Selasa, 30 Juni 2009
SELASA, 30 JUNI 2009
BcE.Kej.19:15-29; Mzm.26:2-3.9-10.11-12; Mat.8:23-27.
Liturgi kita menyebutkan bahwa hari ini ada Peringatan fakultatif para Martir Pertama di Roma. Walau tidak disebutkan namanya, marilah kita kenang hidup dan iman mereka. Beberapa lembaga hidup bakti Fransiskan punya peringatan fakultatif Beato Raymundus Lullus; dikenal juga Ramon Lull. Orang ini dikenal sebagai salah satu pemikir yang coba menjembatani dialog antar Kristianitas dan Islam di Spanyol dalam krisis relasi pasca reconquista. Injil hari ini amat singkat. Ia berkisah tentang angin ribut di danau yang diredakan. Ada beberapa cara memahami dan menafsirkan teks ini. Pertama, teks ini adalah sebuah perwahyuan. Yesus sebagai Tuhan mempunyai kuasa atas alam. Bahkan beberapa daya destruktif alam pun tunduk kepada perintahNya. Kedua, teks ini bisa dipahami secara alegoris. Mungkin ini yang paling populer dan terkenal. Ada beberapa unsur yang dapat dialegorisasi. Laut adalah lambang pergulatan medan hidup. Perahu adalah lambang gereja. Memang perahu/bahtera sebagai lambang gereja adalah sesuatu yang amat tua usianya dalam sejarah dan tradisi gereja, khususnya patristik. Angin ribut di danau, adalah lambang pelbagai persoalan dan pencobaan hidup. Perahu iman dan gereja kita di tengah dunia ini harus mengarungi hidup. Tetapi ada badai. Namun dalam Tuhan Yesus, semuanya bisa diatasi. Saya teringat akan sebuah ucapan bijak: Tuhan tidak pernah menjanjikan laut yang tenang untuk kita arungi, melainkan tibanya kita di pelabuhan yang aman sentosa.
Senin, 29 Juni 2009
SENIN, 29 JUNI 2009
BcE. Kis.12:1-11; Mzm.34:2-3.4-5.6-7.8-9; 2Tim.4:6-8.17-18; Mat.16:13-19.
Hari ini hari raya St.Petrus dan St.Paulus. Ini hari raya ketiga di luar hari Minggu dalam bulan Juni. Hari ini menjadi sangat istimewa karena inilah hari penutupan tahun Paulus yang telah dicanangkan Paus Benediktus sejak setahun yang lalu. Sebelum melihat injil dan kedua bacaan lainnya, mungkin ini saatnya yang tepat untuk melihat kembali setahun ke belakang ini, apa yang telah kita lakukan untuk mengenang dan menghormati Paulus. Baik itu secara pribadi maupun secara komunal (tingkat lingkungan, tingkat paroki, dll). Puaskah anda dengan itu? Hanya anda sendiri yang tahu. Injil yang kita baca hari ini mengandung dua pesan besar. Pertama, ialah pengakuan iman Petrus yang sangat penting itu. Kedua, deklarasi Yesus tentang Petrus: Tu es Petrus et super hanc petram aedificabo ecclesiam meam. Inilah yang menjadi dasar dari tradisi keprimatan Petrus dalam gereja Katolik, yang juga menjadi dasar pertama sejarah Para Paus dan Uskup kita. Walau Injil hanya menyinggung Petrus, tetapi Paulus jangan sampai dilupakan. Sebab keduanya adalah rasul agung kita. Tidak keliru kalau tradisi liturgi kita menyandingkan mereka bersama dalam satu perayaan liturgis bersama. Semoga kita tidak pernah lupa akan Paulus biarpun tahun perayaannya sudah berlalu.
Rabu, 24 Juni 2009
SABTU, 27 JUNI 2009
BcE.Kej.18:1-15; Mzm.MT Luk.1:46-47.48-49.50.53; Mat.8:5-17.
Hari ini ada peringatan fakultatif Santo Sirillus dari Aleksandria. Mari kita teladani hidup dan kesalehan orang ini. Juga ada serikat hidup bakti yang mempunyai pesta khusus: SP Maria, Bunda Yang Selalu Menolong. Mari kita ikuti ajakan ini kembali kepada Maria menuju Yesus. Per Mariam ad Iesum. Injil hari ini menampilkan beberapa hal menarik. Pertama, kisah penyembuhan terkenal atas hamba seorang perwira di Kapernaum. Ada dialog antara perwira dan Yesus. Salah satu dialog itu menjadi sangat terkenal karena dialog itu kita ucapkan menjelang Komuni Kudus, walaupun dalam versi terjemahan lain: Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh. Kedua, dalam dialog itu, perwira tadi mementaskan penghayatan iman yang amat menarik dan mendalam. Yesus mengagumi orang itu, sehingga Yesus berani berkata: iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Buah iman itu jelas: permohonannya dikabulkan. Itulah yang ditegaskan Yesus ketika berkata: Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya. Semoga pada kita pun Yesus jumpai iman yang mendalam dan kuat seperti yang Ia puji pada perwira itu.
JUM'AT 26 JUNI 2009
BcE.Kej.17:1.9-10.15-22; Mzm.128:1-2.3.4-5; Mat.8:1-4.
Hari ini tidak ada pesta atau peringatan khusus. Tetapi ada pesta dan peringatan pada beberapa hidup bakti. CB memperingati wafat Elisabeth Gruyters. Ada yang memperingati Beata Magdalena Fontaine. Injil menawarkan beberapa hal menarik. Ini adalah kisah orang kusta yang datang kepada Yesus memohon kesembuhan. Permohonan itu dikabulkan. Orang itu sembuh. Jika kita datang kepada Yesus, Ia pasti membantu kita. Setelah orang itu sembuh, Yesus menyarankan dia agar tidak memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Ia harus berdiam diri, membisu. Yesus mendorong dia agar pergi kepada para imam. Di sana ia harus mempersembahkan korban silih. Hal itu penting karena imamlah yang menilai apakah dia sembuh/tahir atau tidak. Pengakuan imam amat penting dalam rangka reintegrasi dan rehabilitasi ke dalam masyarakat. Jadi, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang itu, melainkan memberi jalan agar melakukan langkah prosedural yang perlu agar diterima kembali dalam masyarakat. Layanan sosial dan medis kita harus berpola seperti itu: mula-mula menyembuhkan penyakit fisikalnya, lalu menyiapkan dia agar kembali ke masyarakat. Yang terlupakan ialah masyarakat yang harus disiapkan agar menerima dia lagi. Itu adalah perilaku dan keputusan sosial. Tinggal mau berubah atau tidak. Itu soalnya.
KAMIS, 25 JUNI 2009
BcE.Kej.16:1-12.15-16; Mzm.106:1-2.3-4a.4b-5; Mat.7:21-29.
Injil hari ini menawarkan kepada kita beberapa hal menarik. Pertama, mengenai kriteria selamat. Ternyata kriterianya bukan kriteria kultik-religius (berdoa, menyerukan nama Tuhan), melainkan kriteria etik (melakukan kehendak Bapa). Pengakuan Tuhan pada hari akhir nanti, tidak ditentukan oleh kriteria kultik-doktriner, melainkan oleh kriteria etik-perbuatan. Kedua, injil melukiskan dua macam dasar untuk fondasi rumah. Fondasi batu, fondasi pasir. Tentu fondasi batu jauh lebih kuat dari pada fondasi pasir. Apabila ada badai pencobaan, rumah (iman) yang dibangun di atas landasan kokoh mampu bertahan dari pelbagai terpaan. Sebaliknya, rumah yang dibangun di atas pasir tidak mampu bertahan. Begitu banjir bandang cobaan iman datang, rumah itu hancur berantakan. Pengajaran Yesus dalam kedua hal di atas tadi, sangat kuat dan menarik. Tidak mengherankan bahwa banyak orang terkagum-kagum mendengar ajaranNya. Mereka merasakan adanya wibawa dan kuasa yang keluar dari dan bersama ucapanNya. Di hadapan pelukisan injil Mateus seperti itu tentang Yesus, kita sebagai pembaca/pendengar dikondisikan untuk memilih sikap yang tepat: mengagumiNya dan mengikutiNya? Atau sebaliknya, kita menutup mata hati kita dan tidak mau mendengar apa yang Ia sampaikan atau ajarkan.
Senin, 22 Juni 2009
SELASA, 23 JUNI 2009
BcE.Kej.13:2.5-18; Mzm.15:2-3ab.3cd-4ab.5; Mat.7:6.12-14.
Hari ini ada peringatan S.Yosephus Cafasso. Mari kita kenangkan hidup orang ini dalam hidup dan doa kita. Ada beberapa hal menarik yang diungkapkan injil hari ini. Pertama, larangan untuk tidak menyia-nyiakan barang berharga dengan memberinya ke pihak yang tidak patut menerimanya. Sebab di tangan mereka, barang berharga tadi tidak berguna. Malahan bisa disia-siakan. Tidak mendatangkan nilai atau keuntungan apa pun. Malahan bisa juga mendatangkan kerugian dan bencana. Kedua, sesuatu yang amat terkenal, yaitu kaidah emas, the golden rule. Kita harus terlebih dahulu melakukan terhadap orang lain, apa yang kita inginkan orang lakukan terhadap kita. Jika kita ingin dihormati orang, kitalah yang terlebih dahulu menghormati sesama. Jika kita ingin dikasihi orang, kiralah yang terlebih dahulu mengasihi sesama. Jadi, yang pertama-tama terkena kewajiban perintah etis mengasihi adalah saya, bukan orang lain. Ketiga, perbandingan kontras antara pintu sempit dan pintu lebar. Pintu sempit itu menuju kepada kehidupan. Pintu lebar itu menuju kepada kebinasaan. Ternyata banyak orang memilih pintu lebar itu. Sedikit yang memilih pintu sempit. Pada hari ini tersedia di hadapan kita tiga pelajaran berharga. Tinggal kita memilih dan mempraktekkannya. Semoga kita selalu berada pada jalan dan pilihan yang tepat dan terbaik demi keselamatan kita.
Minggu, 21 Juni 2009
SENIN, 22 JUNI 2009
BcE.Kej.12:1-9; Mzm.33:12-13.18-19.20.22; Mat.7:1-5.
Pada hari ini ada beberapa orang kudus yang diperingati hari ini: Paulinus Nola, Yohanes Fisher, Thomas More. Mari kita kenangkan teladan hidup mereka itu dalam hidup dan doa kita. Selain itu ada juga beberapa serikat hidup Bakti yang mempunyai pesta atau perayaan khusus. Mari kita berdoa bersama serikat-serikat itu agar semakin maju dan berkembang dalam pelayanannya. Injil membahas beberapa hal penting hari ini. Pertama, ada larangan untuk tidak menghakimi, sebab penghakiman itu akan bisa menimpa diri sendiri juga. Ini berdasarkan retributive theory: apa yang anda buat, akan terjadi juga pada diri anda. Kedua, ada kritik pedas terhadap kecenderungan manusia, untuk dengan mudah melihat kekurangan orang lain, tetapi menutup mata terhadap kekurangan sendiri. Kritik itu dipertajam dengan bahasa perlambang yang tegas dan keras. Ketiga, terhadap kecenderungan negatif seperti itu, Yesus menasihatkan agar masing-masing orang harus terlebih dahulu melakukan perbaikan diri dan oto-kritik (self-criticism). Baru sesudah itu kita punya kekuatan dan landasan moral untuk melakukan dan melontarkan kritik. Tanpa kebiasaan otokritik, maka kritik kita akan terdengar hampa, dangkal, dan tidak didengarkan orang. Bahkan mungkin juga akan dicemoohkan orang. Maka berjalanlah dulu ke dalam diri sendiri, baru berjalan menemui dan mengunjungi sesama. Benar kata Socrates dulu: hidup yang tidak digugat, dikritisi, dikaji, tidak layak dihidupi.
Jumat, 19 Juni 2009
SABTU, 20 JUNI 2009
BcE.2Kor.12:1-10; Mzm.34:8-9.10-11.12-13; Mat.6:24-34.
Hari ini ada pesta Hati Tersuci SP Maria. Pesta ini Dirayakan oleh banyak kongregasi hidup bakti. Perhatikan juga bahwa pesta ini dirayakan sesudah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus. Jadi, hati Tersuci Maria dirayakan dan dihayati dalam konteks Kristologis. Ada beberapa hal menarik dalam Injil hari ini. Pertama, mengenai hal mengabdi: mengabdi itu hanya bisa tunggal agar bisa total. Tidak bisa mengabdi kepada dua tuan sekaligus. Kalau mengabdi dua tuan sekaligus, maka akan timbul sikap mendua dalam hati. Kemenduaan bisa menimbulkan pelbagai masalah. Kedua, mengenai kekhawatiran. Yesus meminta kita agar jangan terlalu khawatir dengan makanan, pakaian. Sebenarnya yang dimaksudkan di sini ialah sikap yang terlalu obsesif oleh makanan dan pakaian. Seakan-akan itu adalah segala-galanya. Jadi, makanan dan pakaian tetap perlu. Tetapi jangan sampai diperbudak oleh makanan dan pakaian. Apalagi sampai disesatkan oleh iklan produk makanan dan pakaian: You are what you eat. Atau You are what you eat. Keterlelaluan. Ini adalah pelecehan dan perendahan martabat manusia. Martabat manusia disejajarkan dengan makanan dan pakaian. Yesus mau mencegah pelecehan dan perendahan seperti itu. Maka menjelang akhir injil hari ini, kita mendengar Yesus mengarahkan perhatian kita ke atas. Yesus mau menjaga dan membentengi transendensi kita. Kita harus lebih terarah kepada kerajaan Allah. Segala sesuatu yang lain hanya konsekwensi dari upaya kita setia mencari kerajaan Allah. Upaya pencarian kerajaan Allah adalah wujud kita menegaskan dimensi transenden dan vertikal hidup dan seluruh keberadaan kita.
Rabu, 17 Juni 2009
KAMIS, 18 JUNI 2009
BcE.2Kor.11:1-11; Mzm.111:1-2.3-4.7-8; Mat.6:7-15.
Injil hari ini amat terkenal, karena di sana kita dengar tentang Doa Tuhan, Oratio Dominica, Al-Sholat Al-Robaniyah. Yesus mengajukan doa ini di tengah pengajaranNya tentang Doa. Kemarin kita sudah dengar bagaimana seharusnya cara berdoa (dengan diam-diam), maka hari ini kita dengar pengajaran mengenai bagaimana seharusnya isi doa. Yesus memberi petunjuk lengkap. Dalam renungan ini saya mau membeberkan tentang doa Bapa Kami. Yesus mengajarkan bahwa doa selalu harus dimulai dengan memberi pujian, hormat, kemuliaan kepada Bapa di surga. Ad Maiorem Dei Gloriam, kata Ignatius Loyola. Itulah yang paling utama dan terpenting. Sesudah itu barulah kita layak mengajukan permohonan. Jangan dibalik. Atau juga jangan sampai hanya permohonan belaka. Tradisi doa Kristiani sejak semula tidak pernah hanya memohon belaka. Selalu dimulai dengan penyadaran akan kemuliaan, kekudusan, keagungan, kasih setia Allah. Secara khusus saya mau menyoroti butir permohonan pengampunan dalam bagian jawaban: Ampunilah kami, seperti kami pun mengampuni. Perhatikan baik-baik: dikatakan “...seperti kamipun....” Jadi, kita diandaikan terlebih dahulu mengampuni, baru sesudah itu layak memohon ampunan Allah. Jangan sampai kita memohon ampunan Allah sebagai dasar dan syarat untuk mengampuni orang lain. Ada banyak buku yang mengulas doa ini dengan sangat baik. Saya hanya menyebut tiga saja yang penting. Kalau mau mendalami uraian doa Bapa Kami ini, bacalah Katekismus Gereja Katolik, baca juga buku Joseph Kardinal Ratzinger (Yesus dari Nazaret), dan juga buku dari seorang pengarang Amerika kenamaan, Scott Hahn. Semuanya sudah dalam Indonesia.
Selasa, 16 Juni 2009
RABU, 17 JUNI 2009
BcE.2Kor.9:6-11; Mzm.112:1-2.3-4.7-8; Mat.6:1-6.16-18.
Injil hari ini amat terkenal, karena membahas tiga tonggak praksis kesalehan hidup Kristiani tradisional: sedekah. doa, puasa. Ketiga hal ini juga menjadi kewajiban dasar dalam penghayatan hidup kesalehan Yahudi. Lalu apa ciri khas yang dibawa Yesus. Kewajiban memberi sedekah tetap harus dilakukan. Ini tidak terhindarkan. Hanya pengikut Yesus, tidak usah menggembar-gemborkan sedekah itu. Jika itu dilakukan, itu sama dengan perbuatan orang munafik. Mereka sudah mendapat pahala: pujian manusia. Mereka tidak mendapat pahala dari Bapa di surga. Menurut Yesus, Bapa di surga hanya memberi pahala kepada orang yang melakukannya diam-diam tanpa dibeberkan dengan toa dan televisi maupun koran. Kewajiban berdoa juga tetap ada dan harus dijalankan. Pengikut Yesus harus tekun berdoa. Hanya pengikut Yesus tidak usah berdoa di pasar, di jalanan, di tikungan jalan. Tidak usah kedengaran orang bahwa saya berdoa. Berdoa itu dilakukan diam-diam tetapi harus dilakukan. Jangan sampai karena dilakukan diam-diam, lalu diartikan tidak berdoa. Kewajiban puasa juga tetap ada dan harus dijalankan. Pengikut Yesus juga harus berpuasa. Hanya pengikut Yesus tidak usah melakukan puasa itu dengan mencolok dan menarik perhatian orang: muka muram, lesu, loyo, tidur-tiduran, tidak kerja, menjadikan puasa sebagai alasan untuk malas. Puasa pengikut Yesus harus dilakukan terselubung. Tidak usah murung, muram, lemas, loyo, melainkan dengan muka ceria. Inilah tantangan bagi kita dalam pelaksanaan tiga tonggak itu. Semoga kita sanggup melakukannya.
SELASA, 16 JUNI 2009
BcE.2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a; Mat.5:43-48.
Hari ini ada pesta Sta.Lutgardis, dan Sto.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita kenangkan teladan kesucian hidup mereka dalam hidup dan doa kita sendiri. Injil hari ini juga amat terkenal. Di sini kita juga bertemu dengan Yesus yang melakukan pembalikan total. Yesus melakukan suatu pembaruan. Yesus meminta kita agar sudi mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Ini sangat revolusioner mengingat dalam perintah lama, musuh itu harus dibenci. Tetapi alasannya sangat menarik. Bukan lagi suatu alasan humanstik-antropologis melainkan alasan teologis. Kalau kita berani berbuat baik kepada musuh, maka kita dapat menjadi anak-anak Bapa di Surga yang kasihNya tidak terbatas dan tidak pandang bulu. Hanya dengan tindakan revolusioner dan melawan arus ini, kita dapat menunjukkan mutu kita yang lebih dari yang lain. Kalau tidak berani melawan arus, maka kita sama saja. Kita tidak mempunyai kelebihan apa pun dari yang lain. Sebab bangsa yang tidak mengenal Allah pun hanya sampai ke tingkat pemahaman seperti itu saja (hukum balas dendam). Kita tidak mau menjadikan perilaku para bangsa pada umumnya sebagai patokan moral hidup kita. Melainkan kita mau menjadikan sikap Allah sebagai patokan moral hidup kita. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita dengar sebuah perintah yang amat mulia sekaligus amat sukar. Jadilah sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna. Ya, berat memang, tetapi kita dipanggil untuk menjadi sempurna.
SELASA, 16 JUNI 2009
BcE.2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a; Mat.5:43-48.
Hari ini ada pesta Sta.Lutgardis, dan Sto.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita kenangkan teladan kesucian hidup mereka dalam hidup dan doa kita sendiri. Injil hari ini juga amat terkenal. Di sini kita juga bertemu dengan Yesus yang melakukan pembalikan total. Yesus melakukan suatu pembaruan. Yesus meminta kita agar sudi mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka. Ini sangat revolusioner mengingat dalam perintah lama, musuh itu harus dibenci. Tetapi alasannya sangat menarik. Bukan lagi suatu alasan humanstik-antropologis melainkan alasan teologis. Kalau kita berani berbuat baik kepada musuh, maka kita dapat menjadi anak-anak Bapa di Surga yang kasihNya tidak terbatas dan tidak pandang bulu. Hanya dengan tindakan revolusioner dan melawan arus ini, kita dapat menunjukkan mutu kita yang lebih dari yang lain. Kalau tidak berani melawan arus, maka kita sama saja. Kita tidak mempunyai kelebihan apa pun dari yang lain. Sebab bangsa yang tidak mengenal Allah pun hanya sampai ke tingkat pemahaman seperti itu saja (hukum balas dendam). Kita tidak mau menjadikan perilaku para bangsa pada umumnya sebagai patokan moral hidup kita. Melainkan kita mau menjadikan sikap Allah sebagai patokan moral hidup kita. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita dengar sebuah perintah yang amat mulia sekaligus amat sukar. Jadilah sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna. Ya, berat memang, tetapi kita dipanggil untuk menjadi sempurna.
Senin, 15 Juni 2009
SENIN, 15 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42.
Injil hari ini mengisahkan sesuatu yang amat menarik. Yaitu Hukum balas dendam yang terkenal itu: Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Sebenarnya ini adalah hukum yang sulit, yang dibuat untuk mencegah balas dendam. Yesus menggantinya dengan perintah baru. Pencegahan balas dendam dapat dirumuskan dengan perintah positif. Isi singkatnya ialah: Orang yang berbuat jahat, jangan dilawan. Ada unsur perintah mengalah. Memberikan lebih dari apa yang diminta dengan paksa. Tetapi ini bukan sesuatu yang mirip dengan terminologi modern “pembiaran” yang juga dikategorikan sebagai kejahatan. Melainkan ini pendidikan hati nurani si subjek pelaku kejahatan. Semoga dengan dihadapi dengan cara seperti itu, yakni dengan lemah lembut dan dengan rendah hati, si subjek pelaku kejahatan akan tersapa langsung di dalam hati nuraninya. Kalau ia sudah tersentuh hati nuraninya, mudah-mudahan ia bisa melangkah perlahan-lahan ke arah pertobatan. Perhatikan baik-baik kata hati nurani itu. Saya membacanya dalam etimologi demikian: nur-aini. Nur artinya cahaya atau terang. Aini artinya mata. Jadi, nurani berarti pancaran cahaya mata. Karena dikaitkan dengan hati (hati nurani) maka dapat dibaca “pancaran cahaya mata hati.” Kita harus berusaha menyalakan pancaran cahaya mata hati itu dengan perbuatan-perbuatan baik. Itulah yang dimaksudkan Yesus sebagaimana kita dengar dalam injil hari ini. Jangan sampai perbuatan kita justru membuat hati orang menjadi mata gelap. Kalau sudah mata gelap maka akan terjadi kejahatan yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan lagi.
Kamis, 11 Juni 2009
MINGGU, 09 AGUSTUS 2009
BcE. Why.11:19a; 12:1.3-6a.10ab; Mzm.45:11.12ab.16; 1Kor.15:20-26; Luk.1:39-56.
Hari ini kira merayakan Hari Raya SP Maria Diangkat ke dalam kemuliaan surga. Sesungguhnya hari raya ini jatuh pada tanggal 15 Agustus. Tetapi karena tanggal 15 itu hari biasa maka, dimajukan satu minggu, sebab mungkin dalam Ekaristi tanggal 16 orang merayakan hari raya Kemerdekaan. Injil hari ini mengisahkan tentang kunjungan Maria kepada Elisabet. Ada perjumpaan antara dua perempuan. Terjadilah dialog yang terkenal itu karena sepenggal dari padanya kita pakai dalam doa salam Maria. Perjumpaan itu membawa sukacita. Ternyata sukacita itu dapat dirasakan oleh anak yang masih dalam kandungan. Ini luar biasa. Sebagai tanggapan Maria mengidungkan Magnificat yang terkenal itu. Bagi feminis ini adalah lagu wajib, lagu pembebasan. Dalam tradisi doa hidup membiara, magnifikat ini dibacakan dalam ibadat sore. Mungkin ada baiknya kalau umat menghafalnya. Sebab ini sebuah doa yang mengungkapkan puji-syukur manusia kepada Allah. Bac.I hari ini memperlihatkan satu penglihatan yang dialami Yohanes. Bait Suci Allah di surga terbuka, lalu tampaklah perempuan luar biasa. Bagi para legioner, teks ini sangat akrab sebab sering diucapkan dalam pertemuan mereka. Memang keberadaan perempuan itu terancam oleh naga, tetapi akhirnya berkat pertolongan Allah naga itu dapat dikalahkan dan perempuan itu dapat diselamatkan. Itulah Bunda Maria. Paling tidak itulah cara baca yang sangat kuat dalam tradisi gereja Katolik. Apa yang dilukiskan dalam Bac.I ditegaskan kembali dalam Bac.II: Yesus akan menjadi yang berkuasa untuk selama-lamanya. Jadi, Maria sudah memuji keagungan kuasa Allah dalam magnifikat, dan kuasa Allah itu ditampakkan secara kosmis dalam Bac.I, dan kuasa itu menjadi nyata dalam diri Yesus Kristus (Bac.II).
MINGGU, 02 AGUSTUS 2009
BcE. Kel.16:2-4.12-15; Mzm.78:4bc.23-24.25.54; Ef.4:17.20-24; Yoh.6:24-35.
Hari ini hari Minggu Biasa XVIII. Yesus terus diikuti orang banyak ke mana pun Ia pergi. Kesempatan itu dipakai Yesus untuk memperdalam ajaranNya bagi mereka. Yesus menantang mereka sehubungan dengan motivasi mereka mencari Dia. Mereka mencari Dia hanya karena mereka sudah makan kenyang. Tidak lebih dari itu. Titik. Karena itu Yesus menasihati mereka agar bekerja untuk mendapat makanan yang dapat membawa hidup kekal, bukan demi makanan yang dapat binasa. Orang banyak itu tidak putus asa karena mereka bertanya lebih lanjut penuh penyelidikan. Apa yang harus kami perbuat agar berkenan kepada Allah. Di sinilah Yesus mendapat pintu masuk untuk memperdalam ajaranNya. Menurut Yesus, mereka harus percaya kepada Dia yang diutus Bapa. Dengan cara itu mereka dapat berkenan kepada Bapa dan mendapat shalom. Diskusi masih melangkah lebih jauh, sampai menyinggung Musa yang telah memberi manna kepada leluhur mereka. Di sini Injil erat terkait dengan Bac.I yang mengisahkan tetang manna yang turun dari langit itu. Bukan Musa yang memberi manna, melainkan Bapa di surga yang memberi roti yang benar dari surga. Roti itulah yang memberi kehidupan. Lalu orang banyak itu meminta roti yang memberi kehidupan. Di sinilah Yesus memberikan perwahyuan diriNya: Akulah roti hidup. Teks ini terkenal sekali. Perhatikan baik-baik kutipan ini: barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Kalau kita sudah makan roti hidup dari surga (panis angelicus) maka kita menjadi manusia baru. Apa inti manusia baru itu? Saya kutip saja: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia. (Bac.II).
MINGGU, 26 JULI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. 2Raj.4:42-44; Mzm.145:10-11.15-16.17-18; Ef.4:1-6; Yoh.6:1-15.
Hari ini hari Minggu Biasa XVII. Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang. Kita sudah sering kali membaca dan mendengarkan Injil ini. Mungkin kita sudah mendengarnya sejak masih anak-anak. Kita dengar bahwa orang banyak terus mengikuti Yesus. Mereka tertarik karena banyak mukjizat penyembuhan yang dikerjakan Yesus bagi mereka. Melihat bahwa mereka datang dari jauh dan sudah tampak keletikan, maka Yesus pun berencana memberi mereka makan. Filipus merasa hal itu tidak mungkin: orang sangat banyak, sementara persediaan makanan terbatas. Tetapi muncul informasi lain: ada yang membawa roti dan ikan. Yesus lalu menyuruh mereka duduk, dan mulai memberi perhatian dan berbagi. Yesus mengawali “perhatian dan berbagi” itu dengan eucharistia. Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka. Maka terjadilah mukjizat: semua orang bisa makan sampai kenyang. Bahkan ada sisanya juga. Ternyata ada agenda terselubung dalam hati orang banyak itu: mereka berniat mau menjadikan atau mengangkat Yesus sebagai Mesias Politik. Maka Yesus pun menyingkir ke gunung untuk menyendiri, dalam doa, dalam relasi yang intim dengan Allah yang disapaNya Abba. Jadi Ia menyendiri bersama Tuhan. Mukjizat Yesus ini sudah dilukiskan juga dalam Perjanjian Lama (Bac.I). Elisa memberi makan seratus orang dan masih ada sisanya. Tentu yang dilakukan Yesus lebih spektakuler, sebab jumlahnya lebih banyak. Kesamaannya ialah: mereka makan sampai kenyang dan ada sisanya juga. Hidup dalam Tuhan harus tampak dalam buahnya yang nyata: hidup dengan rendah hati, lemah lembut, dan sabar, penuh kasih, saling membantu (Bac.II).
MINGGU, 26 JULI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. 2Raj.4:42-44; Mzm.145:10-11.15-16.17-18; Ef.4:1-6; Yoh.6:1-15.
Hari ini hari Minggu Biasa XVII. Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang. Kita sudah sering kali membaca dan mendengarkan Injil ini. Mungkin kita sudah mendengarnya sejak masih anak-anak. Kita dengar bahwa orang banyak terus mengikuti Yesus. Mereka tertarik karena banyak mukjizat penyembuhan yang dikerjakan Yesus bagi mereka. Melihat bahwa mereka datang dari jauh dan sudah tampak keletikan, maka Yesus pun berencana memberi mereka makan. Filipus merasa hal itu tidak mungkin: orang sangat banyak, sementara persediaan makanan terbatas. Tetapi muncul informasi lain: ada yang membawa roti dan ikan. Yesus lalu menyuruh mereka duduk, dan mulai memberi perhatian dan berbagi. Yesus mengawali “perhatian dan berbagi” itu dengan eucharistia. Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka. Maka terjadilah mukjizat: semua orang bisa makan sampai kenyang. Bahkan ada sisanya juga. Ternyata ada agenda terselubung dalam hati orang banyak itu: mereka berniat mau menjadikan atau mengangkat Yesus sebagai Mesias Politik. Maka Yesus pun menyingkir ke gunung untuk menyendiri, dalam doa, dalam relasi yang intim dengan Allah yang disapaNya Abba. Jadi Ia menyendiri bersama Tuhan. Mukjizat Yesus ini sudah dilukiskan juga dalam Perjanjian Lama (Bac.I). Elisa memberi makan seratus orang dan masih ada sisanya. Tentu yang dilakukan Yesus lebih spektakuler, sebab jumlahnya lebih banyak. Kesamaannya ialah: mereka makan sampai kenyang dan ada sisanya juga. Hidup dalam Tuhan harus tampak dalam buahnya yang nyata: hidup dengan rendah hati, lemah lembut, dan sabar, penuh kasih, saling membantu (Bac.II).
MINGGU, 19 JULI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE. Yer.23:1-6; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.2:13-18; Mrk.6:30-34.
Hari ini hari Minggu Biasa XVI. Injil yang kita dengar hari ini mengisahkan tentang “reuni” besar antara Yesus dan para murid setelah mereka diutus untuk pergi mewartakan kabar baik. Dikatakan bahwa para murid melaporkan semuanya kepada Yesus. Jadi, hari-hari aksi, hari-hari kesibukan sudah berlalu. Yang ada tinggal keletihan (menyangkut jasmani), atau kelelahan (menyangkut rohani). Maka mereka pasti membutuhkan refreshing (penyegaran). Itu sebabnya Yesus mengajak mereka pergi ke tempat sunyi untuk menyepi, sendiri dan beristirahat. Yesus mengajak mereka pergi retret. Retret itu dari kata retreat, yang artinya mundur untuk merenung, untuk mengadakan refleksi. Memang perlu istirahat juga dari kerja, mengambil jarak kritis dari semua aktifitas yang kita lakukan. Istirahat adalah saat pemulihan. Tetapi lebih dari itu istirahat adalah saat untuk Tuhan, bersama Tuhan. Ya, kita berlibur bukan untuk diri kita sendiri, melainkan berlibur untuk Tuhan. Maka adalah salah kalau dalam libur week-end orang malah menjauh dari Tuhan. Bukan itu maksudnya lho. Tetapi ternyata orang banyak tidak membiarkan Yesus dan para murid beristirahat. Mereka terus mengikuti Dia. Bahkan mereka tampak seperti kawanan domba tanpa gembala. Melihat itu Hati Yesus pun tergerak oleh belaskasihan (misericordia). Yesus mengajar mereka dan menyatukan mereka. Yesus memang adalah damai sejahtera Allah yang menyatukan dan mendamaikan segala sesuatu di dalam Allah: karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa (Bac.II). Dalam Bac.I, ada pelukisan tentang adanya gembala yang tidak becus mengurus domba sehingga Tuhan berjanji mengutus gembala baru yang akan tumbuh dari Tunas Daud. Bagi kita, Yesuslah gembala itu, yang tumbuh dari tunas Daud.
SABTU, 13 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.2Kor.5:14-21; Mzm.103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat.5:33-37.
Hari ini ada pesta besar terutama di kalangan para pengikut Fransiskan. Pesta Antonius dari Padua, Teolog dan pengkotbah ulung dalam sejarah Fransiskan abad pertengahan. Ia mendapat tugas sebagai guru teologi resmi dalam ordo atas dasar pengangkatan langsung dari Fransiskus sendiri. Mari kita kenang dia dalam hidup dan doa-doa kita. Antonius ini terkenal di Jakarta terutama di paroki-paroki yang memberi pelayanan devosi Antonius Padua, sembilan Selasa berturut-turut. Tahun 2005, saya menulis buku tentang beliau. Lingkungan yang berpelindung Antonius Padua, wajib memiliki buku ini. Ini bukan promosi. Tetapi ini dukungan untuk menyuburkan iman umat agar praksis devosionalnya dapat dipertanggung-jawabkan. Injil hari ini berbicara tentang sumpah palsu. Mula-mula ada kutipan mengenai sumpah palsu yang sesungguhnya merupakan kebohongan. Lawannya ialah sumpah kepada Tuhan. Tetapi Yesus melarang para muridNya bersumpah demi apa pun (langit, bumi, Yerusalem, atau kepala). Sumpah biasanya diucapkan untuk memperkuat suatu pernyataan atau sikap, atau keyakinan tertentu. Yesus melarang kita melakukan hal itu. Maka Yesus memberikan patokan moral baru: Jujur kepada diri sendiri dan masyarakat. Kejujuran adalah keberanian moral yang tidak mudah. Berkat kejujuran sebagai keberanian moral, orang bisa mempunyai kekuatan untuk mengatakan ya atau tidak. Jangan dibolak-balik. Kalau ya, katakan ya. Kalau tidak, katakan tidak. Jika lebih dari itu, dan melenceng dari patokan itu, itu adalah kerja setan. Itu peluang setan untuk masuk. Kalau terlalu banyak berkelit, nah kelitan itu berasal dari setan. Mari kita renungkan hal ini dengan baik.
JUM'AT 12 JUNI 2009
BcE.2Kor.4:7-15; Mzm.116:10-11.15-16.17-18; Mat.5:27-32.
Hari ini ada pesta Laurensius Maria Salvi, Yohanes dari Sahagun, Aleydis, dll. Mari kita mengenang orang-orang kudus ini dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini berbicara tentang kekhawatiran. Itulah salah satu sifat manusia: menjadi khawatir, menjadi cemas, Angst kata orang Jerman. Kekhawatiran itu tidak ada gunanya sama sekali. Ia tidak bisa mengubah apa pun dalam hidup kita. Ia juga tidak bisa memperpanjang usia hidup kita. Salah satu pokok kekhawatiran kita manusia ialah mengenai pakaian, mengenai busana. Boleh-boleh saja kita berpikir tentang hal ini. Tetapi jangan sampai terobsesi dengan pakaian itu. Apalagi sampai terobsesi dengan mode pakaian-pakaian yang datang silih berganti. Apalagi dengan terpaan dahsyat iklan: you are what you use, you put on, etc. Betapa itu amat melecehkan karena kita disamakan dengan apa yang kita pakai, apa yang kita kenakan. Sebaiknya sederhana saja dalam hidup ini. Yesus mengajak kita untuk memandang, menikmati dan mengagumi keindahan bunga bakung di padang. Ia tidak menenun, tidak memintal. Tetapi Allah memberinya pakaian paling indah, paling cantik. Bahkan keindahan, kemegahan yang dibangun Salomo pun tidak mampu mengimbangi kembang bakung di ladang itu. Atas dasar itu Yesus memberi penerapan berikut: Kalau bunga itu saja sangat diperhatikan Allah, apalagi manusia. Sebuah argumen afortiori. Ingat, manusia adalah citra Allah. Pasti Allah tidak tega membiarkan citraNya rusak atau binasa. Ini adalah ajakan eksplisit untuk senantiasa percaya kepada dan mengandalkan Allah dalam hidup ini. Allah itu maha penyelenggara. Ia pasti tahu apa yang terbaik bagi anak-anakNya tepat pada waktunya.
Rabu, 10 Juni 2009
KAMIS, 11 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Kis.11:21b-26; 13:1-3; Mzm.98:1.2-3ab.3c-4.5-6; Mat.10:7-13.
Hari ini pesta St.Barnabas. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini berbicara tentang pengutusan para murid. Pengutusan itu mengandung satu tugas utama: mewartakan kerajaan surga yang sudah dekat. Selain itu, ada tugas tambahan. Tambahan? Tidak juga. Karena apa yang dilukiskan di sana adalah perwujudan nyata dari hadirnya kerajaan Surga itu. Jika kerajaan surga itu datang maka akan ada kesembuhan, ada kebangkitan, setan akan menjauh, ada kemakmuran. Tugas perutusan ini harus dilakukan untuk memberi kabar baik itu kepada semua orang. Kabar baik keselamatan itu tidak boleh dimonopoli. Maka apa yang sudah diterima cuma-cuma, juga harus diberikan cuma-cuma. Rahmat tidak boleh dikurung bagi diri sendiri saja. Ada syarat penting dalam tugas perutusan itu. Tidak membawa apa-apa. Supaya orang hanya mengandalkan Allah. Percaya sepenuhnya kepada Penyelenggaraan Allah. Syarat lain ialah keramah-tamahan, hospitalitas. Wujud hospitalitas itu ialah memberi salam kepada orang yang rumahnya dimasuki, memberi salam kepada orang yang dijumpai. Tampak sepele, tetapi memberi salam, berarti menyampaikan kabar baik Allah kepada orang yang disalami. Syarat lain ialah jangan tinggal berpindah-pindah rumah. Tinggal di satu tempat sampai pindah ke tempat berikut. Itulah syarat menjadi pengikut Yesus: bersedia menjadi utusan dan menerima syarat-syarat tugas perutusan itu. Tidak mudah memang. Tetapi harus dilaksanakan.
Selasa, 09 Juni 2009
RABU, 10 JUNI 2009
BcE.2Kor.3:4-11; Mzm.99:5.6.7.9; Mat.5:17-19.
Injil yang kita dengar hari ini sangat singkat. Di sini ada dua hal yang dipertentangkan oleh Yesus perihal kedatanganNya ke dunia ini. Pertama, Ia menegaskan bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakan atau membatalkan hukum Taurat. Melainkan, kedua, Ia menegaskan bahwa Ia datang untuk mengenapi hukum Taurat itu. Jadi, Yesus adalah kegenapan Taurat. Yesus adalah kepenuhan hukum Taurat. Mengenai yang pertama, ada dua konsekwensi besar dan berat sekaligus. Kalau ada orang yang meniadakan atau membatalkan Taurat lalu mewartakannya dalam keadaan seperti itu, orang itu akan mendapat tempat paling rendah dalam kerajaan Surga. Sebaliknya kalau orang melakukan tuntutan hukum Taurat dan mengajarkannya, orang itu akan mendapat tempat terhormat dalam kerajaan Surga. Di sini kita temukan sosok Yesus sebagai orang Yahudi, yang karena itu amat menghormati adat istiadat leluhur Israel. Sebagai orang Yahudi Ia menghendaki agar semua orang dengan taat melaksanakan apa yang diperintahkan Kitab Suci. Jadi, pembenaran hidup kita bukan terutama dengan membaca, dan menguasai kitab suci, melainkan pembenaran itu terjadi karena orang dengan tekun dan secara konsisten melakukan perintah Allah yang tertuang dalam Taurat-Nya. Ini adalah jejak-jejak awal dari diskusi gereja purba mengenai hubungan antara identitas Kristianitas baru dan agama lama. Mateus, lewat mulut Yesus menegaskan adanya relasi itu dengan ucapan-ucapan Yesus tadi.
Senin, 08 Juni 2009
SELASA, 09 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.2Kor.1:18-22; Mzm.119:129.130.131.132-133,135; Mat.5:13-16.
Hari ini ada Pesta Santo Efrem, Beato Yosef de Anchieta. Mari kita kenangkan mereka ini dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini amat terkenal dan menarik perhatian. Ini adalah salah satu perumpamaan Yesus yang menarik: tentang garam dan terang. Garam di timur tengah yang panas terik, dipakai sebagai pendingin ruangan atau pelataran rumah. Biasanya dimasukkan dalam karung lalu ditumpuk di pelataran rumah. Hal itu mendatangkan efek sejuk dan dingin. Tetapi lambat laun, keasinan garam itu akan hilang atau habis. Kalau sudah tidak asin lagi, maka ia tidak berguna sama sekali. Harus dibuang dan diinjak orang. Perumpamaan kedua, tentang terang. Terang memang mau tidak mau harus tampak. Terang itu bersifat “menampakkan.” Tidak bisa tidak. Jika kita dipanggil menjadi terang dan garam, maka kita harus berfungsi secara sosial. Tidak bisa bersembunyi apalagi disembunyikan. Kalau sudah bernyala atau dinyalakan, ia harus ditempatkan di tempat tinggi agar bisa menerangi tempat-tempat di sekitarnya. Kalau ditaruh di tempat tertutup (gantang) maka ia tidak bisa menerangi, dan juga lama kelamaan ia akan mati karena kehabisan oksigen. Maka sebagai terang dan garam kita harus berfungsi secara sosial, berdampak bagi hidup bersama, hidup orang lain. Itu panggilan kita sebagai murid Yesus.
SENIN, 08 JUNI 2009
BcE.2Kor.1:1-7; Mzm.34:2-3.4-5.6-7.8-9; Mat.5:1-12.
Hari ini ada Pesta St.Maria, Tahta Kebijaksanaan, Sedes Sapientiae. Juga ada peringatan Beato Nikolaus Gesturi, Maria Droste. Mari kita kenangkan mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini amat terkenal dan menarik. Ini adalah tentang Kotbah di Bukit. Secara khusus di sini kita dengar Sabda Bahagia (Beatitudes) itu. Menurut daftar dalam Kitab Suci ada sembilan Sabda Bahagia, ditambah satu sabda Bersukacitalah. Salah satu ciri paling mencolok dari kesembilan sabda bahagia ini ialah sifatnya yang paradoksal. Hal yang dikatakan Berbahagialah itu, justru menjadi syarat bagi pencapaian suatu yang lebih tinggi, lebih bernilai. Di situlah letak paradoksalnya. Dalam arti itu untaian Sabda Bahagia menjadi suatu yang sulit, tidak mudah. Orang cenderung menganggap hal itu sebagai tidak benar, tidak mengandung kebenaran. Tetapi jika orang berusaha melaksanakan hal-hal itu dengan baik dan menghayatinya secara sungguh-sungguh maka akan tampak bahwa memang demikianlah adanya. Dalam perspektif yang lebih luas dari fakta negatif yang sekarang dialami, fakta negatif itu menjadi relatif, tidak berarti apa-apa lagi. Bahkan dalam perjalanan waktu ia bisa ditafsirkan secara post factum sebagai sesuatu yang positif. Kiranya Yesus memaksudkan hal itu demikian juga. Sebagai pengikut Kristus kita tidak bisa tidak berkewajiban moral untuk mewujud-nyatakan paradoks itu dalam hidup kita dari hari ke hari. Tidak mudah memang. Tetapi itulah risiko yang harus ditempuh sebagai pengikut Yesus.
Kamis, 04 Juni 2009
SABTU, 06 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Tb.12:1.5-15-20; MT Tb.13:2.6.7.8; Mrk.12:38-44.
Hari ini ada pesta St.Norbertus. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Mari kita meneladani para kudus. Injil hari ini amat menarik. Ada dua fokus perhatian. Pertama, nasihat untuk berhati-hati terhadap para ahli Taurat. Mengapa berhati-hati? Sebab mereka suka pamer kesalehan mereka, suka menonjolkan diri di ruang publik baik itu profan maupun sakral. Yang lebih jahat ialah mereka “menelan” rumah-rumah janda. Ada bau pejoratif sedikit di sini. Mereka tega dan nekad mengeksploitasi secara seksual posisi “lemah” kaum janda dalam masyarakat Israel. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, semua penyimpangan itu dibenarkan secara religius, dengan perilaku kesalehan dangkal. Yesus menghendaki agar para muridNya jangan berlaku seperti itu. Kedua, perihal persembahan janda miskin. Ketika ia mempersembahkan persembahan, janda miskin itu memberikan segala-galanya. Ia adalah contoh orang yang hidupnya seluruhnya mengandalkan Allah saja, dan tidak mengandalkan simpanan di Bank atau segala bentuk tabungan lainnya. Mungkin Ia teringat akan ibunya sendiri. Mari kita teladani sikap hidup dan iman seperti ini. Tidak mudah memang, tetapi kalau orang benar-benar beriman ia akan berani mengambil sikap untuk menempuh cara hidup seperti itu.
JUM'AT, 05 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Tb.11:5-17; Mzm.146:2abc.7.8-9a.9bc-10; Mrk.12:35-37.
Hari ini ada pesta St.Bonifatius, Uskup dan Martir. Ia pewarta yang menanamkan iman Kristiani dan injil di Eropa Utara (terutama Belanda dan Jerman). Injil hari ini menarik, tetapi juga sulit. Sulit karena membahas tema besar yaitu Mesias. Secara tradisional orang menantikan Mesias itu akan datang dari keturunan (dinasti) Daud,. Itulah harapan yang hidup dan kuat di kalangan orang Israel. Kepercayaan dan harapan tradisional inilah yang coba dipersoalkan dan dikoreksi Yesus. Betulkah Mesias itu anak Daud? Bukankah Mesias lebih besar dari Daud? Dengan mengutip Mazmur 110:1, Yesus mengatakan bahwa Daud sendiri menyebut Mesias sebagai Tuanku. Atas dasar itu, Yesus bertanya: bagaimana mungkin Mesias itu, yang oleh Daud disebut “Tuanku,” juga sekaligus merupakan anaknya? Inilah inti pokok diskusi ini. Betul Mesias anak Daud, tetapi sekaligus lebih besar dari Daud. Menarik bahwa reaksi orang yang mendengarnya, menurut Markus, ialah mereka senang. Mereka mendengar Yesus berbicara tentang masalah Mesias dengan senang hati. Kalau kita meneliti sejarah pergerakan dinamis teologi dan khususnya Kristologi gereja purba, inilah salah satu persoalan yang ingin dikemukakan dan diperjuangkan injil-injil. Bahwa, Yesus sebagai Mesias, adalah melampaui Daud. Ia lebih besar daripada Daud. Semoga kita bisa menerima dan menghayati hal ini. Saya teringat akan stiker yang mirip stiker Harley Davidson, tetapi ternyata yang tertulis di dalamnya ialah Jesus Davidson. Ini sebuah terobosan pengakuan iman yang masuk ke dalam dunia seni dan desain.
KAMIS, 04 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)
BcE.Tb.6:10-11; 7:1.9-17; 8:4-9a; Mzm.128:1-2.3.4-5; Mrk.12:28b-34.
Hari ini ada pesta Yakobus dari Viterbo, Petrus dari Verona. Mari kita kenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini juga amat terkenal. Ia membahas tentang hukum yang terutama. Ada seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama. Kalau kita cermati baik-baik jawaban Yesus, maka urutannya ialah sbb: Mula-mula Yesus menegaskan pengakuan iman monoteisme. Iman itu mempunyai konsekwensi etis, yaitu relasi cinta eksklusif dan total. Sesudah itu Ia bentangkan perintah kedua yang menandai relasi etis-humanis manusia. Jika yang pertama, menandai relasi teologis-etis, maka yang kedua menandai relasi antropologis-etis. Struktur jawaban itu dibenarkan, diterima oleh si orang Farisi tadi. Sebab ia mengulang kembali struktur itu dalam jawaban konfirmasinya. Jadi, orang itu memahami perintah kasih itu yang selalu bermata ganda itu: kepada Allah dan kepada sesama seperti kepada diri sendiri. Yesus melihat bahwa orang itu menerima dan memahami perintah tadi, Ia pun menyebut orang itu sebagai orang yang dekat dengan Kerajaan Allah. Jadi, kalau orang berada dalam relasi kasih, dan melaksanakan idealisme perintah kasih itu, ia tidak jauh dari kerajaan Allah. Semoga kita didapati demikian juga sebagai para murid Kristus.
RABU, 03 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
BcE. Tb.3:1-11a.16-17a; Mzm.25:2-4a.4b-5ab.6-7bc.8-9; Mrk.12:18-27.
Hari ini ada pesta Karolus Lwanga dkk. Mereka adalah martir Uganda (ada tujuh). Mari kita kenang mereka dalam doa dan hidup kita. Injil hari ini juga menarik. Kemarin Yesus “nyerempet” ke masalah politik. Hari ini Ia “nyerempet” ke soal eskatologi dan problem etis-sosiologisnya. Orang Saduki adalah salah satu “partai” dalam masyarakat Yahudi jaman Yesus, selain Farisi, Eseni, Zelot, dll. Saduki dan Farisi sering berkonfrontasi karena perbedaan prinsip dan pandangan hidup. Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan. Sedangkan orang Farisi percaya. Orang Saduki datang mempersoalkan hal itu kepada Yesus dengan mengangkat kasus rumit, dan khas masyarakat jaman itu. Ada perempuan, yang kawin dengan tujuh laki-laki bersaudara berturut-turut. Jika ada kebangkitan, siapa yang menjadi suami perempuan itu dalam alam kebangkitan? Jawaban Yesus: dalam alam kebangkitan, orang akan hidup seperti malaekat, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Tetapi apakah ada kebangkitan? Yesus menjawab: ada. Sebagai bukti – ini menarik karena ini khas dalam argumentasi jaman itu – Yesus menunjuk kepada perkataan dalam Kitab Keluaran bahwa Allah menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Tidak mungkin Allah adalah Allah orang mati. Ia pasti adalah Allah orang hidup. Jadi mereka sudah hidup, sudah bangkit dan hidup di hadapan Allah. Jadi, kebangkitan itu ada dan sudah terjadi. Semoga kita percaya dan menerimanya.
SELASA, 02 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
Bc.E.Tb.2:9-14; Mzm.112:1-2.7bc-8.9; Mrk.12:13-17.
Hari ini ada pesta Marcellinus dan Petrus, Feliks dari Nikosia. Mari kita kenang mereka. Injil hari ini amat terkenal dalam sejarah gereja, khususnya dalam relasi gereja dan negara, uskup, Paus, raja, pemerintahan. Ada beberapa hal menarik dari injil ini. Inilah adegan di mana Yesus nyerempet ke perpolitikan. Ia dijebak dalam diskusi politik yang tidak mudah. Pertanyaan yang diajukan menyangkut kewajiban mendasar sebagai warga negara: membayar pajak kepada kaisar (pemerintahan). Boleh ataukah tidak boleh? Jawaban Yesus menarik: Melihat gambar dalam uang yang dipakai membayar pajak. Ternyata ada gambar dan tandatangan Kaisar. Setelah mendapat konfirmasi tentang hal itu, Yesus memberi jawaban terkenal ini: Berilah kepada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar, kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Inilah dua kewajiban fundamental pengikut Kristus. Mempunyai kewajiban fundamental kepada negara, dan juga terhadap gereja atau agama. Ada yang menilai bahwa ini adalah kewajiban mendua, yang menyulitkan. Tetapi itu tidak terhindarkan. Kita harus taat kepada negara dan juga kepada gereja. Jika terjadi konflik kepentingan, konflik penafsiran (kata Ricoeur), maka gereja sebagai kuasa rohani harus dapat prioritas. Pendapat ini sudah dianut dalam sejarah gereja, sejak awal mula sampai sekarang. Mungkin sulit. Walau sulit, kita harus bisa menerimanya dan menjalankannya secara murni dan konsekwen.
SENIN, 01 JUNI 2009
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)
Bc.E.Tb.1:1a.2a.3; 2:1b-8; Mzm.112:1-2.3-4.5-6; Mrk.12:1-12.
Hari ini, dalam liturgi kita ada pesta St.Yustinus Martir. Selain itu, ada juga pesta Beato Uskup John Baptist Scalabrini. Mari kita kenang mereka. Teladan unggul dalam iman dan moral. Injil membahas beberapa hal penting. Yaitu sebuah gejala dalam masyarakat kita: Perkara tidak tahu diri. Siapa pemilik? Siapa penggarap? Kiranya hal ini biasa? Pemilik kebun anggur meminta jatahnya. Untuk itu, tiga kali ia mengutus utusan (hamba). Semuanya diabaikan. Bahkan dimatikan. Semua dilakukan dalam rangka perampasan hak. Kali keempat yang diutus bukan lagi hamba melainkan anak. Ternyata anak ini juga dihabisi, supaya ahli waris lenyap. Kalau ahli waris tidak ada lagi, maka proses perampasan diduga lebih mudah. Ternyata tidak. Si tuan marah besar. Ia datang dan menghukum penggarap itu dan kebun pun dialihkan kepada penggarap lain. Tugas (menggarap) adalah kepercayaan. Tetapi kepercayaan itu adalah tanggung-jawab yang harus dipertanggung-jawabkan. Kata Orang Jerman, Gabe ist auch Aufgabe. Pemberian adalah juga Tugas. Itu yang diabaikan para penggarap yang tidak tahu diri ini. Sekali dipercayai, maka jangan sia-siakan kepercayaan itu. Sebab membangun kepercayaan bukan perkara mudah. Sekali kepercayaan rusak, ia tidak bisa dibangun dan dipulihkan kembali. Kepercayaan itu mahal. Banyak hal dalam hidup ini terjadi atau dilakukan di atas landasan kepercayaan itu.
Selasa, 02 Juni 2009
SABTU, 30 MEI 2009
BcE.Kis.28:16-20.30-31; Mzm.11:4.5.7; Yoh.21:2025.
Hari ini novena kesembilan, hari terakhir. Besok kita merayakan Pentakosta. Beberapa lembaga hidup bakti punya hari raya Hunda Hati Kudus. Injil hari ini cukup sulit dipahami. Tetapi intinya adalah mengenai relasi kedua orang: yang satu ditugaskan menjadi gembala domba. Yang lain, dijuluki murid yang dikasihi. Kedua hal itu adalah gelar. Sama-sama agung dan mulianya. Seharusnya keduanya berjalan berbarengan dalam memimpin dan mengilhami jemaat atau gereja. Tetapi selalu ada godaan bahwa yang satu merasa terganggu oleh yang lain. Kiranya Petrus, walau sudah mendapat tugas mulia sebagai gembala, merasa terganggu dengan kehadiran model keteladanan dan kepemimpinan yang lain. Itu sebabnya ia bertanya: bagaimana dengan dia ini? Jawaban Yesus kira-kira: “Kau tidak usah mempedulikan orang itu. Itu urusanKu. Tugasmu ialah mengikuti Aku. Titik.” Jadi, mutu kemuridan mereka terletak dalam fakta apakah mereka tekun mengikuti Yesus atau tidak? Walau Petrus pernah jatuh, terbukti akhirnya ia adalah murid setia di lorong yang ditempuh Guru, via dolorosa. Sedangkan murid yang lain tidak dikatakan jelas bagaimana matinya? Tetapi mutu hidup dia ditentukan oleh mutu kasih. Selama kasih itu ada dan hidup, ia tetap ada dan hidup selamanya. Itulah peluang kita sebagai murid Kristus: kita ditantang menjadi murid yang dikasihi. Semoga berhasil.
