Sabtu, 06 Januari 2018
TEOLOGI "COMPLETORIUM"
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Salah satu untaian doa dalam lingkaran sehari menurut tradisi gereja Katolik khususnya tradisi hidup monastik ialah Completorium. Itu adalah bagian dari Ofisi Ilahi, yang terdiri atas pendarasan mazmur. Completorium itu adalah doa malam, doa penutup seluruh hari, doa sebelum pergi tidur malam. Dengan itu, seluruh kegiatan sehari ditutup dan dipuncaki dengan mahkota completorium, dengan doa malam. Sesudah memanjatkan doa malam (completorium) kita masuk dalam alam tidur malam, beristirahat, dalam rangka upaya memulihkan lagi tenaga jasmani kita yang sudah dipergunakan dalam kegiatan sepanjang hari. Tentu kita berharap agar keesokan harinya kita dapat bangun kembali dengan semangat baru dan segar agar kita dapat memulai lagi tugas dan kewajiban kita dalam rangka memuji dan memuliakan Tuhan dan demi keagungan dan keselamatan umat manusia.
Completorium hanya salah satu untaian waktu doa dalam bentangan sehari. Selain itu ada laudes (ibadat pagi), ibadat siang, ibadat sore (vespere), ibadat bacaan (sebelum Laudes). Total adalah lima waktu doa. Dengan demikian, tampak bahwa tradisi gereja sesungguhnya mengajarkan kita agar berdoa dalam beberapa penggal waktu. Dalam tradisi yang lebih ketat (hidup monastik kontemplatif), para Bapa Gereja mengajarkan kita tentang tujuh penggal waktu berdoa (hal itu sesuai dengan tradisi kuno orang Yahudi, yaitu bahwa mereka berbangga bahwa tujuh kali sehari mereka mengucapkan dan memuji nama Yahweh; bdk., Mzm 119:164).
Dalam tulisan ini saya mau menyoroti dua bagian dalam doa completorium, yang menurut saya erat terkait satu sama lain. Pertama, pemeriksaan batin (pengakuan dosa). Kedua, lagu singkat (responsorium) yang dinyanyikan (didaraskan) sesudah bacaan singkat (lectio brevis). Saya mulai dengan menguraikan bagian kedua, lagu singkat. Isi lagu singkat ini dalam buku Completorium kita ialah sbb: “Ke dalam tanganMu kuserahkan diriku, ya Tuhan Penyelamatku.” Dengan lagu singkat ini, kita menyerahkan diri secara total ke dalam tangan Tuhan Allah Pencipta alam semesta dan sekaligus sang Penyelamat (Salvator, Savior) kita. Kita berani melakukan hal itu (penyerahan diri secara total) karena kita percaya bahwa “Engkaulah penebusku, ya Allah yang benar.” Sebagai Allah yang benar, Ia tidak mengecewakan pengharapan dan kepercayaan kita. Tanpa kepercayaan mendasar seperti itu, mustahil kita berani menyerahkan diri secara total kepada Dia yang bersemayam dalam cahaya yang tiada terhampiri (1Tim.6:16), misteri yang tiada terpemanai. Misteri “Das Ganz Andere”, Ia yang serba sangat lain, dalam istilah Rudolf Otto.
Jika kita amati dengan teliti, maka jelas bahwa bagian awal teks lagu singkat ini diambil dari Injil Lukas 23:46. Bunyinya di sana ialah sbb: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Itu adalah kalimat pengantar sebelum Yesus wafat di salib. Sesudah mengucapkan kalimat penyerahan diri itu, Yesus wafat. Teks Lukas sendiri dikutip dari Mazmur 31:6. Dalam konteks Mazmur, seruan itu adalah doa mohon perlindungan kepada Tuhan, agar tidak mati sia-sia di tangan para lawan (musuh) yang penuh rancangan dan persekongkolan jahat. Dalam Injil Lukas, teks tadi dipakai sebagai doa pengantar menjelang wafat.
Di sini saya bertanya secara kritis: Mengapa Yesus menyerahkan roh-Nya kepada Allah di salib? Itu tidak lain karena Tuhan-lah yang empunya Roh itu. Roh itu berasal dari Allah sang Pencipta. Pada saat penciptaan, Allah sang pencipta yang menghembuskan roh itu kepada manusia (Kej.2:7: “...ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Dengan demikian dalam praksis Yesus di salib itu, saat kematian (the moment of death) menjadi saat untuk ingat akan pencipta, momen untuk melakukan “memento creatoris” (seperti diserukan dalam Pengkotbah 12:1). Tetapi kita tidak hanya diingatkan untuk ingat akan kematian, memento mori, melainkan juga ingat akan sang pencipta saat menjelang kematian. Tetapi dalam kasus Yesus di salib “memento mori” menjadi konteks yang sangat dekat dari “memento creatoris”: yakni saat Ia berhadapan dengan realitas maut secara sangat nyata, Ia teringat akan sang pencipta-Nya sehingga Ia pun terdorong menyerahkan kembali roh-Nya kepada sang Pencipta.
Kalau kini kita memakai teks tadi dalam dan sebagai bagian utuh dari doa malam (completorium), padahal dulu Yesus memakainya sebagai teks pengantar menuju alam maut (kematian), maka pasti ada sebuah paralelisme yang kuat antara alam maut dan alam tidur malam (kegelapan malam). Tatkala kita mau melewati misteri tidur dalam malam kelam, kita menyerahkan terlebih dahulu roh kita kepada Tuhan yang empunya roh. Kita berharap agar roh kita aman dalam naungan, pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan seperti harapan pemazmur (31:6). Kalau besok pagi Roh itu dikembalikan kepada kita dan kita bisa bangun lagi, maka kita patut bersyukur atas peristiwa itu. Kita masih diberi kesempatan untuk melihat fajar hari baru. Kita masih diberi kesempatan untuk menghirup nafas kehidupan sekali lagi. Itulah sebuah mukjizat baru dan ajaib dalam hidup kita setiap hari dan dari hari ke hari. Sebaliknya, kalau ternyata roh itu tidak kembali kepada kita, maka tidak apa-apa juga. Mengapa? Toh sebelum tidur malam kita sudah menyerahkannya dengan baik-baik kepada Dia yang empunya roh, seperti yang terjadi dalam kasus Yesus di salib (Luk.23:46).
Dalam konteks itulah kita menyadari arti penting dari pemeriksaan batin (pengakuan dosa) di awal completorium. Dengan ini saya membahas bagian pertama dari artikel tadi. Pemeriksaan batin (pengakuan dosa) pasti dimaksudkan untuk membersihkan atau memurnikan hati, purificatio cordis. Dengan ini hati kita dibersihkan dan dimurnikan dari noda, dosa, dan kotoran yang dilakukan sepanjang hari, sebab kita mudah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan dengan kelalaian kita (akukan dengan rendah hati dalam Confiteor, “Saya Mengaku” itu). Kitab Suci menganjurkan kita agar rajin menguji hati sanubari (1Kor.11:28; 2Kor.13:5) dan pandai menghitung hari hidup (Mzm.90:12) agar menjadi bijak dalam hidup yang singkat (vita brevis) ini. Semua hal itu penting dalam rangka cita-cita menjadi manusia baru dalam setiap tahap hidup, seperti saat bangun tidur di pagi hari baru. Hari baru, menjadi manusia baru (Ef.2:5; Kol.3:10), menjadi ciptaan baru (2Kor.5:17; Gal.6:15), seperti kata Paulus. Manusia lama ditinggalkan dan turut disalibkan (Rom.6:6).
Kembali ke roh yang disinggung dalam teks lagu singkat di atas tadi. Roh itulah yang dihembuskan Allah pada saat menciptakan manusia pada awal mula (Kej.2:7). Roh itu tinggal dalam hati kita. Roh itulah yang menghidupkan kita, yang menjadikan kita makhluk hidup. Bahkan Roh itu pulalah yang membantu kita untuk berdoa (Rom 8:26). Roh itu yang membantu kita mengenal Allah dan menyapa Allah sebagai Abba (Rom.8:14-17). Roh itulah yang pada awal mula mencipta dan membuat kita hidup dan berada (bdk.Kej.2:7). Karena Roh itu tinggal dalam diri kita maka tubuh kita pun adalah bait Roh Kudus (1Kor.6:19). Karena itu, tubuh harus suci, tidak boleh tercemar dosa, sebab tubuh itu bukan untuk percabulan (1Kor.6:13), melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh (1Kor.6:13). Maka kita tidak boleh main-main dengan tubuh sebab tubuh itu anggota Kristus (1Kor.6:15). Kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh (1Kor.6:20). Demikian kata Paulus. Di sinilah letak arti penting refleksi santo Yohanes Paulus II tentang Theology of the Body yang terkenal itu.
Kembali ke completorium. Doa itu disusun sedemikian rupa sehingga seluruh rangkaian hidup kita selalu dalam keadaan siap sedia menyongsong datang dan kehadiran Tuhan. Seperti kata madah completorium: “meski mata kan tertidur, semoga hati berjaga, rapi selalu teratur, siap menyambut rajaNya.” Ini adalah idealisme injili sebagaimana yang dibentangkan dalam perumpamaan tentang lima gadis bijaksana itu (bdk.Mat.25:1-13), yang selalu bersiap sedia dengan lampu dan minyaknya yang penuh untuk menyongsong datangnya pengantin yang tiada terduga-duga pada tengah malam.
Akhirnya, Completorium kini menjadi doa resmi gereja yang diwajibkan untuk biarawan, biarawati, dan imam. Tetapi oleh karena doa itu sesungguhnya adalah doa seluruh gereja, maka seluruh anggota gereja, jadi seluruh umat beriman, harus (wajib) melakukannya juga. Kiranya itu bukan hanya tugas para biarawan atau imam saja. Melainkan kewajiban kaum beriman (awam dan klerus) seluruhnya. Tegasnya, kewajiban seluruh kaum beriman. Jika idealisme ini terjadi, maka tuduhan (beberapa kalangan) yang biasa disebut dengan istilah “monastisasi hidup doa dan kesalehan dalam tradisi gereja”, kiranya bisa ditepis. Saat semua kaum beriman berdoa dengan rutinitas, semangat, dan ketekunan yang sama maka tuduhan tadi menjadi mentah dan tidak relevan lagi. Oleh karena itu, marilah kita berdoa, tidak hanya doa malam saja, melainkan berdoa terus menerus, atau oratio continua (sebagaimana dianjurkan Paulus, dalam Ef.6:18; Flp.1:4; Kol.1:9). Dalam bagian akhir tulisan ini saya mendorong kita semua untuk selalu melantunkan Completorium sebagaimana yang diajarkan tradisi bunda gereja (mater ecclesia) yang agung.
Senin, 24 Oktober 2016
ROH KUDUS BERDOA BAGI KITA (Rom 8:26)
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Santo Paulus adalah salah satu tokoh yang mempunyai daya pengaruh yang sangat besar dalam sejarah Gereja, dalam sejarah Kekristenan itu sendiri. Sedemikian besar daya pengaruhnya sampai-sampai ada orang yang berani mengatakan bahwa Paulus-lah pendiri dan pendasar agama Kristiani. Tentu saja hal itu salah besar. Memang betul bahwa Paulus mempunyai jasa yang sangat besar dalam proses internasionalisasi agama Kristiani itu (yaitu membawa keluar agama Kristiani itu dari cangkang agraris-rural Palestina, ke seluruh alam metropolitan bahkan kosmopolitan Greco-Roman), tetapi ia bukanlah satu-satunya tokoh yang berperan dalam seluruh proses dan gerakan itu. Harus selalu diingat bahwa proses masuknya iman Kristiani ke dalam Metro-kosmopolis Greco-Roman pada saat itu, sudah terjadi jauh mendahului aktifitas misioner Paulus. Buktinya? Sebelum Paulus datang dan tiba di Roma, sebagaimana yang sudah direncanakannya juga (Rom 15:23; 28) dalam pelbagai rencana perjalanan dan pelayanannya, di sana sudah ada orang Kristiani. Paulus sendiri mengatakan bahwa ia berubah menjadi sang pewarta iman karena Kristus Yesus. Bahkan iman mereka sudah terdengar di sluruh dunia (Rom 1:8). Yesus ada di dasar hidup Paulus. Paulus pun mengaku bahwa ia adalah orang yang ditangkap dan dibelenggu Kristus (Flp 3:12). Paulus hanya mewartakan Kristus Yesus sebagai perwujudan nyata Injil Allah sebagai suatu daya kekuatan yang menyelamatkan orang yang percaya (Rom 5:16).
Setiap kali saya membaca atau membahas sesuatu tentang Paulus maka selalu ada hal-hal personal dalam diri saya yang seperti merasa tersentuh, entah kenapa, dan entah bagaimana. Misterius sekali. Dan bahkan serasa seperti terangkat juga. Salah satu teks pemicunya ialah teks yang dari Roma 8 itu. Maka tulisan saya selanjutnya tidak lain hanya mencoba membahas tentang hal itu. Tetapi ini juga bukan sebuah eksegese murni. Ini sebuah eksegese eksistensial, berangkat dari pengalaman dan terutama penghayatan hidup personal saya sendiri. Bagi saya yang ini jauh lebih bermakna daripada yang terdahulu. Secara garis besar dalam perikopa ini Paulus berbicara tentang peranan dan karya Roh Kudus dalam hidup gereja, bahkan juga dalam hidup personal-spiritual manusia. Sebuah pneumatologi yang amat menarik perhatian tentu saja. Saya katakan personal karena ini menyangkut proses penemuan yang juga bersifat personal. Hal itu bisa terjadi karena dialog saya dengan salah seorang Bapa Rohani saya dulu saat di postulan OFM di Pagal, yaitu pater Vicente Kunrath OFM. Ceritanya rada panjang. Tetapi kalau disingkat kira-kira seperti berikut ini.
Saat saya masuk seminari kecil dulu di Manggarai Flores, pada tahun 1975, saya termasuk salah satu siswa yang paling kecil, paling kurus, paling lemah secara fisik. Kondisi kurus ini menyebabkan saya menjadi minder, apalagi teman-teman selalu mengolok saya sebagai kurus dan sama sekali tidak diperhitungkan dalam kegiatan olah raga maupun pelbagai macam kegiatan lain yang membutuhkan kekuatan jasmani. Saya ingat, saat kelas satu sampai kelas tiga SMP, saya belum bisa memukul (servis) bola voly sampai melewati net. Paling-paling bola itu hanya terlontar beberapa meter saja di depan saya sendiri. Karena itu, setiap hari olah raga adalah sebuah penderitaan bagi saya. Apabila tiga giliran saya untuk servis bola, teman-teman dan bahkan juga wasit mengatakan: “Ah, sudah, daripada buang-buang waktu, lebih baik bola langsung saja pindah ke sebelah (maksudnya: ke tim lawan), sebab pasti tidak akan bisa lewat net lagi.” Begitulah, saya tidak diberi sempat dan tempat untuk melatih diri dan kekuatan dan kepercayaan diri untuk memukul bola itu sampai bisa melewati net.
Hal ini mendorong dan menyebabkan saya berdoa secara sangat kongkret. Setiap hari saya berdoa memohon kepada Tuhan agar saya bisa menjadi gemuk, biar badan saya bisa menjadi kuat dan bisa memukul bola voly melewati net. Kalau hal itu bisa terjadi, maka saya tidak lagi akan diremehkan dan ditertawakan teman-teman. Tiap-tiap hari itulah yang saya mohon dalam doaku kepada Tuhan. Saya berdoa secara sangat kongkret dan nyata. Saya merasa hal itu tidak salah juga. Toh dalam doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajar kita untuk berdoa secara kongkret: “Berilah kami, roti pada hari ini” (panem nostrum quotidianum da nobis hodie) (bdk.Mat.6:11; LAI: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya; bdk.Luk 11:3; LAI: Berikanlah kami setiap hari makanan kami yanag secukupnya). Jadi, Yesus mengajar kita untuk tidak meminta hal-hal yang terlalu muluk-muluk, melainkan meminta hal fundamental untuk hidup, yaitu makanan, roti. Maka atas dasar rumusan verbal itu, saya coba ubah atau adaptasi sedikit: “Berilah aku, badan yang gemuk, badan yang kuat, pada hari ini.” Setiap malam dalam doa devosi pribadiku di gua Maria, hal itulah juga yang saya mohon. Hanya itu saja. Hampir tidak ada lagi hal lain dari itu.
Tetapi sama sekali tidak ada perubahan. Tidak ada hasil. Saya sama sekali tidak menjadi gemuk. Saya tetap sangat kurus, lemah. Akhirnya, setelah lima tahun belajar di Seminari Kecil, saat saya duduk di kelas dua SMA (Kelas V Seminari) saya jatuh dalam sebuah krisis hidup rohani. Kongkretnya, saya mengalami krisis hidup doa. Tiba-tiba saja saya merasa tidak bisa lagi berdoa. Tiba-tiba saja saya merasa bahwa saya tidak perlu lagi berdoa. Bahkan saya merasa bahwa doa itu tidak ada gunanya sama sekali. Sia-sia belaka. Maka sejak saat itu, boleh dikatakan bahwa saya berhenti berdoa, tidak mau dan tidak bisa lagi berdoa. Dorongan spontan dan lugu masa kanak-kanak dalam semangat doa, tiba-tiba sirna begitu saja. Mungkin itu sebuah pendekatan yang terlalu fungsional terhadap doa. Sekali lagi sejak saat itu saya tidak lagi pernah berdoa. Aktifitas doa hanya saya lakukan sekadar dan sebatas sebagai sebuah solidaritas sosial sebagai siswa Seminari saja. Tidak ada isinya sama sekali. Selain sebuah apatisme rohani. Bahkan juga sinisme spiritual. Ya, sekadar untuk taat aturan dan menekuni rutinitas saja. Tidak menjadi pembangkang. Hidup doa saya kosong dan kering kerontang. Penyebabnya, ya itu tadi, karena saya merasa doa saya tidak terkabul sama sekali selama lima tahun. Tentu itu bukan sebuah rentang waktu yang singkat. Bukan main lamanya. Tuhan sepertinya tidak menjawab doa saya. Tuhan seperti sebuah tembok, wadas yang dingin bagi saya, begitu kata orang-orang dalam karangan tentang hidup rohani dan doa. Saya masuk ke dalam alam kekersangan rasa, kegersangan rohani dalam istilah Pater Groenen dan Aleks Lanur dalam buku biru bimbingan hidup doa dan hidup rohani di novisiat dulu.
Dengan kondisi spiritual seperti itu saya lewatkan sisa-sisa tahun hidupku di seminari kecil dan menengah. Setelah tamat dari seminari menengah saya memutuskan untuk masuk OFM. Saat itu kami harus melewati tahap postulat dan novisiat. Masa Postulat saya jalani di biara santo Yosef Pagal. Di situlah saya bertemu dengan Pater Vicente Kunrath OFM; sesungguhnya saya sudah mengenal beliau sebelumnya sebab ia pernah diundang menjadi pembimbing ret-ret bagi kami siswa Seminari kecil dan menengah dulu. Selama di masa postulat itu saya ingat beberapa kali saya datang ke kamar beliau untuk meminta bimbingan dan nasihat rohani dari dia, menyangkut macam-macam hal terkait dinamika hidup anak muda, hidup rohani dan hidup doa. Salah satu pokok yang amat mengganggu saya saat itu ialah fakta bahwa sudah hampir tiga tahun terakhir dalam hidup saya, saya mengalami sebuah krisis hidup rohani, sebuah krisis hidup doa yang saya anggap sangat parah dan gawat. Itulah yang saya sharingkan ke dia dengan mengisahkan latar belakang personal di atas tadi.
Betapa saat itu saya sangat terkejut karena begitu saya mengatakan bahwa saya mengalami krisis hidup doa, krisis hidup Rohani, Pater Vicente pun tertawa dan senyum-senyum. Lalu dia berkata dengan sangat tenang, penuh gaya kebapaan: “Frans, ingat yah, bukan hanya kamu yang mengalami hal-hal seperti itu. Setiap orang juga begitu. Saya juga begitu; itu adalah sesuatu yang sangat manusiawi, sangat alami.” Terus terang saja, saat itu saya sangat terkejut. Lalu dia menantang saya dengan sebuah pertanyaan retoris-kritis: “Emang-nya Frans tahu cara berdoa yang baik dan benar?” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita manusia tidak tahu cara berdoa yang baik dan benar, Frans.” Terus terang saja, saya sangat terkejut dengan hal itu dan benar-benar ada diluar dugaan saya sama sekali. Terutama ketika dia mengatakan bahwa: “Saya juga begitu.” Padahal bagi saya dan bagi semua teman yang lain, dia adalah laksana sebuah “tabernakel” berjalan Dia adalah seorang pendoa sejati, seorang yang saleh hidupnya. Atau jangan-jangan dia berkata begitu, hanya sekadar untuk menyatakan rasa solidaritas saja terhadap manusia kritis yang sedang berada dalam krisis, kegentingan rohani. Mungkin saja. Sebuah metode pendekatan rohani. Entahlah.
Setelah dia mengatakan begitu, dia mulai serius: “Frans, kita semua tidak tahu cara berdoa. Camkan dan ingat hal itu baik-baik. Kita hanya sekadar mengucapkan kata-kata saja. Mungkin kata-kata itu kosong. Sekadar Lip services. Hanya bunyi dan bunyi saja. Bahkan Flatus vocis. Gumam, menggerutu... hemmmmmm.... berdekut seperti merpati.” Lalu ia diam sejenak. “Tetapi, Frans, janganlah takut. Marilah kita baca teks ini.” Lalu dia membuka kitab Suci yang terletak di meja kecil di sampingnya. Ia membuka pada Roma 8:26. Bunyinya sebagai berikut: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.” Tidak berhenti di situ saja. Dalam ayat berikutnya terbaca teks berikut ini: “Dan Allah yang menyeleidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Rom 8:27).
Lalu kami diam sejenak. Bukannya saya belum pernah dengar atau baca teks itu sebelumnya. Saya sudah membacanya dan mendengarnya berkali-kali, baik di gereja, maupun dalam kegiatan bacaan rohani (lectio divina) di seminari kecil dulu. Tetapi entah mengapa, kali ini, teks itu terasa hidup, terasa seperti sebuah wahyu baru dan khusus ditujukan bagi saya sekarang dan di sini. “Frans, kamu dengar itu? Jadi, jangan takut, dan jangan bingung. Roh Kudus berdoa bagi kita.” Di sini saya tiba-tiba teringat bahwa selama masa krisis rohani dan krisis doa dulu di seminari, selama saya melewati masa kekersangan rasa, saya sering sekali berkeluh-kesah, bahkan mengumpat, sampai sumpah serapah: Mengapa Tuhan diam? Mengapa Tuhan membisu? Terkadang saya takut sendiri membayangkan “ateisme praktis” saya pada saat itu: hidup seakan-akan Allah tidak ada. Atau, apakah Allah ada atau tidak, sama sekali tidak penting bagi saya, sama sekali tidak saya hiraukan, karena tidak ada efeknya bagi hidup saya. Hal-hal itu juga saya sharingkan kepada beliau. Dan dengan santai ia mengatakan: “Frans, itu juga tidak apa-apa. Itu juga sebuah doa. Atau sudah diubah menjadi doa. Doa-doa itu mungkin dalam bentuk menggumam saja, tetapi oleh Roh Kudus sudah diubah menjadi kata-kata bermakna doa dan dengan itu bisa sampai ke hadapan hadirat Tuhan.” Di sini saya tiba-tiba menjadi sadar bahwa betapa pun saya mengalami krisis, tetapi akhirnya saya bisa melewati krisis itu. Dan peristiwa selamatnya saya melewati krisis itu, itupun adalah rahmat juga. Sebuah mukjizat hidup rohani.
Di akhir jam bimbingan rohani itu, pater Vicente mengatakan kepada saya: “Ingat Frans, mazmur-mazmur juga, ada kategori yang termasuk keluh-kesah, yang isinya ya, persis seperti bertanya-tanya dan berontak kepada Tuhan, menggugat Allah. Coba kamu buka saja kitab Mazmur; maka pasti kamu akan menemukan beberapa kategori Mazmur seperti itu. Tetapi yang menarik ialah bahwa tradisi Yudeo-Kristiani tetap menyebut semua Mazmur itu sebagai doa. Ya keluh-kesah juga adalah doa.” Saya benar-benar mendapat kelegaan setelah mendapat teks dari Paulus ini.
Sejak saat itu saya pun mengalami sebuah daya kekuatan baru. Saya mengalami sebuah kebangkitan rohani baru; seakan-akan terlahir kembali (tetapi saya bukan anggota Born Again Church, lho). Saya pun menjadi sadar bahwa Doa dan kemauan untuk berdoa juga adalah sebuah peristiwa Rahmat dari Allah semata-mata. Saya juga menjadi sadar bahwa sesungguhnya tidak ada jalan buntu dalam doa. Saat kita seperti sudah kehabisan dan kehilangan kata-kata, maka Roh akan membantu kita untuk berdoa. Ini benar-benar sebuah temuan rohani besar dan sebuah kebangkitan rohani yang luar biasa. Ya, Roh berdoa bagi kita dengan seruan-seruan yang tidak terucapkan (Rom 8:26).
Bandung, Januari, 2016.
Senin, 09 April 2012
PRIORITAS "MENDENGAR" DI ATAS "MELIHAT"
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Salah satu teks injil Yohanes yang melukiskan mengenai peristiwa kebangkitan Yesus dari alam maut dan yang selalu menyentuh dan menarik perhatian saya ialah Yohanes 20:11-18. Kalau kita baca teks itu dengan teliti, maka kita akan menemukan sebuah hal yang menarik dan sangat penting, karena menyangkut sebuah pandangan teologi mengenai iman akan Yesus Kristus dan juga terutama hubungan dengan Yesus Kristus. Di sana dikisahkan tentang peristiwa penampakan Yesus kepada Maria Magdalena, sebab inilah salah satu rangkaian dari kisah-kisah penampakan Yesus menurut Yohanes.
Dikatakan bahwa Maria menangis sedih tatkala pagi-pagi ia pergi mengunjungi tempat Yesus dimakamkan. Mungkin ia sudah menangis sepanjang perjalanan menuju ke makam itu. Mungkin juga ia sudah menangis sedih sejak hari penyaliban itu. Entah mulai kapan dan berapa lama, yang jelas sekali lagi dikatakan bahwa ia menangis sedih. Ia semakin sedih lagi tatkala tahu dan menyadari bahwa makam itu sudah kosong. Ia pasti menangis sejadi-jadinya. Sebab ia datang untuk melihat jenazah-Nya, tetapi ia hanya menemukan makam yang kosong. Jadi dapat dibayangkan bahwa air mata menggelinang di pelubuk matanya.
Kita semua juga tahu bahwa kalau kita menangis maka biasanya penglihatan kita menjadi kabur, penglihatan kita menjadi tidak serba jelas karena mata kita tertutup oleh butir-butir air mata yang menggenang di sana. Akibatnya, kita akan sulit mengenal orang dengan cepat dan tepat. Dari kondisi ini akan muncul kebingungan dan salah paham. Juga akan muncul miskomunikasi. Persis itulah yang terjadi dan dilukiskan di dalam teks ini. Maria salah memahami Yesus. Kiranya itulah sebabnya ketika menoleh, Maria tidak langung mengenal Yesus. Ia pangling. Salah paham ini terus berlanjut dan menghasilkan dialog-dialog seperti yang kita baca di sana.
Tetapi lalu dikatakan bahwa Yesus menyebut namanya: Maria. Ya, Yesus menyebut nama Maria. Saya lebih suka memakai kata memanggil (to call) daripada menyebut (to mention). Sebab ada beda di antara keduanya. Memanggil itu membutuhkan suatu tanggapan personal dari orang yang namanya dipanggil. Menyebut itu tidak mutlak membutuhkan tanggapan personal dari orang yang namanya dipanggil itu. Dan yang sangat menarik ialah bahwa ketika ia (Maria) mendengar suara yang menyebut atau memanggil namanya, barulah Maria langsung mengenal si empunya suara yang memanggil atau menyebut namanya tadi. Maka sebagai reaksi atau tanggapan, ia pun berseru dengan suara nyaring dan penuh kegiarangan: Guru. Maria baru mengenal sang guru lewat suaranya, ia baru bisa mengidentifikasi sang Guru lewat telinga, dan bukan terutama dengan melihat, atau mengidentifikasi dengan mata. Hal ini patut dicatat dan digaris-bawahi dengan baik-baik.
Terus terang saja, bukan baru kali ini saya membaca dan merenungkan teks ini. Saya sudah selalu membaca teks ini berkali-kali selama ini. Saya juga sudah merenungkannya terus menerus. Ada banyak hal yang muncul sebagai hasil dari permenungan saya atas teks ini. Ya, ketika mulai mencoba merenungkan teks dan peristiwa yang terkandung dalam teks ini sekarang ini, sesungguhnya saya secara spontan teringat akan beberapa hal berikut ini.
Pertama, saya teringat akan santo Paulus yang di salah satu tempat dalam surat-suratnya mengatakan bahwa iman itu terjadi atau datang melalui dan karena pendengaran. Istilah kerennya dalam bahasa Latin ialah fides ex auditu. Artinya, iman yang muncul dari atau karena mendengar (Rom.10:17). Yang terjadi di sini ialah, orang mengenal dan sampai pada pengenalan justeru karena mendengar, dan bukan terutama karena melihat. Jadi jelas bahwa di sini ada prioritas mendengarkan di atas melihat (sebagaimana dikatakan dalam judul tulisan ini). Kedua, saya juga secara spontan teringat akan Tomas, sang Rasul yang tidak mudah percaya begitu saja akan berita sensasi yang dikisahkan temat-temannya. Dalam kaitan dengan Tomas ini, jelas Maria adalah paradoks Tomas. Kalau Tomas baru mau dan bisa percaya kalau sudah melihat, maka Maria justeru sudah percaya begitu saja bukan terutama karena melihat, melainkan karena sudah mulai mendengarkan. Dan camkanlah dan ingatlah selalu bahwa kisah Maria mendahului kisah Tomas. Jadi, ada prioritas Maria dalam urutan ruang dan waktu kisah. Ada prioritas mendengar di atas melihat. Menurut saya, itulah maknanya.
Ketiga, saya juga secara spontan langsung teringat akan Yohanes 10 tentang hubungan yang baik antara gembala yang baik dan kawanan dombanya. Salah satu wujud dari adanya relasi yang baik itu ialah saling mengenal suara, antara gembala dan kawanan domba. Sehubungan dengan ini, Maria menjadi prototipe domba yang baik yang langsung mengenal suara sang gembala. Dan hal ini menandakan adanya suatu keakraban dan kedekatan relasi. Begitu suara terdengar, maka terjadilah keakraban dan cinta pun mulai mengalir dan bersemi ria. Sebab dalam Yohanes 10 Yesus mengatakan bahwa “Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku; Aku mengenal suara dan nama mereka, dan mereka juga mengenal suaraKu.” Dan dalam kisah ini terbuktilah sudah bahwa Maria menjadi dan merupakan domba yang baik, karena ia mengenal suara Yesus, sang gembala-Nya.
Tetapi yang menarik ialah fakta bahwa yang justeru menjadi pokok warta Maria ialah: Aku telah melihat Tuhan. Bukan, aku telah mendengar Tuhan. Jadi, terjadi pergeseran dari mendengar ke melihat. Dasar pewartaan bukan pendengaran (yang menjadi dasar percaya), melainkan penglihatan (yang justru tidak disebut atau diandalkan dalam proses menjadi percaya). Inilah juga yang menjadi inti pewartaan para rasul kepada yang lain: Aku atau kami telah mendengar Tuhan. Menurut hemat saya, teks ini mempunyai arti penting di masa-masa yang akan datang dalam hidup iman Gereja. Kiranya ini bukan salah tulis melainkan ada maknanya yang kuat dan mendalam. Bahwa iman kita tidak tergantung pada melihat (penglihatan) melainkan tergantung pada mendengarkan (pendengaran). Iman datang melalui pendengaran. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Begitulah yang dikatakan Yesus sendiri dalam menanggapi loncatan iman Tomas. Kalau kita mendengar, kita tidak melihat, tetapi kita bisa percaya akan apa yang kita dengar. Dan pendengaran kita itulah penglihatan kita, sehingga Maria bisa berkata berdasarkan apa yang didengarnya, Aku telah melihat Tuhan. Ada pergeseran dari mendengar ke melihat. Sikap percaya dari seorang yang beriman tidak lain ialah melihat dengan mendengar dan melihat karena sudah mendengarkan.
Salah satu teks injil Yohanes yang melukiskan mengenai peristiwa kebangkitan Yesus dari alam maut dan yang selalu menyentuh dan menarik perhatian saya ialah Yohanes 20:11-18. Kalau kita baca teks itu dengan teliti, maka kita akan menemukan sebuah hal yang menarik dan sangat penting, karena menyangkut sebuah pandangan teologi mengenai iman akan Yesus Kristus dan juga terutama hubungan dengan Yesus Kristus. Di sana dikisahkan tentang peristiwa penampakan Yesus kepada Maria Magdalena, sebab inilah salah satu rangkaian dari kisah-kisah penampakan Yesus menurut Yohanes.
Dikatakan bahwa Maria menangis sedih tatkala pagi-pagi ia pergi mengunjungi tempat Yesus dimakamkan. Mungkin ia sudah menangis sepanjang perjalanan menuju ke makam itu. Mungkin juga ia sudah menangis sedih sejak hari penyaliban itu. Entah mulai kapan dan berapa lama, yang jelas sekali lagi dikatakan bahwa ia menangis sedih. Ia semakin sedih lagi tatkala tahu dan menyadari bahwa makam itu sudah kosong. Ia pasti menangis sejadi-jadinya. Sebab ia datang untuk melihat jenazah-Nya, tetapi ia hanya menemukan makam yang kosong. Jadi dapat dibayangkan bahwa air mata menggelinang di pelubuk matanya.
Kita semua juga tahu bahwa kalau kita menangis maka biasanya penglihatan kita menjadi kabur, penglihatan kita menjadi tidak serba jelas karena mata kita tertutup oleh butir-butir air mata yang menggenang di sana. Akibatnya, kita akan sulit mengenal orang dengan cepat dan tepat. Dari kondisi ini akan muncul kebingungan dan salah paham. Juga akan muncul miskomunikasi. Persis itulah yang terjadi dan dilukiskan di dalam teks ini. Maria salah memahami Yesus. Kiranya itulah sebabnya ketika menoleh, Maria tidak langung mengenal Yesus. Ia pangling. Salah paham ini terus berlanjut dan menghasilkan dialog-dialog seperti yang kita baca di sana.
Tetapi lalu dikatakan bahwa Yesus menyebut namanya: Maria. Ya, Yesus menyebut nama Maria. Saya lebih suka memakai kata memanggil (to call) daripada menyebut (to mention). Sebab ada beda di antara keduanya. Memanggil itu membutuhkan suatu tanggapan personal dari orang yang namanya dipanggil. Menyebut itu tidak mutlak membutuhkan tanggapan personal dari orang yang namanya dipanggil itu. Dan yang sangat menarik ialah bahwa ketika ia (Maria) mendengar suara yang menyebut atau memanggil namanya, barulah Maria langsung mengenal si empunya suara yang memanggil atau menyebut namanya tadi. Maka sebagai reaksi atau tanggapan, ia pun berseru dengan suara nyaring dan penuh kegiarangan: Guru. Maria baru mengenal sang guru lewat suaranya, ia baru bisa mengidentifikasi sang Guru lewat telinga, dan bukan terutama dengan melihat, atau mengidentifikasi dengan mata. Hal ini patut dicatat dan digaris-bawahi dengan baik-baik.
Terus terang saja, bukan baru kali ini saya membaca dan merenungkan teks ini. Saya sudah selalu membaca teks ini berkali-kali selama ini. Saya juga sudah merenungkannya terus menerus. Ada banyak hal yang muncul sebagai hasil dari permenungan saya atas teks ini. Ya, ketika mulai mencoba merenungkan teks dan peristiwa yang terkandung dalam teks ini sekarang ini, sesungguhnya saya secara spontan teringat akan beberapa hal berikut ini.
Pertama, saya teringat akan santo Paulus yang di salah satu tempat dalam surat-suratnya mengatakan bahwa iman itu terjadi atau datang melalui dan karena pendengaran. Istilah kerennya dalam bahasa Latin ialah fides ex auditu. Artinya, iman yang muncul dari atau karena mendengar (Rom.10:17). Yang terjadi di sini ialah, orang mengenal dan sampai pada pengenalan justeru karena mendengar, dan bukan terutama karena melihat. Jadi jelas bahwa di sini ada prioritas mendengarkan di atas melihat (sebagaimana dikatakan dalam judul tulisan ini). Kedua, saya juga secara spontan teringat akan Tomas, sang Rasul yang tidak mudah percaya begitu saja akan berita sensasi yang dikisahkan temat-temannya. Dalam kaitan dengan Tomas ini, jelas Maria adalah paradoks Tomas. Kalau Tomas baru mau dan bisa percaya kalau sudah melihat, maka Maria justeru sudah percaya begitu saja bukan terutama karena melihat, melainkan karena sudah mulai mendengarkan. Dan camkanlah dan ingatlah selalu bahwa kisah Maria mendahului kisah Tomas. Jadi, ada prioritas Maria dalam urutan ruang dan waktu kisah. Ada prioritas mendengar di atas melihat. Menurut saya, itulah maknanya.
Ketiga, saya juga secara spontan langsung teringat akan Yohanes 10 tentang hubungan yang baik antara gembala yang baik dan kawanan dombanya. Salah satu wujud dari adanya relasi yang baik itu ialah saling mengenal suara, antara gembala dan kawanan domba. Sehubungan dengan ini, Maria menjadi prototipe domba yang baik yang langsung mengenal suara sang gembala. Dan hal ini menandakan adanya suatu keakraban dan kedekatan relasi. Begitu suara terdengar, maka terjadilah keakraban dan cinta pun mulai mengalir dan bersemi ria. Sebab dalam Yohanes 10 Yesus mengatakan bahwa “Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku; Aku mengenal suara dan nama mereka, dan mereka juga mengenal suaraKu.” Dan dalam kisah ini terbuktilah sudah bahwa Maria menjadi dan merupakan domba yang baik, karena ia mengenal suara Yesus, sang gembala-Nya.
Tetapi yang menarik ialah fakta bahwa yang justeru menjadi pokok warta Maria ialah: Aku telah melihat Tuhan. Bukan, aku telah mendengar Tuhan. Jadi, terjadi pergeseran dari mendengar ke melihat. Dasar pewartaan bukan pendengaran (yang menjadi dasar percaya), melainkan penglihatan (yang justru tidak disebut atau diandalkan dalam proses menjadi percaya). Inilah juga yang menjadi inti pewartaan para rasul kepada yang lain: Aku atau kami telah mendengar Tuhan. Menurut hemat saya, teks ini mempunyai arti penting di masa-masa yang akan datang dalam hidup iman Gereja. Kiranya ini bukan salah tulis melainkan ada maknanya yang kuat dan mendalam. Bahwa iman kita tidak tergantung pada melihat (penglihatan) melainkan tergantung pada mendengarkan (pendengaran). Iman datang melalui pendengaran. Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya. Begitulah yang dikatakan Yesus sendiri dalam menanggapi loncatan iman Tomas. Kalau kita mendengar, kita tidak melihat, tetapi kita bisa percaya akan apa yang kita dengar. Dan pendengaran kita itulah penglihatan kita, sehingga Maria bisa berkata berdasarkan apa yang didengarnya, Aku telah melihat Tuhan. Ada pergeseran dari mendengar ke melihat. Sikap percaya dari seorang yang beriman tidak lain ialah melihat dengan mendengar dan melihat karena sudah mendengarkan.
Jumat, 09 Desember 2011
RESENSI BUKU
JUDUL BUKU : YERUSALEM 33, IMPERIUM ROMANUM, KOTA PARA NABI, DAN TRAGEDI TANAH
SUCI.
PENGARANG : TRIAS KUNCAHYONO
PENERBIT : BUKU KOMPAS, APRIL 2011
HALAMAN : XXXVLL+ 330.
PENINJAU : FRANSISKUS BORGIAS M.
Berbicara tentang Yerusalem, tidak akan habis. Ada banyak buku yang ditulis tentang kota itu. Ada Karen Armstrong, Amy Dockserr Marcus, dan Trias Kuncahono yang menulis dua buku. Inilah bukunya yang kedua setelah yang pertama menjadi best-seller, Jerusalem. Berbicara tentang Yerusalem, saya teringat akan P.C.Groenen OFM, pakar Kitab Suci. Suatu saat dalam kuliah Kitab Suci Perjanjian Lama di Biara St.Bonaventura Papringan, ia mengatakan, “dunia tidak akan damai selama Jerusalem tidak damai,” selama Yerusalem tercabik-cabik. Groenen mendasarkan pernyataannya pada sejarah, di mana Yerusalem selalu menjadi sign of contradiction, dari dulu hingga kini, dan nanti. Kota itu dipenggal dalam beberapa bagian dengan penguasa yang berasal dari tradisi agama. Islam punya bagiannya, Yahudi punya bagiannya, Kristiani juga punya bagiannya. Penggal Kristiani juga terbagi dalam beberapa bagian.
Buku ini berbicara secara historis tentang Yerusalem. Buku ini terdiri atas 8 Bab, dilengkapi dua prolog dan satu epilog. Buku ini membahas substansi eksistensi Jerusalem dari jaman ke jaman. Yang paling besar pengaruhnya ialah fakta bahwa Jerusalem ialah tanah para nabi (bab 1); ada banyak nabi menyinggung, atau menziarahinya. Setelah cukup panjang membeberkan biologi dan geografi Palestina, penulis membahas secara khusus paradoks para nabi (h.50): Mereka hadir di Yerusalem, tetapi kota itu menjadi kota penuh konflik. Kota itu terletak di Timur Tengah, menjadi bagian utuh dari Kanaan dan Palestina (Bab 2), sebuah urutan yang tepat. Negeri itu dilanda peperangan dari dulu hingga kini. Selalu ada kelompok yang memperebutkannya dari waktu ke waktu. Yang menarik ialah bahwa secara tradisional nama negeri itu, Kanaan. Ada penelusuran etimologis kata Kanaan dan sejarah nama itu (h.80). Ketika Roma berkuasa ada kebijakan membuat “politik pengubahan nama” dari Kanaan menjadi Palestina (hal.92). Roma bermaksud menghapus kenangan akan Israel dari sejarah, sesuatu yang kini bergema kembali dalam diri presiden Iran yang mau melenyapkan Israel dari Peta bumi.
Salah satu episode sejarah yang penting bagi Yerusalem ialah ia pernah dikuasai Roma (bab 3). Tentu ini tidak lengkap jika tidak menyebut Helenisme, Persia, Babel, dan Asyur. Alur sejarah itu dimulai dengan pelukisan sejarah kerajaan di Israel (Hakim-hakim tidak dibahas, h.109). Setelah masa jaya yang hanya sebentar, Israel dikuasai Asyur dan Babel (h.112.113). Kemudian terjadi Helenisasi (h.113-17), dan dikuasai Roma (h.117-144). Hal yang membedakan Roma dari penguasa lain ialah Roma memberi perlakuan khusus terhadap Yahudi sebagai umat berkitab (p.127). Alur perjalanan peziarah Eropa Abad Pertengahan ialah dari Kaisarea ke Yerusalem (Bab 4). Judul itu menyiratkan ada pergeseran dari kota Helenis Kaisaria ke kota Zionis, Yerusalem. Secara cukup panjang pengarang membahas sejarah Kaisarea. Lalu dibahas sejarah Yerusalem, walau yang lebih mencolok ialah pelukisan mengenai beberapa kelompok aliran politik dan teologi jaman itu. Seluruh hidup dan pergolakan bangsa Yahudi terfokus di Jerusalem.
Jerusalem tidak selalu cemerlang sepanjang jaman. Pernah ia ditinggalkan, dan menjadi sarang penyamun (Bab 5). Itu sebabnya kota itu penuh paradoks (h.182). Ada yang memujinya sebagai metropolis, tetapi ada juga yang mencemoohnya hanya sebagai lobang di pojokan (h.183). Hal itu benar sehubungan dengan masa kegelapan pasca penghancuran oleh Babel dan penghancuran oleh Roma tahun 70-an. Itulah zaman gelap Jerusalem (bab 6). Setelah secara singkat menyinggung penghancuran Yerusalem oleh Roma di awal bab, seluruh sisa bab membahas hukuman salib sebagai hukuman keji, tidak manusiawi. Disinggung juga mengenai bentuk salib (h.220-21). Ini jaman kekelaman bagi kemanusiaan; salah satu korbannya ialah Yesus Kristus yang mati di salib.
Fokus Bab 7 ialah peristiwa dramatis, sengsara dan wafat Tuhan. Beberapa pertanyaan besar coba dijawab: Mengapa Yesus dihukum mati, kapan itu terjadi, siapa yang memutuskan hukuman itu? Seluruh uraian difokuskan pada satu tesis bahwa Yesus dibunuh atas dasar konspirasi politis-keagamaan, antara penguasa negara, penguasa agama, dan rakyat kebanyakan. Ada triumvirat jahat yang menyebabkan Yesus dihukum mati, yaitu wali negeri, raja, dan Imam Agung (h.261). Tadinya saya mengira buku ini adalah buku sejarah. Tetapi setelah membacanya sampai bab 8 saya sadar bahwa penulis menulis buku ini sebagai orang Kristiani, yang memuncaki bukunya dengan pelukisan mengenai hari dramatis yang ditandai bulan memerah ketika Yesus wafat (h.310). Ini sebuah apologia iman. Hal itu tampak di bagian akhir bab 8 ini: Yerusalem adalah tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, menyusuri Jalan Salib,Via Dolorosa, di Yerusalem adalah menyusuri jalan iman. Salib mengubah kebinasaanmenjadi keselamatan (h.312).
Ya, berbicara tentang Yerusalem tidak akan selesai. Kita bisa belajar banyak dari Yerusalem seperti dikatakan Zuhairi Misrawi dalam epilog. Ada anakronisme di sana. Dikatakan bahwa pada jaman Muhammad, umat berkiblat ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem (h.314). Saat itu, mesjid itu belum ada; baru ada setelah Yerusalem dikuasai Islam. Qiblat pertama ialah situs bait Allah di Yerusalem. Qiblat itu diubah setelah terjadi konflik tajam antara Islam dan orang Yahudi.
Bahasa buku ini lancar dan ringan. Tetapi secara pribadi saya terganggu dengan ungkapan yang tidak lazim yang dipakai Trias: Kakek moyang (mis:h.9,29, 67, 96, dll). Beberapa pihak mengatakan itu aneh. Yang biasa ialah ungkapan nenek-moyang. Entah apa pertimbangan Trias menggantinya. Ada bagian yang seperti copy-paste. Misalnya info mengenai beberapa nabi dan aktifitas mereka yang diulang di beberapa tempat. Juga informasi mengenai nama beberapa faksi politik dan agama dalam masyarakat Yahudi yang diulang hampir sama di beberapa tempat. Contoh: uraian tentang Farisi yang ada di pendahuluan (h.13-14) sama dengan yang ada pada Bab 4 (h.161). Hal itu bisa diatasi dengan parafrase, tetapi itu tidak dilakukan.
Secara keseluruhan penulis ini lancar memberi banyak informasi populer, penting dan menarik tentang sejarah perjanjian lama dan baru, gereja awal, kekaisaran roma, kekuatan besar dunia yang mengobok-obok Timur Tengah kuno, termasuk Kanaan. Buku ini mengandung “campuran” antara informasi serius yang digali dari resources dan pengalaman pribadi akan Jerusalem dan sekitarnya. Buku ini berguna bagi pemula yang mendalami sejarah timur tengah kuno, sejarah Kaisarea (h.151-162), Yerusalem, Kekaisaran Romawi. Misalnya informasi tentang teori migrasi Abraham (h.70), atau sejarah kemunculan Sabat (h.161-163). Tetapi bagi orang yang sudah mendalami dunia perjanjian lama dan baru, dan sejarah gereja awal, informasi yang ada di sini sama sekali tidak baru; paling-paling ini hanya berfungsi sebagai penyegaran.
SUCI.
PENGARANG : TRIAS KUNCAHYONO
PENERBIT : BUKU KOMPAS, APRIL 2011
HALAMAN : XXXVLL+ 330.
PENINJAU : FRANSISKUS BORGIAS M.
Berbicara tentang Yerusalem, tidak akan habis. Ada banyak buku yang ditulis tentang kota itu. Ada Karen Armstrong, Amy Dockserr Marcus, dan Trias Kuncahono yang menulis dua buku. Inilah bukunya yang kedua setelah yang pertama menjadi best-seller, Jerusalem. Berbicara tentang Yerusalem, saya teringat akan P.C.Groenen OFM, pakar Kitab Suci. Suatu saat dalam kuliah Kitab Suci Perjanjian Lama di Biara St.Bonaventura Papringan, ia mengatakan, “dunia tidak akan damai selama Jerusalem tidak damai,” selama Yerusalem tercabik-cabik. Groenen mendasarkan pernyataannya pada sejarah, di mana Yerusalem selalu menjadi sign of contradiction, dari dulu hingga kini, dan nanti. Kota itu dipenggal dalam beberapa bagian dengan penguasa yang berasal dari tradisi agama. Islam punya bagiannya, Yahudi punya bagiannya, Kristiani juga punya bagiannya. Penggal Kristiani juga terbagi dalam beberapa bagian.
Buku ini berbicara secara historis tentang Yerusalem. Buku ini terdiri atas 8 Bab, dilengkapi dua prolog dan satu epilog. Buku ini membahas substansi eksistensi Jerusalem dari jaman ke jaman. Yang paling besar pengaruhnya ialah fakta bahwa Jerusalem ialah tanah para nabi (bab 1); ada banyak nabi menyinggung, atau menziarahinya. Setelah cukup panjang membeberkan biologi dan geografi Palestina, penulis membahas secara khusus paradoks para nabi (h.50): Mereka hadir di Yerusalem, tetapi kota itu menjadi kota penuh konflik. Kota itu terletak di Timur Tengah, menjadi bagian utuh dari Kanaan dan Palestina (Bab 2), sebuah urutan yang tepat. Negeri itu dilanda peperangan dari dulu hingga kini. Selalu ada kelompok yang memperebutkannya dari waktu ke waktu. Yang menarik ialah bahwa secara tradisional nama negeri itu, Kanaan. Ada penelusuran etimologis kata Kanaan dan sejarah nama itu (h.80). Ketika Roma berkuasa ada kebijakan membuat “politik pengubahan nama” dari Kanaan menjadi Palestina (hal.92). Roma bermaksud menghapus kenangan akan Israel dari sejarah, sesuatu yang kini bergema kembali dalam diri presiden Iran yang mau melenyapkan Israel dari Peta bumi.
Salah satu episode sejarah yang penting bagi Yerusalem ialah ia pernah dikuasai Roma (bab 3). Tentu ini tidak lengkap jika tidak menyebut Helenisme, Persia, Babel, dan Asyur. Alur sejarah itu dimulai dengan pelukisan sejarah kerajaan di Israel (Hakim-hakim tidak dibahas, h.109). Setelah masa jaya yang hanya sebentar, Israel dikuasai Asyur dan Babel (h.112.113). Kemudian terjadi Helenisasi (h.113-17), dan dikuasai Roma (h.117-144). Hal yang membedakan Roma dari penguasa lain ialah Roma memberi perlakuan khusus terhadap Yahudi sebagai umat berkitab (p.127). Alur perjalanan peziarah Eropa Abad Pertengahan ialah dari Kaisarea ke Yerusalem (Bab 4). Judul itu menyiratkan ada pergeseran dari kota Helenis Kaisaria ke kota Zionis, Yerusalem. Secara cukup panjang pengarang membahas sejarah Kaisarea. Lalu dibahas sejarah Yerusalem, walau yang lebih mencolok ialah pelukisan mengenai beberapa kelompok aliran politik dan teologi jaman itu. Seluruh hidup dan pergolakan bangsa Yahudi terfokus di Jerusalem.
Jerusalem tidak selalu cemerlang sepanjang jaman. Pernah ia ditinggalkan, dan menjadi sarang penyamun (Bab 5). Itu sebabnya kota itu penuh paradoks (h.182). Ada yang memujinya sebagai metropolis, tetapi ada juga yang mencemoohnya hanya sebagai lobang di pojokan (h.183). Hal itu benar sehubungan dengan masa kegelapan pasca penghancuran oleh Babel dan penghancuran oleh Roma tahun 70-an. Itulah zaman gelap Jerusalem (bab 6). Setelah secara singkat menyinggung penghancuran Yerusalem oleh Roma di awal bab, seluruh sisa bab membahas hukuman salib sebagai hukuman keji, tidak manusiawi. Disinggung juga mengenai bentuk salib (h.220-21). Ini jaman kekelaman bagi kemanusiaan; salah satu korbannya ialah Yesus Kristus yang mati di salib.
Fokus Bab 7 ialah peristiwa dramatis, sengsara dan wafat Tuhan. Beberapa pertanyaan besar coba dijawab: Mengapa Yesus dihukum mati, kapan itu terjadi, siapa yang memutuskan hukuman itu? Seluruh uraian difokuskan pada satu tesis bahwa Yesus dibunuh atas dasar konspirasi politis-keagamaan, antara penguasa negara, penguasa agama, dan rakyat kebanyakan. Ada triumvirat jahat yang menyebabkan Yesus dihukum mati, yaitu wali negeri, raja, dan Imam Agung (h.261). Tadinya saya mengira buku ini adalah buku sejarah. Tetapi setelah membacanya sampai bab 8 saya sadar bahwa penulis menulis buku ini sebagai orang Kristiani, yang memuncaki bukunya dengan pelukisan mengenai hari dramatis yang ditandai bulan memerah ketika Yesus wafat (h.310). Ini sebuah apologia iman. Hal itu tampak di bagian akhir bab 8 ini: Yerusalem adalah tempat Yesus dikorbankan, tempat Yesus menyerahkan hidup-Nya di kayu salib bagi keselamatan umat manusia. Karena itu, menyusuri Jalan Salib,Via Dolorosa, di Yerusalem adalah menyusuri jalan iman. Salib mengubah kebinasaanmenjadi keselamatan (h.312).
Ya, berbicara tentang Yerusalem tidak akan selesai. Kita bisa belajar banyak dari Yerusalem seperti dikatakan Zuhairi Misrawi dalam epilog. Ada anakronisme di sana. Dikatakan bahwa pada jaman Muhammad, umat berkiblat ke Masjid al-Aqsha di Yerusalem (h.314). Saat itu, mesjid itu belum ada; baru ada setelah Yerusalem dikuasai Islam. Qiblat pertama ialah situs bait Allah di Yerusalem. Qiblat itu diubah setelah terjadi konflik tajam antara Islam dan orang Yahudi.
Bahasa buku ini lancar dan ringan. Tetapi secara pribadi saya terganggu dengan ungkapan yang tidak lazim yang dipakai Trias: Kakek moyang (mis:h.9,29, 67, 96, dll). Beberapa pihak mengatakan itu aneh. Yang biasa ialah ungkapan nenek-moyang. Entah apa pertimbangan Trias menggantinya. Ada bagian yang seperti copy-paste. Misalnya info mengenai beberapa nabi dan aktifitas mereka yang diulang di beberapa tempat. Juga informasi mengenai nama beberapa faksi politik dan agama dalam masyarakat Yahudi yang diulang hampir sama di beberapa tempat. Contoh: uraian tentang Farisi yang ada di pendahuluan (h.13-14) sama dengan yang ada pada Bab 4 (h.161). Hal itu bisa diatasi dengan parafrase, tetapi itu tidak dilakukan.
Secara keseluruhan penulis ini lancar memberi banyak informasi populer, penting dan menarik tentang sejarah perjanjian lama dan baru, gereja awal, kekaisaran roma, kekuatan besar dunia yang mengobok-obok Timur Tengah kuno, termasuk Kanaan. Buku ini mengandung “campuran” antara informasi serius yang digali dari resources dan pengalaman pribadi akan Jerusalem dan sekitarnya. Buku ini berguna bagi pemula yang mendalami sejarah timur tengah kuno, sejarah Kaisarea (h.151-162), Yerusalem, Kekaisaran Romawi. Misalnya informasi tentang teori migrasi Abraham (h.70), atau sejarah kemunculan Sabat (h.161-163). Tetapi bagi orang yang sudah mendalami dunia perjanjian lama dan baru, dan sejarah gereja awal, informasi yang ada di sini sama sekali tidak baru; paling-paling ini hanya berfungsi sebagai penyegaran.
KETIKA AKU.... (bdk.Mat.25:31-46)
By: Fransiskus Borgias M.
....LAPAR
Nakam ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi aku makan
....HAUS
Munim ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku minum
....SEORANG ASING
Nangapmut ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku tumpangan
....TELANJANG
Naiakap ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku pakaian
....SAKIT
ukA kugnejnem KADIT umak --- Kamu menjenguk Aku
....DI DALAM PENJARA
ukA ignujnugnem KADIT umak --- Kamu mengunjungi Aku
Belajarlah dari sisi
yang mudah dibaca
Walau idealisme itu tidak mudah.
Hidup
adalah perjuangan.
Yogya, 22 Mei 2011
....LAPAR
Nakam ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi aku makan
....HAUS
Munim ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku minum
....SEORANG ASING
Nangapmut ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku tumpangan
....TELANJANG
Naiakap ukA irebmem KADIT umak --- Kamu memberi Aku pakaian
....SAKIT
ukA kugnejnem KADIT umak --- Kamu menjenguk Aku
....DI DALAM PENJARA
ukA ignujnugnem KADIT umak --- Kamu mengunjungi Aku
Belajarlah dari sisi
yang mudah dibaca
Walau idealisme itu tidak mudah.
Hidup
adalah perjuangan.
Yogya, 22 Mei 2011
BOSKE TA ARNIA/TA PROBATA MOU
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pagi ini (25 Mei 2008), saya membaca Mazmur 23 yang berjudul Tuhanlah gembalaku. Sebuah mazmur yang sangat terkenal dan sangat akrab di telinga kita karena menjadi sumber ilham bagi karya seni Kristiani, baik itu berupa lagu, maupun berupa seni lukis dan seni ukir. Mazmur itu, walau pun pendek, tetapi isinya padat dan indah. Mungkin karena ia mengalir keluar dari pengalaman hidup sang penulis mazmur itu sendiri. Tetapi di sini saya tidak bermaksud untuk mengulas tentang mazmur 23 tersebut. Saya mau menulis tentang sesuatu yang lain. Apa itu?
Tatkala pagi ini saya sedang membaca mazmur ini saya tiba-tiba teringat akan percakapan pemulihan Petrus oleh Yesus dalam adegan di tepi pantai pada saat peristiwa kebangkitan itu. Percakapan itu dapat kita baca dalam Yoh.21:15-19. Sebuah percakapan yang indah dan benar-benar sangat mengharukan dan sangat menyentuh perasaan. Perasaan kita serasa diaduk-aduk dan menjadi haru-biru karenanya. Di tempat dan kesempatan lain sesungguhnya saya pernah memberi uraian rinci tentang hal ini. Ada segi-segi lain yang sudah saya uraikan dalam tempat dan kesempatan itu. Tetapi pada hari ini saya tiba-tiba sadar dan menemukan sesuatu yang baru dan lain tatkala saya mencoba membaca teks ini dalam teks aslinya yaitu bahasa Yunani dan dibandingkan dengan teks Vulgata (Latin).
Hasil dari pembacaan dan pembandingan ini ialah beberapa pengamatan penting dan sederhana berikut ini. Pertama, ternyata pertanyaan Yesus kepada Simon ada gradasinya, sesuatu yang kurang begitu terasa lagi dalam teks terjemahan kita (bahasa Indonesia). Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang kasih dalam perbandingan dengan yang lain-lain (para murid): “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Tentu saja teks ini bisa dibaca dengan dua cara: apakah kasih Simon kepada Yesus itu lebih daripada kasih-kasih para murid yang lain juga terhadap Yesus? Atau bisa juga dibaca: apakah Simon mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi para murid yang lain itu mengasihi Yesus? Sebab ini adalah perkara komunitas walau dalam communitas itu ada primus interpares juga). Jadi, yang ditanyakan ialah mengenai mutu kasih Petrus dalam perbandingan dengan mutu kasih para murid yang lain, tentu saja dalam konteks relasi yang hidup dengan Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah pertanyaan personal yang langsung hanya menyangkut diri Yesus sendiri saja: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dalam pertanyaan kedua dan ketiga ini tidak ada lagi perbandingan dengan para murid yang lain. Ini hanya benar-benar menyangkut relasi kasih antara Yesus dan Petrus saja. Jadi, ini perkara relasi personal dengan Yesus. Menarik juga fakta bahwa Yesus tidak menyapa Simon dengan gelarnya, yaitu Petrus, melainkan dengan nama aslinya sebagai seorang pribadi. (Pada tempat dan kesempatan lain itulah saya sudah menguraikan persoalan ini dengan rinci).
Kedua, ternyata terjemahan kita (Terjemahan Baru 1, disingkat TB1; dari tahun 70-an) hanya memakai satu frase yang sama saja untuk perintah Yesus kepada Simon setelah pertanyaan Yesus dijawab Petrus dengan jawaban positif, dan penuh percaya diri (tentu saja, kecuali yang ketiga). Bunyinya ialah sbb: Gembalakanlah domba-dombaku (Yoh.21:15,16,17). Dalam pengamatan saya, terjemahan ini ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh Vulgata yang juga hanya memakai satu ungkapan saja: Pasce oves meas. Ketika saya membaca terjemahan yang ada dalam The New Jerusalem Bible, terjemahan itu menurut saya lebih dekat dengan teks Yunani. Sadar akan “kekurangan” ini maka revisi terjemahan kita (yang sekarang disebut TB2, walau belum dipromulgasikan secara resmi; TB2: Terjemahan Baru 2 dari tahun 1997) mencoba memperbaikinya. Jika kita membaca TB2 maka di sana sudah ada distingsi yang sangat jelas antara ketiga perintah itu. Pembedaan itu diperjelas dengan pemakaian ungkapan berikut ini. Teks Yunani Boske ta arnia mou diterjemahkan menjadi “Peliharalah Domba-dombaKu.” Sedangkan yang di tengah, poimaine ta probata mou, diterjemahkan dengan “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Lalu yang di akhir (ketiga), “Boske ta probata mou,” lagi-lagi diterjemahkan dengan “Peliharalah domba-dombaKu.” Jadi, menurut hemat saya, terjemahan ini lebih dekat dengan teks Yunani. Memelihara tentu saja dengan memberi makan. Tetapi, memberi makan saja tidak cukup. Harus diberi perhatian yang lebih khusus, yang lebih spesifik, mencakup kenyamanan dan keamanan jasmani kawanan domba. Perhatian khusus dan spesifik itulah yang terkandung dalam kata poimaine, kata memelihara (pelihara).
Ketiga, setelah membaca teks Yunani, saya tiba-tiba sadar bahwa ada struktur inklusi (pembingkai) dalam pemilihan dan pemakaian ungkapan. Dalam ayat 15 kata yang dipakai ialah Boske, yang artinya ialah memberi makan. Kata ini kemudian muncul lagi dalam ayat 17: Boske, to feed. Di tengahnya, dipakai kata Poimaine, yang artinya, menjaga, memelihara, to look after. Jadi, boleh dikatakan bahwa kata Boske membingkai atau mengapiti kata poimaine. Bagi saya hal itu mengandung makna yang sangat penting dan mendalam. Seakan-akan dengan struktur bingkai seperti itu, mau dikatakan bahwa setelah domba-domba itu diberi makan (poimaine), domba-domba itu jangan lalu ditelantarkan begitu saja, dibiarkan mengikuti kemauan dan perilaku mereka sendiri, melainkan domba-domba itu tetap harus dijaga baik-baik, dan akhirnya lalu dikasih makan lagi. Urutan itu terus berulang-ulang menjadi sebuah rutinitas kewajiban moral-pastoral. Tentu saja domba-domba itu dipelihara dengan cara dikasih makan.
Keempat, tugas penggembalaan adalah tugas sang gembala agung, sang gembala utama, yaitu Yesus Kristus sendiri, sang pastor bonus (Yoh.10:10). Tetapi sekarang ini, semua tugas itu dipercayakan kepada Petrus. Jelas ini adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang mulia dan tidak mudah. Ini tugas yang sangat berat. Kalau dalam Matius 16:18-19 ada penyerahan kunci kerajaan surga kepada Petrus, maka di sini, tugas dan tanggung-jawab itu diberi dalam wujud sebuah metafor yang lain: Petrus diangkat atau ditunjuk menjadi seorang gembala. Tetapi substansinya satu dan sama saja yaitu menjadi landasan dan pemimpin jemaat. Kalau dalam Matius 16:18-19 itu Petrus diangkat menjadi Batu Karang yang diyakini (mudah-mudahan) kokoh, maka dalam Injil Lukas kita menemukan sesuatu yang lain yang juga sangat indah dan menarik. Mari kita lihat Lukas 22:32. Di sana dilukiskan bahwa Yesus berdoa untuk Simon Petrus: “...tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Luar biasa. Doa ini sangat menyentuh perasaan. Yesus berdoa bagi keteguhan iman Petrus. Bagi saya doa Yesus ini bagi Petrus sangat penting. Yesus berdoa agar iman Petrus tetap kokoh walaupun mungkin ada banyak cobaan dan godaan (yang juga sudah diramalkan oleh Yesus sendiri, Luk.22:34). Ini sangat penting, sebab Petrus diharapkan akan menjadi tokoh yang bisa menguatkan iman saudara-saudara yang lain. Jelas ini adalah peran seorang pemimpin juga. Peran untuk menjadi teladan, menjadi model dalam hal kekuatan dan kekokohan iman.
Bandung, 23 Mei 2008 (Diketik dan diperluas lagi, 4 November 2011).
Fransiskus Borgias M.
Pagi ini (25 Mei 2008), saya membaca Mazmur 23 yang berjudul Tuhanlah gembalaku. Sebuah mazmur yang sangat terkenal dan sangat akrab di telinga kita karena menjadi sumber ilham bagi karya seni Kristiani, baik itu berupa lagu, maupun berupa seni lukis dan seni ukir. Mazmur itu, walau pun pendek, tetapi isinya padat dan indah. Mungkin karena ia mengalir keluar dari pengalaman hidup sang penulis mazmur itu sendiri. Tetapi di sini saya tidak bermaksud untuk mengulas tentang mazmur 23 tersebut. Saya mau menulis tentang sesuatu yang lain. Apa itu?
Tatkala pagi ini saya sedang membaca mazmur ini saya tiba-tiba teringat akan percakapan pemulihan Petrus oleh Yesus dalam adegan di tepi pantai pada saat peristiwa kebangkitan itu. Percakapan itu dapat kita baca dalam Yoh.21:15-19. Sebuah percakapan yang indah dan benar-benar sangat mengharukan dan sangat menyentuh perasaan. Perasaan kita serasa diaduk-aduk dan menjadi haru-biru karenanya. Di tempat dan kesempatan lain sesungguhnya saya pernah memberi uraian rinci tentang hal ini. Ada segi-segi lain yang sudah saya uraikan dalam tempat dan kesempatan itu. Tetapi pada hari ini saya tiba-tiba sadar dan menemukan sesuatu yang baru dan lain tatkala saya mencoba membaca teks ini dalam teks aslinya yaitu bahasa Yunani dan dibandingkan dengan teks Vulgata (Latin).
Hasil dari pembacaan dan pembandingan ini ialah beberapa pengamatan penting dan sederhana berikut ini. Pertama, ternyata pertanyaan Yesus kepada Simon ada gradasinya, sesuatu yang kurang begitu terasa lagi dalam teks terjemahan kita (bahasa Indonesia). Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang kasih dalam perbandingan dengan yang lain-lain (para murid): “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Tentu saja teks ini bisa dibaca dengan dua cara: apakah kasih Simon kepada Yesus itu lebih daripada kasih-kasih para murid yang lain juga terhadap Yesus? Atau bisa juga dibaca: apakah Simon mengasihi Yesus lebih daripada mengasihi para murid yang lain itu mengasihi Yesus? Sebab ini adalah perkara komunitas walau dalam communitas itu ada primus interpares juga). Jadi, yang ditanyakan ialah mengenai mutu kasih Petrus dalam perbandingan dengan mutu kasih para murid yang lain, tentu saja dalam konteks relasi yang hidup dengan Tuhan Yesus sendiri. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah pertanyaan personal yang langsung hanya menyangkut diri Yesus sendiri saja: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Dalam pertanyaan kedua dan ketiga ini tidak ada lagi perbandingan dengan para murid yang lain. Ini hanya benar-benar menyangkut relasi kasih antara Yesus dan Petrus saja. Jadi, ini perkara relasi personal dengan Yesus. Menarik juga fakta bahwa Yesus tidak menyapa Simon dengan gelarnya, yaitu Petrus, melainkan dengan nama aslinya sebagai seorang pribadi. (Pada tempat dan kesempatan lain itulah saya sudah menguraikan persoalan ini dengan rinci).
Kedua, ternyata terjemahan kita (Terjemahan Baru 1, disingkat TB1; dari tahun 70-an) hanya memakai satu frase yang sama saja untuk perintah Yesus kepada Simon setelah pertanyaan Yesus dijawab Petrus dengan jawaban positif, dan penuh percaya diri (tentu saja, kecuali yang ketiga). Bunyinya ialah sbb: Gembalakanlah domba-dombaku (Yoh.21:15,16,17). Dalam pengamatan saya, terjemahan ini ternyata sedikit banyak dipengaruhi oleh Vulgata yang juga hanya memakai satu ungkapan saja: Pasce oves meas. Ketika saya membaca terjemahan yang ada dalam The New Jerusalem Bible, terjemahan itu menurut saya lebih dekat dengan teks Yunani. Sadar akan “kekurangan” ini maka revisi terjemahan kita (yang sekarang disebut TB2, walau belum dipromulgasikan secara resmi; TB2: Terjemahan Baru 2 dari tahun 1997) mencoba memperbaikinya. Jika kita membaca TB2 maka di sana sudah ada distingsi yang sangat jelas antara ketiga perintah itu. Pembedaan itu diperjelas dengan pemakaian ungkapan berikut ini. Teks Yunani Boske ta arnia mou diterjemahkan menjadi “Peliharalah Domba-dombaKu.” Sedangkan yang di tengah, poimaine ta probata mou, diterjemahkan dengan “Gembalakanlah domba-dombaKu.” Lalu yang di akhir (ketiga), “Boske ta probata mou,” lagi-lagi diterjemahkan dengan “Peliharalah domba-dombaKu.” Jadi, menurut hemat saya, terjemahan ini lebih dekat dengan teks Yunani. Memelihara tentu saja dengan memberi makan. Tetapi, memberi makan saja tidak cukup. Harus diberi perhatian yang lebih khusus, yang lebih spesifik, mencakup kenyamanan dan keamanan jasmani kawanan domba. Perhatian khusus dan spesifik itulah yang terkandung dalam kata poimaine, kata memelihara (pelihara).
Ketiga, setelah membaca teks Yunani, saya tiba-tiba sadar bahwa ada struktur inklusi (pembingkai) dalam pemilihan dan pemakaian ungkapan. Dalam ayat 15 kata yang dipakai ialah Boske, yang artinya ialah memberi makan. Kata ini kemudian muncul lagi dalam ayat 17: Boske, to feed. Di tengahnya, dipakai kata Poimaine, yang artinya, menjaga, memelihara, to look after. Jadi, boleh dikatakan bahwa kata Boske membingkai atau mengapiti kata poimaine. Bagi saya hal itu mengandung makna yang sangat penting dan mendalam. Seakan-akan dengan struktur bingkai seperti itu, mau dikatakan bahwa setelah domba-domba itu diberi makan (poimaine), domba-domba itu jangan lalu ditelantarkan begitu saja, dibiarkan mengikuti kemauan dan perilaku mereka sendiri, melainkan domba-domba itu tetap harus dijaga baik-baik, dan akhirnya lalu dikasih makan lagi. Urutan itu terus berulang-ulang menjadi sebuah rutinitas kewajiban moral-pastoral. Tentu saja domba-domba itu dipelihara dengan cara dikasih makan.
Keempat, tugas penggembalaan adalah tugas sang gembala agung, sang gembala utama, yaitu Yesus Kristus sendiri, sang pastor bonus (Yoh.10:10). Tetapi sekarang ini, semua tugas itu dipercayakan kepada Petrus. Jelas ini adalah sebuah tugas dan tanggung jawab yang mulia dan tidak mudah. Ini tugas yang sangat berat. Kalau dalam Matius 16:18-19 ada penyerahan kunci kerajaan surga kepada Petrus, maka di sini, tugas dan tanggung-jawab itu diberi dalam wujud sebuah metafor yang lain: Petrus diangkat atau ditunjuk menjadi seorang gembala. Tetapi substansinya satu dan sama saja yaitu menjadi landasan dan pemimpin jemaat. Kalau dalam Matius 16:18-19 itu Petrus diangkat menjadi Batu Karang yang diyakini (mudah-mudahan) kokoh, maka dalam Injil Lukas kita menemukan sesuatu yang lain yang juga sangat indah dan menarik. Mari kita lihat Lukas 22:32. Di sana dilukiskan bahwa Yesus berdoa untuk Simon Petrus: “...tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Luar biasa. Doa ini sangat menyentuh perasaan. Yesus berdoa bagi keteguhan iman Petrus. Bagi saya doa Yesus ini bagi Petrus sangat penting. Yesus berdoa agar iman Petrus tetap kokoh walaupun mungkin ada banyak cobaan dan godaan (yang juga sudah diramalkan oleh Yesus sendiri, Luk.22:34). Ini sangat penting, sebab Petrus diharapkan akan menjadi tokoh yang bisa menguatkan iman saudara-saudara yang lain. Jelas ini adalah peran seorang pemimpin juga. Peran untuk menjadi teladan, menjadi model dalam hal kekuatan dan kekokohan iman.
Bandung, 23 Mei 2008 (Diketik dan diperluas lagi, 4 November 2011).
Fransiskus Borgias M.
Selasa, 20 September 2011
MATIUS DAN ORANG-ORANG PINGGIRAN
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada satu hal yang sangat mencolok sekaligus juga sangat menarik ketika saya membaca bagian-bagian awal dari injil Mateus. Mencolok karena di sana kita temukan sebuah silsilah Yesus. Silsilah adalah penelusuran sejarah, penetapan identitas, pengenalan diri. Tetapi hal itu sudah biasa. Semua orang mempunyai sejarah dan identitasnya sendiri.
Lalu, apanya yang luar biasa dari silsilah itu? Hal yang luar biasa ialah bahwa di sana kita temukan nama-nama beberapa perempuan sebagai leluhur Yesus. Luar biasa, karena biasanya yang didaftarkan dalam silsilah ialah nama-nama kaum lelaki; paling-paling perempuan dihadirkan sebagai keterangan pada laki-laki itu. Ya, begitulah watak dasar sebuah masyarakat patriarkis. Nah dalam silsilah Yesus versi Mateus ini, kaum perempuan ikut didaftarkan juga, sebagai garis penentu dan penyambung kesinambungan historis sebuah eksistensi silsilah. Ini bagi saya adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Dan yang lebih mencolok lagi ialah bahwa, nama-nama kaum perempuan itu tidak seluruhnya mempunyai reputasi yang baik. Ada yang dikenal mempunyai reputasi yang tidak begitu baik. Misalnya, di situ kita temukan nama Tamar, seorang perempuan janda muda yang memperdaya si mertua, Yehuda, dengan menyamar sebagai sundal. Di sana kita temukan juga Rahab dari Yeriko, perempuan sundal yang menyelamatkan dua mata-mata Israel yang mencoba menyelidiki tanah terjanji yang ternyata hasilnya mereka memberi kesaksian penuh pengharapan karena penuh berlimpah dengan susu dan madu. Ada juga isteri Uria yang melahirkan raja Salomo itu; dan kita semua tahu bagaimana Daud telah mencuri isteri Uria itu, yaitu melalui kekejaman pembunuhan berencana.
Pertanyaannya sekarang ialah, mengapa Mateus berani mendaftarkan nama-nama ini dalam daftar silsilah Yesus? Bukankah hal itu bisa saja mencemari Yesus? Misalnya dengan mengatakan: “Ah leluhur Yesus itu ada yang pelacur lho!” Tidak. Matius sama sekali tidak takut. Ada apa dan mengapa? Tentu ada alasannya yang kuat dan mendasar.
Menurut hemat saya, alasan paling kuat ialah bahwa karena memang ada sebuah teologi di balik silsilah ini. Apa itu? Mari kita lihat satu persatu butir-butir teologis itu. Pertama, Mateus mau bersikap jujur dan apa adanya saja dalam sejarah dan terhadap sejarah. Sejarah tidak boleh dimanipulasi oleh yang menulis sejarah. Sejarah harus ditampilkan apa adanya. Itulah kiranya obsesi Matius. Jadi, biarpun ada nama perempuan yang “bereputasi” buruk, ia tidak memolesnya misalnya dengan menghilangkannya. Kedua, Mateus sekaligus juga mau berteologi dengan silsilah seperti itu. Ia mau menampilkan sebuah sisi dari Yesus sebagai orang yang serba merangkul, serba inklusif. Di dalam diri Dialah segala sesuatu mendapat tempat. Atau menurut istilah Paulus, dalam diri Dialah segala sesuatu didamaikan dengan Allah. Saya kira itulah arti penting yang dapat secara spontan saya kisahkan dalam percikan sekilas renungan ini.
Masih ada hal lain lagi yang ingin saya kemukakan di sini. Saya tiba-tiba baru sadar bahwa injil Mateus ini dibingkai dengan Immanuel. Apa arti dari Immaneul ini? Immanuel berarti Allah beserta kita, Allah menyertai kita. Dan janji Immanuel itu ada pada bagian awal Injil Mateus dan juga ada pada bagian akhir. Juga ada di bagian tengah. Jadi, seluruh injil ini dibingkai di dalam kesadaran akan Immanuel itu.
Mana Immanuel pada awal itu? Immanuel pada awal terletak dalam Mat.1:23. Mana Immanuel pada akhir itu? Immanuel pada akhir terletak dalam Mat.28:20. Mana Immanuel pada bagian tengah Injil? Immanuel pada bagian tengah itu ada dalam Mat.18:20. Nah jika dilihat dengan cara seperti itu tampak jelas kiranya bahwa seluruh injil Mateus dibingkai dalam bingkai kesadaran akan kehadiran sang Immanuel itu. Pada awal, Immanuel itu menjadi nama Yesus, sebuah nama diri; sedangkan pada bagian tengah dan pada bagian akhir, Immanuel itu adalah sebuah janji penyertaan, sebuah janji tindakan: Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku Aku hadir di sana (18:20), dan Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman (28:20).
Lalu apa yang ada di tengah-tengah bingkai itu? Sesungguhnya ada banyak hal. Tetapi saya hanya mau menonjolkan satu hal penting yaitu bahwa di sana Yesus yang adalah sang Immanuel itu mengajarkan kepada kita mengenai hidup di dalam kasih, di dalam keadilan dan di dalam pengharapan. Dan hal ini tidaklah terlalu berlebih-lebihan sebab kita semua bakal mampu karena kita sudah disertai Allah baik pada awal maupun pada akhir dan juga bagian tengah dari obsesi kehidupan kita. Itulah beberapa hal penting yang muncul secara spontan kalau saya membaca Injil Mateus.
Bandung, Mei 2008
Ada satu hal yang sangat mencolok sekaligus juga sangat menarik ketika saya membaca bagian-bagian awal dari injil Mateus. Mencolok karena di sana kita temukan sebuah silsilah Yesus. Silsilah adalah penelusuran sejarah, penetapan identitas, pengenalan diri. Tetapi hal itu sudah biasa. Semua orang mempunyai sejarah dan identitasnya sendiri.
Lalu, apanya yang luar biasa dari silsilah itu? Hal yang luar biasa ialah bahwa di sana kita temukan nama-nama beberapa perempuan sebagai leluhur Yesus. Luar biasa, karena biasanya yang didaftarkan dalam silsilah ialah nama-nama kaum lelaki; paling-paling perempuan dihadirkan sebagai keterangan pada laki-laki itu. Ya, begitulah watak dasar sebuah masyarakat patriarkis. Nah dalam silsilah Yesus versi Mateus ini, kaum perempuan ikut didaftarkan juga, sebagai garis penentu dan penyambung kesinambungan historis sebuah eksistensi silsilah. Ini bagi saya adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Dan yang lebih mencolok lagi ialah bahwa, nama-nama kaum perempuan itu tidak seluruhnya mempunyai reputasi yang baik. Ada yang dikenal mempunyai reputasi yang tidak begitu baik. Misalnya, di situ kita temukan nama Tamar, seorang perempuan janda muda yang memperdaya si mertua, Yehuda, dengan menyamar sebagai sundal. Di sana kita temukan juga Rahab dari Yeriko, perempuan sundal yang menyelamatkan dua mata-mata Israel yang mencoba menyelidiki tanah terjanji yang ternyata hasilnya mereka memberi kesaksian penuh pengharapan karena penuh berlimpah dengan susu dan madu. Ada juga isteri Uria yang melahirkan raja Salomo itu; dan kita semua tahu bagaimana Daud telah mencuri isteri Uria itu, yaitu melalui kekejaman pembunuhan berencana.
Pertanyaannya sekarang ialah, mengapa Mateus berani mendaftarkan nama-nama ini dalam daftar silsilah Yesus? Bukankah hal itu bisa saja mencemari Yesus? Misalnya dengan mengatakan: “Ah leluhur Yesus itu ada yang pelacur lho!” Tidak. Matius sama sekali tidak takut. Ada apa dan mengapa? Tentu ada alasannya yang kuat dan mendasar.
Menurut hemat saya, alasan paling kuat ialah bahwa karena memang ada sebuah teologi di balik silsilah ini. Apa itu? Mari kita lihat satu persatu butir-butir teologis itu. Pertama, Mateus mau bersikap jujur dan apa adanya saja dalam sejarah dan terhadap sejarah. Sejarah tidak boleh dimanipulasi oleh yang menulis sejarah. Sejarah harus ditampilkan apa adanya. Itulah kiranya obsesi Matius. Jadi, biarpun ada nama perempuan yang “bereputasi” buruk, ia tidak memolesnya misalnya dengan menghilangkannya. Kedua, Mateus sekaligus juga mau berteologi dengan silsilah seperti itu. Ia mau menampilkan sebuah sisi dari Yesus sebagai orang yang serba merangkul, serba inklusif. Di dalam diri Dialah segala sesuatu mendapat tempat. Atau menurut istilah Paulus, dalam diri Dialah segala sesuatu didamaikan dengan Allah. Saya kira itulah arti penting yang dapat secara spontan saya kisahkan dalam percikan sekilas renungan ini.
Masih ada hal lain lagi yang ingin saya kemukakan di sini. Saya tiba-tiba baru sadar bahwa injil Mateus ini dibingkai dengan Immanuel. Apa arti dari Immaneul ini? Immanuel berarti Allah beserta kita, Allah menyertai kita. Dan janji Immanuel itu ada pada bagian awal Injil Mateus dan juga ada pada bagian akhir. Juga ada di bagian tengah. Jadi, seluruh injil ini dibingkai di dalam kesadaran akan Immanuel itu.
Mana Immanuel pada awal itu? Immanuel pada awal terletak dalam Mat.1:23. Mana Immanuel pada akhir itu? Immanuel pada akhir terletak dalam Mat.28:20. Mana Immanuel pada bagian tengah Injil? Immanuel pada bagian tengah itu ada dalam Mat.18:20. Nah jika dilihat dengan cara seperti itu tampak jelas kiranya bahwa seluruh injil Mateus dibingkai dalam bingkai kesadaran akan kehadiran sang Immanuel itu. Pada awal, Immanuel itu menjadi nama Yesus, sebuah nama diri; sedangkan pada bagian tengah dan pada bagian akhir, Immanuel itu adalah sebuah janji penyertaan, sebuah janji tindakan: Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku Aku hadir di sana (18:20), dan Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir jaman (28:20).
Lalu apa yang ada di tengah-tengah bingkai itu? Sesungguhnya ada banyak hal. Tetapi saya hanya mau menonjolkan satu hal penting yaitu bahwa di sana Yesus yang adalah sang Immanuel itu mengajarkan kepada kita mengenai hidup di dalam kasih, di dalam keadilan dan di dalam pengharapan. Dan hal ini tidaklah terlalu berlebih-lebihan sebab kita semua bakal mampu karena kita sudah disertai Allah baik pada awal maupun pada akhir dan juga bagian tengah dari obsesi kehidupan kita. Itulah beberapa hal penting yang muncul secara spontan kalau saya membaca Injil Mateus.
Bandung, Mei 2008
Jumat, 09 September 2011
TAFSIR KITAB SUCI: MENGEMBANGKAN CINTA KASIH
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Beberapa hari lalu seorang mantan mahasiswa saya muncul di wall facebook dan bertukar pikiran dengan saya mengenai beberapa hal yang terkait dengan aksi teroris yang belakang ini muncul kembali dan membuat kita waspada dan bahkan saling curiga. Ia muncul dengan pernyataan: terorisme yang terkait dengan agama biasanya diilhami teks-teks yang juga keras di dalam kitab suci agama-agama terkait. Ia mau mengatakan bahwa kitab suci mengajarkan teror dan membenarkannya kalau teror itu sudah terjadi. Karena itu, ia mengusulkan agar perlu ada gerakan bersama untuk menulis kembali semua kitab suci agama-agama dan dalam proses penulisan ulang itu, unsur yang penuh kekerasan, yang mengandung teror dibuang saja. Kita cukup menyimpan hal-hal yang baik. Benih teror dan kebencian harus dibuang. Citra Allah pembenci dan pendendam harus dikikis. Tentu ia mengusulkan hal itu dengan harapan bahwa perjalanan ke masa depan manusia akan menjadi lebih baik dan lebih ramah: orang tidak lagi menempa mata pedang dan tombak, melainkan pedang dan tombak yang ada ditempa menjadi bajak untuk mengolah ladang atau sawah. Terhadap usul itu, ia meminta tanggapan.
Tulisan ini merupakan upaya pengembangan lebih lanjut dari argumen yang saya ajukan di wall facebook itu, ditambah dengan beberapa insight dari buku Karen Armstrong yang tahun lalu saya terjemahkan untuk Mizan: Bible, A Biography. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk meramaikan Bulan Kitab Suci Nasional, yang tahun ini kita rayakan dengan merenungkan kisah Yakub. Kalau kita baca kisah Yakub dengan baik dan penuh perhatian, akan tampak bahwa kisah itu memang penuh intrik, tipu muslihat, dan kekerasan, tetapi akhirnya semuanya bermuara ke rekonsiliasi. Rekonsiliasi itu bisa terjadi setelah ada campur tangan Tuhan dalam seluruh proses itu.
Inilah beberapa tanggapan spontan saya saat itu. Pertama, usul itu tidak mungkin dilakukan karena Teks Kitab Suci adalah kisah-kisah manusiawi. Karena itu, isinya bisa sangat realistik dan vulgar tentang fakta kemanusiaan, baik menyangkut segi positifnya, maupun negatifnya. Kedua, dalam tradisi Katolik, dikenal tiga tonggak penting yang harus berimbang dan dijaga keseimbangannya: Kitab Suci, Tradisi, Magisterium. Segala tendensi untuk menekankan sudut yang satu akan diimbangi sudut lain. Maksudnya, kalau orang cenderung menjadi kaku dengan prinsip “sola scriptura,” perlu disadarkan bahwa kita punya tradisi. Magisterium memainkan peranan penting di sini. Tentu Kitab Suci di atas segala-galanya. Tetapi karena ia lahir dari tradisi maka tradisi memainkan peranan yang tidak kecil. Tafsir kitab suci selalu memerlukan otoritas baik itu intelektual, maupun rohani dan organisatoris. Itulah Magisterium. Ketiga, sama sekali tidak ada jaminan bahwa setelah kitab suci ditulis kembali dengan mempercantik isinya, manusia akan menjadi semakin ramah terhadap satu sama lain. Sebab tendensi homo homini lupus manusia adalah kecenderungan kodrati. Ia sudah ada dalam diri manusia, jauh sebelum ada agama yang mencekokinya dengan pelbagai ajaran, positif maupun negatif. Jadi, tidak terjamin dengan pasti bahwa teror akan hilang kalau kitab suci ditulis ulang.
Karena itu, kita harus mencari cara pemahaman dan penjelasan lain. Itulah yang saya angkat dari beberapa butir ilham pemikiran Karen Armstrong. Salah satu pokok yang mau didalami Armstrong dalam bukunya ialah bagaimana cara menafsirkan kitab suci. Sebab kitab suci itu harus ditafsirkan agar bisa bermakna dalam hidup manusia. Berikut beberapa prinsip yang dapat dikemukakan di sini.
Pertama, tafsir kitab suci harus praxis-oriented, terarah kepada praksis. Tafsir kitab suci harus bermuara pada perbuatan, pada tingkah laku. Tafsir Kitab Suci yang baik, harus mampu mengubah hidup orang ke arah yang lebih baik secara sosial-etis. Tafsir jangan sampai hanya sebatas olah-rasional-intelektual-spekulatif belaka. Tafsir seperti ini tidak banyak gunanya. Ia hanya aktifitas melayang-layang saja. Kedua, tafsir kitab suci harus dilandasi oleh semangat kerendahan-hati, tidak sombong. Sikap rendah hati inilah yang merupakan salah satu sisi dari praxis-oriented. Praksis yang ditekankan di sini ialah sikap rendah hati. Studi yang kuat dan mendalam akan kitab suci harus bisa mengubah orang menjadi lebih rendah hati; kalau orang semakin rendah hati, maka ia akan semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Sebaliknya, kalau ia sombong, ia akan semakin dekat dengan setan dan konco-konconya.
Ketiga, erat terkait dengan poin yang kedua tadi, tafsir kitab suci juga harus bisa menyuburkan cinta kasih. Poin ketiga inilah yang ingin saya tekankan di sini, terutama dalam situasi cekaman dan ancaman teror sekarang ini. Sudah lama para ahli kitab mengatakan bahwa jangan sampai tafsir menjadi ajang atau medan untuk menabur dan menebar kebencian. Melainkan harus dibaktikan kepada upaya penyuburan cinta kasih, sebab cinta kasih itulah yang dapat menjadi prinsip hidup. Hidup tidak mungkin ada tanpa cinta kasih. Hidup selalu mengandaikan cinta kasih sebagai dasar dan prasyaratnya. Cinta kasih adalah conditio sine-qua-non bagi hidup manusia.
Keempat, sejarah ilmu tafsir mempunyai sikap rendah hati, yaitu rela mengakui bahwa tidak ada tafsir tunggal. Karena itu, orang tidak dapat mengklaim kebenaran mutlak dalam ilmu tafsir (hermeneutik). Sekali lagi, perlu dikatakan bahwa orang tidak dapat memonopoli tafsir itu. Sebab di antara para penafsir ada satu keyakinan abadi bahwa setiap penafsir yang siap dan kritis akan selalu bisa menggali satu segi atau dimensi baru. Sebab sungguh diyakini bahwa “Reading is a process of reproducing meaning; reading is a process of reconstructing meaning.” Itu tidak lain karena membaca selalu berarti menafsirkan dan membangun makna.
Maka marilah kita membaca dan membaca. Sehubungan dengan bulan Kitab Suci ini ada baiknya kita dengar Agustinus yang suatu saat mendengar kata-kata: Tolle, Lege. Ambillah dan Bacalah. Agustinus membaca Kitab Suci, dan di sana ia berjumpa dengan Kristus, persis seperti yang dikatakan temannya, Hieronimus, siapa yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus. Marilah kita isi bulan ini dengan aktifitas membaca kitab suci dalam rangka semakin mengenal dan mencintai Yesus Kristus.
Beberapa hari lalu seorang mantan mahasiswa saya muncul di wall facebook dan bertukar pikiran dengan saya mengenai beberapa hal yang terkait dengan aksi teroris yang belakang ini muncul kembali dan membuat kita waspada dan bahkan saling curiga. Ia muncul dengan pernyataan: terorisme yang terkait dengan agama biasanya diilhami teks-teks yang juga keras di dalam kitab suci agama-agama terkait. Ia mau mengatakan bahwa kitab suci mengajarkan teror dan membenarkannya kalau teror itu sudah terjadi. Karena itu, ia mengusulkan agar perlu ada gerakan bersama untuk menulis kembali semua kitab suci agama-agama dan dalam proses penulisan ulang itu, unsur yang penuh kekerasan, yang mengandung teror dibuang saja. Kita cukup menyimpan hal-hal yang baik. Benih teror dan kebencian harus dibuang. Citra Allah pembenci dan pendendam harus dikikis. Tentu ia mengusulkan hal itu dengan harapan bahwa perjalanan ke masa depan manusia akan menjadi lebih baik dan lebih ramah: orang tidak lagi menempa mata pedang dan tombak, melainkan pedang dan tombak yang ada ditempa menjadi bajak untuk mengolah ladang atau sawah. Terhadap usul itu, ia meminta tanggapan.
Tulisan ini merupakan upaya pengembangan lebih lanjut dari argumen yang saya ajukan di wall facebook itu, ditambah dengan beberapa insight dari buku Karen Armstrong yang tahun lalu saya terjemahkan untuk Mizan: Bible, A Biography. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk meramaikan Bulan Kitab Suci Nasional, yang tahun ini kita rayakan dengan merenungkan kisah Yakub. Kalau kita baca kisah Yakub dengan baik dan penuh perhatian, akan tampak bahwa kisah itu memang penuh intrik, tipu muslihat, dan kekerasan, tetapi akhirnya semuanya bermuara ke rekonsiliasi. Rekonsiliasi itu bisa terjadi setelah ada campur tangan Tuhan dalam seluruh proses itu.
Inilah beberapa tanggapan spontan saya saat itu. Pertama, usul itu tidak mungkin dilakukan karena Teks Kitab Suci adalah kisah-kisah manusiawi. Karena itu, isinya bisa sangat realistik dan vulgar tentang fakta kemanusiaan, baik menyangkut segi positifnya, maupun negatifnya. Kedua, dalam tradisi Katolik, dikenal tiga tonggak penting yang harus berimbang dan dijaga keseimbangannya: Kitab Suci, Tradisi, Magisterium. Segala tendensi untuk menekankan sudut yang satu akan diimbangi sudut lain. Maksudnya, kalau orang cenderung menjadi kaku dengan prinsip “sola scriptura,” perlu disadarkan bahwa kita punya tradisi. Magisterium memainkan peranan penting di sini. Tentu Kitab Suci di atas segala-galanya. Tetapi karena ia lahir dari tradisi maka tradisi memainkan peranan yang tidak kecil. Tafsir kitab suci selalu memerlukan otoritas baik itu intelektual, maupun rohani dan organisatoris. Itulah Magisterium. Ketiga, sama sekali tidak ada jaminan bahwa setelah kitab suci ditulis kembali dengan mempercantik isinya, manusia akan menjadi semakin ramah terhadap satu sama lain. Sebab tendensi homo homini lupus manusia adalah kecenderungan kodrati. Ia sudah ada dalam diri manusia, jauh sebelum ada agama yang mencekokinya dengan pelbagai ajaran, positif maupun negatif. Jadi, tidak terjamin dengan pasti bahwa teror akan hilang kalau kitab suci ditulis ulang.
Karena itu, kita harus mencari cara pemahaman dan penjelasan lain. Itulah yang saya angkat dari beberapa butir ilham pemikiran Karen Armstrong. Salah satu pokok yang mau didalami Armstrong dalam bukunya ialah bagaimana cara menafsirkan kitab suci. Sebab kitab suci itu harus ditafsirkan agar bisa bermakna dalam hidup manusia. Berikut beberapa prinsip yang dapat dikemukakan di sini.
Pertama, tafsir kitab suci harus praxis-oriented, terarah kepada praksis. Tafsir kitab suci harus bermuara pada perbuatan, pada tingkah laku. Tafsir Kitab Suci yang baik, harus mampu mengubah hidup orang ke arah yang lebih baik secara sosial-etis. Tafsir jangan sampai hanya sebatas olah-rasional-intelektual-spekulatif belaka. Tafsir seperti ini tidak banyak gunanya. Ia hanya aktifitas melayang-layang saja. Kedua, tafsir kitab suci harus dilandasi oleh semangat kerendahan-hati, tidak sombong. Sikap rendah hati inilah yang merupakan salah satu sisi dari praxis-oriented. Praksis yang ditekankan di sini ialah sikap rendah hati. Studi yang kuat dan mendalam akan kitab suci harus bisa mengubah orang menjadi lebih rendah hati; kalau orang semakin rendah hati, maka ia akan semakin dekat dengan Tuhan dan sesama. Sebaliknya, kalau ia sombong, ia akan semakin dekat dengan setan dan konco-konconya.
Ketiga, erat terkait dengan poin yang kedua tadi, tafsir kitab suci juga harus bisa menyuburkan cinta kasih. Poin ketiga inilah yang ingin saya tekankan di sini, terutama dalam situasi cekaman dan ancaman teror sekarang ini. Sudah lama para ahli kitab mengatakan bahwa jangan sampai tafsir menjadi ajang atau medan untuk menabur dan menebar kebencian. Melainkan harus dibaktikan kepada upaya penyuburan cinta kasih, sebab cinta kasih itulah yang dapat menjadi prinsip hidup. Hidup tidak mungkin ada tanpa cinta kasih. Hidup selalu mengandaikan cinta kasih sebagai dasar dan prasyaratnya. Cinta kasih adalah conditio sine-qua-non bagi hidup manusia.
Keempat, sejarah ilmu tafsir mempunyai sikap rendah hati, yaitu rela mengakui bahwa tidak ada tafsir tunggal. Karena itu, orang tidak dapat mengklaim kebenaran mutlak dalam ilmu tafsir (hermeneutik). Sekali lagi, perlu dikatakan bahwa orang tidak dapat memonopoli tafsir itu. Sebab di antara para penafsir ada satu keyakinan abadi bahwa setiap penafsir yang siap dan kritis akan selalu bisa menggali satu segi atau dimensi baru. Sebab sungguh diyakini bahwa “Reading is a process of reproducing meaning; reading is a process of reconstructing meaning.” Itu tidak lain karena membaca selalu berarti menafsirkan dan membangun makna.
Maka marilah kita membaca dan membaca. Sehubungan dengan bulan Kitab Suci ini ada baiknya kita dengar Agustinus yang suatu saat mendengar kata-kata: Tolle, Lege. Ambillah dan Bacalah. Agustinus membaca Kitab Suci, dan di sana ia berjumpa dengan Kristus, persis seperti yang dikatakan temannya, Hieronimus, siapa yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Kristus. Marilah kita isi bulan ini dengan aktifitas membaca kitab suci dalam rangka semakin mengenal dan mencintai Yesus Kristus.
Senin, 05 September 2011
ALMA REDEMPTORIS MATER
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Entah mengapa, hari ini (21 Mei 2011) saya tiba-tiba teringat dan sangat rindu akan sebuah kidung Maria yang saya dengar pada akhir doa malam pertama kami di Seminari Pius XII Kisol. Itulah ibadat Completorium pertama dalam hidup saya. Dan itu terjadi di Kapel asrama seminari itu pulalah. Benar-benar sangat istimewa rasanya. Hari itu sudah pukul 21.00; ya sudah malam. Kami semua pergi ke kapel seminari untuk berdoa malam di Kapel itu. Di akhir doa itulah terdengar merdu bunyi harmonium pengiring dari loteng kapel itu, memberi nada-nada baru bagi saya, tetapi saya tahu itu sangat indah dan mempesona. Setelah sang organis memberi preludium singkat, para senior pun mulai bernyanyi dalam bahasa Latin. Sangat agung dan megah, indah dan mendalam, merasuk dalam kalbu, entah mengapa, entah bagaimana. Kami para Yunior, kalau tidak mendapat buku lagu, hanya bisa bengong saja mendengar untaian nada-nada dan kata-kata indah dan ajaib itu. Tetapi karena nada-nada itu indah, syairnya juga indah, maka malam itu juga saya coba menghafalnya luar kepala. Dan Berhasil. Tidak pernah terlupakan sampai sekarang, sampai detik ini.
Beginilah lagunya:
Alma Redemptoris mater,
quae per via caeli porta manes,
et stela maris,
sucure cadenti,
surgere qui curat populo,
tu que genuisti,
natura mirante,
tuum sanctum genitorem,
virgo prius ac posterius,
gabrielis ab ore,
sumens illud ave,
peccatorum miserere.
Salah satu versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia (kalau tidak salah merupakan hasil kerja dari teks buku Nyanyian Sukur Kepada Bapa dari Nusa Indah) ialah sbb:
Bunda penebus yang murah,
gapura surgawi yang terbuka,
bintang samudera tolonglah umatmu,
yang dilanda duka derita,
berkat doamu di hadapan Yesus,
puteraMu yang tercinta,
kenya murni senantiasa,
yang disapa Jibrail
dengan salam indah,
sudi kasihani kami.
Versi terjemahan yang lain ialah sbb:
Bunda yang berbelas kasih,
engkau melahirkan penyelamat,
pelindung kami,
kami mohon restu,
agar slamat senantiasa,
berkat doamu di hadapan Yesus,
Puteramu yang tercinta,
kuatkanlah kami yang lemah,
dengan iman harapan,
dan kasih sejati,
ya Maria Bunda kami.
Entah mengapa, saya tetap merasa teks asli dalam bahasa Latin tetap masih jauh lebih indah dan lebih mendalam. Memang kalau dianalisis secara teologis liturgis, ada perbedaan yang sangat besar antara teks Latin dan kedua versi terjemahan yang tersedia di atas tadi. Perbedaan paling mencolok dalam analisis saya ialah bahwa dalam teks Latin sebagian besar teks lagu itu adalah pujian kepada sang Bunda Penebus. Baru pada akhir lagu-lah, muncul hanya satu penggal doa permohonan. Itu sebuah perimbangan doa teologis yang sangat berbeda yang tidak tampak dalam terjemahan bahasa Indonesia. Sebab baik versi terjemahan Indonesia pertama dan kedua, jika kita telaah, maka yang dominan ialah permohonan dan unsur pujian lalu menjadi tidak kentara untuk tidak sampai dikatakan hilang sama sekali.
Entah mengapa pula, pada malam ini tiba-tiba saya tergerak untuk membuat terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Mungkin karena saking rindunya terterpa badai nostalgia. Sejauh saya tahu memang belum ada terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Inilah hasil terjemahan saya. Semoga ada gunanya.
Ende ata Sambe,
Ende momang mese,
Ite ata lami para surga,
Ntala gerak,
dadang ami anakd,
one mose lino susa taung,
le tegi dite,
one rangaD Yesus,
Anak dite Anak momangd,
Pande mberes,
ami anak de,
le imbi agu bengkes,
agu momang mese,
io Maria Ende cembes.
Yogya, 21 Mei 2011 (Diketik dan diperluas, 06 September 2011).
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Entah mengapa, hari ini (21 Mei 2011) saya tiba-tiba teringat dan sangat rindu akan sebuah kidung Maria yang saya dengar pada akhir doa malam pertama kami di Seminari Pius XII Kisol. Itulah ibadat Completorium pertama dalam hidup saya. Dan itu terjadi di Kapel asrama seminari itu pulalah. Benar-benar sangat istimewa rasanya. Hari itu sudah pukul 21.00; ya sudah malam. Kami semua pergi ke kapel seminari untuk berdoa malam di Kapel itu. Di akhir doa itulah terdengar merdu bunyi harmonium pengiring dari loteng kapel itu, memberi nada-nada baru bagi saya, tetapi saya tahu itu sangat indah dan mempesona. Setelah sang organis memberi preludium singkat, para senior pun mulai bernyanyi dalam bahasa Latin. Sangat agung dan megah, indah dan mendalam, merasuk dalam kalbu, entah mengapa, entah bagaimana. Kami para Yunior, kalau tidak mendapat buku lagu, hanya bisa bengong saja mendengar untaian nada-nada dan kata-kata indah dan ajaib itu. Tetapi karena nada-nada itu indah, syairnya juga indah, maka malam itu juga saya coba menghafalnya luar kepala. Dan Berhasil. Tidak pernah terlupakan sampai sekarang, sampai detik ini.
Beginilah lagunya:
Alma Redemptoris mater,
quae per via caeli porta manes,
et stela maris,
sucure cadenti,
surgere qui curat populo,
tu que genuisti,
natura mirante,
tuum sanctum genitorem,
virgo prius ac posterius,
gabrielis ab ore,
sumens illud ave,
peccatorum miserere.
Salah satu versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia (kalau tidak salah merupakan hasil kerja dari teks buku Nyanyian Sukur Kepada Bapa dari Nusa Indah) ialah sbb:
Bunda penebus yang murah,
gapura surgawi yang terbuka,
bintang samudera tolonglah umatmu,
yang dilanda duka derita,
berkat doamu di hadapan Yesus,
puteraMu yang tercinta,
kenya murni senantiasa,
yang disapa Jibrail
dengan salam indah,
sudi kasihani kami.
Versi terjemahan yang lain ialah sbb:
Bunda yang berbelas kasih,
engkau melahirkan penyelamat,
pelindung kami,
kami mohon restu,
agar slamat senantiasa,
berkat doamu di hadapan Yesus,
Puteramu yang tercinta,
kuatkanlah kami yang lemah,
dengan iman harapan,
dan kasih sejati,
ya Maria Bunda kami.
Entah mengapa, saya tetap merasa teks asli dalam bahasa Latin tetap masih jauh lebih indah dan lebih mendalam. Memang kalau dianalisis secara teologis liturgis, ada perbedaan yang sangat besar antara teks Latin dan kedua versi terjemahan yang tersedia di atas tadi. Perbedaan paling mencolok dalam analisis saya ialah bahwa dalam teks Latin sebagian besar teks lagu itu adalah pujian kepada sang Bunda Penebus. Baru pada akhir lagu-lah, muncul hanya satu penggal doa permohonan. Itu sebuah perimbangan doa teologis yang sangat berbeda yang tidak tampak dalam terjemahan bahasa Indonesia. Sebab baik versi terjemahan Indonesia pertama dan kedua, jika kita telaah, maka yang dominan ialah permohonan dan unsur pujian lalu menjadi tidak kentara untuk tidak sampai dikatakan hilang sama sekali.
Entah mengapa pula, pada malam ini tiba-tiba saya tergerak untuk membuat terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Mungkin karena saking rindunya terterpa badai nostalgia. Sejauh saya tahu memang belum ada terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai. Inilah hasil terjemahan saya. Semoga ada gunanya.
Ende ata Sambe,
Ende momang mese,
Ite ata lami para surga,
Ntala gerak,
dadang ami anakd,
one mose lino susa taung,
le tegi dite,
one rangaD Yesus,
Anak dite Anak momangd,
Pande mberes,
ami anak de,
le imbi agu bengkes,
agu momang mese,
io Maria Ende cembes.
Yogya, 21 Mei 2011 (Diketik dan diperluas, 06 September 2011).
Selasa, 16 Agustus 2011
Prefasi Tanah Airku I dan II
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian, Dosen Teologi pada FF-UNPAR Bdg. PhD Student at ICRS-Yogya
Salah satu ciri khas Tata Perayaan Ekaristi berbahasa Indonesia ialah, bahwa di sana tersedia dua Prefasi untuk Tanah Air (Buku TPE, hal.104-106). Ciri khas itu tampak jika kita melihat sejenak TPE berbahasa Inggris, maupun buku ulasan teologis prefasi yang standar dan terkenal dari Cutberth Johnson itu. Karena “Prefasi Tanah Airku” ini khas Indonesia, maka perlu dicermati baik-baik, entah itu menyangkut strukturnya maupun juga menyangkut isinya. Saya mulai dengan mencermati struktur dan isi Prefasi yang pertama.
Sebagaimana biasa dalam setiap Prefasi, pasti ada dialog pembuka yang sangat lazim dan kita hafal dengan sangat baik itu. Lalu disusul dengan protokol yang lazim, yaitu ungkapan keyakinan dasar kita bahwa kita ini senantiasa memuji dan mengucap syukur kepada Allah Bapa melalui pengantaraan Tuhan kita Yesus Kristus.
Lalu dalam bagian doktrina teologis diberikan paling tidak tiga alasan mengapa kita memuji dan memuliakan Allah Bapa. Pertama, kita mengungkapkan keyakinan dasar iman kita bahwa Allah Bapa-lah yang memungkinkan kita dapat hidup dan berdiam di negeri indah permai yang bernama Indonesia ini, berdiam di bumi nusantara yang teramat kaya ini. Yang teramat menarik bagi saya ialah pelukisan tentang negeri ini yang amat indah, yang kalau dibaca dengan baik akan terasa seperti pelukisan mengenai sebuah tanah terjanji saja (sebuah konsep alkitabiah), walau mungkin dengan metafor-metafor dan kosa-kata yang berlainan (sebab di sini tidak ada ungkapan “berlimpah susu dan madu” seperti yang ada dalam kitab Yosua itu ketika pengarang mencoba melukiskan Tanah Terjanji, Kanaan): “...di tengah pulau-pulau dan lautan biru, di antara gunung-gunung dan dataran subur, di negeri yang kaya akan sumber-sumber alam.” (p.104). Sekali lagi, kita yakin bahwa berkat penyelenggaraan ilahilah, kita dapat dan boleh tinggal di negeri “melati pujaan bangsa” ini, mengutip ungkapan metaforis dari Ismail Marzuki dalam lagunya yang terkenal itu: Rayuan pulau kelapa.
Kedua, kita juga mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologis kita bahwa proses terbentuknya negara ini pun adalah sebentuk campur-tangan dan penyelenggaraan kasih setia ilahi bahkan hampir-hampir merupakan sebuah mukjizat juga. Kita yakin bahwa Allah Bapa-lah yang membimbing bangsa ini menjadi satu bangsa yang merdeka dan bertanggung-jawab (p.104). Pembentukan satu realitas politik negara itu tentu saja mempunyai tujuan tertentu yang teramat luhur; dengan terbentuknya kita sebagai satu bangsa atau lebih tepat satu negara, maka kita dapat mengolah bumi ini dengan baik dan secara bertanggung-jawab, seperti yang dikehendaki oleh sang Pencipta itu sendiri (bdk.Kej.1:26-28). Bahkan ada dimensi dan kesadaran ekologis juga di dalam Prefasi ini, ketika dikatakan bahwa kita dipanggil menjadi satu bangsa untuk “...mengelola alam tanpa merusak lingkungan, memanfaatkan laut yang kaya.” Kita juga dipanggil untuk membangun negeri ini demi menuju masa depan yang lebih baik, “...menyiapkan hari depan yang lebih adil dan makmur, aman dan sentosa.”
Ketiga, dan ini yang khas umat Kristiani di Indonesia, yang menurut idealisme sosio-politis Soegiyopranoto, 100% Katolik dan 100% Indonesia, kita juga mengucap syukur kepada Allah Bapa yang telah menyelenggarakan hidup iman bagi kita di negeri ini. Ini juga amat penting kita sadari dan kita tekankan. Kita yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah menanamkan iman dan cinta Kristiani ke dalam hati kita di bumi Indonesia ini. Kiranya di sini sejenak kita terpikir akan semua para misionaris yang telah bekerja keras dan sungguh-sungguh atas dasar landasan kasih menebarkan benih sabda kehidupan di negeri ini, sehingga di negeri ini iman Kristiani ada dan muncul dan terutama juga hidup, walaupun dalam kondisi sebagai minoritas.
Atas dasar kesadaran itu semua, kita pun terdorong untuk memuji dan memuliakan Allah bersama seluruh isi surga, dalam lagu pujian merdu para malaekat di surga: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaanmu, terpujilah Engkau di surga, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, terpujilah Engkau di surga. Dengan ini berakhirlah sudah ulasan atas Prefasi Tanah Air yang pertama.
Prefasi yang kedua menjadi sangat menarik karena dalam alasan doktrinalnya dibuat satu paralelisme antara tindakan Allah yang dahulu telah membebaskan umat pilihan (yaitu bangsa Israel) dari penindasan dan penjajahan di Mesir, untuk dapat mulai hidup sebagai orang-orang yang bebas dan merdeka di Tanah Terjanji (hal.106). Kita juga yakin dan berpandangan bahwa Allah yang memberikan cinta dan perhatian yang sama kepada bangsa kita; Allah mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa ini.
Selanjutnya dengan singkat dan padat sekali disinggung mengenai proses terjadinya bangsa ini. Kiranya yang terpikirkan di sana ialah tentang para founding fathers kita dulu yang diyakini sebagai para bonae voluntatis, yaitu orang-orang yang berkehendak baik, yang karena berkehendak baik itulah, mereka mampu membangun negeri ini sebagai satu bangsa, juga atas perkenanan dan penyelenggaraan Allah juga.
Selanjutnya secara singkat juga disinggung mengenai upaya penegakan kemerdekaan. Tentu setelah merdeka, ada upaya untuk membela terus persatuan dan kebebasan. Itu semua amat penting untuk penegakan keadilan (promotio iustitiae) dan perwujudan perdamaian (pax). Kita yakin bahwa Allah membimbing kita untuk “membangun masyarakat yang sejahtera berdasarkan iman dan pengabdian kepada-Mu.”
Akhirnya, hal itu semua menjadi alasan bagi kita untuk bersukacita dan dalam sukacita itu kita turut serta dalam paduan suara merdu dan meriah para malaekat di surga yang senantiasa memuji dan memuliakan Allah dari kekal hingga kekal: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu, Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.
Bandung, 07 Agustus 2010 (diketik kembali sambil diperluas, 21 Agustus 2010 di Pelemburan, Yogyakarta) Oleh: Fransiskus Borgias M.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian, Dosen Teologi pada FF-UNPAR Bdg. PhD Student at ICRS-Yogya
Salah satu ciri khas Tata Perayaan Ekaristi berbahasa Indonesia ialah, bahwa di sana tersedia dua Prefasi untuk Tanah Air (Buku TPE, hal.104-106). Ciri khas itu tampak jika kita melihat sejenak TPE berbahasa Inggris, maupun buku ulasan teologis prefasi yang standar dan terkenal dari Cutberth Johnson itu. Karena “Prefasi Tanah Airku” ini khas Indonesia, maka perlu dicermati baik-baik, entah itu menyangkut strukturnya maupun juga menyangkut isinya. Saya mulai dengan mencermati struktur dan isi Prefasi yang pertama.
Sebagaimana biasa dalam setiap Prefasi, pasti ada dialog pembuka yang sangat lazim dan kita hafal dengan sangat baik itu. Lalu disusul dengan protokol yang lazim, yaitu ungkapan keyakinan dasar kita bahwa kita ini senantiasa memuji dan mengucap syukur kepada Allah Bapa melalui pengantaraan Tuhan kita Yesus Kristus.
Lalu dalam bagian doktrina teologis diberikan paling tidak tiga alasan mengapa kita memuji dan memuliakan Allah Bapa. Pertama, kita mengungkapkan keyakinan dasar iman kita bahwa Allah Bapa-lah yang memungkinkan kita dapat hidup dan berdiam di negeri indah permai yang bernama Indonesia ini, berdiam di bumi nusantara yang teramat kaya ini. Yang teramat menarik bagi saya ialah pelukisan tentang negeri ini yang amat indah, yang kalau dibaca dengan baik akan terasa seperti pelukisan mengenai sebuah tanah terjanji saja (sebuah konsep alkitabiah), walau mungkin dengan metafor-metafor dan kosa-kata yang berlainan (sebab di sini tidak ada ungkapan “berlimpah susu dan madu” seperti yang ada dalam kitab Yosua itu ketika pengarang mencoba melukiskan Tanah Terjanji, Kanaan): “...di tengah pulau-pulau dan lautan biru, di antara gunung-gunung dan dataran subur, di negeri yang kaya akan sumber-sumber alam.” (p.104). Sekali lagi, kita yakin bahwa berkat penyelenggaraan ilahilah, kita dapat dan boleh tinggal di negeri “melati pujaan bangsa” ini, mengutip ungkapan metaforis dari Ismail Marzuki dalam lagunya yang terkenal itu: Rayuan pulau kelapa.
Kedua, kita juga mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologis kita bahwa proses terbentuknya negara ini pun adalah sebentuk campur-tangan dan penyelenggaraan kasih setia ilahi bahkan hampir-hampir merupakan sebuah mukjizat juga. Kita yakin bahwa Allah Bapa-lah yang membimbing bangsa ini menjadi satu bangsa yang merdeka dan bertanggung-jawab (p.104). Pembentukan satu realitas politik negara itu tentu saja mempunyai tujuan tertentu yang teramat luhur; dengan terbentuknya kita sebagai satu bangsa atau lebih tepat satu negara, maka kita dapat mengolah bumi ini dengan baik dan secara bertanggung-jawab, seperti yang dikehendaki oleh sang Pencipta itu sendiri (bdk.Kej.1:26-28). Bahkan ada dimensi dan kesadaran ekologis juga di dalam Prefasi ini, ketika dikatakan bahwa kita dipanggil menjadi satu bangsa untuk “...mengelola alam tanpa merusak lingkungan, memanfaatkan laut yang kaya.” Kita juga dipanggil untuk membangun negeri ini demi menuju masa depan yang lebih baik, “...menyiapkan hari depan yang lebih adil dan makmur, aman dan sentosa.”
Ketiga, dan ini yang khas umat Kristiani di Indonesia, yang menurut idealisme sosio-politis Soegiyopranoto, 100% Katolik dan 100% Indonesia, kita juga mengucap syukur kepada Allah Bapa yang telah menyelenggarakan hidup iman bagi kita di negeri ini. Ini juga amat penting kita sadari dan kita tekankan. Kita yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah menanamkan iman dan cinta Kristiani ke dalam hati kita di bumi Indonesia ini. Kiranya di sini sejenak kita terpikir akan semua para misionaris yang telah bekerja keras dan sungguh-sungguh atas dasar landasan kasih menebarkan benih sabda kehidupan di negeri ini, sehingga di negeri ini iman Kristiani ada dan muncul dan terutama juga hidup, walaupun dalam kondisi sebagai minoritas.
Atas dasar kesadaran itu semua, kita pun terdorong untuk memuji dan memuliakan Allah bersama seluruh isi surga, dalam lagu pujian merdu para malaekat di surga: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, surga dan bumi penuh kemuliaanmu, terpujilah Engkau di surga, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, terpujilah Engkau di surga. Dengan ini berakhirlah sudah ulasan atas Prefasi Tanah Air yang pertama.
Prefasi yang kedua menjadi sangat menarik karena dalam alasan doktrinalnya dibuat satu paralelisme antara tindakan Allah yang dahulu telah membebaskan umat pilihan (yaitu bangsa Israel) dari penindasan dan penjajahan di Mesir, untuk dapat mulai hidup sebagai orang-orang yang bebas dan merdeka di Tanah Terjanji (hal.106). Kita juga yakin dan berpandangan bahwa Allah yang memberikan cinta dan perhatian yang sama kepada bangsa kita; Allah mencurahkan kasih sayang yang besar kepada bangsa ini.
Selanjutnya dengan singkat dan padat sekali disinggung mengenai proses terjadinya bangsa ini. Kiranya yang terpikirkan di sana ialah tentang para founding fathers kita dulu yang diyakini sebagai para bonae voluntatis, yaitu orang-orang yang berkehendak baik, yang karena berkehendak baik itulah, mereka mampu membangun negeri ini sebagai satu bangsa, juga atas perkenanan dan penyelenggaraan Allah juga.
Selanjutnya secara singkat juga disinggung mengenai upaya penegakan kemerdekaan. Tentu setelah merdeka, ada upaya untuk membela terus persatuan dan kebebasan. Itu semua amat penting untuk penegakan keadilan (promotio iustitiae) dan perwujudan perdamaian (pax). Kita yakin bahwa Allah membimbing kita untuk “membangun masyarakat yang sejahtera berdasarkan iman dan pengabdian kepada-Mu.”
Akhirnya, hal itu semua menjadi alasan bagi kita untuk bersukacita dan dalam sukacita itu kita turut serta dalam paduan suara merdu dan meriah para malaekat di surga yang senantiasa memuji dan memuliakan Allah dari kekal hingga kekal: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu, Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.
Bandung, 07 Agustus 2010 (diketik kembali sambil diperluas, 21 Agustus 2010 di Pelemburan, Yogyakarta) Oleh: Fransiskus Borgias M.
Minggu, 14 Agustus 2011
PREFASI SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Lay Theologian
Tanggal 15 Agustus juga merupakan salah satu tanggal yang sangat istimewa dalam lingkaran tahun liturgis gereja Katolik, karena pada tanggal itu ada Hari Raya SP Maria Diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Pesta ini didasarkan pada sebuah ketetapan dogmatis gereja pada abad keduapuluh, sesudah perang dunia II terjadi dan mencabik-cabik Eropa khususnya dan dunia pada umumnya. Dogma itu sendiri dilandaskan pada satu keyakinan tradisional gereja yang sudah sangat tua usianya. Bahkan dalam konteks Gereja Yunani Ortodoks, keyakinan ini sudah lama menjadi keyakinan iman dogmatis yang sangat lama dihayati dengan penuh iman, kasih, dan pengharapan. Kita tidak akan bisa menemukan dasar keyakinan ini secara biblis sebab keyakinan itu muncul dalam sejarah dan tradisi gereja yang juga kita yakini diilhami dan dituntun (dibimbing) oleh Roh Kudus sendiri.
Prefasi yang kita dengar pada perayaan ekaristi hari ini juga sangat indah dan mendalam. Seperti biasa ia dimulai dengan menyapa Bapa, Allah yang mahakuasa dan kekal. Jelas itu adalah sebuah ungkapan keyakinan iman yang seperti terkandung dalam Credo kita yang kita ucapkan setiap hari Minggu dan hari raya lainnya: Credo in unum Deum, Pater omnipotentem...ect. Atas dasar keyakinan itu kita pun menyatakan atau mengungkapkan pengakuan kita akan kesadaran bahwa kita selalu dan di mana-mana memuji dan memuliakan Allah Bapa. Hal itu kita lakukan dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kita. Memang doa pujian dan permohonan kita kepada Bapa selalu bercorak Kristologis (Kristosentris).
Selanjutnya kepada kita diberikan dan diuraikan alasan bagi pujian itu. Tentu di samping pujian itu adalah kewajiban fundamental dan eksistensial dari kita sebagai manusia beriman (makhluk ciptaan), pada hari ini ada sebuah alasan khusus, yaitu karena SP Maria Bunda Allah diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Begitulah ketetapan dalam rumusan dogmanya. Peristiwa pengangkatan itu mempunyai dua tujuan penting. Pertama, pengangkatan itu dimaksudkan untuk menjadi awal atau permulaan dan pola dari Gereja dalam kesempurnaannya. Memang Maria adalah typos gereja (sebuah istilah klasik dari teologi Mariologi para Bapa Gereja) dalam hal iman dan kesempurnaan hidup yang sepenuhnya terarah kepada Allah semata-mata dengan mengikuti model iman Maria sendiri: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Ecce serva Dei, fiat mihi secundum verbum tuum.
Kedua, pengangkatan itu juga menjadi satu tanda pengharapan dan penghiburan bagi umat Allah dalam perjalanan ziarah mereka menuju ke surga. Gereja, dalam dan melalui Prefasi ini, memperlihatkan dan menegaskan keyakinan imannya bahwa Allah tidak sudi kehancuran karena maut menyentuh tubuhnya (Maria), karena tubuh itu adalah tubuh yang sangat mulia, karena tubuh itu sudah mengandung dan melahirkan sang Penebus, PuteraMu, Tuhan dan Penguasa segala sesuatu yang hidup. Dan hal itu terjadi di dalam kemuliaan peristiwa inkarnasi, sabda menjelma menjadi daging, sabda menjelma menjadi manusia, verbum caro factum est, dan membangun kemahnya di antara kita. Tradisi gereja yang kudus meyakini bahwa Maria tidak mati. Itu sebabnya dalam Kitab Suci tidak ada kisah tentang peristiwa wafat Santa Perawan Maria. Juga dalam tradisi suci selanjutnya, tidak ada kisah seperti itu. Jadi, keyakinan devosional marial itu sudah sangat tua usianya; boleh jadi sudah setua teks-teks Kitab Suci Perjanjian Baru itu sendiri. Jejak keyakinan itu antara lain dapat kita lihat jejaknya secara samar-samar dalam injil-injil, terutama dalam injil Lukas.
Keyakinan itu akhirnya mampu mendatangkan sukacita hidup yang besar bagi kita yang menghayatinya sekarang dan di sini; kita pun dalam sukacita kita, memadahkan kidung pujian kita untuk memuji dan memuliakan Allah, bersama dengan paduan suara para malaekat di surga. Dan kita pun bernyanyi dengan mengikuti seruan para malaekat di surga dalam liturgi abadi mereka: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, Surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Terpujilah Engkau di surga.” Sesudah itu, dalam lanjutan perayaan ekaristi, kita hanyut dalam sujud yang khusyuk ketika peristiwa konsekrasi. Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Bandung, 06 Agustus 2010 (pagi hari).
Diketik sambil dikembangkan dan diperluas, 06 Agustus 2010 (malam hari)
Lay Theologian
Tanggal 15 Agustus juga merupakan salah satu tanggal yang sangat istimewa dalam lingkaran tahun liturgis gereja Katolik, karena pada tanggal itu ada Hari Raya SP Maria Diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Pesta ini didasarkan pada sebuah ketetapan dogmatis gereja pada abad keduapuluh, sesudah perang dunia II terjadi dan mencabik-cabik Eropa khususnya dan dunia pada umumnya. Dogma itu sendiri dilandaskan pada satu keyakinan tradisional gereja yang sudah sangat tua usianya. Bahkan dalam konteks Gereja Yunani Ortodoks, keyakinan ini sudah lama menjadi keyakinan iman dogmatis yang sangat lama dihayati dengan penuh iman, kasih, dan pengharapan. Kita tidak akan bisa menemukan dasar keyakinan ini secara biblis sebab keyakinan itu muncul dalam sejarah dan tradisi gereja yang juga kita yakini diilhami dan dituntun (dibimbing) oleh Roh Kudus sendiri.
Prefasi yang kita dengar pada perayaan ekaristi hari ini juga sangat indah dan mendalam. Seperti biasa ia dimulai dengan menyapa Bapa, Allah yang mahakuasa dan kekal. Jelas itu adalah sebuah ungkapan keyakinan iman yang seperti terkandung dalam Credo kita yang kita ucapkan setiap hari Minggu dan hari raya lainnya: Credo in unum Deum, Pater omnipotentem...ect. Atas dasar keyakinan itu kita pun menyatakan atau mengungkapkan pengakuan kita akan kesadaran bahwa kita selalu dan di mana-mana memuji dan memuliakan Allah Bapa. Hal itu kita lakukan dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kita. Memang doa pujian dan permohonan kita kepada Bapa selalu bercorak Kristologis (Kristosentris).
Selanjutnya kepada kita diberikan dan diuraikan alasan bagi pujian itu. Tentu di samping pujian itu adalah kewajiban fundamental dan eksistensial dari kita sebagai manusia beriman (makhluk ciptaan), pada hari ini ada sebuah alasan khusus, yaitu karena SP Maria Bunda Allah diangkat ke surga dengan jiwa dan badan. Begitulah ketetapan dalam rumusan dogmanya. Peristiwa pengangkatan itu mempunyai dua tujuan penting. Pertama, pengangkatan itu dimaksudkan untuk menjadi awal atau permulaan dan pola dari Gereja dalam kesempurnaannya. Memang Maria adalah typos gereja (sebuah istilah klasik dari teologi Mariologi para Bapa Gereja) dalam hal iman dan kesempurnaan hidup yang sepenuhnya terarah kepada Allah semata-mata dengan mengikuti model iman Maria sendiri: Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu. Ecce serva Dei, fiat mihi secundum verbum tuum.
Kedua, pengangkatan itu juga menjadi satu tanda pengharapan dan penghiburan bagi umat Allah dalam perjalanan ziarah mereka menuju ke surga. Gereja, dalam dan melalui Prefasi ini, memperlihatkan dan menegaskan keyakinan imannya bahwa Allah tidak sudi kehancuran karena maut menyentuh tubuhnya (Maria), karena tubuh itu adalah tubuh yang sangat mulia, karena tubuh itu sudah mengandung dan melahirkan sang Penebus, PuteraMu, Tuhan dan Penguasa segala sesuatu yang hidup. Dan hal itu terjadi di dalam kemuliaan peristiwa inkarnasi, sabda menjelma menjadi daging, sabda menjelma menjadi manusia, verbum caro factum est, dan membangun kemahnya di antara kita. Tradisi gereja yang kudus meyakini bahwa Maria tidak mati. Itu sebabnya dalam Kitab Suci tidak ada kisah tentang peristiwa wafat Santa Perawan Maria. Juga dalam tradisi suci selanjutnya, tidak ada kisah seperti itu. Jadi, keyakinan devosional marial itu sudah sangat tua usianya; boleh jadi sudah setua teks-teks Kitab Suci Perjanjian Baru itu sendiri. Jejak keyakinan itu antara lain dapat kita lihat jejaknya secara samar-samar dalam injil-injil, terutama dalam injil Lukas.
Keyakinan itu akhirnya mampu mendatangkan sukacita hidup yang besar bagi kita yang menghayatinya sekarang dan di sini; kita pun dalam sukacita kita, memadahkan kidung pujian kita untuk memuji dan memuliakan Allah, bersama dengan paduan suara para malaekat di surga. Dan kita pun bernyanyi dengan mengikuti seruan para malaekat di surga dalam liturgi abadi mereka: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa, Surga dan bumi penuh kemuliaanMu, terpujilah Engkau di surga, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Terpujilah Engkau di surga.” Sesudah itu, dalam lanjutan perayaan ekaristi, kita hanyut dalam sujud yang khusyuk ketika peristiwa konsekrasi. Selamat Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.
Bandung, 06 Agustus 2010 (pagi hari).
Diketik sambil dikembangkan dan diperluas, 06 Agustus 2010 (malam hari)
Rabu, 03 Agustus 2011
LUKISAN TANPA WAJAH
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Kemarin, tanggal 06 Juli 2011, saya secara kebetulan mengunjungi Wall Face Book dari seorang teman saya ketika sedang studi teologi di negeri Belanda beberapa tahun silam; ia adalah seorang pastor dari Filipina, teman mahasiswa dulu waktu studi teologi di Fakultas Teologi Universitas Katolik Nijmegen Belanda. Nama pastor itu Dave Capucao. Beberapa tahun silam ia sudah mampu menyelesaikan Ph.D-nya di tempat yang sama. Di dalam koleksi album foto beliaulah saya temukan sebuah gambar atau lukisan yang sangat indah dan menarik. Tetapi ini bukan untuk pertama kalinya saya melihat gambar itu. Saya sudah pernah melihatnya sebelumnya, entah sudah beberapa kali. Tetapi terus terang saja, sampai saat ini saya belum pernah melihat aslinya lukisan itu; saya hanya melihat reproduksinya saja. Kalau tidak salah lukisan itu adalah hasil buah karya dari tangan seorang pelukis Belanda yang terkenal, Rembrandt. Nah, pertanyaannya, apa daya tarik dan keunikan lukisan dari Rembrandt ini, yang mendorong saya menulis artikel ringan ini?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebelumnya saya mencoba menggambarkan apa yang dilukiskan dalam lukisan itu. Kiranya adegan yang digambarkan dalam lukisan itu adalah mengenai peristiwa unik dalam malam perjamuan akhir menurut injil Yohanes (Yoh.13:1-20). Di sana dilukiskan bahwa Tuhan Yesus memberi sebuah perintah baru (novum mandatum) kepada para murid-Nya dan hal itu mau diteladankan dengan tindakan nyata dari sang Guru sendiri, yaitu upacara pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri; ini adalah sebuah upacara standar dalam perayaan hari Kamis Putih setiap tahun dalam Gereja Katolik; juga dilakukan dalam Perayaan Ekaristi Paus (sebagaimana dapat kita lihat dalam tayangan Televisi sejak paus Yohanes Paulus II dan Paus yang sekarang ini).
Tetapi kiranya lukisan itu mau difokuskan pada adegan pembasuhan kaki Petrus saja. Sebab di sana tidak tampak para murid yang lain. Di sana hanya tampak seorang murid (kiranya itu adalah Petrus) yang tampak seperti rada enggan bahwa kakinya dibasuh oleh sang guru. Bahkan dalam injil Yohanes kita tahu bahwa ia sempat menolaknya, tetapi kemudian ia mengalah setelah sang Guru memberi sebuah argumen yang membuat dia mati langkah dan tidak dapat menolak lagi. Dalam gambar itu Tuhan Yesus berpakaian putih sedangkan Petrus berpakaian coklat rada tua. Jadi busana mereka tampak kontras satu sama lain. Ruang di sekitar mereka juga tampak gelap, tidak tampak apa-apa dan siapa-siapa selain roti dan sebuah piala di atas meja (tentu juga dua sosok yang sudah disebutkan di atas tadi). Ruang yang gelap itu semakin membantu memfokuskan perhatian dan pandangan mata kita pada gambar dua sosok yang saling berinteraksi dalam lukisan itu.
Seperti sudah dikatakan sebelumnya, Petrus tampak seperti rada enggan dengan perbuatan dari sang Guru itu, bahkan ia mau menolaknya dengan tegas: “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” (Yoh.13:.7). Tetapi akhirnya ia mau dan menerima juga tindakan simbolis itu, setelah Yesus memberi sebuah argumen teologi kemuridan yang efektif: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh.13:8).
Ya, sebagaimana dapat kita lihat dengan mudah dalam lukisan itu, kaki Petrus sudah masuk dalam baskom pembasuhan. Kaki itu tenggelam dalam air dalam baskom pembasuhan. Itu wajar saja. Adapun hal yang jauh lebih menarik lagi dari lukisan itu ialah bahwa kepala Tuhan Yesus tertutup kain putih, sesuatu yang sangat biasa bagi gaya berpakaian kaum pria Timur Tengah pada masa itu dan juga masa sekarang. Selain itu wajah Tuhan Yesus pun juga tidak dapat terlibat, karena memang Ia membelakangi kita sebagai para penikmat lukisan. Wajah Tuhan juga tidak dapat terlihat karena Tuhan sedang membungkuk dalam rangka akan membasuh kaki, atau karena sedang menatap ke bawah, yaitu ke dalam ember pembasuhan. Dan ajaib sekali. Wajah Tuhan Yesus tampak terpantul di bawah, di dalam sana, yaitu dalam air di ember itu bersama dengan kaki Petrus yang akan dibasuh-Nya. Perhatikan baik-baik, dan ini inti pesan teologisnya, dalam pengamatan dan tafsir saya: Tangan Tuhan sama sekali belum mulai membasuh, karena tangan itu masih berada di luar baskom pembasuhan. Tetapi wajah-Nya justru sudah mulai menyatu, melebur duluan dengan kaki salah satu dari para murid-Nya, di dalam ember pembasuhan, di dalam air pembasuhan.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, si Pelukis ini (Rembrandt) sesungguhnya sedang berteologi, yaitu berteologi tentang rahasia kenosis, atau tentang penghampaan diri dari sang Firman yang menjadi manusia dan membangun kemahnya di antara kita (Yoh.1:14). Tentang kenosis itu surat Paulus kepada jemaat di Filipi 2 mengatakannya dengan sangat jelas dan kuat: “...walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya senddiri, dan mengambilrupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil.2:6-9). Menurut hemat saya, teologi kenosis itu dipentaskan dengan sangat baik dan dengan sangat radikal dalam lukisan Rembrandt ini: wajah Tuhan menyatu dan melebur dengan kaki sang murid di dalam ember pembasuhan.
Luar biasa. Sebuah teologi dalam gambar tentang kenosis, sebuah teologi tentang fakta historis inkarnasi, sebuah teologi tentang fakta bahwa verbum caro factum est, sabda telah menjadi manusia. Sebuah theology in colors, jika saya boleh meminjam istilah dari Rublev, seorang teolog dan pelukis ikon yang terkenal dari tradisi Ortodoks Russia. Di tempat lain kita menemukan pernyataan dari para teolog lain yang kurang lebih mengatakan bahwa perayaan liturgi kita adalah sebentuk theology in actions, teologi dalam tindakan, teologi dalam tindakan, dalam perbuatan nyata. Salah satu bentuk dari theology in actions dalam liturgi itu ialah apa yang disebut Hans Urs von Balthasar dengan sebutan kneeling theology, teologi berlutut, sebuah teologi tentang doa.
Saya berharap agar dengan ini semoga kita semakin sadar bahwa sesungguhnya ada banyak cara orang berteologi, mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologisnya. Ada teolog yang melakukan hal itu dengan cara memakai dan mengolah kata, ada juga teologi yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah nada, dan ada juga teolog yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah gerak. Nah di sini kita menemukan sebuah model yang lain, yaitu suatu cara berteologi dengan memakai dan mengolah warna, berteologi dengan warna, berteologi dengan gambar. Dan menurut saya, teologi dengan warna, dengan gambar ini pun sangat efektif. Bahkan jauh lebih efektif dalam berbicara dan berkomunikasi dengan kaum beriman, jika dibandingkan dengan teknik-teknik berteologi dengan cara memakai dan mengolah kata. Tradisi gereja katolik sangat kental dan kuat menghargai hal itu; hal itu terbukti dari dinding-dinding gereja yang banyak dihiasi dengan banyak lukisan yang indah-indah yang ilham dasarnya diangkat dan digali dari berbagai sumber (kitab suci dan tradisi sakramental dan devosional) yang pada gilirannnya dapat berfungsi sebagai biblia pauperum dan biblia fidelium. (Di tempat dan kesempatan lain saya sudah menulis sedikit tentang kedua istilah yang terakhir ini).
Yogyakarta, 07 Juli 2011.
Ditulis dan diolah kembali 04 Agustus 2011.
Fransiskus Borgias M.
Kemarin, tanggal 06 Juli 2011, saya secara kebetulan mengunjungi Wall Face Book dari seorang teman saya ketika sedang studi teologi di negeri Belanda beberapa tahun silam; ia adalah seorang pastor dari Filipina, teman mahasiswa dulu waktu studi teologi di Fakultas Teologi Universitas Katolik Nijmegen Belanda. Nama pastor itu Dave Capucao. Beberapa tahun silam ia sudah mampu menyelesaikan Ph.D-nya di tempat yang sama. Di dalam koleksi album foto beliaulah saya temukan sebuah gambar atau lukisan yang sangat indah dan menarik. Tetapi ini bukan untuk pertama kalinya saya melihat gambar itu. Saya sudah pernah melihatnya sebelumnya, entah sudah beberapa kali. Tetapi terus terang saja, sampai saat ini saya belum pernah melihat aslinya lukisan itu; saya hanya melihat reproduksinya saja. Kalau tidak salah lukisan itu adalah hasil buah karya dari tangan seorang pelukis Belanda yang terkenal, Rembrandt. Nah, pertanyaannya, apa daya tarik dan keunikan lukisan dari Rembrandt ini, yang mendorong saya menulis artikel ringan ini?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, sebelumnya saya mencoba menggambarkan apa yang dilukiskan dalam lukisan itu. Kiranya adegan yang digambarkan dalam lukisan itu adalah mengenai peristiwa unik dalam malam perjamuan akhir menurut injil Yohanes (Yoh.13:1-20). Di sana dilukiskan bahwa Tuhan Yesus memberi sebuah perintah baru (novum mandatum) kepada para murid-Nya dan hal itu mau diteladankan dengan tindakan nyata dari sang Guru sendiri, yaitu upacara pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri; ini adalah sebuah upacara standar dalam perayaan hari Kamis Putih setiap tahun dalam Gereja Katolik; juga dilakukan dalam Perayaan Ekaristi Paus (sebagaimana dapat kita lihat dalam tayangan Televisi sejak paus Yohanes Paulus II dan Paus yang sekarang ini).
Tetapi kiranya lukisan itu mau difokuskan pada adegan pembasuhan kaki Petrus saja. Sebab di sana tidak tampak para murid yang lain. Di sana hanya tampak seorang murid (kiranya itu adalah Petrus) yang tampak seperti rada enggan bahwa kakinya dibasuh oleh sang guru. Bahkan dalam injil Yohanes kita tahu bahwa ia sempat menolaknya, tetapi kemudian ia mengalah setelah sang Guru memberi sebuah argumen yang membuat dia mati langkah dan tidak dapat menolak lagi. Dalam gambar itu Tuhan Yesus berpakaian putih sedangkan Petrus berpakaian coklat rada tua. Jadi busana mereka tampak kontras satu sama lain. Ruang di sekitar mereka juga tampak gelap, tidak tampak apa-apa dan siapa-siapa selain roti dan sebuah piala di atas meja (tentu juga dua sosok yang sudah disebutkan di atas tadi). Ruang yang gelap itu semakin membantu memfokuskan perhatian dan pandangan mata kita pada gambar dua sosok yang saling berinteraksi dalam lukisan itu.
Seperti sudah dikatakan sebelumnya, Petrus tampak seperti rada enggan dengan perbuatan dari sang Guru itu, bahkan ia mau menolaknya dengan tegas: “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” (Yoh.13:.7). Tetapi akhirnya ia mau dan menerima juga tindakan simbolis itu, setelah Yesus memberi sebuah argumen teologi kemuridan yang efektif: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh.13:8).
Ya, sebagaimana dapat kita lihat dengan mudah dalam lukisan itu, kaki Petrus sudah masuk dalam baskom pembasuhan. Kaki itu tenggelam dalam air dalam baskom pembasuhan. Itu wajar saja. Adapun hal yang jauh lebih menarik lagi dari lukisan itu ialah bahwa kepala Tuhan Yesus tertutup kain putih, sesuatu yang sangat biasa bagi gaya berpakaian kaum pria Timur Tengah pada masa itu dan juga masa sekarang. Selain itu wajah Tuhan Yesus pun juga tidak dapat terlibat, karena memang Ia membelakangi kita sebagai para penikmat lukisan. Wajah Tuhan juga tidak dapat terlihat karena Tuhan sedang membungkuk dalam rangka akan membasuh kaki, atau karena sedang menatap ke bawah, yaitu ke dalam ember pembasuhan. Dan ajaib sekali. Wajah Tuhan Yesus tampak terpantul di bawah, di dalam sana, yaitu dalam air di ember itu bersama dengan kaki Petrus yang akan dibasuh-Nya. Perhatikan baik-baik, dan ini inti pesan teologisnya, dalam pengamatan dan tafsir saya: Tangan Tuhan sama sekali belum mulai membasuh, karena tangan itu masih berada di luar baskom pembasuhan. Tetapi wajah-Nya justru sudah mulai menyatu, melebur duluan dengan kaki salah satu dari para murid-Nya, di dalam ember pembasuhan, di dalam air pembasuhan.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, si Pelukis ini (Rembrandt) sesungguhnya sedang berteologi, yaitu berteologi tentang rahasia kenosis, atau tentang penghampaan diri dari sang Firman yang menjadi manusia dan membangun kemahnya di antara kita (Yoh.1:14). Tentang kenosis itu surat Paulus kepada jemaat di Filipi 2 mengatakannya dengan sangat jelas dan kuat: “...walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya senddiri, dan mengambilrupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil.2:6-9). Menurut hemat saya, teologi kenosis itu dipentaskan dengan sangat baik dan dengan sangat radikal dalam lukisan Rembrandt ini: wajah Tuhan menyatu dan melebur dengan kaki sang murid di dalam ember pembasuhan.
Luar biasa. Sebuah teologi dalam gambar tentang kenosis, sebuah teologi tentang fakta historis inkarnasi, sebuah teologi tentang fakta bahwa verbum caro factum est, sabda telah menjadi manusia. Sebuah theology in colors, jika saya boleh meminjam istilah dari Rublev, seorang teolog dan pelukis ikon yang terkenal dari tradisi Ortodoks Russia. Di tempat lain kita menemukan pernyataan dari para teolog lain yang kurang lebih mengatakan bahwa perayaan liturgi kita adalah sebentuk theology in actions, teologi dalam tindakan, teologi dalam tindakan, dalam perbuatan nyata. Salah satu bentuk dari theology in actions dalam liturgi itu ialah apa yang disebut Hans Urs von Balthasar dengan sebutan kneeling theology, teologi berlutut, sebuah teologi tentang doa.
Saya berharap agar dengan ini semoga kita semakin sadar bahwa sesungguhnya ada banyak cara orang berteologi, mengungkapkan pandangan dan keyakinan teologisnya. Ada teolog yang melakukan hal itu dengan cara memakai dan mengolah kata, ada juga teologi yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah nada, dan ada juga teolog yang melakukan hal itu dengan memakai dan mengolah gerak. Nah di sini kita menemukan sebuah model yang lain, yaitu suatu cara berteologi dengan memakai dan mengolah warna, berteologi dengan warna, berteologi dengan gambar. Dan menurut saya, teologi dengan warna, dengan gambar ini pun sangat efektif. Bahkan jauh lebih efektif dalam berbicara dan berkomunikasi dengan kaum beriman, jika dibandingkan dengan teknik-teknik berteologi dengan cara memakai dan mengolah kata. Tradisi gereja katolik sangat kental dan kuat menghargai hal itu; hal itu terbukti dari dinding-dinding gereja yang banyak dihiasi dengan banyak lukisan yang indah-indah yang ilham dasarnya diangkat dan digali dari berbagai sumber (kitab suci dan tradisi sakramental dan devosional) yang pada gilirannnya dapat berfungsi sebagai biblia pauperum dan biblia fidelium. (Di tempat dan kesempatan lain saya sudah menulis sedikit tentang kedua istilah yang terakhir ini).
Yogyakarta, 07 Juli 2011.
Ditulis dan diolah kembali 04 Agustus 2011.
Fransiskus Borgias M.
Minggu, 24 Juli 2011
SANTO YOAKIM DAN SANTA ANNA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Besok, tanggal 26 Juli (selalu berulang setiap tahun), penanggalan liturgi kita mempunyai satu peringatan wajib (memoria obligatoria) untuk dua orang kudus yaitu Santo Yoakim dan Santa Anna. Siapa mereka itu? Penanggalan liturgi secara singkat memberi jawaban sbb: mereka adalah orangtua SP Maria. Pertanyaan berikut yang perlu dijawab ialah: apa arti penting peringatan wajib ini bagi kita, khususnya bagi teologi biblis kita? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu saya mau mengajukan satu pertanyaan lain yang kiranya masih jauh lebih mendasar lagi: dari mana kita mengenal dan mengetahui nama kedua orangtua SP Maria ini? Bahwa SP Maria mempunyai orangtua, itu kiranya jelas dengan sendirinya. Kita tidak usah mempersoalkannya. SP Maria tidak menyembul tiba-tiba begitu saja di muka bumi ini di atas panggung sejarah; pasti melewati proses alami manusia biasa yaitu melalui kedua orangtuanya. Tetapi siapa nama mereka itu soal lain. Kita tidak secara otomatis bisa mengenal dan mengetahui nama orangtuanya.
Yang jelas kita tidak mengenal nama kedua orangtua itu dari keempat injil kanonk. Sia-sia jika kita mencari informasi historis mengenai mereka di sana. Bahkan di sana pun tidak disebut sedikitpun tentang orangtua SP.Maria. Apalagi sampai menyebut nama. Kalau begitu, dari mana kita mengenal nama kedua orangtua itu? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini akan mengejutkan beberapa pihak, tetapi saya akan mengemukakan jawaban itu di sini. Inilah jawabannya. Tradisi gereja (khususnya tradisi Liturgi) mengangkat kedua nama itu justru dari injil extra kanonik, bukan dari injil kanonik. Tepatnya tradisi gereja mengangkat kedua nama itu dari Injil Yakobus, the Gospel of James. Dari sanalah kita mengenal kedua nama ini yang diperingati setiap tahun pada 26 Juli.
Di mana kita dapat menemukan Injil ini? Kita tidak dapat menemukannya dalam injil kanonik yang diterbitkan berkat kerjasama LAI-LBI. Dalam koleksi perpustakaan pribadi saya di Bandung saya mempunyai buku tebal yang berjudul sangat menarik: The Other Bible. Di sanalah, dalam kumpulan itu kita dapat menemukan kitab tadi. Jika Bible yang kita pakai setiap hari adalah The Bible, maka kumpulan teks yang tidak lolos masuk ke dalam Bible itu disebut The Other Bible. Itu adalah kumpulan teks-teks injil (cukup banyak jumlahnya) yang tidak lolos masuk seleksi kanon.
Mungkin kita bertanya lagi lebih lanjut: teks-teks itu tidak lolos masuk seleksi kanon, tetapi malah diangkat ke dalam perayaan liturgi? Ini pertanyaan historis-teologis yang tidak mudah dijawab. Menurut saya, itulah keunikan liturgi. Itulah yang saya sebut dimensi keluasan dan keluwesan liturgi, yang mampu dan sudi menampung apa saja yang baik di luar kanon, walau secara keseluruhan teks itu tidak lolos masuk kanon. Bagi saya ini adalah pertanda mengenai betapa elastisnya ruang liturigs itu untuk dapat menampung apa saja yang tidak lolos kriteria dogmatik untuk masuk kanon. Contoh kasus keluwesan dan elastisitas liturgis ini ada banyak, selain contoh yang sudah disebutkan di atas.
Salah satu contoh lain yang secara spontan saya ingat ialah devosi 14 stasi jalan salib dalam liturgi masa Prapaskah. Dari keempat belas stasi itu ada beberapa stasi yang jelas tidak ada dalam kisah injil kanonik, tetapi justru berkembang dalam tradisi lalu diadopsi oleh liturgi. Misalnya: Stasi keenam di mana dilukiskan bahwa Veronika mengusap wajah Yesus. Atau stasi ketiga, ketujuh, dan kesembilan (masing-masing adalah Yesus jatuh pertama kali, kedua kali, dan ketiga kali) juga tidak ada dalam Kitab kanonik. Tetapi sangat wajar bahwa hal-hal ini muncul secara otomatis dan alami dalam imajinasi religius umat beriman yang kemudian dalam perkembangan sejarahnya mendapat tempat dalam ruang perayaan liturgis. Ajaibnya juga, hal itu pada gilirannya bisa menghidupkan liturgi itu dengan cara memperkayanya dari dalam.
Bagi saya ini adalah sebuah penegasan historis-teologis bahwa betapa tradisi itu amat penting dalam teologi katolik, selain dari kedua tonggak lain yaitu kitab suci dan magisterium. Itu adalah suatu hal penting dalam teologi dasar (fundamental theology). Hal itu sangat berbeda dengan prinsip tiga Sola dalam Protestantisme, yang sebenarnya tidak ada dalam Kitab Suci, melainkan lahir dari tradisi, tetapi tradisi itu justru malah dinisbikan dalam dan oleh Protestantisme.
Sebagai akhir kata saya mau mengucapkan selamat memperingati kedua orangtua SP Maria, Santo Yoakim dan Santa Anna. Terima kasih kepada tradisi yang luas dan luwes yang dalam keluasannya menjadi kolam abadi bagi kita yang dapat menghidupkan imajinasi religius kita yang pada gilirannya memperkaya dan memperdalam penghayatan hidup iman kita.
Yogyakarta, Lempong Lor, 25 Juli 2011.
Besok, tanggal 26 Juli (selalu berulang setiap tahun), penanggalan liturgi kita mempunyai satu peringatan wajib (memoria obligatoria) untuk dua orang kudus yaitu Santo Yoakim dan Santa Anna. Siapa mereka itu? Penanggalan liturgi secara singkat memberi jawaban sbb: mereka adalah orangtua SP Maria. Pertanyaan berikut yang perlu dijawab ialah: apa arti penting peringatan wajib ini bagi kita, khususnya bagi teologi biblis kita? Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu saya mau mengajukan satu pertanyaan lain yang kiranya masih jauh lebih mendasar lagi: dari mana kita mengenal dan mengetahui nama kedua orangtua SP Maria ini? Bahwa SP Maria mempunyai orangtua, itu kiranya jelas dengan sendirinya. Kita tidak usah mempersoalkannya. SP Maria tidak menyembul tiba-tiba begitu saja di muka bumi ini di atas panggung sejarah; pasti melewati proses alami manusia biasa yaitu melalui kedua orangtuanya. Tetapi siapa nama mereka itu soal lain. Kita tidak secara otomatis bisa mengenal dan mengetahui nama orangtuanya.
Yang jelas kita tidak mengenal nama kedua orangtua itu dari keempat injil kanonk. Sia-sia jika kita mencari informasi historis mengenai mereka di sana. Bahkan di sana pun tidak disebut sedikitpun tentang orangtua SP.Maria. Apalagi sampai menyebut nama. Kalau begitu, dari mana kita mengenal nama kedua orangtua itu? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini akan mengejutkan beberapa pihak, tetapi saya akan mengemukakan jawaban itu di sini. Inilah jawabannya. Tradisi gereja (khususnya tradisi Liturgi) mengangkat kedua nama itu justru dari injil extra kanonik, bukan dari injil kanonik. Tepatnya tradisi gereja mengangkat kedua nama itu dari Injil Yakobus, the Gospel of James. Dari sanalah kita mengenal kedua nama ini yang diperingati setiap tahun pada 26 Juli.
Di mana kita dapat menemukan Injil ini? Kita tidak dapat menemukannya dalam injil kanonik yang diterbitkan berkat kerjasama LAI-LBI. Dalam koleksi perpustakaan pribadi saya di Bandung saya mempunyai buku tebal yang berjudul sangat menarik: The Other Bible. Di sanalah, dalam kumpulan itu kita dapat menemukan kitab tadi. Jika Bible yang kita pakai setiap hari adalah The Bible, maka kumpulan teks yang tidak lolos masuk ke dalam Bible itu disebut The Other Bible. Itu adalah kumpulan teks-teks injil (cukup banyak jumlahnya) yang tidak lolos masuk seleksi kanon.
Mungkin kita bertanya lagi lebih lanjut: teks-teks itu tidak lolos masuk seleksi kanon, tetapi malah diangkat ke dalam perayaan liturgi? Ini pertanyaan historis-teologis yang tidak mudah dijawab. Menurut saya, itulah keunikan liturgi. Itulah yang saya sebut dimensi keluasan dan keluwesan liturgi, yang mampu dan sudi menampung apa saja yang baik di luar kanon, walau secara keseluruhan teks itu tidak lolos masuk kanon. Bagi saya ini adalah pertanda mengenai betapa elastisnya ruang liturigs itu untuk dapat menampung apa saja yang tidak lolos kriteria dogmatik untuk masuk kanon. Contoh kasus keluwesan dan elastisitas liturgis ini ada banyak, selain contoh yang sudah disebutkan di atas.
Salah satu contoh lain yang secara spontan saya ingat ialah devosi 14 stasi jalan salib dalam liturgi masa Prapaskah. Dari keempat belas stasi itu ada beberapa stasi yang jelas tidak ada dalam kisah injil kanonik, tetapi justru berkembang dalam tradisi lalu diadopsi oleh liturgi. Misalnya: Stasi keenam di mana dilukiskan bahwa Veronika mengusap wajah Yesus. Atau stasi ketiga, ketujuh, dan kesembilan (masing-masing adalah Yesus jatuh pertama kali, kedua kali, dan ketiga kali) juga tidak ada dalam Kitab kanonik. Tetapi sangat wajar bahwa hal-hal ini muncul secara otomatis dan alami dalam imajinasi religius umat beriman yang kemudian dalam perkembangan sejarahnya mendapat tempat dalam ruang perayaan liturgis. Ajaibnya juga, hal itu pada gilirannya bisa menghidupkan liturgi itu dengan cara memperkayanya dari dalam.
Bagi saya ini adalah sebuah penegasan historis-teologis bahwa betapa tradisi itu amat penting dalam teologi katolik, selain dari kedua tonggak lain yaitu kitab suci dan magisterium. Itu adalah suatu hal penting dalam teologi dasar (fundamental theology). Hal itu sangat berbeda dengan prinsip tiga Sola dalam Protestantisme, yang sebenarnya tidak ada dalam Kitab Suci, melainkan lahir dari tradisi, tetapi tradisi itu justru malah dinisbikan dalam dan oleh Protestantisme.
Sebagai akhir kata saya mau mengucapkan selamat memperingati kedua orangtua SP Maria, Santo Yoakim dan Santa Anna. Terima kasih kepada tradisi yang luas dan luwes yang dalam keluasannya menjadi kolam abadi bagi kita yang dapat menghidupkan imajinasi religius kita yang pada gilirannya memperkaya dan memperdalam penghayatan hidup iman kita.
Yogyakarta, Lempong Lor, 25 Juli 2011.
Senin, 18 Juli 2011
PETRUS MENANGIS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam Perayaan Ekaristi Minggu Palma pagi kemarin, 17 April 2011, saya entah untuk ke berapa kalinya mendengar kisah sengsara menurut Mateus (tahun A). Tahun ini saya merayakan Ekaristi MingguPalma jauh dari keluargaku (isteri dan kedua anakku) di Bandung. Ini untuk ketiga kalinya saya merayakan Minggu Palma jauh dari keluargaku. Pertama dan kedua tahun 2001 dan 2002 ketika saya belajar teologi di Nijmegen negeri Belanda. Tahun ini saya mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki Banteng, di Jalan Kaliurang (tetapi saya lupa kilo meternya),Yogyakarta. Ini adalah sebuah paroki yang dikelola oleh para pastor dari kongregasi MSF (Keluarga Kudus).
Ketika mendengarkan Passio Mateus kali ini saya sangat tertarik pada adegan Petrus menangis setelah ia menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Hal itu terjadi setelah ia ditanyai oleh beberapa pihak yang menduga mengenalnya dekat dengan Yesus dari Nazaret. Seperti sudah diramalkan sebelumnya, setelah ia menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali, lalu ayam pun berkokok. Ketika ia mendengar kokok ayam tersebut rontoklah sudah pertahanan diri (self-defence mechanism) Petrus. Dikatakan dalam injil itu bahwa Petrus menangis tersedu-sedu. Kiranya kita dapat membayangkan hal tersebut.
Adegan itu dapat kita baca juga dalam injil Markus dan Lukas (masing-masing Tahun B dan C dalam bentangan tahun liturgi kita). Itulah ketiga injil sinoptik. Nanti pada Hari Jum’at Agung kita akan membaca (dan itu selalu berulang setiap tahun) kisah sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus menurut Yohanes.
Jika kita membandingkan ketiga injil sinoptik ini dengan injil Yohanes, maka kita akan segera menemukan sesuatu hal yang sangat menarik perhatian kita. Yang menarik ialah bahwa dalam Yohanes ada juga kisah penyangkalan oleh Petrus itu, yang mengaku sama sekali tidak mengenal Yesus. Sama-sama juga ketika selesai peristiwa penyangkalan itu terjadi juga ayam berkokok. Tetapi dalam injil Yohanes, dan inilah yang menjadi sesuatu yang sangat khas dalam injil Yohanes, Petrus tidak menangis. Muncul kesan dalam diri kita sebagai pembaca bahwa bagi Yohanes, perkara penyangkalan itu adalah sebuah perkara yang enteng saja, sebuah perkara yang sepele,yang tidak perlu disesali apalagi sampai ditangisi dengan tersedu-sedu.
Tetapi tunggu dulu. Ternyata dalam injil Yohanes ada juga adegan Petrus menangis. Tetapi alasan dan momennya yang sangat berbeda. Dalam alur kisah sengsara injil Yohanes, nanti Petrus menangis justru setelah peristiwa kebangkitan. Ini juga paradoksal yang sangat menarik dalam injil Yohanes. Petrus menangis setelah peristiwa kebangkitan yaitu dalam dialog penugasan Petrus sebagai seorang gembala yang rupanya secara mutlak menuntut mutu hidup dalam kasih yang jelas dan kuat.
Ada macam-macam alasan bagi manusia untuk menangis dalam hidup ini. Tetapi dalam injil kita menemukan paling tidak dua alasan. Dalam injil-injil sinoptik alasan Petrus menangis ialah karena ia telah berdosa yaitu berani menyangkal Yesus di depan publik. Dalam Yohanes asalan Petrus menangis ialah karena ia ditanyai Yesus sampai tiga kali tentang mutu cintanya terhadap Yesus sendiri. Menurut hemat saya, mutu tangis Petrus dalam injil Yohanes terasa jauh lebih tinggi, dan mendalam. Bagi Yohanes gaya dan alur penuturan kisah ini adalah mutlak perlu. Karena dengan ini ia memulihkan peristiwa kejatuhan Petrus yang terjadi di depan, sesuatu yang tidak ada dalam injil-injil Sinoptik. Bagi Yohanes pemulihan ini perlu sebab Petrus nanti bakal dijadikan seorang gembala bagi kawanan Tuhan Yesus sendiri.
Tetapi tradisi tahun liturgi gereja Katolik mengajak kita untuk melihat kisah ini secara komplementer, sebagai sesuatu yang saling mengisi dan melengkapi. Tradisi tahun liturgi Katolik mengajak kita untuk membaca teks itu sebagai satu keseluruhan. Dan jika dibaca secara keseluruhan, maka Lukas dapat berperan besar juga di sini. Sebab sebelum peristiwa sengsara, Yesus sudah berdoa secara khusus bagi Petrus (Luk.22:32). Intensinya jelas juga dilukiskan di sana: agar imanmu tidak gugur. Agar nanti setelah kau insaf engkau menjadi daya kekuatan bagi yang lain-lain. Peran itulah yang sekarang ini, dalam adegan pemulihan Petrus di tepi danau, yang kini dipentaskan dengan exsplisit dalam injil Yohanes.
(Disarikan dari naskah buku saya yang akan terbit).
Dalam Perayaan Ekaristi Minggu Palma pagi kemarin, 17 April 2011, saya entah untuk ke berapa kalinya mendengar kisah sengsara menurut Mateus (tahun A). Tahun ini saya merayakan Ekaristi MingguPalma jauh dari keluargaku (isteri dan kedua anakku) di Bandung. Ini untuk ketiga kalinya saya merayakan Minggu Palma jauh dari keluargaku. Pertama dan kedua tahun 2001 dan 2002 ketika saya belajar teologi di Nijmegen negeri Belanda. Tahun ini saya mengikuti perayaan Ekaristi di Paroki Banteng, di Jalan Kaliurang (tetapi saya lupa kilo meternya),Yogyakarta. Ini adalah sebuah paroki yang dikelola oleh para pastor dari kongregasi MSF (Keluarga Kudus).
Ketika mendengarkan Passio Mateus kali ini saya sangat tertarik pada adegan Petrus menangis setelah ia menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Hal itu terjadi setelah ia ditanyai oleh beberapa pihak yang menduga mengenalnya dekat dengan Yesus dari Nazaret. Seperti sudah diramalkan sebelumnya, setelah ia menyangkal Tuhan sebanyak tiga kali, lalu ayam pun berkokok. Ketika ia mendengar kokok ayam tersebut rontoklah sudah pertahanan diri (self-defence mechanism) Petrus. Dikatakan dalam injil itu bahwa Petrus menangis tersedu-sedu. Kiranya kita dapat membayangkan hal tersebut.
Adegan itu dapat kita baca juga dalam injil Markus dan Lukas (masing-masing Tahun B dan C dalam bentangan tahun liturgi kita). Itulah ketiga injil sinoptik. Nanti pada Hari Jum’at Agung kita akan membaca (dan itu selalu berulang setiap tahun) kisah sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus menurut Yohanes.
Jika kita membandingkan ketiga injil sinoptik ini dengan injil Yohanes, maka kita akan segera menemukan sesuatu hal yang sangat menarik perhatian kita. Yang menarik ialah bahwa dalam Yohanes ada juga kisah penyangkalan oleh Petrus itu, yang mengaku sama sekali tidak mengenal Yesus. Sama-sama juga ketika selesai peristiwa penyangkalan itu terjadi juga ayam berkokok. Tetapi dalam injil Yohanes, dan inilah yang menjadi sesuatu yang sangat khas dalam injil Yohanes, Petrus tidak menangis. Muncul kesan dalam diri kita sebagai pembaca bahwa bagi Yohanes, perkara penyangkalan itu adalah sebuah perkara yang enteng saja, sebuah perkara yang sepele,yang tidak perlu disesali apalagi sampai ditangisi dengan tersedu-sedu.
Tetapi tunggu dulu. Ternyata dalam injil Yohanes ada juga adegan Petrus menangis. Tetapi alasan dan momennya yang sangat berbeda. Dalam alur kisah sengsara injil Yohanes, nanti Petrus menangis justru setelah peristiwa kebangkitan. Ini juga paradoksal yang sangat menarik dalam injil Yohanes. Petrus menangis setelah peristiwa kebangkitan yaitu dalam dialog penugasan Petrus sebagai seorang gembala yang rupanya secara mutlak menuntut mutu hidup dalam kasih yang jelas dan kuat.
Ada macam-macam alasan bagi manusia untuk menangis dalam hidup ini. Tetapi dalam injil kita menemukan paling tidak dua alasan. Dalam injil-injil sinoptik alasan Petrus menangis ialah karena ia telah berdosa yaitu berani menyangkal Yesus di depan publik. Dalam Yohanes asalan Petrus menangis ialah karena ia ditanyai Yesus sampai tiga kali tentang mutu cintanya terhadap Yesus sendiri. Menurut hemat saya, mutu tangis Petrus dalam injil Yohanes terasa jauh lebih tinggi, dan mendalam. Bagi Yohanes gaya dan alur penuturan kisah ini adalah mutlak perlu. Karena dengan ini ia memulihkan peristiwa kejatuhan Petrus yang terjadi di depan, sesuatu yang tidak ada dalam injil-injil Sinoptik. Bagi Yohanes pemulihan ini perlu sebab Petrus nanti bakal dijadikan seorang gembala bagi kawanan Tuhan Yesus sendiri.
Tetapi tradisi tahun liturgi gereja Katolik mengajak kita untuk melihat kisah ini secara komplementer, sebagai sesuatu yang saling mengisi dan melengkapi. Tradisi tahun liturgi Katolik mengajak kita untuk membaca teks itu sebagai satu keseluruhan. Dan jika dibaca secara keseluruhan, maka Lukas dapat berperan besar juga di sini. Sebab sebelum peristiwa sengsara, Yesus sudah berdoa secara khusus bagi Petrus (Luk.22:32). Intensinya jelas juga dilukiskan di sana: agar imanmu tidak gugur. Agar nanti setelah kau insaf engkau menjadi daya kekuatan bagi yang lain-lain. Peran itulah yang sekarang ini, dalam adegan pemulihan Petrus di tepi danau, yang kini dipentaskan dengan exsplisit dalam injil Yohanes.
(Disarikan dari naskah buku saya yang akan terbit).
Sabtu, 18 September 2010
MINGGU, 14 NOVEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Mal.4:1-2a; Mzm.98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes.3:7-12; Luk.21:5-19.
Injil hari ini membentangkan ke hadapan kita dua hal. Pertama, mengenai nubuat kehancuran Bait Allah. Bait Allah itu megah, banyak dipuji dan dikunjungi orang. Akan tiba saatnya ia hancur. Itu perkataan Yesus mengenai Bait. Kedua, mengenai awal derita. Ketika para murid bertanya mengenai kapan drama tragis itu terjadi, Yesus memberi beberapa tanda, dan mengingatkan murid agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Yang lebih penting ialah ketika semuanya itu terjadi ada suatu kekacauan besar, dan para murid akan diseret ke derita. Ada yang diseret ke pengadilan. Dalam konteks ini muncul kata-kata penghiburan yang terkenal: kita tidak usah menyiapkan diri mengenai bagaimana kata-kata pembelaan kita. Mengapa? Karena semuanya akan diilhamkan Roh Kudus kepada kita secara langsung tepat pada waktunya. Ajaib. Bac.I mengisahkan kepada kita mengenai kedatangan hari Tuhan, dies domini. Hari itu akan ada penghakiman dahsyat dan ngeri: Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Sebuah kata-kata penghiburan indah. Hidup dalam penantian akan hari Tuhan, mengandung bahaya tertentu secara sosial. Ada orang yang berkesimpulan bahwa jika kita sudah menyongsong hari Tuhan, maka kita tidak usah kerja lagi. Terhadap hal itu Paulus berkata tegas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kepercayaan dan harapan akan hari Tuhan dan hidup abadi, tidak membebaskan orang dari kewajiban sosial-fundamental hidup ini: yaitu bekerja. Sebab perintah Kerja juga adalah dari Allah sendiri. Semoga kita mengerti akan hal ini.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Mal.4:1-2a; Mzm.98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes.3:7-12; Luk.21:5-19.
Injil hari ini membentangkan ke hadapan kita dua hal. Pertama, mengenai nubuat kehancuran Bait Allah. Bait Allah itu megah, banyak dipuji dan dikunjungi orang. Akan tiba saatnya ia hancur. Itu perkataan Yesus mengenai Bait. Kedua, mengenai awal derita. Ketika para murid bertanya mengenai kapan drama tragis itu terjadi, Yesus memberi beberapa tanda, dan mengingatkan murid agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Yang lebih penting ialah ketika semuanya itu terjadi ada suatu kekacauan besar, dan para murid akan diseret ke derita. Ada yang diseret ke pengadilan. Dalam konteks ini muncul kata-kata penghiburan yang terkenal: kita tidak usah menyiapkan diri mengenai bagaimana kata-kata pembelaan kita. Mengapa? Karena semuanya akan diilhamkan Roh Kudus kepada kita secara langsung tepat pada waktunya. Ajaib. Bac.I mengisahkan kepada kita mengenai kedatangan hari Tuhan, dies domini. Hari itu akan ada penghakiman dahsyat dan ngeri: Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Sebuah kata-kata penghiburan indah. Hidup dalam penantian akan hari Tuhan, mengandung bahaya tertentu secara sosial. Ada orang yang berkesimpulan bahwa jika kita sudah menyongsong hari Tuhan, maka kita tidak usah kerja lagi. Terhadap hal itu Paulus berkata tegas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kepercayaan dan harapan akan hari Tuhan dan hidup abadi, tidak membebaskan orang dari kewajiban sosial-fundamental hidup ini: yaitu bekerja. Sebab perintah Kerja juga adalah dari Allah sendiri. Semoga kita mengerti akan hal ini.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
MINGGU, 07 NOVEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. 2Mak.7:1-2,9-14; Mzm.17:1,5-6,8b,15; 2Tes.2:16 3:5; Luk.20:27-38.
Injil hari ini terkenal, setidaknya di kalangan teolog yang bicara mengenai kebangkitan. Di sini Yesus dilukiskan diuji orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, kebangkitan itu nonsens. Untuk itu mereka mengangkat kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuah pria kakak beradik (sistem perkawinan levirat). Pertanyaannya ialah: siapa suami perempuan itu dalam hari kebangkitan? Yesus menjawab hal itu dengan dua jawaban teologis: pertama, dalam kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaekat. Kedua, argumentasi atas dasar wahyu Perjanjian Lama bahwa Allah adalah Allah yang hidup bagi orang yang hidup. Sebab dalam Perjanjian Lama ada ucapan: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah adalah Allah bagi orang hidup. Jadi jika ketiga orang itu mempunyai Allah juga sesudah mereka mati, itu berarti Allah adalah Allah bagi orang hidup. Bac.I mengisahkan tentang tujuh martir Yahudi, yang mengorbankan nyawa demi iman dan kepercayaan akan hidup yang akan datang, dalam bentangan lautan kasih kerahiman Allah. Ya, ada kebangkitan dan hidup kekal itu, seperti yang kita ucapkan dengan lantang setiap Minggu dalam Credo. Semoga kita sadar akan hal itu. Dari Bac.II saya hanya mau mengangkat satu kalimat terkenal: Tuhan adalah setia. Kiranya kepercayaan kita akan kebangkitan dan hidup kekal, dilandaskan pada kepercayaan bahwa Tuhan setia. Sekali Ia menjalin relasi dengan kita, relasi itu tidak akan terputus, juga oleh maut sekalipun. Semoga kita percaya akan hal itu, bukan sebagai filsafat teoretis belaka, melainkan sebuah kebenaran hidup iman yang nyata.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. 2Mak.7:1-2,9-14; Mzm.17:1,5-6,8b,15; 2Tes.2:16 3:5; Luk.20:27-38.
Injil hari ini terkenal, setidaknya di kalangan teolog yang bicara mengenai kebangkitan. Di sini Yesus dilukiskan diuji orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, kebangkitan itu nonsens. Untuk itu mereka mengangkat kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuah pria kakak beradik (sistem perkawinan levirat). Pertanyaannya ialah: siapa suami perempuan itu dalam hari kebangkitan? Yesus menjawab hal itu dengan dua jawaban teologis: pertama, dalam kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaekat. Kedua, argumentasi atas dasar wahyu Perjanjian Lama bahwa Allah adalah Allah yang hidup bagi orang yang hidup. Sebab dalam Perjanjian Lama ada ucapan: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah adalah Allah bagi orang hidup. Jadi jika ketiga orang itu mempunyai Allah juga sesudah mereka mati, itu berarti Allah adalah Allah bagi orang hidup. Bac.I mengisahkan tentang tujuh martir Yahudi, yang mengorbankan nyawa demi iman dan kepercayaan akan hidup yang akan datang, dalam bentangan lautan kasih kerahiman Allah. Ya, ada kebangkitan dan hidup kekal itu, seperti yang kita ucapkan dengan lantang setiap Minggu dalam Credo. Semoga kita sadar akan hal itu. Dari Bac.II saya hanya mau mengangkat satu kalimat terkenal: Tuhan adalah setia. Kiranya kepercayaan kita akan kebangkitan dan hidup kekal, dilandaskan pada kepercayaan bahwa Tuhan setia. Sekali Ia menjalin relasi dengan kita, relasi itu tidak akan terputus, juga oleh maut sekalipun. Semoga kita percaya akan hal itu, bukan sebagai filsafat teoretis belaka, melainkan sebuah kebenaran hidup iman yang nyata.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
SENIN, 01 NOVEMBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Why.7:2-4,9-14; Mzm.24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh.3:1-3; Mat.5:1-12a.
Hari ini Hari Raya Semua Orang Kudus. Ada satu hal mencolok di sini: Dengan merayakan hari ini, Gereja mengakui bahwa ada orang kudus yang kekudusanya hanya diketahui Allah. Itu sebabnya, setelah menyediakan hari sepanjang tahun dengan peringatan, pesta, perayaan orang kudus, gereja menyediakan hari khusus untuk Semua Orang Kudus. Ini dimaksudkan agar gereja memberi ruang bagi orang kudus yang tidak diketahuinya, yang hanya ada dalam pengetahuan Allah. Menarik bahwa dalam rangka Hari Raya ini, Gereja menyediakan injil yang dikutip dari Sabda Bahagia. Kiranya itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada kita bahwa orang kudus adalah orang yang melaksanakan idealisme Kotbah di Bukit selama hidup di dunia ini, dan karena itu ia menikmati surga ketika ia meninggalkan dunia ini. Bac.I memberi gambaran visualisasi bagi kita mengenai keadaan persekutuan para kudus kelak, communio sanctorum: Kemudian dari pada itu aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Tiada hentinya mereka memuji dan memuliakan Allah bersama malaekat. Bac.II mengajak kita untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke hidup yang akan datang, dalam iman, harapan, kasih: Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Mari kita hidup dalam harapan, agar kelak kita menjadi anggota persekutuan para kudus di surga.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Why.7:2-4,9-14; Mzm.24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh.3:1-3; Mat.5:1-12a.
Hari ini Hari Raya Semua Orang Kudus. Ada satu hal mencolok di sini: Dengan merayakan hari ini, Gereja mengakui bahwa ada orang kudus yang kekudusanya hanya diketahui Allah. Itu sebabnya, setelah menyediakan hari sepanjang tahun dengan peringatan, pesta, perayaan orang kudus, gereja menyediakan hari khusus untuk Semua Orang Kudus. Ini dimaksudkan agar gereja memberi ruang bagi orang kudus yang tidak diketahuinya, yang hanya ada dalam pengetahuan Allah. Menarik bahwa dalam rangka Hari Raya ini, Gereja menyediakan injil yang dikutip dari Sabda Bahagia. Kiranya itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada kita bahwa orang kudus adalah orang yang melaksanakan idealisme Kotbah di Bukit selama hidup di dunia ini, dan karena itu ia menikmati surga ketika ia meninggalkan dunia ini. Bac.I memberi gambaran visualisasi bagi kita mengenai keadaan persekutuan para kudus kelak, communio sanctorum: Kemudian dari pada itu aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Tiada hentinya mereka memuji dan memuliakan Allah bersama malaekat. Bac.II mengajak kita untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke hidup yang akan datang, dalam iman, harapan, kasih: Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Mari kita hidup dalam harapan, agar kelak kita menjadi anggota persekutuan para kudus di surga.
BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
MINGGU, 31 OKTOBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Keb.11:22-12:2; Mzm.145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes.1:11-2:2; Luk.19:1-10.
Injil hari ini terkenal yaitu kisah Zakheus. Terkenal karena sejak kecil, teks ini sering diangkat menjadi naskah drama atau dikisahkan oleh orang tua ataupun ibu guru. Karena itu, saya tidak akan membuang ruang terlalu banyak untuk kisah mahaterkenal ini. Saya hanya mau mengungkapkan satu hal sederhana. Hari ini terjadi perjumpaan Yesus dengan Zakheus. Ternyata perjumpaan itu mendatangkan perubahan yang sangat besar dalam hidup Zakheus. Ia bertobat, dan ia menampakkan tobatnya itu dalam sikap dan perbuatan baik kepada sesama. Tuhan Yesus sungguh sadar akan hal itu. Itu sebabnya Ia berkata: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini. Kiranya teladan pertobatan Zakheus menjadi model paling baik bagi kita dalam mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Tuhan (Bc.II). Jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik dalam hidup pertobatan maka kita tidak perlu takut dan bingung atau gelisah dalam menghadapi hari Tuhan. Kita tidak usah takut mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri, sebab Tuhan akan menuntun dan mendidik kita. Itulah inti pesan Bac.I: Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit, dan Kautegur dengan mengingatkan kepada mereka dalam hal manakah mereka sudah berdosa, supaya percaya kepada Dikau, ya Tuhan, setelah mereka menjauhi kejahatan itu. Betapa lengkapnya tuntunan dan bimbingan Tuhan bagi hidup kita. Tinggal kita mau atau tidak untuk dituntun dan dibimbing oleh Tuhan. Itu saja masalahnya.
BANDUNG, 18 SEPTMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Keb.11:22-12:2; Mzm.145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes.1:11-2:2; Luk.19:1-10.
Injil hari ini terkenal yaitu kisah Zakheus. Terkenal karena sejak kecil, teks ini sering diangkat menjadi naskah drama atau dikisahkan oleh orang tua ataupun ibu guru. Karena itu, saya tidak akan membuang ruang terlalu banyak untuk kisah mahaterkenal ini. Saya hanya mau mengungkapkan satu hal sederhana. Hari ini terjadi perjumpaan Yesus dengan Zakheus. Ternyata perjumpaan itu mendatangkan perubahan yang sangat besar dalam hidup Zakheus. Ia bertobat, dan ia menampakkan tobatnya itu dalam sikap dan perbuatan baik kepada sesama. Tuhan Yesus sungguh sadar akan hal itu. Itu sebabnya Ia berkata: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini. Kiranya teladan pertobatan Zakheus menjadi model paling baik bagi kita dalam mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Tuhan (Bc.II). Jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik dalam hidup pertobatan maka kita tidak perlu takut dan bingung atau gelisah dalam menghadapi hari Tuhan. Kita tidak usah takut mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri, sebab Tuhan akan menuntun dan mendidik kita. Itulah inti pesan Bac.I: Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit, dan Kautegur dengan mengingatkan kepada mereka dalam hal manakah mereka sudah berdosa, supaya percaya kepada Dikau, ya Tuhan, setelah mereka menjauhi kejahatan itu. Betapa lengkapnya tuntunan dan bimbingan Tuhan bagi hidup kita. Tinggal kita mau atau tidak untuk dituntun dan dibimbing oleh Tuhan. Itu saja masalahnya.
BANDUNG, 18 SEPTMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA
MINGGU, 24 OKTOBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
ENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG.
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Sir.35:12-14,16-18; Mzm.34:2-3,17-18,19,23; 2Tim.4:6-8,16-18; Luk.18:9-14.
Hari ini Minggu Evangelisasi. Hari Penginjilan. Mari kita terima ajakan gereja untuk menghayati hidup injili dengan baik, dan dengan itu kita menginjili dunia lewat evangelisasi pribadi. Sebab evangelisasi keluar, ke dunia, hanya mungkin melalui evangelisasi ke dalam diri, evangelisasi pribadi. Injil berkisah tentang dua model orang berdoa. Cara pertama, orang Farisi: ia meninggikan diri, menyombongkan diri, dengan merendahkan orang lain. Ia menyombongkan mutu hidup rohaninya. Cara kedua, pemungut cukai: ia tahu menempatkan diri di hadapan Allah. Ia menyadari diri sebagai pendosa, maka dengan rendah hati ia mohon ampun. Ternyata doa orang kedua inilah yang berkenan di hadapan Allah. Ya, salah satu syarat berdoa ialah kemampuan bersikap rendah hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat berdoa, atau kita tidak dapat berdoa dengan cara yang baik dan benar. Kebenaran itulah yang diungkapkan dengan tepat dalam Bac.I: Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan. Contoh evangelisasi dua arah yang disinggung dalam bagian awal tadi, tampak dalam penghayatan hidup Paulus (Bac.II). Tinggal, bagaimana kita mau melihat diri sendiri: Sudahkah kita melakukan tugas evangelisasi itu? Bagaimana sikap doa kita? Seperti orang Farisikah? Atau seperti si pemungut cukai? Hanya anda yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan reflektif ini.
Bandung, 18 Septmber 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
ENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG.
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Sir.35:12-14,16-18; Mzm.34:2-3,17-18,19,23; 2Tim.4:6-8,16-18; Luk.18:9-14.
Hari ini Minggu Evangelisasi. Hari Penginjilan. Mari kita terima ajakan gereja untuk menghayati hidup injili dengan baik, dan dengan itu kita menginjili dunia lewat evangelisasi pribadi. Sebab evangelisasi keluar, ke dunia, hanya mungkin melalui evangelisasi ke dalam diri, evangelisasi pribadi. Injil berkisah tentang dua model orang berdoa. Cara pertama, orang Farisi: ia meninggikan diri, menyombongkan diri, dengan merendahkan orang lain. Ia menyombongkan mutu hidup rohaninya. Cara kedua, pemungut cukai: ia tahu menempatkan diri di hadapan Allah. Ia menyadari diri sebagai pendosa, maka dengan rendah hati ia mohon ampun. Ternyata doa orang kedua inilah yang berkenan di hadapan Allah. Ya, salah satu syarat berdoa ialah kemampuan bersikap rendah hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat berdoa, atau kita tidak dapat berdoa dengan cara yang baik dan benar. Kebenaran itulah yang diungkapkan dengan tepat dalam Bac.I: Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan. Contoh evangelisasi dua arah yang disinggung dalam bagian awal tadi, tampak dalam penghayatan hidup Paulus (Bac.II). Tinggal, bagaimana kita mau melihat diri sendiri: Sudahkah kita melakukan tugas evangelisasi itu? Bagaimana sikap doa kita? Seperti orang Farisikah? Atau seperti si pemungut cukai? Hanya anda yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan reflektif ini.
Bandung, 18 Septmber 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
MINGGU, 17 OKTOBER 2010
OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN DAN PENELITI FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D., STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Kel.17:8-13; Mzm.121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim.3:14 4:2; Luk.18:1-8.
Inti injil hari ini ialah nasihat untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu, nasihat untuk berdoa terus menerus, berdoa tanpa henti, oratio continua, continual prayer. Sebab hidup adalah berdoa. Doa merupakan struktur dasar eksistensi kita. Berdoa dengan tidak bosan-bosan, walau kita seperti sedang berhadapan dengan tembok dingin dan beku. Allah tampak membisu, diam seribu bahasa. Untuk menjelaskan hal itu Yesus mengemukakan perumpamaan ini. Ada seorang janda yang selalu datang ke hakim meminta agar hakim mengurus perkaranya. Hakim itu orang apatis, tidak peduli siapa dan apa pun. Tetapi karena janda itu terus menerus datang, akhirnya ia mengabulkan permohonan janda itu. Jika hakim itu tahu membenarkan orang yang memohon kepadanya, betapa Allah pasti jauh lebih tahu membenarkan orang pilihannya yang berdoa terus menerus kepadanya. Doa terus menerus yang tampak dalam sikap badan itulah yang ditegaskan dalam Bac.I. Dikisahkan bahwa ketika tangan Musa terangkat, orang Israel bisa mengalahkan orang Amalek. Demikian sebaliknya. Bac.II mengisahkan tentang arti penting mengenalkan kitab suci sejak dini kepada anak (tema BKSN 2010). Jika kita sudah mengenal Kitab Suci sejak dini, kiranya kita sudah tahu kewajiban yang dilukiskan tadi. Tinggal kita melihat diri sendiri: apakah kita sudah menjadi orang yang tekun berdoa atau tidak? Ataukah kita hanya pendoa musiman belaka? Hanya anda sendiri yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan ini.
Bandung, 18 September 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN DAN PENELITI FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D., STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Kel.17:8-13; Mzm.121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim.3:14 4:2; Luk.18:1-8.
Inti injil hari ini ialah nasihat untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu, nasihat untuk berdoa terus menerus, berdoa tanpa henti, oratio continua, continual prayer. Sebab hidup adalah berdoa. Doa merupakan struktur dasar eksistensi kita. Berdoa dengan tidak bosan-bosan, walau kita seperti sedang berhadapan dengan tembok dingin dan beku. Allah tampak membisu, diam seribu bahasa. Untuk menjelaskan hal itu Yesus mengemukakan perumpamaan ini. Ada seorang janda yang selalu datang ke hakim meminta agar hakim mengurus perkaranya. Hakim itu orang apatis, tidak peduli siapa dan apa pun. Tetapi karena janda itu terus menerus datang, akhirnya ia mengabulkan permohonan janda itu. Jika hakim itu tahu membenarkan orang yang memohon kepadanya, betapa Allah pasti jauh lebih tahu membenarkan orang pilihannya yang berdoa terus menerus kepadanya. Doa terus menerus yang tampak dalam sikap badan itulah yang ditegaskan dalam Bac.I. Dikisahkan bahwa ketika tangan Musa terangkat, orang Israel bisa mengalahkan orang Amalek. Demikian sebaliknya. Bac.II mengisahkan tentang arti penting mengenalkan kitab suci sejak dini kepada anak (tema BKSN 2010). Jika kita sudah mengenal Kitab Suci sejak dini, kiranya kita sudah tahu kewajiban yang dilukiskan tadi. Tinggal kita melihat diri sendiri: apakah kita sudah menjadi orang yang tekun berdoa atau tidak? Ataukah kita hanya pendoa musiman belaka? Hanya anda sendiri yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan ini.
Bandung, 18 September 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.
Langganan:
Postingan (Atom)
