Kamis, 29 Januari 2009

SABTU, 24 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.9:2-3.11-14; Mrk.3:20-21.

Hari ini pesta Sto.Fransiskus dari Sales. Hari ini juga hari ketujuh dalam Pekan Doa Sedunia. Dalam Injil hari ini lagi-lagi kita membaca tentang popularitas Yesus dan terutama tentang dampaknya. Popularitas Yesus semakin meningkat. Maka orang banyak datang mengerumuni Dia. Situasi menjadi begitu sulit. Seluruh waktu dipakai hanya untuk pewartaan (bekerja). Untuk makan saja (urusan pribadi) sudah tidak sempat lagi. Ternyata keadaan ini disikapi dengan banyak cara. Salah satunya ialah cara yang ditempuh oleh sanak keluarga Yesus sendiri. Mereka cemas dengan semua perkembangan yang dianggap tidak wajar itu. Maka, dengan alasan Ia tidak waras, mereka datang mengambil Dia. Tetapi sesungguhnya mereka ada di bawah tekanan para penguasa yang menganggap Yesus sudah kerasukan setan. BacI belum henti-hentinya memuja Yesus sebagai imam besar. Berbeda dengan sanak keluarganya dalam Injil yang takut, Bac.I menegaskan martabat luhur imam Agung Yesus Kristus. Imam Agung ini sangat berdaya untuk mendatangkan kesembuhan dan penyelamatan. Ia “....akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.” Luar biasa bukan?

Kamis, 22 Januari 2009

JUM'AT, 23 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.8:6-13; Mrk.3:13-19.

Hari ini adalah hari keenam dalam pekan doa sedunia. Pada hari ini kita mendengar Yesus memanggil keduabelas muridNya. Ingat dan perhatikan dengan baik bahwa Yesuslah yang memanggil mereka, Yesuslah yang memilih, Yesuslah yang menetapkan. Bukan kita yang memilih Yesus. Seperti selalu dikatakan di tempat lain: Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu. Maka pangilan kita adalah rahmat istimewa. Istimewa karena kita dipanggil untuk melakukan dua tugas besar. Pertama, kita dipanggil untuk menyertai Dia, artinya tinggal bersama dengan Dia. Jelas, ini adalah sebuah tugas mulia: menyertai Yesus. Kedua, kita dipanggil untuk diutus mewartakan Injil, kabar baik. Ini juga sebuah tugas yang mulia dan berat: mewartakan injil. Tetapi jangan takut atau ciut hati: Sebab kita akan diberi kuasa besar. Yang menarik ialah, di antara orang-orang yang dipanggil itu ternyata ada yang akan berkhianat. Anda sendiri bagaimana? Para murid dan kita semua dipanggil untuk masuk dalam relasi perjanjian baru dengan Tuhan (Bc.I, yang mengutip Perjanjian Baru ala Yeremia itu). Dalam Perjanjian Baru ada transformasi dari dalam batin (hati). Dan hal itu mungkin dapat terjadi berkat relasi kedekatan dengan Yesus. Maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain harus hidup sesuai dengan martabat relasi Perjanjian Baru itu.

Rabu, 21 Januari 2009

KAMIS, 22 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE.Ibr.7:25-8:6; Mrk.3:7-12.

Hari ini pesta St.Vincentius,. diakon dan martir. Hari ini juga hari kelima pekan Doa sedunia. Mari kita berdoa untuk itu. Injil hari ini mengisahkan mukjizat Yesus, yakni menyembuhkan banyak orang. Popularitas Yesus semakin naik. Oleh karena itu, banyak orang datang kepadaNya memohon kesembuhan, cukup dengan menyentuhNya saja. Luar biasa. Maka dapat dibayangkan Yesus dikerumuni oleh banyak orang. Itulah sebabnya Yesus meminta perahu, agar Ia bisa naik ke atas perahu itu dan dari sana Ia dapat berkotbah dan mengerjakan penyembuhan. Banyak orang datang berdesak-desakan meminta kesembuhan pada Yesus. Ada keyakinan bahwa, seperti dikatakan dalam Bc.I: “....Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah.” Hal itu dapat terjadi karena, “Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.” Kiranya itu alasan paling kuat bagi kita untuk datang kepada Yesus. Ya, kita memang harus selalu datang kepadaNya. Seperti dikatakanNya di tempat lain: Datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.

Selasa, 20 Januari 2009

RABU, 21 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

Bc.E. Ibr.7:1-3.15-17; Mrk.3:1-6.

Hari ini pesta Sta.Agnes, martir dan perawan. Sekaligus hari ini hari keempat pekan doa sedunia. Injil hari ini lebih lanjut membentangkan revolusi Kristiani awal (purba), berupa koreksi penghayatan dan pelaksanaan Sabat yang lebih manusiawi. Legalisme yang kaku telah mengakibatkan kekakuan yang mematikan dalam tafsir dan pelaksanaan Sabat. Seakan yang dilarang pada Sabat itu adalah semua perbuatan. Maka Yesus menantang: apa yang dilarang pada Sabat? Berbuat baik, ataukah berbuat jahat? Tentu yang dilarang ialah berbuat jahat (yang juga berlaku untuk semua hari lain). Tidak dilarang sama sekali untuk berbuat baik. Tetapi akibat legalisme yang kaku, perbuatan baik bisa menjadi jahat atau dosa, hanya karena dan kalau dilakukan pada Sabat. Yesus mengoreksi itu. Maka Ia berani menyembuhkan orang pada hari Sabat. Revolusioner dan reaksioner. Bac.I menampilkan satu hal yang amat sulit, yaitu gambaran tentang Melkisedek, sang raja kebenaran, raja damai sejahtera, raja Salem. Ia adalah sang imam agung abadi. Menurut keyakinan kita, Yesuslah imam agung itu. Ia berkuasa atas sabat. Itu sebabnya Ia menyembuhkan orang pada sabat. Tentu orang marah dan mau membunuh dia. Tetapi itu risiko.

SELASA, 20 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE. Ibr.6:10-20; Mrk.2:23-26.

Hari ini hari ketiga pekan doa sedunia. Injil hari ini mementaskan salah satu revolusi Kristiani awal yang berorientasi pada koreksi kritis atas penghayatan dan pelaksanaan Sabat. Revolusi awal itu masih tetap berlaku juga hingga dewasa ini. Dalam perkembangan sejarah penghayatannya, Sabat itu menjadi salah satu butir legalisme kaku orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Sabat harus ditaati tanpa syarat apa pun. Inilah yang dianggap membelenggu. Sebab bisa saja ada situasi di mana Sabat bisa direlativir, yaitu apabila ada krisis-krisis kemanusiaan. Itu pernah dilakukan Daud. Pada suatu saat, ia pergi ke tempat suci mengambil roti korban untuk dimakan. Tetapi ini ia lakukan untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dan para tentaranya. Atas dasar itu Yesus berkata: Sabat untuk manusia, bukan manusia untuk sabat. Artinya, manusia jangan sampai dikorbankan demi legalitas pelaksanaan Sabat. Bac.I memberi pegangan dan pedoman hidup yang melampaui legalisme itu. Pegangan itu ialah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Pegangan itu jauh lebih dinamis dari pada legalisme yang kaku dan membelenggu. Mari kita berpegang pada sauh iman itu.

SENIN, 19 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.5:1-10; Mrk.2:18-22.

Hari ini hari kedua pekan doa sedunia. Injil hari ini berbicara tentang kewajiban berpuasa. Yesus membela para muridNya yang tidak berpuasa. Alasannya? Sederhana saja. Selama sang mempelai ada bersama mereka, maka para sahabatnya tidak berpuasa. Tetapi akan tiba saatnya, sang mempelai itu akan diambil dari antara mereka. Baru pada saat itulah mereka akan berpuasa. Kehadiran sang mempelai membawa dampak pada hidup. Hidup itu harus dihayati secara baru, tidak lagi dihayati atau diarungi dengan cara-cara yang lama, yang dibelenggu oleh rutinitas. Kalau cara hidup lama yang ditandai rutinitas itu masih tetap harus dijalankan, maka hal itu akan merusak seluruh tatanan hidup. Hidup baru yang ditandai kehadiran sang mempelai harus dihayati secara baru. Itu arti dari ungkapan simile dari ayat 21-22 itu. Sang mempelai yang disinggung Markus itu tidak lain ialah sosok imam besar agung yang disinggung dalam Bac.I. Imam Agung Yesus Kristus inilah yang menuntut hidup baru, yang juga harus dihayati secara baru pula. Jika tidak demikian, maka semuanya akan macet.

Jumat, 16 Januari 2009

MINGGU 15 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Kel.20:1-17; 1Kor.1:22-25; Yoh.2:13-25.

Altar dan pasar bisa amat berdekatan, dan bisa juga saling didekatkan. Bahkan ada anjuran agar jangan hanya melulu ke altar, melainkan juga perlu ke pasar. Itu semua baik. Tetapi yang jadi masalah ialah jika altar menjadi pasar, ketika imam menjadi tukang dagang, atau menjadi tukang daging. Itu yang menjadi soal. Sebab jika hal itu ada dan terjadi, maka akan ada banyak permainan kotor. Permainan kotor di pasar mau dilaundry di permainan suci di altar. Altar, kuasa kultis. Pasar, kuasa mamon, kuasa ekonomik. Kalau keduanya disatukan, maka bisa ada permainan kotor. Ada kongkalingkong. Maka Yesus marah: Ia tidak mau rumah doa menjadi rumah dosa. Memang beda satu huruf, tetap satu huruf itu membawa perbedaan besar: doa dan dosa. Altar menjadi pasar. Itu tidak boleh. Bac.I membentangkan 10 perintah yang terkenal itu. Intinya ialah perintah pengudusan diri dan seluruh hidup. Tiga perintah pertama bercorak teologis-vertikal. Jika dirumuskan secara positif bunyinya demikian: Sembah dan hormat Allah juga di rumah Allah. Tujuh perintah lain ialah antropologis-sosial-horizontal. Intinya menghormati relasi sosial. Yang pertama di altar. Yang kedua di pasar. Di sini keduanya harus saling terkait. Kiranya kita tidak usah lagi melihat secara khusus Bac.II karena pesan Bac.I dan Injil sudah padat.

MINGGU, 08 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Kej.22:1-2.9a.10-13.15-18; Rom.8.8:31b-34; Mrk.9:2-10.

Injil mengisahkan peristiwa transfigurasi Yesus. Yesus menjadi mulia di atas gunung. Setiap kali membaca Injil ini saya teringat akan satu hal: Bahwa liturgi bisa menjadi ruang atau konteks (bingkai) tafsir Kitab Suci. Kalau kita baca Prefasi Transfigurasi, maka dikatakan bahwa misteri ini dimaksudkan sebagai persiapan para murid untuk menghadapi kengerian drama sengsara Jum’at Agung. Liturgi merasa perlu memberi bingkai mulia agar kita tidak lumpuh oleh sengsara yang mencekik. Jadi liturgi itu mendidik. Liturgi itu sekolah iman. Liturgi menafsir Kitab Suci dengan caranya sendiri. Bac.I mengisahkan tentang ujian iman Abraham. Tetapi apa hubungannya dengan Injil? Kaitannya ada di dua tempat. Ay.2 yang berbicara tentang anak tunggal yang harus dikorbankan. Ay.13, yang berbicara tentang korban bakaran, yaitu domba jantan. Drama sengsara Yesus, yang direlativir transfigurasi, sudah diantisipasi dalam drama Abraham-Isaak. Korban Abraham dulu berkenan pada Allah karena iman. Korban Kristus juga berkenan pada Allah karena Ia Anak Allah. Lewat Yesus Kristus, Allah ada di pihak kita. Dan kalau Allah ada di pihak kita, siapa yang akan melawan kita? (Bac.II).

MINGGU, 01 MARET 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE. Kej.9:8-15; 1Ptr.3:18-22; Mrk.1:12-15.


Injil menjadi dasar praksis puasa-pantang kita selama 40 hari. Itu adalah masa retret, persiapan layanan umum bagi Yesus. Itulah masa penggemblengan, penempaan. Yesus melewati juga hal seperti itu. Sesudah melewati semuanya itu barulah Ia melakukan layanan publik. Inti wartaNya di depan umum ialah Kerajaan Allah sudah dekat. Kita hanya layak menerima Kerajaan itu kalau kita bertobat dan percaya kepada Injil. Maka kita tidak dapat tawar menawar dengan tuntutan itu. Menarik bahwa dalam Bac.I kita membaca tentang perjanjian Allah dengan Nuh pasca bencana Banjir Bandang itu. Ini adalah janji Allah mengenai adanya hidup baru dan tidak akan kekerasan dan penghancuran lagi. Seluruh masa Prapaskah kita adalah masa untuk membuat relasi baru dalam hidup ini. Itu hanya mungkin melalui tobat saja, melalui metanoia. Bac.II memberi kita tafsir perlambang (alegoris) atas Bac.I. Seluruh drama tragedi Nuh dilihat sebagai prototipe (arketipe) baptis. Sebagaimana dulu Nuh diselamatkan lewat dan sesudah air Bah, demikian juga kini, kita diselamatkan dalam dan melalui Baptis. Tetapi Baptis dimaksudkan untuk mendidik suara hati, mendidik hati nurani, proses penjernihan nur-aini, cahaya mata hati. Itulah isi metanoia yang dituntut Yesus dalam Injil sebagai prasyarat menerima Kerajaan.

Kamis, 15 Januari 2009

RABU, 25 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yl.2:12-18; 2Kor.5:20-6:2; Mat.6:1-6,16-18.

Hari ini Rabu Abu. Ini tradisi khas Gereja Katolik; tidak ada di Gereja lain. Ini adalah awal masa Prapaskah, masa pantang dan puasa. Ada pengolesan abu pada kening kita. Itu pengakuan bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali ke debu dan abu. Kita dituntut menjadi rendah hati, menundukkan badan sampai ke tanah, ke humus, dari mana kata Humilitas berasal. Jidat disungkurkan ke tanah agar kita menjadi rendah hati. Injil membentangkan tiga tiang praksis kesalehan: Sedekah, doa, puasa. Tetapi ketiganya harus dilakukan diam-diam. Jangan ditonjolkan; tidak diumumkan dengan toa; tidak dipublikasi seperti selebriti dan pejabat publik dan penggede partai politik. Puasa kita harus dilakukan diam-diam, dalam hati. Puasa ialah menahan diri dari apa yang wajib untuk hidup. Pantang ialah menahan diri dari kesenangan, walau tidak sungguh perlu. Seluruh masa ini ditandai Aksi Puasa Pembangunan, APP. Kita memberi bukan dari kelebihan, melainkan memberi dari hasil upaya kita menahan dan mengendalikan diri dalam nafsu dan keinginan kita (terutama yang konsumtif). Kita diharapkan terlibat dalam Aksi Pembangunan, dengan askese, dengan puasa-pantang, jadi dengan menahan diri. Mari kita tekuni ketiga hal itu. Hanya dengan itu puasa kita akan berdaya transformatif, tidak hanya secara personal, tetapi juga sosial. Ini hanya mungkin kalau kita melakukan tobat hati dan bukan sekadar tobat badan (BacI). Kalau kita melakukan tobat hati, maka seluruh masa Prapaskah ini bisa menjadi waktu perkenanan, hari penyelamatan, hari di mana Allah bertindak menyelamatkan kita (Bac.II). Semoga demikian.

MINGGU, 22 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Yes.43:18-19.21-22.24b-25; 2Kor.1:18-22; Mrk.2:1-12.

Injil mementaskan satu ide besar, yaitu kreatifitas dan inisiatif yang menyelamatkan. Untuk sampai ke hadapan Yesus, tidak jarang kita harus menempuh jalan tidak biasa. Apalagi kalau jalan biasa sudah tertutup. Jangan putus asa untuk datang kepada Yesus. Kalau kita mau, kita dapat tiba pada Dia. Dia pasti akan menghargai usaha kita. Sebab prakarsa dan kreatifitas itu didasari iman; tidak liar tanpa dasar dan tujuan. Melainkan punya dasar kokoh, yaitu iman. Sebenarnya agar sulit melihat kaitan injil dengan Bac.I. Tetapi setelah direnungkan kiranya titik sambung itu ada pada ay.19a: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.” Hal baru itulah yang dibuat Yesus dengan penyembuhan itu. Hal baru berarti sebelumnya tidak ada. Itu sebabnya di akhir injil orang pun berkata: Yang seperti ini belum pernah kita lihat. Itu karena hal itu baru. Selanjutnya kita tahu bahwa Kristus mewartakan tobat dan kerajaan Allah. Sedangkan Paulus mewartakan Yesus Kristus. Bagi Paulus, Kristus adalah tanda bukti YA untuk semua janji Allah. Salah satu ciri kepenuhan Kerajaan Allah ialah kesembuhan; tidak ada lagi penyakit. Semua bisa meloncat ria; tidak ada yang lumpuh. Ya, melalui Yesus Kristus, Allah mewajibkan kita dan memeteraikan tanda milik-Nya atas kita. Allah telah memberi Roh Kudus kepada kita. Jadi, betapa luhurnya martabat kita ini.

MINGGU, 15 FEBRUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE.Im.13:1-2:45-46; 1Kor.10:31011:1; Mrk.1:40-45.

Dalam Injil hari ini kita mendengar ada orang kusta yang memohon kesembuhan pada Yesus; ia memohon dengan sangat, memohon dengan berlutut. Ia memohon hal itu dari hati terdalam. Maka Yesus menanggapinya dengan hati terdalam, dengan misericordia, dengan berperih-hati, dengan memberi per-hati-an, dengan memberi hati. Maka terjadilah transformasi fisikal; si kusta sembuh. Ini adalah perbuatan ajaib. Perbuatan ajaib selalu berdaya proklamatoris, dan mengandung efek radiasi, menyebar, menular. Perbuatan itu bersifat mewartakan. Hati yang diberi Yesus, masuk ke dalam hati orang itu, maka hati itu pun penuh. Terjadi perjumpaan hati dengan hati. Hati yang penuh itu kemudian meluap-luap, tidak bisa diam. Yesus tidak takabur, atau mabuk pujian. Ia tetap pergi mencari sunyi, masuk dalam relasi dengan Yang Maha Tinggi. Ternyata banyak orang mencari Dia dalam sunyi. Maka dari dalam sunyi, mengalir daya suci. Kita harus baca Injil ini dalam latar belakang Imamat. Dalam Perjanjian Lama orang kusta disingkirkan, dianggap najis. Kalau ada orang mendekati tempat mereka bersembunyi, maka mereka wajib memberitahukan agar orang sehat itu jangan mendekat, dengan berteriak “kami najis.” Pada jaman Fransiskus Asisi, mereka membunyikan lonceng. Tetapi si kusta dalam injil ini, membawa kenajisan itu kepada Yesus untuk disembuhkan. Setelah sembuh, ia harus melapor seperti ketetapan Imamat, agar bisa rehabilitasi, masuk kembali dalam masyarakat. Bac.II dua kali menyebut kata hati: Jangan timbul syak dalam hati; berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal. Perkara hati memang amat penting. Hati punya logikanya sendiri, kata Blaise Pascal. Jangan sampai tumbuh situasi tawar hati, atau sakit hati. Tetapi usahakan suka hati, hati yang mencinta, dan merasa seperti hati Yesus yang misericordia.

Rabu, 14 Januari 2009

SABTU 17 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.4:12-16; Mrk.2:13-17.

Hari ini pesta Antonius Abas. Menurut Kalender Liturgi, Bacaan bisa diambil dari rumus umum yang bersangkutan. Sebenarnya baik kalau hari ini kita merenungkan beliau. Tetapi tidak ada ruang yang cukup. Karena itu, saya tetap bertolak dari bacaan harian biasa. Dalam Injil hari ini kita mendengar panggilan Lewi, pemungut cukai itu. Di sini ada konfrontasi II antara Yesus dan ahli Taurat dari kalangan Farisi. Intinya ialah: Yesus bergaul dengan pendosa atau orang yang dianggap pendosa oleh umum, terutama oleh mereka yang sok saleh. Yesus makan bersama mereka. Itu tanda betapa pergaulan itu mendalam. Pergaulan Yesus bukan pergaulan dangkal, melainkan pergaulan demi layanan, demi penyembuhan, demi pastoralia. Hari ini kita dengar mengenai makan (perjamuan). Itu adalah tanda communio, tanda persahabatan. Itulah perayaan pendamaian. Perayaan hospitalitas. Perayaan itu dihadapi dengan hostilitas oleh orang Farisi. Inilah drama hostipitalitas. Dalam injil juga kita dengar ucapan Yesus yang terkenal: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Seperti dalam konfrontasi I, dalam konfrontasi ini pun mereka mati langkah. Bac.I melukiskan dua hal. 1). Kekuatan firman Allah. 2). Yesus sebagai imam agung besar. Kita harus hidup dalam firman itu agar mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Imam agung kita ini sangat istimewa, “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Seperti Lewi kita tidak punya pilihan lain, selain datang kepadaNya, “....menghampiri takhta kasih karunia, supsya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia.”

JUM'AT 16 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.4:1-5.11; Mrk.2:1-12.

Kalau kita baca dengan baik, maka apa yang dilukiskan Injil hari ini merupakan sebuah mukjizat baru, di mana Yesus menyembuhkan orang lumpuh. Injil hari ini mengilustrasikan satu fakta bahwa keinginan untuk datang kepada Yesus ternyata tidak selalu mudah seperti dibayangkan. Harus disadari bahwa sulit datang kepada Yesus. Tetapi orang-orang yang mengusung si lumpuh itu tidak putus asa. Mereka mncoba mencari terobosan. Lewat pintu tidak bisa, lewat atap pun jadilah. Bikin pintu di atap. Kreatifitas dan keberanian itu dipuji dan dihargai Yesus. Ya, sekali lagi, datang kepada Yesus tidak selalu mudah. Ada banyak rintangan. Tetapi kalau kita serius, kita bisa sampai dan bisa selamat. Dalam injil hari ini, mulai ada ahli Taurat yang mempersoalkan perkataan dan perbuatan Yesus. Ini konfrontasi I. Tetapi ini baru pemanasan. Gugatan itu langsung gugur karena keajaiban yang dikerjakan Yesus. Semua orang mengakuinya dan berdecak kagum: Yang begini belum pernah kita lihat. Sekali lagi, upaya mencari dan datang kepada Yesus tidak mudah. Ada banyak rintangan, ada banyak halangan. Tetapi dalam Yesus ada kesembuhan, ada damai sejahtera, ada istirahat tenteram. Hari ini Yesus menawarkan “perhentian,” saat istirahat, tempat atau rumah istirahat. Kita datang kepadaNya. Maka mengikuti nasihat Bac.I, saya mau mengatakan demikian: “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.” Semoga upaya kita datang mencari dan mendekati Yesus tidak terhalang oleh apa pun, oleh siapa pun, apalagi kalau terhalang oleh hal-hal yang berasal dari dalam diri kita sendiri.

KAMIS, 15 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.3:7-14; Mrk.1:40-45.

Seperti kemarin, injil hari ini juga mengisahkan rangkaian mukjizat penyembuhan yang dikerjakan Yesus dalam karyaNya. Tetapi hari ini yang disembuhkan ialah orang kusta. Orang ini sangat mengharapkan kesembuhan. Maka ia memohon hal itu dengan sangat kepada Yesus. Saya membayangkan bahwa betapa situasi orang itu menyedihkan. Itulah sebabnya hati Yesus menjadi perih, perih-hatin, misericordia, hati yang ikut merasakan kepedihan dan kemalangan. Ini salah satu poin yang bisa dipelajari dari Yesus hari ini: kita harus memiliki hati yang peka, yang bisa merasakan sakit sesama. Tetapi, lagi-lagi seperti kemarin, kita baca hari ini, ternyata perbuatan yang kita lakukan mempunyai efek proklamatoris. Perbuatan-perbuatan kita mewartakan atau menyampaikan sesuatu tentang diri kita. Sama seperti kemarin, Yesus tidak mau dininabobokan oleh popularitas itu. Ia tetap rendah hati, pergi mencari sunyi untuk menyepi dan masuk dalam relasi dengan yang ilahi. Kiranya itulah dasar dan kekuatan karya layananNya. Maka mengikuti nasihat dalam Bac.I saya mau mengatakan sesuatu tentang hati kita: “Jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” Ya, kita perlu saling memberi nasihat agar “jangan ada di antara kamu yang menjadi tegas hatinya karena tipu daya dosa.” Mari kita belajar agar hati kita tidak membatu, membeku, tidak dijangkiti “chirrosis” moral.

RABU, 14 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.2:14-18; Mrk.1:29-39.

Injil hari ini menceritakan salah satu layanan mukjizat yang dikerjakan Yesus. Mukjizat adalah perbuatan ajaib. Perbuatan ajaib pasti mendatangkan efek popularitas. Perbuatan baik mempunyai efek radiasi, efek iklanis. Maka si pelaku perbuatan baik itu akan segera menjadi populer. Ia akan dicari banyak orang. Ditunggu banyak orang. Ia menjadi selebriti. Kita tahu hal itu. Tetapi ini biasa. Yang tidak biasa ialah bagaimana menyikapinya? Yesus mengajar kita cara itu. Kalau kebanyakan tokoh partai politik saat ini, dengan pelbagai cara ingin meraih popularitas dan merengkuh popularitas itu di genggamannya sendiri, Yesus tidak seperti itu. Perbuatan ajaib yang Ia lakukan memang membuat diriNya terkenal sehingga Ia dicari banyak orang. Tetapi Ia pergi mencari tempat sunyi untuk berdoa. Ini teladan pertama. Tidak lupa berdoa juga setelah populer. Berdoa itu dilakukan sebagai titik tolak dan daya baru untuk pergi ke tempat lain, memberi layanan di tempat lain. Yesus tidak mau mempertahankan keagungan dan nikmat popularitas itu. Seperti dikatakan dalam Bac.I, Yesus tetap merendah, untuk dapat menyelamatkan semakin banyak orang. Kita harus belajar dari Dia. Ada satu ungkapan Latin tradisional yang dengan tepat melukiskan kebenaran ini: Cui servire regnare est. Artinya, Ia memerintah dengan melayani. Bukan memerintah untuk dilayani, sebagaimana yang banyak terjadi di sekitar kita hari-hari ini.

Senin, 12 Januari 2009

SELASA, 13 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.2:5-12; Mrk.1:21b-28.

Injil hari ini melukiskan tentang kotbah Yesus di rumah ibadat di Kapernaum. Ternyata pewartaan itu menimbulkan decak kagum pada pendengarNya sebab warta Yesus itu penuh daya kuasa, yang tidak mereka rasakan para ahli-ahli Taurat lain. Tetapi di tengah pewartaan yang mengagumkan itu, tiba-tiba ada insiden. Seorang yang kerasukan roh jahat bangkit memprotes kehadiran Yesus. Tetapi di tengah protes itu ada penyingkapan martabat lain dari Yesus, yaitu pengakuan bahwa Yesus adalah Yang Kudus dari Allah. Karena insiden tersebut maka Yesus melakukan mukjizat penyembuhan di tempat itu juga: mengusir roh jahat itu keluar dari orang tadi. Hal ini semakin menimbulkan decak kagum di antara pendengarNya. Ada daya kuasa gaib dan ajaib dalam warta dan suara Yesus. Ya, memang demikian halnya suara yang keluar dari kedalaman hidup batiniah. Ada banyak sekali orang di sekitar kita yang mencitrakan diri sebagai pemimpin. Tetapi tidak jarang, citra kepemimpinan itu sangat dangkal, dan tidak berisi. Mungkin itu disebabkan karena tingkat kedalaman rohani (spiritualitas) mereka tidak dilandaskan pada hidup rohani, melainkan dilandaskan hanya pada faktor-faktor lain, seperti ekonomi, status selebritas. Yesus tidak mengandalkan itu. Yesus mengandalkan tingkat kedalaman hidup yang lain. Kita tidak usah heran bahwa Yesus bisa menundukkan segala sesuatu termasuk roh jahat, sebab “.....tidak ada sesuatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya.” (Bac.I). Ya, Yesuslah pemimpin sejati. Kita harus selalu mengikuti Dia. Mungkin sebaiknya saya akhiri renungan ini dengan sebuah madah Minggu Palma dari masa silam yang bunyinya demikian: Christus vincit, Christus regnat, Christus imperat (Kristus menang, Kristus meraja, Kristus menguasai).

Minggu, 11 Januari 2009

SENIN, 12 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Ibr.1:1-6; Mrk.1:14-20.

Hari ini kita sudah mulai memasuki masa biasa. Injil hari ini membeberkan ke hadapan kita beberapa hal penting. Pertama, ialah mengenai saripati warta Yesus menurut Markus. Yesus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Untuk dapat menyongsongnya dengan baik, dituntut sikap tobat dan percaya kepada Injil. Kedua, dalam rangka mewartakan Kerajaan Allah yang menuntut pertobatan itu, Yesus juga melibatkan orang lain. Maka kita dengar dari injil hari ini tentang pemanggilan murid-murid yang pertama. Ketika membaca hal ini saya merasa tertarik akan kenyataan betapa kata-kata Yesus itu sangat berwibawa, sebab ketika mereka mendengar perkataan itu, mereka mengikuti saja perintah Yesus. Mereka meninggalkan dunia lama, sebagai penjala ikan, dan mulai bersama Yesus memasuki dunia baru, sebagai penjala manusia. Semoga kita juga berani meninggalkan dunia kita yang lama, begitu mendengarkan sabda panggilan Yesus kepada kita. Bac.I hari ini adalah sebuah bacaan yang mengandung warta Kristologis. Semua warta dan sarana wahyu selama ini akhirnya bermuara pada Yesus. Kita percaya bahwa Yesus yang kita ikuti “...adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” Semoga kita bisa sampai pada tingkat iman dan kepercayaan seperti itu.

SABTU, 10 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.5:14-21; Yoh.3:22-30.

Sabtu 03 Januari silam, saya sudah menyinggung sebagian kecil dari pesan yang sebenarnya muncul hari ini. Injil hari ini lagi-lagi mementaskan kerendahan hati Yohanes. Di sini Yohanes menempatkan Yesus pada posisi yang tinggi di atas dirinya sendiri. Ketika terjadi perselisihan di antara para murid Yohanes mengenai baptis yang diberikan Yesus, dan ternyata Yesus juga diikuti banyak orang, Yohanes dengan rela dan lega mengatakan bahwa dirinya bukanlah Mesias. Ia hanya diutus untuk mendahului Mesias itu. Dan sekarang Mesias itu sudah datang. Maka ia bersedia mundur dari panggung. Dengan jiwa besar Yohanes menyatakan kesediaannya untuk mundur dari panggung itu dalam ucapannya yang terkenal, yang dewasa ini menjadi salah satu ideal spiritualitas kemuridan Kristiani. Demikian katanya: Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Luar biasa teladan ini. Tidak mudah bagi kita untuk bisa sampai ke tingkat kematangan rohani seperti itu. Apalagi situasi di sekitar kita justru lebih banyak contoh yang mau menonjolkan diri sendiri terutama dalam situasi menjelang pemilu legislatif dan pilpress ini. Dunia seakan harus berpusat pada aku saja. Maka mari kita mengikuti teladan Yohanes ini dan dengan tekun-setia mengikuti Yesus, supaya kita mengenal Yang benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal (ay.20 Bac.I).

JUM'AT, 09 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm).

BcE: 1Yoh.5:5-13; Luk.5:12-16.

Yesus tampil di muka umum. Ia makin terkenal. Ia dicari banyak orang untuk memohon kesembuhan. Salah satu di antaranya ialah orang kusta yang kita dengar dalam Injil hari ini. Orang kusta itu disembuhkan Yesus. Maka kabar tentang Yesus semakin tersebar. Semua orang berbondong-bondong kepadaNya, mencari Dia. Tetapi Yesus tidak takabur dengan popularitas seperti itu. Ia juga tidak datang untuk mencari sensasi dan popularitas, seperti halnya tokoh partai kita saat ini yang menebar janji-janji dan “mukjizat” bisa mengubah Indonesia dalam sekejab, asal mereka dipilih. Yesus tidak seperti itu. Ia tidak hanyut dalam kemabukan popularitas. Itu sebabnya di akhir injil hari ini kita baca bahwa Yesus pergi mengundurkan diri ke tempat sunyi dan berdoa. Dengan kata lain, Ia pergi ret-ret, mengundurkan diri sejenak dari kesibukan agar jangan sampai kesibukan itu menenggelamkan atau menghanyutkan kita. Selalu harus ada ruang dalam hidup kita, juga dalam hati kita untuk sunyi, untuk kesunyian, untuk doa, untuk Tuhan. Kalau tidak hidup kita ditandai kedangkalan belaka. Tidak ada dimensi keheningan dan kedalaman. Kita harus mengikuti teladan Yesus ini. Kita harus percaya pada Yesus, sebab kata Bac.I, “Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” Mari kita meneladani Yesus dalam hidup kita, dengan itu kita bersaksi tentang Dia, bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga dengan perbuatan (mudah-mudahan tidak terjebak dalam kelalaian; kalau toh sampai lalai, semoga kita juga cukup rendah hati untuk mohon ampun).

KAMIS, 08 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.4:19-5:4; Luk.4:14-22a.

Kalau kita buka Alkitab kira yang biasa (bukan yang dipakai dalam liturgi), maka kita akan segera tahu bahwa judul perikopa injil yang tertulis di sana tidak seluruhnya tepat, sebab yang kita baca pada hari ini adalah reaksi positif atas aktifitas pewartaan Yesus, yang membaca Kitab Suci di Sinagoga di Nazaret dan menafsirkannya juga. Teks injil hari ini hanya mengatakan: mereka heran (kagum) akan kata-katayang indah yang diucapkanNya. Jadi, mereka mengapresiasi apa yang diucapkan Yesus. Baru dalam penggal berikutnya kita baca reaksi penolakan, reaksi negatif. Sedangkan dalam injil hari ini yang kita baca ialah sebuah reaksi positif. Setiap aktifitas pewartaan Yesus mengandung tantangan dan tuntutan untuk masuk ke dalam relasi kasih dengan Dia. Itulah yang antara lain disampaikan dalam Bac.I. Rekasi kasih itu hanya mungkin bisa terbangun dengan satu syarat mutlak, yaitu kalau kita lahir dari Allah. Sebab Bac.I mengatakan: “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orangyang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.” Semoga kita sudah sampai pada tingkatan kesadaran hidup dan relasi iman seperti itu.

RABU, 07 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.4:11-18; Mrk.6:45-52.

Bagi saya hari ini sangat terkenal dan sangat menarik karena melukiskan perjalanan iman para murid, dari “Itu Hantu” ke “Itu Tuhan.” Tetapi sebelum sampai ke situ kita lihat terlebih dahulu beberapa detailnya. Yesus dilukiskan pergi berdoa setelah seharian sibuk dengan aktifitas pewartaan. Kiranya ini sebuah teladan yang baik. Doa itu perlu. Kita perlu berdoa, tidak melulu sibuk terus. Kerohanian harus diisi dengan intensitas relasi dengan Allah. Kemudian kita baca bahwa pada malam Yesus berjalan di atas air. Maka Ia dikira hantu. Para murid pun ketakutan. Tetapi ketakutan itu hilang ketika ada penegasan Yesus: Aku ini. Jangan takut. Markus mencatat bahwa para murid masih belum paham siapa Yesus, karena hati mereka tertutup kedegilan. Mungkin karena mereka belum masuk dalam relasi kasih seperti dilukiskan dalam Bac.I. Sebab kalau orang mengasihi, ia hidup dan ada dalam Allah. Dan dalam kasih “tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukumdan dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.: Semoga kita sudah tiba pada level relasi kasih yang intensif dan sempurna dengan Allah Bapa dalam dan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita.

SELASA, 06 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.4:7-10; Mrk.6:34-44.

Banyak orang mengikuti Yesus. Ia berbelas kasih kepada mereka. Ada banyak orang bingung yang sedang mencari pemimpin, tokoh anutan. Yesus mengamongi mereka. Ketika mereka lapar, Ia memberi mereka makan. Ini salah satu panggilan sosio-etis kita sebagai orang Kristiani: memberi makan orang yang lapar. Tugas memberi makan ini sama dengan tugas berbagi. Jangan makan sendiri. Jangan kenyang sendiri. Sebab jahat sekali orang yang hanya mau makan dan kenyang sendiri. Ingat bahwa the stomach cannot wait. Kalau perut sudah marah, akan ada situasi yang tidak nyaman dalam masyarakat. Bac.I adalah ajakan untuk saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah yang adalah kasih. Kalau kita tidak mengasihi, maka kita tidak mengenal Allah. Wujud kongkret kasih itu ialah perhatian terhadap sesama, yang bingung, yang seperti domba yang tidak bergembala, yang terancam kelaparan. Pesannya jelas: Kalau kita yakin berasal dari Allah, berbuatlah seperti Allah juga yaitu mengasihi, dan mengasihi itu harus nyata, harus tampak dalam perbuatan nyata, tampak dalam kerelaan memberi per-hati-an, memberi hati kepada sesama.

SENIN, 05 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.3:22-4:6; Mat.4:12-17.23-25.

Setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan, Yesus mulai tampil dan berkarya di depan umum. Inti pewartaanNya ialah, pertobatan, metanoia, perubahan hati, budi, seluruh sikap hidup. Dan alasan untuk perubahan hidup itu ialah karena Kerajaan Sorga sudah dekat. Memang tidak ada sikap dan tanggapan lain yang lebih tepat selain dari pada sikap tobat kalau orang mau menyongsong dan menerima datangnya Kerajaan Sorga itu. Kerajaan Sorga itu sama dengan Kerajaan Allah, yaitu situasi di mana Allah meraja dalam hidup dan hati manusia. Maka warta tentang Kerajaan Allah itu harus berdampak nyata dalam hidup manusia. Itulah sebabnya Yesus mengkonkretkan wartaNya dengan mukjizat-mukjizat. Mukjizat ini adalah tanda sudah datangnya Kerajaan Allah itu. Menurut Bac.I ada satu syarat lain yang diminta. Yaitu orang orang percaya akan nama Yesus Kristus (ay.23). Dan itu hanya mungkin kalau kita hidup dalam Roh Allah (ay.24). Roh itu harus menuntun kepada Yesus Kristus. Kalau tidak menuntun kepada Yesus Kristus, maka itu adalah roh anti-Kristus, dan bukan roh yang berasal dari Allah. Kita memang sudah hidup dalam Roh, tetapi kita juga harus berusaha sedemikian rupa agar bisa mengembangkan kemampuan membeda-bedakan karunia roh itu (discernment of spirit) agar jangan sampai kita disesatkan oleh roh-roh anti-kristus yang juga dalam dunia modern dewasa ini tetap bertiup sangat kencang. Ingat akan kebangkitan injil Yudas itu. Ingat akan ancaman Da Vinci Code itu,

SABTU, 03 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.2:29-3:6; Yoh.1:29-34.

Injil kita hari ini luar biasa. Ada beberapa alasan untuk mengatakan demikian. Pertama, dalam teks singkat ini kita temukan tiga gelas Kristologis yang berat dalam Perjanjian Baru. Yaitu Anak Domba Allah, Penghapus atau Penebus Dosa, dan Anak Allah. Kedua, di sini dipentaskan jiwa besar Yohanes. Ia menunjuk kepada Yesus, dan sudi mengakui Yesus sebagai lebih besar dan lebih unggul dari dirinya. Jarang sekali kita temukan mentalitas seperti itu. Kebanyakan orang berpusat pada diri sendiri. Di sini kita lihat, Yohanes berpusatkan pada Yesus: “Biarlah Ia menjadi besar dan aku menjadi kecil.” Sebuah pementasan spiritualitas kerendahan hati yang luar biasa. Ketiga, karena di sini dibeberkan secara singkat teologi pembaptisan, pembaptisan dengan air dan pembaptisan dengan Roh. Kita tidak mempunyai tempat yang cukup untuk menguraikan hal itu. Maka kita biarkan saja dulu seperti itu. Bac.I mengingatkan kita akan martabat luhur kita sebagai anak-anak Allah. Tetapi martabat luhur itu juga mempunyai konsekwensi besar, yaitu harus hidup dalam kasih dan tidak berbuat dosa lagi. Dan ini tidak mudah. Memang tidak mudah menjadi pengikut Yesus. Menjadi Kristiani itu bukan tiket murahan. Melainkan suatu perjuangan dan pertaruhan hidup. Semoga kita sampai kepada mutu kerendahan hati seperti Yohanes itu, mengakui Yesus dan hidup di dalam Dia dengan penuh kasih.

JUM'AT, 02 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.2:22-28; Yoh.1:19-28.

Hari ini menjadi hari istimewa bagi saya, karena ada pesta wajib Santo Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze. Kedua orang ini adalah Bapa-bapa Kapadocia yang berjasa dalam perumusan teologi Tritunggal dan Kristologi. Cukup lama saya mengajarkan patrologi kepada mahasiswa di Seminari Tinggi Bandung. Teologi mereka inilah yang saya ajarkan. Injil hari ini menyingkapkan secara perlahan misteri Yesus Kristus kepada kita (yang kelak menjadi pemikiran serius Bapa Kapadokia). Kita baca tentang kesaksian Yohanes yang menunjuk kepada Yesus, sang Mesias yang akan datang. Yang lebih penting lagi, kita baca bagaimana cara Yohanes menempatkan diri di hadapan Yesus Mesias itu: Jangankan berhadapan muka, berdiri sama tinggi. Tunduk untuk membuka tali kasutNya pun Yohanes merasa tidak pantas. Bagi saya ini adalah sebuah pementasan metaforik sikap rendah hati Yohanes. Bac.I membeberkan kepada kita mengenai gejala anti-kristus. Salah satu cirinya ialah tidak mau mengakui Yesus sebagai Kristus (Mesias). Dan bagi penulis surat ini, sikap tadi mempunyai konsekwensi besar, sebab menyangkal Yesus Kristus juga berarti menyangkal Bapa, sama artinya tidak memiliki Bapa, sumber segala penghidupan. Dan kalau demikian itu tidak lain berarti kematian. Semoga kita, dengan bantuan petunjuk sikap Yohanes dapat sampai kepada pengakuan iman yang sepatutnya akan Yesus Kristus.

KAMIS, 01 JANUARI 2009

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: Bil.6:22-27; Gal.4:4-7; Luk:2:16-21.

Inilah hari pertama di tahun baru 2009: Sekali lagi, Selamat Tahun Baru. Hari ini juga adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Sekaligus juga hari ini adalah Oktaf Natal. Oleh karena sudah tiga tahun belakangan ini saya merenungkan makna teologis gelar Maria sebagai Bunda Allah, maka untuk kali ini saya mau mengarahkan perhatian pada suatu yang lain. Hari ini juga adalah hari perdamaian sedunia. Pada 24 Januari 2002 Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan “Sepuluh Perintah Perdamaian” (The Ten Commandments of Peace). Saya tidak akan sebutkan satu persatu 10 perintah itu di sini, karena terlalu panjang. Semoga pada kesempatan lain saya akan bisa membeberkannya. Tetapi pernyataan ini dianggap sangat luar biasa karena ia mengungkapkan suatu pemahaman baru akan rencana dan kehendak Allah bagi umat manusia, juga merupakan suatu proposal teologis yang belum pernah ada pendahulunya dalam sejarah ajaran resmi gereja. Tentu ajaran ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam banyak bidang, antara lain dalam bidang hubungan dan dialog antar agama, hubungan negara kaya dan miskin, bagaimana orang menghadapi realitas pluralisme agama. Ya, biarlah damai dan keadilan saling berpelukan, biarlah damai dan keadilan bergulung-gulung seperti air sungai, sebagaimana dicita-citakan oleh nabi di masa silam. Tidak salah juga kalau hari perdamaian ini disandingkan dengan salah satu hari raya Bunda Maria, sebab salah satu gelar Bunda kita tercinta ini ialah Ratu Perdamaian, The Queen of Peace, Regina Pacis. Kita berdoa kepada sang Regina Pacis memohon kedamaian dunia, Pax Mundi, the peace of the world.

RABU, 31 DESEMBER 2008

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.2:18-21; Yoh.1:1-18.

Hari ini adalah pesta Silvester I, Paus. Hari ini juga adalah hari ketujuh Oktaf Natal. Ya tetapi hari ini menjadi sangat istimewa, karena ini adalah hari dan malam akhir tahun. Malam ini boleh disebut sebagai malam ambang pintu (liminal night). Rasanya kita seperti sedang berdiri di ambang pintu. Entah untuk masuk ke dalam rumah, atau entah untuk pergi ke luar rumah. Masuk atau keluar, toh sama saja. Kita pilih salah satu sebagai metafor. Kita pilih metafor “keluar rumah.” Kita melangkah ke suatu cakrawala rentang kurun waktu yang baru. Ada sedikit rasa enggan, dan sedih. Tetapi kata orang, Let it go. Atau Let it be. Maka mari kita ucapkan Welcome to the new year. Memang ada kepahitan. Tetapi harus rela. Tetapi ketika membaca Injil, tetap ada sebuah pertanyaan: Mengapa kita membaca teks berat ini di akhir tahun? Mungkin untuk mengatakan bahwa akhir tahun bukanlah akhir segala-galanya. Tetapi ada perspektif baru, dan perspektif baru itu bisa ada karena daya cipta Sabda Allah. Dengan horizon kesadaran seperti itu, mari kita ucapkan dengan lantang, Selamat Tinggal tahun lama.

SELASA, 30 DESEMBER 2008

Oleh: Fransiskus Borgias M. (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.2:12-17; Luk.2:36-40. Kemarin kita sudah membaca sesuatu tentang Simeon. Tetapi selain dia, di Bait Allah di Yerusalem hadir juga tokoh lain, seorang nabiah, yang bernama Hana. Injil mencirikan hidup orang ini sebagai hidup dalam penantian akan Sabda Allah. Kalau mazmur mengatakan bahwa betapa bahagianya tinggal di rumah Tuhan, maka Hana menjadi model paling mencolok dari orang yang merasa berbahagia karena tinggal di rumah Tuhan. Ya, kiranya Hana sungguh menghayati kata si pemazmur itu: Betapa indah rumahMu Tuhan. Ia juga menghayati kata si pemazmur yang lain: Lebih baik satu hari di rumah Tuhan dari pada seribu hari di tempat lain. Karena ia menantikan Sabda Allah, maka ia juga mengenal Yesus Kristus dan mulai bersaksi tentang Dia yang dikenalnya itu. Ketika ia menyadari kehadiran Yesus di Bait Allah, Hana melakukan dua hal: eucharistia atau mengucapkan syukur, dan kedua ia mulai berbicara tentang anak ajaib itu. Dan yang terpenting dari Hana ialah bahwa ia menghubungkan ada dan kelahiran anak itu dengan kelepasan atau pembebasan Yerusalem.

SENIN, 29 DESEMBER 2008

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M (EFBE@fransisbm)

BcE: 1Yoh.2:3-11; Luk.2:22-35. Pada hari ini kita mempunyai dua pesta, yaitu pesta Tomas Becket (martir), dan juga kita mempunyai pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah. Itu tidak lain berarti sunat, sebab setiap anak sulung Israel adalah untuk Allah. Perhatikan baik-baik bahwa persembahan yang dibawa Maria dan Yusuf adalah persembahan sederhana saja. Perhatikan juga dengan baik bahwa ketika hal itu terjadi, hadir juga di Bait Allah di Yerusalem dua tokoh, yaitu Simeon dan Hana. Tetapi hari ini kita hanya baca tentang Simeon saja. Ia menjadi terkenal karena kidungnya yang sangat indah dan menyentuh. Mungkin itu sebabnya kidung ini selalu dipakai dalam doa malam (completorium) ketika kita menyerahkan Roh kita kepada yang empunya roh itu. Ayat 29 dari injil adalah sangat terkenal, sebab di sana kita baca nubuat Simeon bahwa Anak itu akan menjadi tanda perbantahan, sign of contradiction. Ia akan hadir bagai pedang. Itu tidak lain berarti bahwa kehadiranNya adalah suatu kehadiran yang menantang, kehadiran yang menggugat, sekaligus menggugah pikiran banyak orang. Semoga kita tertantang juga. Semoga kita juga berani menjadi sign of contradiction.