani kodrati. Jadi, karunia Roh mengembangkan hidup moral kita, hidup yang berkebajikan.


MINGGU, 24 MEI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE. Kis.1:15-17.20a.20c-26; Mzm.103:1-2.11-12.19-20b; 1Yoh.4:11-16; Yoh.17:11b-19.


Injil hari ini diambil dari Doa Yesus bagi muridNya. Yesus meminta agar Bapa memelihara para murid dalam namaNya. Dengan itu, para murid dapat menjadi bersatu seperti Bapa dan Putera satu adanya. Selama ini Yesus melaksanakan tugas pemeliharaan dan penjagaan itu. Tetapi karena sekarang Ia naik kepada Bapa, maka tugas pemeliharaan itu dimintakan kepada Bapa. Pemeliharaan itu amat penting sebab mereka ada di dunia yang tidak selalu memahami mereka, bahkan cenderung membenci mereka. Bapa diminta agar melindungi mereka dari yang jahat. Pengudusan mereka pun menjadi suatu yang perlu karena mereka juga akan menjadi utusan ke dunia, sebagaimana Yesus adalah utusan Bapa. Bac.I melukiskan pemilihan pengganti Yudas Iskariot. Pemilihan ini penting sebagai pemulihan (keutuhan) duabelas murid. Sekaligus itulah tanda pemeliharaan Bapa atas para murid sebagaimana diminta Yesus. Bac.II, bicara tentang perintah saling mengasihi. Perintah itu adalah perwujudan iman. Kalau kita percaya bahwa Allah adalah kasih, maka kita harus saling mengasihi sebagai wujud iman kita kepada Allah yang adalah kasih. Sebab kita adalah citra Allah. Roh yang menggerakkan kita kepada kasih dan tindakan mengasihi.


KAMIS, 21 MEI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE. Kis.1:1-11; Mzm.47:2-3.6-7.8-9; Ef.1:17-23; Mrk.16:15-20.


Hari ini adalah Hari Raya Kenaikan Tuhan. Injil hari ini mengemukakan beberapa hal ini. Pertama, tugas perutusan murid mewartakan Injil ke seluruh bumi. Kedua, konsekwensi pewartaan itu: kalau percaya selamat, kalau tidak percaya binasa. Ketiga, pelukisan mengenai tanda-tanda ajaib yang menyertai orang yang percaya. Tanda ajaib itu adalah anugerah Allah. Keempat, pelukisan mengenai kenaikan Yesus ke surga lalu duduk di sebelah kanan Allah. Itulah peninggian dan pemuliaan Yesus. Kelima, setelah Yesus naik ke surga barulah mereka pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil. Bac.I terutama menggarisbawahi poin keempat, kenaikan Yesus ke surga. Tetapi masih ada pelukisan data rinci lain, yaitu mengenai janji akan Roh Kudus. Tugas perutusan ditegaskan di sini dengan ungkapan lain, yaitu menjadi saksi Yesus di seluruh bumi. Yang menarik ialah perkataan malaekat ketika menegur para murid yang terpesona memandang ke angkasa: teguran itu membuat mereka kembali ke alam sadar dan dengan itu bisa mewartakan Injil. Bac.II mencoba melukiskan dorongan untuk meminta anugerah Roh kepada Bapa. Roh itulah yang memungkinkan kita mengenal Dia dengan benar. Roh itu menjadikan mata hati kita terang, agar kita mengerti pengharapan yang terkandung di dalam panggilan Tuhan. Itulah pesan inti yang pantas direnungkan hari ini.


Kamis, 23 April 2009

KAMIS, 16 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.3:11-26; Mzm.8:2a.5.6-7.8-9; Luk.24:35-48.


Hari ini Kamis dalam Oktaf Paskah. Injil hari ini berkisah tentang penampakan Yesus kepada semua murid. Dalam penggal terdahulu kita baca tentang kisah Emaus yang terkenal itu. Dua murid yang ke Emaus itu sudah kembali ke Yerusalem dan menceritakan pengalaman istimewa mereka dengan Yesus. Sementara mereka mendengar kisah itu, tiba-tiba Yesus menampakkan diri kepada mereka. Yesus menyapa mereka dengan menyampaikan damai sejahtera. Mereka terkejut dan mengira melihat hantu. Jadi, mereka tidak langsung mengenalNya. Melihat gelagat seperti itu, Yesus pun mencoba menunjukkan kepada mereka semua bekas luka derita dan sengsaraNya. Ini cara Lukas untuk mengatakan bahwa Yesus yang bangkit dan menampakkan diri sekarang, tetap mempunyai kesinambungan historis-fisis dengan Yesus yang sengsara, wafat, dan disalibkan, dan dimakamkan. Ternyata para murid masih belum percaya juga, tetapi alasannya kini lain: bukan lagi karena terkejut, melainkan karena terlalu dilanda kegirangan dan sukacita dan keheranan. Maka Yesus meminta makanan, dan Ia makan ikan goreng, sebab dalam kepercayaan Yahudi pada masa itu, hantu tidak bisa makan. Dan Yesus bisa makan, jadi Ia bukan hantu. Pada saat itulah mata para murid terbuka. Sesudah itu masih disampaikan beberapa pengajaran, terutama mengenai Mesias yang harus menderita, tetapi Ia juga sudah bangkit dari alam maut. Dan tentang semuanya itu para murid adalah para saksi. Memang para murid dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi semuanya ini.


RABU, 15 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35.


Hari ini Rabu Oktaf Paskah. Injil hari ini terkenal: Dalam kebingungan pasca penyaliban, kedua murid ini ke Emaus. Mereka mencoba membawa kebingungan dan gundah gulana hati mereka keluar dari pusat konflik. Mungkin sekadar bisa berjarak dari arus konflik berdarah itu. Kondisi berjarak itu membawa hasil, walau lewat proses yang tidak mudah. Sementara mereka berjalan memikul gundah gulana, tiba-tiba ada yang mendekati mereka dan “nimbrung” percakapan. Mereka mengungkapkan kebingungannya: Mereka percaya Yesus tetapi kini Ia mati mengenaskan. Bahkan mayatNya raib, seperti diberitakan beberapa perempuan, dan diperteguh oleh beberapa murid. Mendengar itu, orang asing tadi, mencela karena mereka belum juga mengerti akan kitab suci. Ketika sudah tiba di Emaus, hari sudah malam. Keduanya mengajak tamu bermalam. Kalimat ajakan itu terkenal karena dipakai sebagai refrein doa atau lagu doa malam: Mane nobis cum Domine. Permohonan dikabulkan. Dalam perjamuan malam, mereka mengenal Dia. Pesannya jelas, Yesus ingin dikenal dalam perjamuan kasih, dalam perjamuan ucapan syukur, Ekaristi. Itu sebabnya kita harus merayakan ekaristi, sebab Yesus ingin dikenang dan dikenal dalam perayaan itu. Dengan sukacita kedua murid itu kembali ke Yerusalem dan mengisahkan pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan yang bangkit. Dari perspektif malam perjamuan itu mereka bisa melihat kembali apa yang mereka alami dalam perjalanan: Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia menerangkan Kitab Suci? Ya, memang berkobar-kobar tetapi belum sampai kepada pengenalan. Pengenalan baru final dalam ekaristi. Mungkin itu sebabnya liturgi ekaristi Katolik tidak berhenti pada ibadat sabda melainkan diteruskan dalam ekaristi. Yang satu hanya menghantar kita sampai pada tingkat berkobar-kobar, yang lain menghantar kita kepada tingkat pengenalan dan pemahaman.


SENIN, 14 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18.


Hari ini Selasa Oktaf Paskah. Injil berkisah tentang penampakan Yesus kepada Maria Magdalena. Kalau kita perhatikan baik-baik, tidak ada alasan khusus Maria datang ke makam. Alasan satu-satunya ialah ia datang karena gejolak kasih dan rindu. Itu sebabnya ia menangis. Dengan menangis ia mencoba mencari. Tetapi air mata mengaburkan pandangannya. Itu sebabnya ketika ia disapa, ia tidak segera mengenalnya. Maria baru mengenalnya ketika orang itu menyapa nama pribadinya: Maria. Kini Maria beralih dari mind-set “lihat” ke mind-set “dengar.” Ya, sebab iman kita berasal dari pendengaran, bukan karena melihat, fides ex auditu. Penyebutan nama pribadi Maria oleh Yesus, mengingatkan kita akan perkataan Yesus dalam Yoh 10: domba mengenal suaraKu, seperti gembala mengenal suara dombaNya. Gembala mengenal nama dombaNya. Jadi ada relasi personal. Wujud relasi personal itu ialah menyapa nama pribadi. Ketika nama itu disapa, Maria meloncat ke dalam pengenalan dan berseru: Rabuni. Pngenalan personal yang dimulai dalam masa pra-kebangkitan, dilanjutkan dan diperdalam dalam masa pasca-kebangkitan. Itulah pengaaman Maria. Ia terdorong merengkuh relasi itu dalam genggamannya, yang dicegah Yesus. Maria disuruh pergi menyampaikan kabar baik itu kepada para murid. Maria pergi, menjadi rasul paskah dengan inti warta: Aku telah melihat Tuhan. Itulah madah paskah Minggu Paskah yang dalam bahasa Latin selalu kita dengar tiap tahun lewat tayangan langsung Indosiar, Misa Paus. Sebagian dikutip di sini: Dic nobis Maria, quid vidisti in via? Sepulchrum Christi viventis, et gloriam vidi resurgentis: Angelicos testes, sudarium, et vestes. Surrexit Christus spes mea: praecedet suos in Galilaeam. Scimus Chritum surrexisse a mortuis vere: tu nobis, victor Rex, miserere, Amen, Alleluia.


SENIN, 13 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Kis.2:14.22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-20.11; Mat.28:8-15.


Hari ini Senin Oktaf Paskah. Di tempat lain, orang menyebut hari ini Paskah kedua. Masih ada ekaristi meriah. Tetapi di kota-kota besar di Jawa, hal itu mungkin tidak dapat dilaksanakan lagi. Karena ini Paskah kedua, itu sebabnya Injil hari ini berbicara tentang dusta Mahkamah Agama. Mateus dengan jeli menata alur kisahnya. Ketika Yesus dimakamkan, makam itu disegel dan dijaga ketat oleh penjaga. Jadi, tidak mungkin jenazah Yesus dicuri. Tetapi ketika ternyata Yesus sudah tidak ada lagi dalam makam yang disegel dan dijaga itu, maka Mahkamah membuat plan B, yaitu menyebarkan rumor bahwa para muridlah yang mencuri jenazah Yesus. Tetapi plan B ini tidak mudah, sebab ada para penjaga. Maka mulut para penjaga itu disumpel dengan sejumlah uang, sebagaimana biasa terjadi juga dewasa ini. Cerita versi itulah yang mereka sebarkan hingga hari ini. Setiap kali saya membaca teks ini, saya teringat akan banyak korban dalam sejarah kemanusiaan kita yang tertimpa tragedi kemanusiaan. Kita kenal istilah penghilangan orang secara paksa. Betapa banyak orang menderita tragedi seperti itu. Manusia dihilangkan secara paksa. Bahkan makam pun tetap anonim. Tragis. Menyedihkan. Hal seperti ini tidak dapat dibiarkan terus menerus terjadi. Harus ada pembebasan. Harus ada kebangkitan. Itulah inti pesan Yesus bagi kita manusia modern dewasa ini.


Selasa, 07 April 2009

KAMIS, 09 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yes.61:1-3a.6a.8b-9; Mzm.89:21-22.25.27; Why.1:5-8; Luk.4:16-21.


Hari ini menurut penetapan gereja ada Ekaristi Krisma, walau dalam praktek Ekaristi ini dapat dipindahkan ke hari-hari sebelumnya dalam pekan suci. Yang menarik ialah bahwa bacaan Ekaristi pagi (sebagai Ekaristi Krisma) diambil dari Lukas 4:16-21. Ketika merenungkan ini, saya mencoba menjawab satu pertanyaan: mengapa Injil Ekaristi Krisma ini diangkat dari adegan itu? Cukup lama saya kebingungan dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tetapi setelah membaca dan merenungkannya berkali-kali, akhirnya saya temukan jawaban, walau belum final. Saya temukan empat alasan penting mengapa teks itu dibacakan. Pertama, karena dalam teks itu, Yesus tampil di sinagoga sebagai pewarta firman (proklamator), sebuah tugas dan fungsi imamat. Kedua, karena dalam teks ini, Yesus juga didaulat (mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya) oleh umat dalam sinagoga untuk tampil sebagai penafsir firman (interpretator), yang juga tugas dan fungsi imamat. Ketiga, sebagai penafsir firman Ia juga sekaligus menjadi guru atau pengajar (doctor) firman itu. Keempat, ketika Ia melaksanakan semua tugas itu, Ia dipenuhi Roh Kudus. Sebab Yesus mengatakan: Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya. Nas mana yang dimaksud? Yaitu Roh Tuhan ada pada-Ku oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk..... dst. Itulah tugas mulia Uskup dan para imam dalam dan bersama uskup. Umat juga kiranya ikut ambil bagian dalam lingkaran dinamika tugas luhur dan mulia itu.


RABU, 08 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10.21bcd-22.31.33-34; Mat.26:14-25.


Dalam Injil kemarin kita sudah membaca drama tragedi pengkhianatan Yudas versi Yohanes. Hari ini kita masih membaca drama tragedi yang sama tetapi versi Mateus. Yudas menjual Yesus kepada para imam kepala seharga tiga puluh uang perak. Setelah harga dibayar maka si pembeli pun mempunyai “hak” atas orang yang dibelinya. Drama tragedi pengkhianatan itu terjadi sebelum perjamuan kasih, agape. Dalam agape itu disingkaplah tragedi pengkhianatan itu. Yang lebih menyakitkan lagi, Yudas, dalam perjamuan kasih itu, berlagak seperti tidak tahu apa-apa dan karena itu ia juga ikut bertanya-tanya. Padahal dia sudah tahu. Sebab dialah yang telah menjual Yesus. Ya, nyawa manusia begitu murahnya. Badan manusia begitu murahnya. Ini sebuah pelecehan terhadap kemanusiaan, terhadap imago dei. Manusia diperdagangkan oleh sesamanya. Tidak heran bahwa drama perdagangan manusia itu masih terjadi juga hingga dewasa ini. Konon uang hasil perdagangan manusia menempati urutan ketiga dari total pendapatan dunia setelah hasil perdagangan senjata, minyak, lalu hasil dagang manusia. Ini menyedihkan. Perjuangan kemanusiaan kita masih sangat berat ke depan, untuk menyetop perdagangan manusia, pemerkosaan, penyanderaan, peperangan. Hendaklah selalu ingat bahwa manusia bukanlah sampah, melainkan manusia adalah citra Allah. Ingat, ada banyak Yudas di sekitar kita. Mari kita waspada terhadap mereka.


SELASA, 07 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yes.49:1-6; Mzm.71:1-2.3-4a.5-6ab.15.17; Yoh.13:21-22.26-38.


Menarik bahwa injil hari ini menjejerkan tindakan dua orang berbeda. Tindakan pertama ialah pengkhianatan Yudas. Kedua, nubuat Yesus bahwa Petrus akan menyangkal Dia. Ya, ini drama pengkhianatan. Keduabelas murid hidup dalam relasi perjanjian dengan Tuhan. Dalam relasi itu mereka hidup bersama, berjalan bersama, makan bersama, makan dari satu meja, makan dari satu roti, companion, cum-panis. Tetapi Yudas tega mengkhianati relasi itu: orang yang makan satu roti dengan aku, mengkhianati aku, kata mazmur. Itu terjadi pada Yesus. Hidup kita adalah hidup dalam janji: janji nikah, kaul, janji baptis. Jika janji itu dilanggar, maka ada yang rusak, ada yang bolong. Ada yang sakit, badan dan jiwa. Pengkhianatan itu menyakitkan. Yesus mengalami hal itu. Relasi itu dinodai Petrus yang menyangkal. Penyangkalan juga sebentuk pengingkaran terhadap relasi janji. Itu juga menyakitkan. Tetapi berbeda dengan nasib Yudas, Petrus diterima kembali dalam rekonsiliasi. Yudas tidak. Mungkin dosa pengkhianatan lebih berat dari dosa penyangkalan. Tetapi keduanya tetaplah dosa. Yang satu dengan perkataan, yang lain dengan perbuatan. Maka dalam Confiteor kita berkata, “...bahwa saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan kelalaian.” Kita juga bisa terjebak dalam dosa seperti itu. Maka kita harus selalu sadar dan dengan rendah mengakui dosa kita.


Senin, 06 April 2009

SENIN, 06 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yes.42:1-7; Mzm.27:1.2.3.13-14; Yoh.12:1-11.


Injil ini mengisahkan kisah menarik. Ada reuni kerabat dekat. Reuni itu ditandai perjamuan dan pengurapan. Suatu yang wajar. Tetapi kewajaran itu diganggu oleh komentar seorang yang sok “sosial” dan “peduli” pada orang miskin, sok preferential option for the poor. Itulah sikap Yudas. Ia tidak rela bahwa sesuatu yang mahal dipakai untuk menandai reuni dan perjamuan itu, untuk memberi suasana keharuman dan aroma semerbak sebuah perjumpaan. Yudas mengkritik hal itu dengan memakai alasan suci: Lebih baik minyak wangi mahal itu dijual dan hasil penjualan itu dipakai untuk amal kepada orang miskin. Tetapi ia sesungguhnya mempunyai maksud lain: jika minyak wangi mahal itu dijual dan duitnya masuk kantong bersama yang ia pegang, maka ia punya kesempatan untuk menggelapkan duit itu. Sebuah praktek yang sangat lazim dewasa ini di kalangan parlemen kita, di departemen kita. Uang selalu menarik untuk dimanipulasi. Demi uang itu Yudas tega menjual Yesus. Terhadap sikap munafik itu Yesus mengatakan: orang miskin akan selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak selalu berada bersama kamu. Maka Yesus memerintahkan agar Maria jangan dicegah melakukan apa yang hendak dilakukannya. Sebab pengurapan itu adalah “pendahuluan” dari pengurapan agung yang sebentar lagi akan diterima Yesus dari Yusuf Arimatea sebelum dimakamkan. Semoga kita tidak kejangkitan kesalehan munafik Yudas, sebab kesalehan munafik seperti itu amat gampang menular. Lebih gampang daripada penyebaran virus flu burung.


SABTU, 04 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yeh.37:21-28; MT.Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56.


Hari ini kita dengar persepakatan jahat untuk membunuh Yesus. Persepakatan itu dilakukan sehubungan dengan salah satu mukjizat yang dikerjakan Yesus: membangkitkan Lazarus dari maut. Mukjizat itu punya efek amat besar: banyak orang percaya kepadaNya. Ini mencemaskan orang Farisi. Mereka cemas bahwa sepak terjang Yesus akan mendatangkan celaka besar dari pihak Roma. Terhadap pendapat itu, Imam Besar, Kayafas memberikan pendapatnya yang amat terkenal: Lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita binasa. Tetapi bagi Yohanes itu adalah nubuat agung: Yesus akan mati untuk bangsa ini, tetapi bukan hanya untuk bangsa ini saja, melainkan untuk semua bangsa lain. Kematian itu akan mendatangkan efek pemersatu bagi para bangsa itu. Sadar akan bahaya Yesus, mereka sudah bulat dengan rencana busuk membinasakan Dia. Itu sebabnya Yesus tidak tampil lagi di depan umum. Tetapi mereka mencari kesempatan menangkap Dia. Salah satunya ialah kesempatan hari raya. Itu sebabnya mereka berharap Ia datang ke Yerusalem pada hari Raya. Niat jahat. Banyak orang di sekitar kita yang mencoba memancing di air keruh. Tetapi itu bukan contoh yang baik.


JUM'AT, 03 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42.


Injil hari ini juga menarik karena sekali lagi mementaskan pertikaian antara Yesus dan para penentangNya. Dikatakan bahwa orang Yahudi mau merajam Yesus. Maka Yesus mencoba meredam nafsu mereka dengan sebuah pertanyaan kritis: Aku sudah banyak melakukan perbuatan baik, tetapi mengapa kamu mau merajam Aku? Ternyata bukan karena perbuatan baiklah mereka ingin merajam Yesus. Melainkan karena mereka menganggap Yesus menghojat Allah. Dosa hojat harus dihukum mati, seperti ditetapkan dalam hukum Taurat. Lalu dengan mengutip Perjanjian Lama, Yesus mencoba membenarkan semua hal yang telah Ia katakan kepada mereka, terutama sekali pernyataan Dia bahwa Dia adalah Anak Allah. Rupanya Yesus mengartikan pernyataan itu sebagai sebuah relasi sangat unik antara DiriNya dan Bapa: yaitu relasi melakukan pekerjaan. Maka Yesus menawarkan sebuah jalan kompromi: Kalau tidak mau percaya kepada Dia, paling tidak percayalah pada pekerjaan Bapa yang Ia kerjakan. Ternyata jalan kompromi ini pun ditolak juga. Sebab mereka tetap ngotot mau merajam Yesus. Kalau hati sudah tertutup maka sudah tidak ada kemungkinan lain lagi.


KAMIS, 02 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Kej.17:3-9; Mzm.105:4-5.6-7.8-9; Yoh.8:51-59.


Injil hari ini juga agak sulit. Kita dengar salah satu percakapan antara Yesus dan pemuka Yahudi. Titik tolak percakapan itu ialah pernyataan Yesus: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Pemuka Yahudi tidak mengerti apa yang Ia maksudkan. Bahkan mereka menganggapnya sebagai kerasukan setan. Maka nada pembicaraan pun semakin meningkat dan memanas. Sebagai tanggapan Yesus mengatakan mengenai martabatNya: Bapa-Kulah yang memuliakan Aku. Yesus mengatakan bahwa Ia mengenal Bapa itu dan menuruti firmanNya. Percakapan semakin diperuncing ketika Yesus menyinggung nama Abraham. Itulah yang menyebabkan mereka mengejek Yesus sebagai anak kemarin sore, yang sesungguhnya belum tahu banyak bahkan belum tahu apa-apa. Tetapi untuk menanggapi hal itu, Yesus menegaskan pra-eksistensinya, bahwa Ia berada sebelum segala abad: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada. Dengan ini Yesus versi Yohanes menegaskan pra-eksistensinya, sesuatu yang sudah dinyatakan Yohanes dalam prolog Injilnya. Di sinilah ketegangan antara Yesus dan para pemuka Yahudi, menjadi semakin panas. Tetapi saat Yesus belum tiba.


RABU, 01 APRIL 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Dan.3:14-20.24-25.28; MT.Dan.3:52.53.54.55.56; Yoh.8:31-32.


Injil hari ini juga amat menarik karena dalam perikop singkat ini Yesus menyampaikan beberapa hal yang indah dan juga sulit. Pertama, Yesus menyampaikan satu fakta tentang hal menjadi murid: bahwa menjadi murid tidak lain berarti setia mendengarkan firmanNya. Murid sejati adalah murid yang mendengarkan sang Firman itu sendiri. Kedua, kalau kita setia dalam firman Yesus, maka kita akan mengenal kebenaran (veritas). Tentu kebenaran yang dimaksudkan di sini adalah kebenaran firman Yesus itu. Poin ketiga agak sulit: kebenaran itu akan memerdekakan kamu. Bagaimana kebenaran itu memerdekakan? Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Cara pemahaman saya sederhana. Kalau dalam latihan ilmu berhitung kita tidak tahu jawaban sebuah soal, maka kita belum sampai kepada kebenaran. Keadaan itu amat membelenggu dan menyesakkan pikiran dan dada kita. Kita baru bisa menikmati kelegaan kalau kita menemukan jawaban yang benar dari sebuah soal. Mungkin analogi ini tidak begitu tepat. Tetapi dimensi liberatif dari hal mendengar dan berdiam dalam firman Yesus hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar hidup dalam firman itu, dan diilhami olehnya.


SELASA, 31 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Bil.21:4-9; Mzm.102:2-3.16-18.19-21; Yoh.8:21-30.


Injil hari ini termasuk salah satu perikop sulit dam rumit dalam injil Yohanes. Yesus menegaskan bahwa diriNya bukan berasal dari dunia ini. Ini sebuah kristologi Yohanes yang tidak mudah dipahami. Setelah dalam bagian sebelumnya, Yesus menyatakan diri sebagai terang dunia (lux mundi), sekarang Yesus menyatakan mengenai asalNya. Ia mengatakan bahwa Ia tidak berasal dari dunia ini. Hal itu dipertentangkanNya dengan orang Farisi yang dikatakan berasal dari bawah, yaitu dari dunia ini. Tidak mudah orang Farisi memahami rangkaian ucapan ini. Tetapi Yesus mengatakan bahwa Ia tidak berasal dari dunia ini, karena Ia berasal dari atas, yaitu dari Bapa. Segala sesuatu yang Ia katakan dan kerjakan, semuanya berasal dari Bapa. Dari perspektif sekarang ini, semuanya itu tetap merupakan misteri, sebuah rahasia. Baru akan disingkapkan semuanya kalau terjadi peninggian di salib (exaltatio). Peninggian di atas salib itulah yang nanti akan menyingkapkan semua jati diri Yesus. Mudah-mudahan pada saat itu, semua orang sudah bisa mengenal Yesus. Dalam perjalanan masa prapaskah ini, kita memang sedang berarak ke salib. Semoga puncak Golgota itu juga menjadi puncak gunung pewahyuan bagi kita akan misteri peristiwa Yesus itu sendiri.


SENIN, 30 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Dan.13:1-9.15-17.19-30.33-62 (41c-62); Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Yoh.8:1-11.


Injil hari ini amat terkenal. Judulnya: Perempuan yang berzina. Teks ini terkenal karena hanya terdapat dalam Yohanes saja. Ada perempuan yang diseret ke hadapan Yesus karena dituduh berbuat zinah. Menurut Taurat, perempuan seperti itu harus dihukum mati dengan dirajam. Bagaimana sikap Yesus? Kisah ini dikisahkan Yohanes dengan memakai model Daniel dalam Perjanjian Lama yang membebaskan Suzana dari dua pria hidung belang yang mendakwanya dengan tuduhan palsu. Yesus ditampilkan Yohanes sebagai orang bijaksana yang tidak terkecoh oleh ulah orang yang mau memplintir hukum demi kepentingan dan kesenangan mereka sendiri dan mengorbankan pihak lemah. Yesus ditampilkan Yohanes sebagai pembela perempuan. Teks ini jangan dibaca sebagai sikap moral Yesus yang longgar yang seakan membiarkan orang berdosa tidak dihukum. Sama sekali tidak. Maka terkenallah ucapan Yesus di sini: Barangsiapa yang tidak berdosa silahkan lempar batu pertama. Tentu tidak ada yang berani karena semuanya pendosa, apalagi yang tua-tua. Yesus mengampuni perempuan itu. Bekal pengampunan itu kiranya menjadi daya bagi perempuan itu untuk mulai mengubah cara hidupnya: Tidak lagi menjadi budak dosa. Dan itu tidak main-main.