Sabtu, 18 September 2010

MINGGU, 14 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Mal.4:1-2a; Mzm.98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes.3:7-12; Luk.21:5-19.



Injil hari ini membentangkan ke hadapan kita dua hal. Pertama, mengenai nubuat kehancuran Bait Allah. Bait Allah itu megah, banyak dipuji dan dikunjungi orang. Akan tiba saatnya ia hancur. Itu perkataan Yesus mengenai Bait. Kedua, mengenai awal derita. Ketika para murid bertanya mengenai kapan drama tragis itu terjadi, Yesus memberi beberapa tanda, dan mengingatkan murid agar bersiap-siap menghadapi kemungkinan itu. Yang lebih penting ialah ketika semuanya itu terjadi ada suatu kekacauan besar, dan para murid akan diseret ke derita. Ada yang diseret ke pengadilan. Dalam konteks ini muncul kata-kata penghiburan yang terkenal: kita tidak usah menyiapkan diri mengenai bagaimana kata-kata pembelaan kita. Mengapa? Karena semuanya akan diilhamkan Roh Kudus kepada kita secara langsung tepat pada waktunya. Ajaib. Bac.I mengisahkan kepada kita mengenai kedatangan hari Tuhan, dies domini. Hari itu akan ada penghakiman dahsyat dan ngeri: Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Sebuah kata-kata penghiburan indah. Hidup dalam penantian akan hari Tuhan, mengandung bahaya tertentu secara sosial. Ada orang yang berkesimpulan bahwa jika kita sudah menyongsong hari Tuhan, maka kita tidak usah kerja lagi. Terhadap hal itu Paulus berkata tegas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kepercayaan dan harapan akan hari Tuhan dan hidup abadi, tidak membebaskan orang dari kewajiban sosial-fundamental hidup ini: yaitu bekerja. Sebab perintah Kerja juga adalah dari Allah sendiri. Semoga kita mengerti akan hal ini.

BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

MINGGU, 07 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. 2Mak.7:1-2,9-14; Mzm.17:1,5-6,8b,15; 2Tes.2:16 3:5; Luk.20:27-38
.


Injil hari ini terkenal, setidaknya di kalangan teolog yang bicara mengenai kebangkitan. Di sini Yesus dilukiskan diuji orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan. Bagi mereka, kebangkitan itu nonsens. Untuk itu mereka mengangkat kasus seorang perempuan yang menikah dengan tujuah pria kakak beradik (sistem perkawinan levirat). Pertanyaannya ialah: siapa suami perempuan itu dalam hari kebangkitan? Yesus menjawab hal itu dengan dua jawaban teologis: pertama, dalam kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan hidup seperti malaekat. Kedua, argumentasi atas dasar wahyu Perjanjian Lama bahwa Allah adalah Allah yang hidup bagi orang yang hidup. Sebab dalam Perjanjian Lama ada ucapan: Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Allah adalah Allah bagi orang hidup. Jadi jika ketiga orang itu mempunyai Allah juga sesudah mereka mati, itu berarti Allah adalah Allah bagi orang hidup. Bac.I mengisahkan tentang tujuh martir Yahudi, yang mengorbankan nyawa demi iman dan kepercayaan akan hidup yang akan datang, dalam bentangan lautan kasih kerahiman Allah. Ya, ada kebangkitan dan hidup kekal itu, seperti yang kita ucapkan dengan lantang setiap Minggu dalam Credo. Semoga kita sadar akan hal itu. Dari Bac.II saya hanya mau mengangkat satu kalimat terkenal: Tuhan adalah setia. Kiranya kepercayaan kita akan kebangkitan dan hidup kekal, dilandaskan pada kepercayaan bahwa Tuhan setia. Sekali Ia menjalin relasi dengan kita, relasi itu tidak akan terputus, juga oleh maut sekalipun. Semoga kita percaya akan hal itu, bukan sebagai filsafat teoretis belaka, melainkan sebuah kebenaran hidup iman yang nyata.


BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA

SENIN, 01 NOVEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Why.7:2-4,9-14; Mzm.24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh.3:1-3; Mat.5:1-12a.


Hari ini Hari Raya Semua Orang Kudus. Ada satu hal mencolok di sini: Dengan merayakan hari ini, Gereja mengakui bahwa ada orang kudus yang kekudusanya hanya diketahui Allah. Itu sebabnya, setelah menyediakan hari sepanjang tahun dengan peringatan, pesta, perayaan orang kudus, gereja menyediakan hari khusus untuk Semua Orang Kudus. Ini dimaksudkan agar gereja memberi ruang bagi orang kudus yang tidak diketahuinya, yang hanya ada dalam pengetahuan Allah. Menarik bahwa dalam rangka Hari Raya ini, Gereja menyediakan injil yang dikutip dari Sabda Bahagia. Kiranya itu dimaksudkan untuk menunjukkan kepada kita bahwa orang kudus adalah orang yang melaksanakan idealisme Kotbah di Bukit selama hidup di dunia ini, dan karena itu ia menikmati surga ketika ia meninggalkan dunia ini. Bac.I memberi gambaran visualisasi bagi kita mengenai keadaan persekutuan para kudus kelak, communio sanctorum: Kemudian dari pada itu aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Tiada hentinya mereka memuji dan memuliakan Allah bersama malaekat. Bac.II mengajak kita untuk mengarahkan seluruh hidup kita ke hidup yang akan datang, dalam iman, harapan, kasih: Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Mari kita hidup dalam harapan, agar kelak kita menjadi anggota persekutuan para kudus di surga.

BANDUNG, 18 SEPTEMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA

MINGGU, 31 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE AND CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Keb.11:22-12:2; Mzm.145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes.1:11-2:2; Luk.19:1-10.



Injil hari ini terkenal yaitu kisah Zakheus. Terkenal karena sejak kecil, teks ini sering diangkat menjadi naskah drama atau dikisahkan oleh orang tua ataupun ibu guru. Karena itu, saya tidak akan membuang ruang terlalu banyak untuk kisah mahaterkenal ini. Saya hanya mau mengungkapkan satu hal sederhana. Hari ini terjadi perjumpaan Yesus dengan Zakheus. Ternyata perjumpaan itu mendatangkan perubahan yang sangat besar dalam hidup Zakheus. Ia bertobat, dan ia menampakkan tobatnya itu dalam sikap dan perbuatan baik kepada sesama. Tuhan Yesus sungguh sadar akan hal itu. Itu sebabnya Ia berkata: Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini. Kiranya teladan pertobatan Zakheus menjadi model paling baik bagi kita dalam mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Tuhan (Bc.II). Jika kita sudah mempersiapkan diri dengan baik dalam hidup pertobatan maka kita tidak perlu takut dan bingung atau gelisah dalam menghadapi hari Tuhan. Kita tidak usah takut mengenai bagaimana cara kita mempersiapkan diri, sebab Tuhan akan menuntun dan mendidik kita. Itulah inti pesan Bac.I: Dari sebab itu orang-orang yang jatuh Kauhukum berdikit-dikit, dan Kautegur dengan mengingatkan kepada mereka dalam hal manakah mereka sudah berdosa, supaya percaya kepada Dikau, ya Tuhan, setelah mereka menjauhi kejahatan itu. Betapa lengkapnya tuntunan dan bimbingan Tuhan bagi hidup kita. Tinggal kita mau atau tidak untuk dituntun dan dibimbing oleh Tuhan. Itu saja masalahnya.

BANDUNG, 18 SEPTMBER 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA

MINGGU, 24 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN FF-UNPAR BANDUNG
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
ENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG.
PH.D. STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Sir.35:12-14,16-18; Mzm.34:2-3,17-18,19,23; 2Tim.4:6-8,16-18; Luk.18:9-14.



Hari ini Minggu Evangelisasi. Hari Penginjilan. Mari kita terima ajakan gereja untuk menghayati hidup injili dengan baik, dan dengan itu kita menginjili dunia lewat evangelisasi pribadi. Sebab evangelisasi keluar, ke dunia, hanya mungkin melalui evangelisasi ke dalam diri, evangelisasi pribadi. Injil berkisah tentang dua model orang berdoa. Cara pertama, orang Farisi: ia meninggikan diri, menyombongkan diri, dengan merendahkan orang lain. Ia menyombongkan mutu hidup rohaninya. Cara kedua, pemungut cukai: ia tahu menempatkan diri di hadapan Allah. Ia menyadari diri sebagai pendosa, maka dengan rendah hati ia mohon ampun. Ternyata doa orang kedua inilah yang berkenan di hadapan Allah. Ya, salah satu syarat berdoa ialah kemampuan bersikap rendah hati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat berdoa, atau kita tidak dapat berdoa dengan cara yang baik dan benar. Kebenaran itulah yang diungkapkan dengan tepat dalam Bac.I: Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepada-Nya, dan doanya naik sampai ke awan. Doa orang miskin menembusi awan, dan ia tidak akan terhibur sampai mencapai tujuannya. Ia tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya, dan memberikan hak kepada orang benar dan menjalankan pengadilan. Contoh evangelisasi dua arah yang disinggung dalam bagian awal tadi, tampak dalam penghayatan hidup Paulus (Bac.II). Tinggal, bagaimana kita mau melihat diri sendiri: Sudahkah kita melakukan tugas evangelisasi itu? Bagaimana sikap doa kita? Seperti orang Farisikah? Atau seperti si pemungut cukai? Hanya anda yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan reflektif ini.

Bandung, 18 Septmber 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

MINGGU, 17 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, DOSEN DAN PENELITI FF-UNPAR
PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
PH.D., STUDENT AT ICRS-YOGYA
BcE. Kel.17:8-13; Mzm.121:1-2,3-4,5-6,7-8; 2Tim.3:14 4:2; Luk.18:1-8.


Inti injil hari ini ialah nasihat untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu, nasihat untuk berdoa terus menerus, berdoa tanpa henti, oratio continua, continual prayer. Sebab hidup adalah berdoa. Doa merupakan struktur dasar eksistensi kita. Berdoa dengan tidak bosan-bosan, walau kita seperti sedang berhadapan dengan tembok dingin dan beku. Allah tampak membisu, diam seribu bahasa. Untuk menjelaskan hal itu Yesus mengemukakan perumpamaan ini. Ada seorang janda yang selalu datang ke hakim meminta agar hakim mengurus perkaranya. Hakim itu orang apatis, tidak peduli siapa dan apa pun. Tetapi karena janda itu terus menerus datang, akhirnya ia mengabulkan permohonan janda itu. Jika hakim itu tahu membenarkan orang yang memohon kepadanya, betapa Allah pasti jauh lebih tahu membenarkan orang pilihannya yang berdoa terus menerus kepadanya. Doa terus menerus yang tampak dalam sikap badan itulah yang ditegaskan dalam Bac.I. Dikisahkan bahwa ketika tangan Musa terangkat, orang Israel bisa mengalahkan orang Amalek. Demikian sebaliknya. Bac.II mengisahkan tentang arti penting mengenalkan kitab suci sejak dini kepada anak (tema BKSN 2010). Jika kita sudah mengenal Kitab Suci sejak dini, kiranya kita sudah tahu kewajiban yang dilukiskan tadi. Tinggal kita melihat diri sendiri: apakah kita sudah menjadi orang yang tekun berdoa atau tidak? Ataukah kita hanya pendoa musiman belaka? Hanya anda sendiri yang tahu dan bisa menjawab pertanyaan ini.

Bandung, 18 September 2010
SIS B, GESER INSTITUTE
ICRS-YOGYA.

Rabu, 18 Agustus 2010

MINGGU, 10 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.5:14-17; 2Tim.2:8-13; Luk.17:11-19.



Injil hari ini membentangkan di hadapan kita sebuah kisah yang amat padat dan menarik. Injil ini juga sangat terkenal dalam ingatan kita. Ada sepuluh orang kusta yang datang memohon kesembuhan kepada Tuhan. Tuhan tidak langsung menyembuhkan mereka saat itu juga, melainkan Ia menyuruh mereka menghadap imam di Bait Allah. Ini penting, sebab imamlah yang memutuskan apakah mereka sudah tahir dari kusta atau tidak. Kalau sudah tahir mereka boleh kembali ke masyarakat. Kalau tidak, mereka harus hidup di luar masyarakat. Lukas secara singkat melukiskan hidup terasing penderita kusta: mereka berdiri agak jauh. Ya, memang orang kusta harus berdiri di kejauhan agar tidak menulari orang sehat. Proses integrasi itulah yang diupayakan Yesus. Ketika mereka sedang dalam perjalanan ke para imam, tiba-tiba mereka sembuh. Perhatikan reaksi mereka. Yang kesembilan orang itu jalan terus walau tidak eksplisit. Hanya ada satu saja yang kembali untuk menghaturkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Yang jauh lebih menarik lagi ialah bahwa yang satu orang itu adalah orang Samaria, orang asing, orang najis dalam pandangan orang Yahudi. Tidak dikatakan siapa kesembilan orang itu. Pasti mereka adalah orang dalam (bac.Yahudi), sebab mereka itu dipertentangkan dengan satu orang yang adalah orang Samaria yang dianggap asing itu. Ya, datang kepada Yesus adalah sangat penting dalam hidup kita. Itulah yang sangat dianjurkan dalam Bac.II hari ini. Demi Dia-lah Paulus rela menderita dan menanggung segala sesuatu. Itulah contoh atau model pengikut Kristus sejati. Itulah yang harus kita teladani dalam hidup kita sendiri. Bac.I mengisahkan mengenai penyembuhan Naaman si orang Siria itu. Ya, sekali lagi, seperti dalam Injil, di sini pun yang disembuhkan justru orang asing, orang Siria. Padahal di Israel sendiri ada banyak orang kusta, tetapi tidak disembuhkan. (Fransiskus Borgias M.).


BANDUNG, 19 AGUSTUS 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE
FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 03 OKTOBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Hab.1:2-3; 2:2-4; 2Tim.1:6-8.13-14; Luk.17:5-10.



Injil yang kita dengar hari ini menebarkan beberapa nasihat atau ajaran moral yang penting dan menarik, walau tidak selalu mudah untuk kita wujudkan dan hayati. Nasihat pertama terkait dengan iman atau kepercayaan. Para murid meminta kepada Tuhan agar Ia sudi menambahkan iman mereka sehingga menjadi lebih kuat dan dalam. Tetapi kiranya iman itu tidak dapat ditakar menurut ukuran fisik atau jasmani tertentu, misalnya dengan takaran kilogram atau meter. Iman itu perkara percaya atau tidak. Itu saja. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa kalau kita mempunyai sedikit iman, maka atas dasar iman yang kecil itu akan terjadi mukjizat agung dalam hidup kita. Nasihat kedua, erat terkait dengan mentalitas pegawai, mentalitas pekerja yang rendah hati dan tahu diri. Segala pekerjaan yang telah kita lakukan, dapat berhasil bukan terutama karena kekuatan kita sendiri belaka, melainkan ada kekuatan lain yang bekerja dalam diri kita, mungkin tidak selalu kita sadari. Karena itu, jangan sampai kita menjadi sombong karena apa yang tampaknya secara fisikal sebagai perbuatan atau tindakan kita. Tidak. Tidak seperti itu. Mentalitas pekerja yang tahu diri dan rendah hati ialah bahwa ia tetap merasa sebagai hamba yang kecil dan tidak berguna, yang hanya menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka. Tentu mentalitas dan sikap seperti itu tidak selalu mudah dalam dunia dewasa ini. Tetapi hal itu pastilah sangat penting: bersikap rendah hati dan tahu diri itu penting dan berguna. Kedua pelajaran atau nasihat ini amat penting. Kita akan sangat beruntung jika kita mencoba berpegang teguh dan setia kepada ajaran-ajaran itu, sebagaimana ditegaskan dalam Bac.II. Mengapa demikian? Jawaban paling tepat dapat kita ambil dari Bac.I: Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya (2:4). Paulus, di kemudian hari, mengutip kalimat ini dalam suratnya kepada jemaat di Roma: orang benar akan hidup oleh iman. Semoga ini berlaku juga bagi kita, sekarang dan di sini. (Fransiskus Borgias M).


BANDUNG, 19 AGUSTUS 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG

MINGGU, 26 SEPTEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.



MINGGU, 26 SEPTEMBER 2010: BcE. Am.6:1a,4-7; 1Tim.6:11-16; Luk.16:19-31. Kisah yang kita dengar dalam injil hari ini sangat menarik dan terkenal. Kita pasti sangat hafal dan akrab dengannya. Ini adalah kisah mengenai Lazarus yang miskin dan orang kaya. Ada orang kaya yang hidup enak: makanan melimpah, hidup nyaman, punya rumah, banyak saudara. Ada orang miskin, Lazarus. Ia hidup miskin, penuh borok, berkumpul dengan anjing-anjing, mengharapkan remah-remah dari meja si kaya, tetapi harus berebut dengan anjing. Kedua orang ini kemudian mati. Si kaya, masuk neraka, Larazus diterima dalam pangkuan Abraham. Nasib yang terbalik dan kontras. Di dunia ini si kaya sangat bahagia karena dan dengan kekayaannya. Di surga ia menderita. Sebaliknya, Lazarus di dunia ini menderita, paling tidak begitulah yang kelihatan secara jasmani. Tetapi di surga ia mendapat kebahagiaan sejati. Melihat situasi kontras itu, si kaya memohon belas kasihan. Tetapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan yang datang kemudian tidak bisa mengubah apa-apa yang sudah terlanjur menjadi busuk. Karena itu, orang harus hidup berhati-hati di dunia ini, jangan sampai terjadi sesal yang datang terlambat. Kiranya itulah relevansi Bac.II yang kita dengar hari ini. Bac.II ini menganjurkan kepada kita agar mengupayakan keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Itulah semua yang kiranya diupayakan dan dihayati Lazarus dalam hidupnya di dunia ini. Lazarus telah bertanding dalam pertandingan iman yang benar dan karena itu ia berhasil merebut hidup yang kekal dalam pangkuan bapa Abraham. Bac.I hari ini juga menawarkan kepada kita beberapa pelajaran moral hidup. Yang paling menarik ialah ajakan untuk belajar kerajinan dan ketekunan hidup dari semut. Memang salah satu hantu yang menggerogoti hidup manusia di dunia ini ialah kemalasan. Amsal menegaskan bahwa betapa penting bagi kita untuk belajar ketekunan semut. Mereka tekun bekerja, dan sangat sadar akan tugas, kewajiban dan tanggung-jawab masing-masing. Mereka terus tekun bekerja walau tidak tampak diawasi pemimpin mereka. Itulah beberapa pelajaran penting dari bacaan ekaristi minggu ini. Semoga berguna. (Fransiskus Borgias M).


SIS BM
GESER INSTITUE FF-UNPAR BANDUNG.

MINGGU, 19 SEPTEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN, PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Am.8:4-7; 1Tim.2:1-8; Luk.16:1-13.



Injil yang kita dengar hari ini menawarkan kepada kita beberapa pelajaran yang penting dan menarik. Pertama, mengenai kreatifitas seorang bendahara yang tidak jujur. Dalam situasi terjepit, ia mencoba mencari dan mengupayakan jalan keluar yang “terbaik” bagi posisi hidupnya sendiri. Kreatifitas itu dipuji oleh sang tuan. Mungkin poin yang pertama ini terasa agak problematik bagi kita. Kiranya Lukas menyadari problematika ini sehingga ia mengutip perkataan Yesus dalam ay 9: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi. Kedua, pelajaran mengenai kesetiaan. Kesetiaan itu “gampang dikata, sukar dibuat.” Karena itu, batu uji kesetiaan bukanlah dalam perkara-perkara besar, melainkan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil. Sebab setia dalam perkara besar umumnya dipandang relatif mudah. Sedangkan setia dalam perkara-perkara kecil, yang serba rutin, itulah yang paling sulit. Rutinitas bisa menjadi sebentuk tirani tersendiri dalam hidup manusia. Ketiga, pelajaran mengenai pengabdian sepenuh hati, yang tidak terbagi-bagi. Dikatakan bahwa orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kalau orang mengabdi kepada tuan, maka yang terjadi pastilah bahwa ia akan membenci yang satu dan mencintai atau memprioritaskan yang lain. Ketiga hal ini boleh dipandang sebagai butir-butir hikmat yang harus dipelajari dalam hidup kita. Hikmat itu, dalam Bac.I dipersonifikasi, dan ia sedang memanggil manusia untuk datang kepada sang Hikmat itu sendiri. Bac.II hari ini mengingatkan kita agar bersiap-siap selalu dalam menyongsong hari kedatangan Tuhan. Persiapan ini sangat penting sebab sebelum hari itu tiba, akan ada banyak kedurhakaan. Para pengikut Kristus harus dengan tenang menghadapi semuanya. Semoga demikian adanya. (Fransiskus Borgias M).


SIS BM
PENELITI GESER INSTITUTE
FF-UNPAR BANDUNG.

Minggu, 18 Juli 2010

SENIN, 19 JULI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE dan CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Mi.6:1-4,6-8; Mzm.50:5-6,8-9,16bc-17,21,23; Mat.12:38-42.




Dalam injil kita dengar bagaimana para ahli Taurat dan orang Farisi meminta tanda dari Yesus (ay.38). Padahal Tuhan sudah mengerjakan banyak tanda dan mukjizat sebelumnya. Tetapi semuanya itu tidak berhasil menuntun mereka kepada tobat dan iman. Mungkin karena angkatan ini tegar tengkuk (diangkat dari dunia pelatihan hewan bagal dan tunggangan), yang telah memilih yang jahat dan hatinya degil. Tanda apa pun tidak akan mengubah hati orang seperti ini, termasuk tanda Yunus (ay.39). Tanda Yunus disinggung di sini sebagai ibarat untuk melukiskan nasib dan tanda yang terkandung dalam diri Anak Manusia (ay.40). Jadi, tinggal satu saja tanda terakhir, yaitu peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus dari alam maut. Tetapi bahkan peristiwa ajaib ini pun tidak bisa meyakinkan orang, tidak menuntun orang kepada tobat dan iman (bdk.27:62-63; 28:17). Oleh karena “orang dalam” (insiders) tidak mau percaya, maka injil mulai menyinggung “orang luar” (outsiders). Ternyata orang luar ini mampu memberi tanggapan yang sepatutnya terhadap tanda-tanda itu daripada Israel (orang dalam). Ada dua orang luar yang ditampilkan di sini: pertama, dalam ay.41, orang Niniwe, yang percaya kepada pemberitaan Yunus. Kedua, dalam ay.42, Ratu dari Selatan, yang kagum akan keagungan Salomo. Nah, kedua “orang luar” inilah yang akan ikut menentukan nasib orang yang sulit percaya. Sebab “orang luar” itu percaya kepada tanda Yunus, dan kagum akan Salomo, padahal Anak Manusia lebih daripada Yunus dan Salomo. Semoga kita tidak termasuk orang yang tegar tengkuk di hadapan tawaran kasih Allah dalam diri Tuhan Yesus.


BANDUNG, 19 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR

MINGGU, 12 SEPTEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE dan CCRS FF-UNPAR BANDUNG
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
BcE. Kel.32:7-11,13-14; Mzm.51:3-4,12-13,17,19; 1Tim.1:12-17; Luk.15:1-32 (1-10).



Kita dapat membaca versi panjang injil hari ini (32 ayat). Tetapi bisa juga hanya membaca versi pendeknya (10 ayat). Untuk kepentingan ulasan ini saya ikuti versi pendeknya. Dalam versi pendek ini Yesus membentangkan dua perumpamaan yang menarik. Yesus terdorong mengisahkan dua perumpamaan ini karena sikap orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak suka Yesus bergaul dengan orang berdosa (menerima mereka sebagai teman, dan makan bersama. Makan bersama dalam pelbagai kebudayaan di dunia ini adalah simbol dan perayaan persahabatan). Perumpamaan pertama mengenai domba yang hilang. Perumpamaan kedua mengenai dirham yang hilang. Ada kesamaan mencolok antara kedua perumpamaan ini. Dua hal yang hilang ini tidak bisa kembali sendiri, melainkan harus dicari. Gembala ditantang mutu kegembalaannya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Pemilik perhiasan juga ditantang mutu sense of belonging-nya: apakah berani menempuh risiko atau tidak. Ternyata si gembala dan si pemilik itu berani. Itulah yang menentukan mutu kepemimpinan mereka. Kita lihat, ini persamaan ketiga, setelah si gembala dan pemilik berani menempuh risiko besar, dan ia berhasil menantang risiko itu, hasilnya mendatangkan sukacita besar. Sukacita yang dialami orang ini oleh Yesus dijadikan sebagai ibarat untuk melukiskan sukacita yang terjadi di surga, yang dikatakan jauh lebih besar dan lebih meriah jika ada orang berdosa bertobat. Walau tadi saya putuskan untuk membaca versi pendek, tetapi ada baiknya saya tambahkan: perbedaan paling mencolok kedua perumpamaan ini dengan perumpamaan ketiga ialah bahwa si anak hilang, berbeda dari domba dan dirham, berinisiatif kembali. Ini yang luar biasa. Yesus mengajarkan kita untuk bertobat. Jangan tunggu dicari. Sebab yang dicari hanya domba (binatang) dan dirham (benda mati). Kiranya, kita tidak mau disamakan dengan binatang dan benda mati.


BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM, GESER INSTITUTE FF-UNPAR

MINGGU, 05 SEPTEMBER 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUE DAN CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES FF-UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.9:13-18; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Flm.9b-10,12-17; Luk.14:25-33.




Hari ini Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Hari ini secara khusus diadakan agar umat Katolik di Indonesia ini semakin secara intensif mencintai dan mengakrabi kitab suci dan akhirnya bisa hidup dari dan berdasarkan Kitab Suci itu. Injil hari ini membentangkan kepada kita mengenai syarat mengikuti Yesus. Syaratnya ialah “harus mau dan mampu melepaskan segala sesuatu.” Jelas ini syarat yang tidak ringan. Lalu bagaimana? Ya, mengikuti Yesus adalah sebuah keputusan yang amat besar. Bukan keputusan asal-asalan. Karena itu harus dipikirkan matang-matang. Mungkin kita dewasa ini tidak bisa lagi merasakan hal itu: karena kita menjadi murid atau pengikut Yesus secara massal, bukan keputusan personal. Apalagi dengan proses yang relatif mudah dan tidak berbelit-belit. Dulu pada masa gereja purba, ketika menjadi Kristen itu sulit dan bahkan ada risiko kemartiran dan kematian, keputusan menjadi pengikut Yesus adalah perkara hidup dan mati. Hal inilah yang coba dijelaskan Yesus dengan memakai dua ibarat (pertama, ay.28-30; kedua, ay.31-32). Dalam kedua ibarat ini, tampak bahwa pekerjaan yang akan dikerjakan itu berat dan tidak bisa dilakukan setengah-setengah, melainkan harus dipikirkan matang-matang. Dalam konteks inilah kita harus membaca ayat 27 dan 33. Ayat 27 adalah idealisme kemuridan ala Lukas: seorang murid tidak bisa mengharapkan nasib lain selain mengikuti Tuhan seraya memikul salib. Ayat 33 juga dapat dimengerti sebagai tuntutan yang tidak dapat main-main dalam hal mengikuti Yesus. Bagaimana kongkretnya sekarang dan di sini? Tentu tidak berarti kita harus membenci orang tua, sanak saudara kita. Melainkan menempatkan Yesus di atas segala-galanya. Jika terjadi konflik nilai, kita harus berani memilih Yesus dan bukan yang lain. Semoga kita mampu menjadi murid Yesus yang sejati dan rela mengorbankan apa saja demi iman akan Tuhan Yesus.


BANDUNG, 18 JULI 2010
SIS BM,GESER INSTITUTE FF-UNPAR

Jumat, 16 Juli 2010

MINGGU, 29 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG
(CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
BcE. Sir.3:17-18,20,28-29; Mzm.68:4-5ac,6-7ab,10-11; Ibr.12: 18-19,22-24a; Luk.14:1,7-14.



Injil menyampaikan beberapa hal penting. Pertama, mengenai etiket ketika memenuhi undangan. Kebanyakan orang berjuang mencari tempat terdepan. Tetapi Yesus mengatakan, carilah tempat biasa. Siapa tahu tuan rumah datang mengundangmu ke tempat terhormat. Daripada sebaliknya: kita sendiri yang menempatkan diri di tempat terhormat, padahal tuan rumah menyiapkan tempat itu untuk orang lain. Betapa hal itu memalukan. Bagian ini diakhiri dengan petuah etis yang menarik: siapa yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. Kedua, mengenai siapa yang harus diundang ke perjamuan. Secara alamiah kita mengundang orang yang mungkin suatu saat bisa mengundang kita sebagai balasan. Terhadap hal itu Yesus mengatakan bahwa seharusnya kita mengundang orang yang tidak punya kemungkinan membalas kebaikan kita. Itulah substansi perbuatan baik: tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan atau imbalan. Perbuatan seperti itu akan diberi pahala pada hari kebangkitan kelak. Nasihat ini diteguhkan dalam Bac.I, mengenai kerendahan hati. Kerendahan hati itu didapat dengan merenungkan amsal. Itu bisa terjadi jika kita datang ke kota Allah yang hidup, ke Bukit Sion (Bac.II). Di sana Tuhan sendiri mengajar kita tentang makna kehidupan.


SIS BM
GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG

MINGGU, 22 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG
(CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
BcE. Yes.66:18-21; Mzm.117:1,2; Ibr.12:5-7,11-13; Luk.13:22-30.



Injil mengisahkan beberapa hal. Pertama, mengenai pertanyaan seseorang kepada Yesus tentang seberapa banyak yang akan diselamatkan? Kedua, jawaban Yesus terhadap hal itu. Jawaban itu menyiratkan bahwa pintu masuk ke dalam shalom itu sempit dan banyak orang berjuang masuk, tetapi tidak semua lolos ke dalam. Dalam kondisi seperti itu, tentu orang masih bisa berupaya dengan memperkenalkan diri dan relasi khusus antara diri mereka dan tuan rumah. Misalnya dengan mengatakan bahwa mereka sudah saling kenal sebelumnya, bahkan pengenalan itu dirayakan dalam perjamuan makan. Bahkan dikatakan juga bahwa mereka telah mendengar Ia mengajar di jalanan kota mereka. Tetapi jawaban tetap satu: Tuan rumah itu tidak mengenal mereka dan karena itu Ia menyuruh mereka pergi ke dalam kegelapan. Kata kunci penting di sini ialah ay.30: Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ad aorang yang pertama yang akan menjadi oirang yang terakhir. Ini adalah sindiran Penginjil terhadap orang Farisi yang tidak menerima dan mendengar Yesus. Agar dapat masuk ke dalam kerajaan surga, tentu orang harus rela dididik dan dilatih. Itulah yang disinggung dalam Bac.II. Tetapi pendidikan tidak selalu mudah dan enak. Tetapi itu semua demi kebaikan: “...kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran...” Bac.I berbicara tentang orang pilihan yang akan diutus Tuhan mewartakan namanya ke tempat yang baru. Semoga kita ada dalam kelompok orang pilihan itu.


SIS BM
GESER INSTITUE FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 17 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG
(CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES)
BcE. Sir.10:1-8; Mzm.101:1a,2ac,3a,6-7; 1Ptr.2:13-17; Mat.22:15-21.



Hari ini Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia. Injil berkisah mengenai perjumpaan Yesus dengan orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan menjebak. Tetapi Yesus sadar akan hal itu sehingga Ia dengan bijaksana menjawabnya dengan melihat gambar dan tulisan pada mata uang yang dipakai untuk membayar pajak. Setelah tahu bahwa itu tulisan dan gambar kaisar, Ia pun memberi jawab yang sangat tepat: Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak kaisar, kepada Allah apa yang menjadi hak Allah. Atas dasar ini orang biasanya berbicara tentang dua kuasa di dunia ini: kuasa pemerintahan sipil dan kuasa rohani. Keduanya dapat dan harus ada bersama-sama demi kemajuan dan kesejahteraan hidup bersama. Kewajiban terhadap yang satu jangan sampai mengorbankan kewajiban terhadap yang lain. Keduanya harus dijalankan bersama-sama. Di sini sama sekali tidak diberi isyarat mengenai siapa yang lebih tinggi dari keduanya. Mungkin hal itu disengaja karena yang terpenting bukan siapa yang lebih tinggi melainkan mutu pelayanan dan komitmen sosialnya. Namun Bac.II memberi petunjuk mengenai sikap etika politik: kita dianjurkan agar, demi Tuhan, tunduk dan taat pada lembaga kemanusiaan. Memang hidup sosial-politik harus ditandai dengan beberapa patokan etis ini: Hormati semua orang, kasihilah saudaramu seiman, takutlah kepada Allah, hormatilah Raja (ay.17). Dalam Bac.I diberikan beberapa hal yang harus dipenuhi seorang raja: ia harus terdidik, juga takut akan Tuhan. Kedua hal ini menjadi ukuran terpenting mengenai mutu raja.


SIS BM
GESER INSTITUTE FF-UNPAR BANDUNG

Minggu, 11 Juli 2010

MINGGU, 20 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF UNPAR BANDUNG
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES UNPAR BANDUNG
Bc.E. Za.12:10-11; 13:1; Mzm.63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal.3:26-29; Luk.9:18-24.




Hari ini Hari Minggu Biasa Pekan XII. Injil hari ini sangat terkenal. Ia membentangkan di hadapan kita tiga pokok penting. Pertama, mengenai pengakuan Petrus. Pengakuan ini diawali dengan dialog antara Yesus dan para muridNya. Ia menanyai mereka tentang pendapat orang mengenai Dia. Ternyata ada beraneka-agam jawaban dan pandangan mengenai Kristus. Itu yang disebut keragaman kristologis dalam Perjanjian Baru. Tetapi di tengah keaneka-ragaman itu para murid dituntut untuk memegang satu pengakuan pokok bagi mereka. Petrus melakukan hal itu dengan pengakuan imannya yang terkenal itu: Engkaulah, “Mesias dari Allah.” Kedua, di sini kita juga menemukan pemberitahuan pertama tentang sengsara Yesus: bahwa Ia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, tetapi kemudian dibangkitkan. Ketiga, mengenai syarat mengikuti Yesus. Menarik bahwa poin ketiga ini dikaitkan dengan poin kedua (sengsara). Memang nubuat sengsara dikaitkan langsung dengan tuntutan menjadi murid. Apa yang mau dikatakan dengan itu? Yaitu syarat satu-satunya ialah kesediaan dan kemampuan memikul salib setiap hari dan mengikuti Tuhan. Ini sangat penting karena ini yang menjadi penjamin shalom bagi kita. Dengan caranya sendiri Paulus melukiskan kenyataan ini dalam Bc.II: kita semua yang sudah dibaptis, pasti telah mengenakan Kristus. Maka melalui iman dalam Yesus Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah. Melalui Yesus kita mendapat rahmat penebusan. Hal itu sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama: Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran (Bc.I).


BANDUNG, 12 JULI 2010
SIS B, GESER INSTITUTE BANDUNG.

SABTU, 19 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
BcE. 2Taw.24:17-25; Mzm.89:4-5,29-30,31-32,33-34; Mat.6:24-34.




Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan fakultatif St.Romualdus (Abas). Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan kepada kita beberapa hal yang penting. Pertama, Yesus berbicara mengenai hal mengabdi yang harus tulus dan murni, tidak mendua, tidak setengah-tengah. Ya, kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kalau itu dilakukan, maka pasti akan terjadi sikap mendua. Maka di sini harus menentukan sikap: atau-atau. Jelas tuntutan ini tidak mudah. Kedua, mengenai kekhawatiran hidup. Memang menyongsong masa depan selalu bisa ditandai kecemasan dan kekhawatiran. Tetapi Tuhan mengingatkan kita agar tidak usah khawatir akan hidup dan hari esok. Bagi saya, kita harus bisa menerima dan menghayati hal ini karena Tuhan sendiri yang mengucapkannya. Ini penting disadari karena kekhawatiran tidak menyelesaikan persoalan. Kekhawatiran malah menambah dan memperumit masalah. Kekhawatiran itu bisa menyangkut makanan, minuman, pakaian. Yesus mengajarkan kita untuk hidup dalam iman dan terutama sebagai orang beriman. Orang beriman adalah orang yang sepenuhnya percaya pada penyelenggaraan dan kasih setia (hesed) Yahweh. Mungkin dewasa ini agak sulit bagi kita menerima hal itu. Tetapi itulah yang menjadi tuntutan Yesus dari kita. Tidak ada pesan dan ajaran lain yang lebih tepat untuk diangkat di sini, selain bagian akhir injil itu. Maka saya kutip di sini: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatiran sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.


BANDUNG, 12 JULI 2010
SIS B, PENELITI GESER INSTITUTE BANDUNG.

JUM'AT, 18 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN dan PENELITI GESER INSTITUTE DAN CCRS FF-UNPAR BANDUNG
Center for Cultural and Religious Studies UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.11:1-4,9-18,20; Mzm.132:11,12,13-14,17-18; Mat.6:19-23.



Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Injil mengajarkan kepada kita beberapa hal menarik. Pertama, mengenai relasi kita dengan harta benda jasmani di dunia ini. Harta itu penting dan berguna. Tidak ada orang yang menyangkal hal itu. Maka orang berusaha mengumpulkan dan menumpuknya. Tetapi proses pengumpulan dan penumpukan itu biasanya ditandai kekerasan dan ketidakadilan. Muncul fenomena jurang kaya-miskin. Tidak terjadi pemerataan peluang. Tetapi Yesus tidak terutama bicara soal itu. Yang dibahas ialah karena di bumi ini ada banyak ngengat dan karat dan pencuri serta perampok. Itu tadi, dalam rangka persaingan muncul kekerasan. Karena itu, Yesus mengajurkan kita agar mengumpulkan harta surgawi yang tidak akan dicuri perampok, tidak akan dirusak ngengat dan karat. Harta surgawi itu adalah perkara hati, maka dikatakan, di mana hartamu berada di situ hatimu berada. Kedua, Yesus berbicara mengenai fungsi mata. Mata itu ibarat obor atau suluh bagi langkah kita. Langkah adalah simbolisme hidup. Kalau mata rusak, kabur, maka rusak jugalah seluruh hidup. Maka perlu sekali upaya yang sadar untuk menjaga dan memelihara mata. Kalau mata menjadi gelap, gelaplah sudah seluruh hidup kita. Menarik sekali, mata kita itu terletak di kepala kita, tempat otak kita. Melalui dan dengan mata kita melihat segala sesuatu, melihat dunia. Otak kita mengolahnya dan hati mengambil keputusan moral yang penting untuk hidup. Kerja otak sangat ditentukan oleh mata. Jadi, pesannya jelas: arahkanlah seluruh hidup kita kepada Tuhan, jangan sampai hati kita disibukkan dengan perkara menumpuk barang fana, dan mata kita menjadi gelap karena perkara-perkara yang tidak sangat fundamental untuk shalom kita.


BANDUNG, 12 JULI 2010
SIS B, GESER INSTITUE BANDUNG

Rabu, 16 Juni 2010

MINGGU, 15 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS DAN GESER-INSTITUTE
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES, GEISE SENTER INSTITUTE,
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Why.11:19a.12:1,3-6a,10ab; Mzm.45:10bc,11,12ab,16; 1Kor.15:20-26; Luk.1:39-56.




Hari ini Hari Raya SP.Maria diangkat ke surga. Banyak serikat hidup bakti yang merayakannya. Mari kita merayakannya juga. Dalam injil kita dengar beberapa hal penting. Pertama, Maria mengunjungi Elisabet. Ini salah satu peristiwa dalam peristiwa gembira. Ada beberapa hal penting yang patut digaris-bawahi. Ada peristiwa Maria memberi salam kepada Elisabet dan ketika salam itu terdengar Elisabet maka anak dalam rahimnya melonjak kegirangan. Sukacita familial yang tampak dalam peristiwa saling mengunjungi, juga terasa oleh anak dalam rahim. Hal itu diungkapkan dua kali (ay.41.44). Lalu keluarlah kata-kata Elisabet yang terkenal itu, yang menjadi bagian dari doa Salam Maria. Kidung Elisabet ini cukup panjang, tetapi tidak disebut demikian dalam tradisi gereja. Kedua, Kidung Elisabet yang indah ditanggapi dengan Kidung Maria, Magnificat terkenal itu. Tidak cukup ruang untuk mengulas kidung itu di sini. Ini kidung revolusioner perempuan yang bergema dalam teologi feminis. Hari ini tampak dirayakan dalam Bac.I. Di sana ada pelukisan mengenai Bait Suci Allah di sorga dan tampak tabut perjanjianNya. Tabut Perjanjian adalah salah satu gelar Maria (butir Litani SP.Maria). Keagungan peristiwa pengangkatan itu dirayakan dengan pelukisan sbb: Seorang perempuan beselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah makota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ini salah satu ide seniman membuat patung Maria. Dogma pengangkatan ini sejalan dengan ajaran Kitab Suci mengenai kebangkitan kita yang bermula dari kebangkitan Kristus, sebab “...demikinalah pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (Bac.I).


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS DAN GESER INSTITUTE FF-UNPAR BDG.

MINGGU, 08 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Keb.18:6-9; Mzm.33:1,12,18-19,20,22; Ibr.11:1-2,8-19; Luk.12:32-48.




Injil hari ini memberi beberapa nasihat hidup. Pertama, nasihat agar jangan takut mengarungi hidup ini (ay.32). Dengan kata lain, orang harus hidup oleh, karena, dan dalam iman. Kedua, nasihat untuk memberi sedekah dari harta milik. Harta milik harus berfungsi sosial-komunal-karitatif. Ketiga, nasihat untuk mencari harta surgawi, rohani, yang selalu dekat dan melekat pada kita: di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Keempat, nasihat berjaga-jaga (ikat pinggang terikat, pelita bernyala). Orang yang didapati berjaga, dianggap berbahagia (ay.37.43). Hamba seperti ini akan diberi imbalan kepercayaan tinggi. Tetapi ada antagonis hamba ini, yaitu hamba jahat: berbuat jahat justru karena tuannya tidak ada di tempat. Hamba seperti ini akan dihukum. Dari sini keluar prinsip moral sebagai muara ajaran Yesus: Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. Hidup dari, oleh, dalam, dan berdasarkan iman, itulah yang dibentangkan dalam Bac.II dengan memberi beberapa model orang beriman dalam Perjanjian Lama (Abraham, Sara). Hidup jadi bermakna karena iman. Teladan hidup beriman itu jugalah yang secara singkat disinggung dalam Bac.I.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

MINGGU, 01 AGUSTUS 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Pkh.1:2,2:21-23; Mzm.90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol.3:1-5,9-11; Luk.12:13-21.




Injil hari ini berbicara mengenai orang kaya yang bodoh. Terhadap orang yang meminta agar menjadi penengah sengketa harta warisan, Yesus memberi nasihat mengenai kewaspadaan akan ketamakan. Ya ketamakan itu amat berbahaya. Ia tidak tahu batas. Karena itu, ia bisa melibas apa saja, bahkan manusia pun dilindas. Tentang itu Yesus berkata: ketamakan menumpuk harta tidak membuat hidup terjamin. Hidup tidak tergantung pada kekayaan. Hidup hanya tergantung pada Allah. Untuk menegaskan poin ini Yesus mengisahkan perumpamaan tentang orang kaya yang merancang hidupnya. Setelah merasa yakin dan berhasil dengan rancangan itu, ia merasa hidup sudah aman. Ternyata malam itu nyawanya dicabut. Dalam kematian, harta benda tidak berarti apa-apa. Maka yang terpenting ialah menjadi kaya di hadapan Allah, yaitu mengumpulkan harta surgawi, harta rohani. Menarik bahwa Liturgi mengkaitkan Injil dengan Bac.I Pengkotbah yang terkenal dengan refreinnya: Kesia-siaan belaka,... segala sesuatu sia-sia. Jika pengumpul harta mati, ia harus tinggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Mungkin nasihat paling baik sehubungan dengan ini kita lihat dari Bac.II: “...matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.”


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

KAMIS, 17 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Sir.48:1-14; Mzm.97:1-2,3-4,5-6,7; Mat.6:7-15.




Hari ini hari Biasa. Mari kita berusaha hidup senantiasa di hadapan Allah dengan hati tulus dan murni. Injil membahas tentang unsur ketiga dalam praksis kesalehan kita: doa. Ada tiga nasihat yang diberikan Yesus dalam injil ini. Nasihat pertama, tidak termasuk injil hari ini tetapi baik juga disinggung karena dalam nasihat pertama inilah ada kemiripan dengan dua praksis lain yang dibahas kemarin. Doa jangan dipamerkan di ruang publik, di tempat umum, di pasar, di tikungan jalan, dengan suara keras, memakai pengeras suara. Kata Yesus, tidak usah seperti itu: itu hanya berlaku bagi orang munafik. Kedua, Yesus menasihatkan kita agar doa kita singkat, jangan bertele-tele. Mengapa, karena Bapa sudah mengetahui apa yang kita minta. Ketiga, Yesus memberi contoh atau model doa itu. Itulah doa Bapa Kami, oratione dominica, al sholat al robaniyah, Lord’s Prayer, yang terkenal itu. Doa ini menjadi model doa karena diajarkan Tuhan sendiri kepada kita. Sudah ada banyak buku yang mengulas doa ini. Tetapi saya ingatkan pembaca untuk membaca salah satu ulasan bagus dalam Katekismus Gereja Katolik. Pasti kita diperkaya oleh doa itu. Menjadi model karena, ini dan beginilah seharusnya cara kita berdoa. Dimulai dengan pujian akan Allah Bapa. Ini harus. Sesudah itu, ada permohonan. Biasanya dianggap ada tujuh permohonan. Pesannya jelas: Jangan memamerkan doa, jangan bertele-tele, dengan suara keras. Hafalkanlah doa Bapa Kami dan setiap kali kita mengucapkannya, hendaklah kita mengucapkannya dengan kesadaran penuh. Niscaya kita dididik dalam rumah doa sejati yang amat kaya dan dalam ini.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

Selasa, 15 Juni 2010

MINGGU, 25 JULI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:20-32; Mzm.138:1-2a,2bc-3,6-7ab,7c-8; Kol.2:12-14; Luk.11:1-13.




Injil hari ini terkenal karena kita dengar Tuhan mengajar muridNya berdoa. Ada beberapa hal yang dibahas hari ini. Pertama, mengenai permohonan murid agar Tuhan mengajar mereka berdoa karena melihat Yohanes mengajar muridnya berdoa. Kedua, Tuhan mengajarkan doa itu kepada mereka. Itulah doa Bapa Kami yang terkenal itu, Doa Tuhan, Oratione Dominica, al-Sholat al-Robaniyah, Lord’s Prayer. Dalam pemakaian liturgis Katolik, yang digunakan ialah versi Matius yang lebih panjang. Ketiga, Yesus berbicara mengenai hal ketekunan berdoa: berdoa harus tanpa henti, oratio continua, demikian tradisi Bapa Gereja menyebutnya, mengikuti Paulus dalam salah satu suratnya. Untuk menekankan arti penting oratio continua ini, Yesus memberi perumpamaan yang menarik dalam ayat 5-8. Keempat, setelah memberikan pengajaran (doctrina) dalam perumpamaan, Yesus sampai juga ke petuah moral, unsur parenetik-nya: ayat 9-13. Yesus menekankan arti pentingnya doa terus menerus karena hal itu pasti akan berbuah. Kata orang: PUSH, Pray Until Something Happens. Atau PULL: Pray Until the Lord Listens. Tetapi The Lord always Listen, karena Gusti ora sare. Yesus juga menarik petuah moral mengenai “tahu mana perbuatan yang baik dan yang buruk” (ay.11-13). Petuah itu akhirnya diterapkan secara teologis (ay.13): Ingat, ketekunan berdoa kepada Bapa, akan berbuah karunia Roh Kudus. Luar biasa. Kiranya ketekunan berdoa, bahkan seperti hampir tidak tahu malu lagi, itulah yang dipentaskan Bac.I, di mana Abraham seperti sedang berdagang, tawar-menawar dengan Allah. Allah mau melayani permintaan Abraham sampai akhir, walau akhirnya, Abraham menyerah. Tetapi selalu ada keterbukaan dari TUHAN. Sepertinya tidak ada kaitan apa pun dengan Bac.II. Tetapi kaitannya dapat dilihat dalam solidaritas negatif dan positif kita dengan Yesus, yang akhirnya berbuahkan shalom. Amin.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

MINGGU, 18 JULI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kej.18:1-10a; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Kol.1:24-28; Luk.10:38-42.




Injil hari ini mengisahkan tentang dua perempuan di sekitar Yesus, yang menjadi pengikut Yesus. Mereka adalah Maria dan Marta. Suatu ketika, Yesus mampir di rumah mereka. Dalam menghadapi Yesus mereka memperlihatkan dua sikap berbeda. Yang satu, Maria, duduk dekat Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Yang lain, Marta, sibuk melayani. Secara tradisional teks ini ditafsirkan sebagai menggambarkan dua cara hidup yang dapat ditempuh sebagai pengikut Yesus. Ada cara hidup kontemplatif, ada cara hidup aktif. Yang terdahulu ditekuni Maria. Yang lain dilakoni Marta. Ternyata Yesus memberi prioritas terhadap dan membela yang terdahulu. Tetapi saya mau membacanya demikian: Dalam perjalananNya berkeliling, Yesus (sebagai manusia) tentu mengalami keletihan. Ketika ia sudah sampai di tempat istirahat, maka yang Ia butuhkan ialah kedekatan dan pendampingan dari orang-orang baik di sekitarnya. Dalam artian itulah, Yesus menilai “tinggi” apa yang dilakukan Maria, dan memberi prioritas terhadap Maria. Itu tidak berarti bahwa Yesus “melecehkan” apa yang ditempuh Marta. Sama sekali tidak. Semuanya ada waktunya dan pada waktunya. Maria, tahu melihat waktu (kairos) itu. Keramah-tamahan Maria itulah yang disinggung dalam injil hari ini. Ide kramah-tamahan (hospitalitas) itu yang diangkat dalam Bac.I hari ini: Abraham menjamu tiga tamu yang datang ke ranch-nya. Keramah-tamahan itu berbuah berkat: Isterinya akan mengandung dan melahirkan anak. Menarik bahwa Bac.II kedua justru menyinggung mengenai “kesibukan” Paulus dalam melayani umat demi mewartakan Kristus. Bahkan Paulus rela menderita dalam pelayanan itu. Anehnya lagi, Paulus merasa bersukacita karena ia boleh menerita demi pelayanan itu. Jadi, dalam bingkai liturgis, kesibukan Marta (melalui kacamata Paulus) tetap ada maknanya. Asal dijalankan dengan penuh sukacita.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

RABU, 16 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 2Raj.2:1,6-14; Mzm.31:20,21,24; Mat.6:1-6,16-18.




Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan wajib St.Lurgardis, Beato Anicetus Koplin (Imam, dkk Martir Polandia), St.Yohanes Fransiskus Regis. Mari kita mengenang dan meneladani mereka dalam hidup dan doa kita. Injil membentangkan dua hal penting sebagai tonggak praksis kesalehan umat. Tonggak praksis kesalehan itu ada tiga: Sedekah, Doa, Puasa. Tetapi di sini hanya dibahas dua saja: sedekah dan puasa. Pertama, berbeda dengan praktek yang umum jaman itu, Yesus menganjurkan para pengikutNya agar memberi sedekah itu secara diam-diam, dilakukan di tempat tersembunyi. Tidak usah digembar-gemborkan ke sana kemari seperti sekarang dengan pengeras suara, televisi, koran, majalah, dll. Menggembar-gemborkan perbuatan baik adalah perbuatan orang fasik, orang munafik. Biasanya itu dilakukan untuk menarik perhatian publik. Tidak ada rasa risih sedikitpun bahwa kesalehan dipertontotan dan dipentaskan di ruang publik. Cukup Bapa di surga saja yang tahu, dan Ia akan membalas kita dengan berkat dan rahmatNya. Kedua, berbeda dengan praktek yang umum dilakukan saat itu, orang berpuasa dengan membuat muka muram. Yesus mengecam hal itu: itu adalah kemunafikan. Yesus menganjurkan agar kalau kita berpuasa, hendaklah kita merias diri sehingga hanya Allah Bapa saja yang tahu bahwa kita berpuasa. Tidak usah juga digembar-gemborkan ke sana ke mari pakai pengeras suara yang bikin telinga bising. Kedua tonggak kesalehan itu harus dilakukan secara diam-diam. Pesan injil hari ini sangat jelas: Janganlah kita melakukan perbuatan-perbuatan kesalehan di ruang publik, dengan maksud untk dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kita mendapat pujian orang banyak.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

SELASA, 15 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:17-29; Mzm.51:3-4,5-6a,11,16; Mat.5:43-48.




Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Injil mengisahkan beberapa hal penting. Kali ini Yesus tidak hanya mengoreksi Taurat, melainkan juga memaksimalisasi tuntutannya. Maka Ia mulai dengan kutipan Taurat: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Ini sangat wajar dan manusiawi terjadi di antara manusia. Gampang mencintai sesama, gampang membenci musuh. Yesus menuntut kita untuk melampaui apa yang mudah itu. Dengan itu Yesus mengoreksi tuntutan lama. Berbeda dengan hukum lama, Yesus mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Itulah intinya. Perintah inti itu dijabarkan secara konkret dalam beberapa langkah ucapan berikut. Pertama, dengan mengasihi musuh kita meniru kasih dan kerahiman Bapa di surga yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan tanpa membeda-bedakan orang. Kedua, prinsip pertama tadi diperjelas dengan sebuah ajaran kontras: kalau kita hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, maka kita tidak lebih daripada manusia umumnya, termasuk pemungut cukai. Ketiga, prinsip yang sama dipertegas lagi dengan ajaran kontras lain: memberi salam tidak hanya dibatasi di kalangan saudara saja, melainkan kepada semua manusia. Pemberian salam yang terbatas itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak mengenal Allah. Setelah melewati ketiga tahap itu, akhirnya Yesus memuarakan seluruh petuah dan ajaranNya kepada muara besar yaitu tuntutan atau bahkan perintah untuk menjadi sempurna. Kita semua, sebagai para murid Kristus, harus berusaha menggapai kesempurnaan dalam hidup ini. Dan tidak main-main, model yang harus ditiru ialah Bapa di surga yang sempurna adanya.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

SENIN, 14 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.21:1-16; Mzm.5:2-3,5-6,7; Mat.5:38-42.




Hari ini Hari Biasa Pekan XI. Ada peringatan fakultatif Beato Gerardus, seorang pertapa. Mari kita mengenang dia dalam hidup dan doa kita. Pengajaran Yesus yang kita dengar hari ini sangat menarik. Ia “mengoreksi” beberapa ajaran dalam Taurat. Itu sebabnya dimulai dengan kutipan Taurat: “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Yesus memperbaiki hal itu lewat tiga langkah ucapan. Pertama, Ia mengatakan bahwa kejahatan jangan dilawan dengan kejahatan. Kalahkan kejahatan dengan kebaikan, sikap lemah lembut, sikap mengalah, seperti kata Paulus. Kedua, jika ada yang memperkarakan kita karena suatu milik (baju), daripada repot, Ia ajarkan agar kita serahkan juga jubah. Ketiga, jika diminta menemani berjalan sekian kilometer, hendaknya permintaan itu dipenuhi melebihi apa yang diminta. Menarik bahwa urutan ketiga hal itu ialah mulai dari perlakuan terhadap badan sendiri, lalu terhadap barang yang dikenakan badan (pakaian), akhirnya suatu aktifitas badan (kaki). Dalam ketiga hal itu, Yesus meminta kita untuk tidak menimbulkan masalah dan kesulitan. Akhirnya, injil ditutup dengan sebuah nasihat yang mulia walau tidak selalu mudah dilaksanakan dalam hidup nyata sehari-hari: Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu. Inti pokok ajarannya ialah agar kita tidak menjadi orang yang pelit, kikir, karena kita telah menerima semuanya dari Allah Bapa secara gratis juga. Tentu ketika akan melaksanakan perintah dan nasihat injil ini, kita harus tetap memperhitungkan peraturan hukum serta ketentuan moral yang berlaku berkaitan dengan hal pinjam meminjam. Jangan sampai menimbulkan masalah di kemudian hari.


BANDUNG, JUNI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

MINGGU, 23 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.2:1-11; Mzm.104:1ab,24ac,29bc-30,31,34; 1Kor.13:3b-7,12-13 (Rm.8:8-17); Yoh.14:15-16,23b-26.




Hari ini Hari Raya Pentakosta. Dengan ini, berakhirlah Masa Paskah. Karena itu, Lilin Paskah yang selama ini ditahtakan di tempat sentral, kini dipindahkan (kapel, sakristi). Injil hari ini menarik. Ada beberapa hal yang disampaikan. Pertama, mengenai hal mentaati perintah sebagai tanda adanya kasih. Kalau ada relasi kasih, mudah sekali mentaati perintah dari yang dikasihi. Itu mudah dipahami. Kedua, Tuhan Yesus meminta kepada Bapa agar mengutus Penolong; tugasNya jelas dikatakan di sana: Ia menyertai kamu selama-lamanya, dalam kehadiran Roh. Hari ini, dalam Pentakosta, Roh itu datang, seperti dilukiskan Bac.I. Itu sebabnya dalam ay.23b disebutkan KAMI. KAMI (Trinitas) datang kepadanya dan tinggal bersama dengan dia. Ketiga, adalah lawan dari poin pertama. Tanpa adanya relasi kasih, sulit mentaati perintah. Hanya kasih yang menggerakkan orang untuk taat. Keempat, sekali lagi, hari ini, Penolong telah datang. Apa tugas penolong itu? Di sini disebutkan beberapa tugas penting. 1). Ia akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu. 2). Ia akan mengingatkan kita akan semua yang Kukatakan kepadamu. Poin ini amat penting. Karena Roh itu tidak mendatangkan wahyu baru, melainkan hanya mengingatkan kita akan Yesus Kristus, puncak dan pusat wahyu. Ini penting karena ada pihak yang memakai teks ini sebagai pembenaran bagi wahyu yang masih akan datang. Tidak demikian bagi kita. Bagi kita, Roh Kudus yang datang dan sudah datang dan masih selalu datang (men-datang-i) hanya mengingatkan kita akan Yesus. Teologi pneumatologi, akhirnya kristosentris. Begitulah pandangan saya.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

SABTU, 22 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.28:16-20,30-31; Mzm.11:4,5,7; Yoh.21:20-25.




Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Rita dari Gascia, Yoachina de Vedruna de Mas. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Di akhir injil kemarin ada perintah kepada Petrus: Ikutlah Aku. Bagi saya ini amat menarik. Mengapa? Setelah Petrus ditugaskan menjadi gembala atas domba-domba Tuhan Yesus, ternyata Petrus tetap dituntut untuk mengikuti Yesus. Apa artinya? Artinya jelas: Gembala utama, pemilik sejati Domba-domba tentu Yesus. Kalau Petrus dilibatkan dalam tugas penggembalaan, maka ia harus menggembalakan mereka dalam Kristus, membawa mereka kepada Yesus. Ia tidak boleh membawa mereka kepada dirinya sendiri. Jadi, sambil menggembalakan domba, Petrus harus mengikut Yesus. Bagi saya ini menarik sebagai pelajaran moral pastoral bagi pemimpin kita di tengah jemaat. Jangan sampai mereka tergoda untuk membawa domba kepada diri mereka sendiri, lalu lupa mengajak mereka bersama-sama mengikuti Yesus. Hari ini, perintah itu diulang lagi oleh Yesus. Bahwa Tuhan Yesus mengulang hal ini sekali lagi, bagi saya artinya sangat jelas: bahwa perintah itu amat penting dan mendasar. Tentu teks ini masih bisa diberi komentar dan catatan lain. Petrus setelah diberi tugas sebagai gembala, tetap terganjal karena kehadiran murid Yang dikasihi itu. Ya, dalam gereja selalu ada dua model kepemimpinan: Model kemimpinan institusional, Model kepemimpinan kharismatis. Yang terdahulu tidak boleh terganggu atau tersaingi oleh yang kemudian. Keduanya harus saling mengisi dan melengkapi. Itu yang dikehendaki Tuhan Yesus, Gembala Utama.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

JUM'AT, 21 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.25:13-21; Mzm.103:1-2,11-12,19-20ab; Yoh.21:15-19.



Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan S.Kristoforus dr Magallanes Jara, dkk (imam & martir). Mari kita mengenang mereka dalam doa kita. Injil hari ini terkenal: percakapan personal Yesus dan Petrus. Ada beberapa catatan menarik tentang teks ini. Pertama, dalam kisah sengsara versi Yohanes, tidak disebutkan bahwa Petrus sedih atau menangis ketika menyangkal Yesus. Yohanes, menunda “tangis” Petrus sampai saat ini. Kedua, dalam dialog ini, menarik bahwa Yesus tidak menyebut Petrus dengan gelarnya, Petrus, melainkan dengan nama pribadinya (Simon bin Yunus). Karena dialog ini dirancang sebagai pemulihan Petrus, maka sapaan nama pribadi itu penting. Yesus tidak mengkaitkan kelemahan masa silam Petrus dengan jabatannya sebagai batu karang, melainkan dengan pribadinya. Ketiga, mungkin perlu disadari urutan perintah Yesus kepada Petrus setelah ditanyai perihal kasihnya kepadaNya. Menurut teks asli, perintah itu punya urutan sbb: dimulai dengan perintah “Berilah makan domba-dombaKu.” (Booske probata sou). Disusul perintah kedua, “Jagalah domba-dombaKu.” (Poimaine arnia sou). Perintah ketiga, “Berilah makan domba-dombaku.” Urutan ini menarik: Tugas penggembalaan dibingkai tugas memberi makan. Tugas penggembalaan itu kongkretnya ialah memberi makan. Tidak ada gunanya penggembalaan jika domba tidak makan, ditimpa kelaparan. Wujud kongkret tugas penggembalaan ialah memberi kemakmuran dan kesejahteraan domba. Gembala tidak dapat melepaskan diri dari tanggung-jawab etis atas kesejahteraan dan kemakmuran domba. Itu perintah Tuhan sendiri. Kita tidak dapat tawar menawar dengan hal itu. Siapa pun yang mendapat tugas memimpin gereja, hendaknya tidak boleh mengabaikan fakta ini.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

KAMIS, 20 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.22:30;23:6-11; Mzm.16:1-2a,5,7-8,9-10.11; Yoh.17:20-26.




Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan St.Bernardinus dr Siena, Eugenius dari Mazenod. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Imam Agung yang kita dengar kemarin dan hari sebelumnya, dilanjutkan hari ini. Ada satu hal yang menarik di sini. Dalam injil kemarin kita dengar bahwa Yesus mengutus murid ke dunia untuk mewartakan firman yaitu kebenaran dari Allah. Pasti ada yang percaya karena pemberitaan itu. Menarik bahwa Yesus juga berdoa bagi mereka. Ia tidak hanya berdoa bagi muridNya, melainkan juga bagi mereka yang percaya karena warta para murid itu. Kita termasuk di dalamnya. Tujuan doa itu ialah agar tercipta persatuan Bapa-Anak-kaum percaya. Diharapkan persatuan itu bisa menjadi kesaksian bagi dunia sehingga mereka juga percaya. Misteri persatuan itu ditekankan lagi di sini. Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku. Aku, Yesus menjadi titik sentral, Pengantara. Misteri persatuan dinamis itu diharapkan menjadi saksi bagi dunia agar mereka percaya. Masih ada beberapa lagi permohonan Yesus: Ia ingin agar para murid diperkenankan berada di tempat di mana Ia berada. Semoga dengan itu, mereka menyaksikan kemuliaan Kristus yang diperolehNya dari Bapa. Akhirnya, Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia telah memberitahukan nama Bapa kepada mereka. Dengan itu, diharapkan mereka mendapat kasih yang diberikan Bapa kepada Anak. Yang hidup di dalam kasih, Yesus hidup di dalam diri mereka. Tidak ada lagi yang jauh lebih besar daripada karunia itu: Tuhan Yesus hidup dan tinggal dalam diri kita dan menjadi sumber kekuatan hidup kita.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

RABU, 19 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:28-38; Mzm.68:29-30,33-35a,35b-36c; Yoh.17:11b-19.



Hari ini hari biasa Pekan VII Paskah. Ada peringatan Beato Clemens dari Osimo dan Augustinus Tarano, Krispinus dari Viterbo. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Doa Yesus, Imam Agung yang kita dengar dalam injil kemarin, dilanjutkan Injil hari ini. Tuhan meminta kepada Bapa supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita: Ut omnes unum sint, sicut Tu Pater in Me, et Ego in Te. Tuhan Yesus menyatakan di hadapan Bapa dalam doaNya bahwa Ia telah melaksanakan tugasNya sebagai Gembala Yang Baik di dunia ini. Itu semua terjadi agar tidak ada yang binasa. Yesus menyampaikan semuanya ini kepada para murid, agar sukacitaNya menjadi penuh di dalam mereka. Tuhan Yesus juga meminta kepada Bapa agar sudi melindungi mereka dari yang jahat. Ia juga meminta agar Bapa sudi menguduskan mereka dalam kebenaran. Kebenaran itu ialah firman Allah sendiri. Selanjutnya, Tuhan Yesus berbicara tentang tugas perutusan yang semula dimulai dari Bapa, dan sekarang melalui Yesus Sang Putera, dilanjutkan kepada para murid. Para murid mempunyai tugas perutusan ke dalam dunia. Akhirnya, Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Ia menguduskan diriNya bagi mereka. Tujuannya agar mereka dikuduskan dalam kebenaran. Ya, Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik, dan Imam Agung, berdoa bagi kita. Bagi saya tidak ada lagi pesan yang lebih mendalam dan meyakinkan dari hal ini: Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita. Ya, Yesus sang Imam Agung, sudah berdoa bagi kita.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG

SELASA, 18 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
CENTER FOR CULTURAL AND RELIGIOUS STUDIES
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.20:17-27; Mzm.68:10-11,20-21; Yoh.17:1-11a.




Hari ini hari biasa Pekan VII masa Paskah. Ada peringatan S.Yohanes I (Paus/Martir). Ada Beato Willem Toulouse, Feliks dari Cantalice. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Injil hari ini terkenal. Biasanya disebut Doa Imam Agung, karena di sini Yesus berdoa bagi muridNya. Ada beberapa kebenaran iman dalam teks ini. Pertama, mengenai misteri relasi Bapa dan Anak. Inti relasi itu ialah Bapa mengutus Anak. Anak mendapat kuasa Bapa. Anak meminta agar kuasa itu diberikan juga kepada orang yang dituntun Bapa kepadaNya. Anak meminta agar Bapa memberi hidup kekal kepada semua orang yang menjadi pengikut. Inti hidup kekal itu ialah relasi saling mengenal antara Bapa-Anak-kaum beriman: Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. Anak mempermuliakan Bapa dengan hidupNya di dunia ini. Kini Anak meminta agar Bapa mempermuliakan Dia di hadirat Allah. Kedua, Yesus menjelaskan relasi yang terbangun antara diriNya dengan murid. Inti relasi itu ialah murid mengenal Bapa, mengenal segala firman yang disampaikan Yesus yang berasal dari Bapa. Ketiga, untuk mereka inilah Yesus berdoa: peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu namaMu yang Engkau berikan kepadaKu. Doa ini sangat penting, karena mereka masih ada dalam dunia, sedangkan Tuhan Yesus datang kepada Bapa. Kembalinya Yesus kepada Bapa tidak berarti Ia melupakan kita. Ia ingat akan kita. Ya, Tuhan Yesus sudah berdoa bagi kita, memohon kepada Allah Bapa agar sudi memelihara kita dalam namaNya. Dan itu adalah jaminan keselamatan. Semoga kita mampu menerima dan mempercayainya.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.

SENIN, 17 MEI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
LAY THEOLOGIAN DAN PENELITI CCRS
Center for Cultural and Religious Studies
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE: Kis.19:1-8; Mzm.8:2-3,4-5ac,6-7ab; Yoh.16:29-33.



Hari ini hari biasa masa Paskah. Ada peringatan St.Gemma Galgani dan Paskalis Boylon. Mari kita mengenang mereka dalam hidup dan doa kita. Ada beberapa hal menarik yang disampaikan injil hari ini. Pertama, setelah lewat suatu proses panjang, akhirnya para murid sampai kepada pemahaman akan Yesus. Tidak hanya sampai di situ: mereka juga bermuara kepada pengakuan iman akan Yesus. Mereka percaya bahwa Ia berasal dari Allah. Kedua, perkataan Yesus yang menubuatkan mengenai datangnya kekacauan yang akan mencerai-beraikan murid dan mereka akan meninggalkan Tuhan Yesus sendirian. Tetapi Tuhan Yesus memastikan bahwa sesungguhnya Ia tidak pernah sendirian, karena Bapa selalu menyertaiNya. Ketiga, Tuhan Yesus mengungkapkan semuanya ini dengan jelas agar para murid mendapat damai sejahtera dalam Yesus. Ini penting, karena dalam dunia para murid mengalami aniaya. Tetapi aniaya itu jangan sampai menciutkan hati para murid. Tuhan Yesus meneguhkan hati mereka dengan meminta agar mereka berusaha menguatkan hati. Alasannya, karena dunia itu bukan segala-galanya. Ia bukan apa-apa sama sekali. Tuhan Yesus mengatakan dengan pasti bahwa Ia telah mengalahkan dunia. Ada banyak cemas dan gelisah menimpa manusia di tengah hidup dunia ini. Tetapi sebagai orang yang percaya dan hidup dalam Yesus, kita harus percaya dan optimis bahwa ada jalan keluar dari pelbagai masalah hidup di dunia ini. Kita percaya akan hal itu dengan pasti karena Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa Ia mengalahkan dunia. Semoga kita mau dan mampu menerima dan percaya akan hal itu.


BANDUNG, MEI 2010
SIS B, CCRS FF-UNPAR BANDUNG.

Minggu, 16 Mei 2010

MINGGU, 11 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Ul.30:10-14; Mzm.69:14,17,30-31,33-34,36ab,37 (Mzm.19:8,9, 10,11; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37
.



Injil hari ini terkenal: orang Samaria yang baik hati. Injil dimulai dengan dialog Yesus dengan ahli Taurat tentang syarat memperoleh hidup kekal. Yesus menjawab dengan pertanyaan balik tentang perintah Taurat. Syarat itu adalah perintah kasih kepada Tuhan dan sesama. Yesus tahu hal itu. Orang Farisi itu juga tahu. Tetapi itu barulah pengetahuan (rasional, teoretis). Yesus menantang orang itu untuk mewujudkan apa yang rasional-teoretis menjadi praksis, menjadi perbuatan. Di situ muncul soal baru, menyangkut definisi sesama: Siasa sesama? Menarik bahwa Yesus tidak memberi jawaban teoretis, melainkan memberi perumpamaan. Ada orang menjadi korban perampokan dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yeriko. Mula-mula lewat imam. Ia tidak mau menolong, bahkan terkesan menghindar karena ia “melewatinya dari seberang jalan.” Lalu lewat seorang Lewi. Juga berbuat sama: lewat dari seberang jalan. Tidak sudi mendekati, melihat yang terjadi. Menjauhi korban. Lalu lewat seorang Samaria. Berbeda dengan kedua orang terdahulu, orang Samaria ini punya hati, karena ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, misericordia, hati yang merasa perih, berperih-hati, prihatin. Orang inilah sesama dari korban perampokan itu. Orang Farisi menebak dengan tepat. Sekali lagi Yesus menantang mereka untuk berbuat seperti itu dan tidak hanya membiarkan hukum ada dalam alam teoretis di awang-awang. Agak sulit melihat kaitan Injil dan Bc.II. Sebaiknya kita melihat dulu Bc.I. Perintah Allah untuk berbuat baik dan kasih, sesungguhnya ada dalam hati kita. Tidak terlalu jauh di seberang lautan, juga tidak tergantung tinggi di awan (sebagai pengetahuan teoretis spekulatif) melainkan ada dalam hati. Itulah yang diingatkan Yesus kepada kita dalam injil hari ini. Kristus sumber utama hukum kita. Siapa Yesus itu? Dia adalah gambar Allah yang kelihatan, sebagaimana dibentangkan dalam Bc.II, dalam madah keutamaan Kristologis yang terkenal itu.


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 04 JULI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.66:10-14c; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a,16,20; Gal.6:14-18; Luk.10:1-12,17-20 (Luk.10:1-9).




Injil hari ini berkisah tentang pengutusan tujuh puluh murid berdua-dua. Mereka harus mewartakan Kerajaan Allah. Pengutusan ini perlu karena ada banyak tuaian di ladang Tuhan. Tugas ini tidak mudah karena ada tantangan bahkan ancaman yang tersirat dalam ibarat: Mereka bagai domba diutus ke tengah serigala. Ada beberapa syarat yang harus mereka ikuti dalam tugas itu. Pertama, mereka harus pergi tanpa “modal”. Mereka harus sepenuhnya percaya kepada penyelenggaraan kasih Allah. Kedua, jangan memberi salam. Ini sulit dipahami. Biasanya para penafsir mengatakan bahwa karena tugas ini penting, maka basa-basi yang tidak perlu dianggap menghambat. Ketiga, ketika memasuki rumah orang mereka harus mengucapkan salam damai. Keempat, tinggal tetap di tempat yang pertama kali menerima mereka. Jangan berpindah-pindah seperti pertapa berkeliling yang hanya mencari hidup enak dan senang (gyrovagi). Itu tidak baik karena menimbulkan pergunjingan sosial. Kelima, mereka harus makan dan minum apa yang dihidangkan. Keenam, mereka harus menyembuhkan orang sakit. Akhirnya, mereka harus mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kalau tidak diterima di suatu tempat, jangan bikin soal, melainkan pindah ke tempat lain dengan mengebaskan debu kaki. Akhirnya setelah kembali, mereka melaporkan apa yang mereka alami. Di situ kita melihat pelukisan mengenai pengalaman rohani Yesus: Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Para murid bersukacita. Tetapi Yesus menekankan agar mereka bersukacita bukan karena perbuatan ajaib yang mereka kerjakan, melainkan karena mereka diterima dalam kerajaan surga. Kemampuan membuat mukjizat jangan sampai membuat mata tersilap. Paulus mengingatkan kita bahwa alasan kita berbangga, kiranya bukan mukjizat melainkan berbangga karena salib Tuhan kita (Bc.II). Ya, hanya satu alasan bagi kita untuk bersukacita, yaitu bersukacita karena dan di dalam dan bersama dengan Tuhan (Bc.I).


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

Sabtu, 15 Mei 2010

SELASA, 29 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Kis.12:1-11; Mzm.34:2-3,4-5,6-7,8-9; Mzm.34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim.4:6-8,17-18; Mat.16:13-19.




Hari ini hari raya St.Petrus dan St.Paulus. Sudah menjadi kebiasaan dalam tradisi liturgis gereja bahwa kedua rasul agung ini dirayakan bersama. Injil hari ini membentangkan beberapa hal penting. Pertama, pengakuan Petrus. Bagian ini sangat terkenal. Petrus mengucapkan pengakuan imannya yang terkenal: Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup. Pengakuan itu muncul di tengah keragaman pemahaman orang akan Yesus (pemahaman Kristologis yang jamak). Tetapi para murid harus mampu memilih salah satu. Petrus sudah melakukan itu bagi kita semua. Itu sebabnya dalam bagian kedua, Yesus memuji Petrus. Dalam hal ini Matius berbeda dari kedua injil Sinoptik. Mereka hanya sampai pada pengakuan Petrus. Matius melangkah lebih lanjut: pujian Yesus kepada Petrus. Menurut Yesus, Petrus dapat sampai kepada pengakuan iman karena digerakkan Bapa. Jadi, karunia beriman pun adalah rahmat Allah. Bukan karena daya kekuatan sendiri. Pengakuan iman itu dikaitkan Yesus dengan Petrus sebagai pribadi, bukan karena jabatannya. Sebab Yesus menyapa Petrus tidak dengan gelar atau jabatannya, melainkan dengan nama pribadinya: Simon anak Yunus. Petrus diberi kuasa dan otoritas. Bagi kita orang Katolik inilah awal tradisi kuasa Paus Roma, authoritas petrini. Lalu Paulus? Tidak disebut di sini. Tetapi ini berawal dari tradisi Roma yang memandang bahwa kedua tokoh gereja purba ini, yang sangat berjasa bagi gereja, sama-sama menjadi martir di Roma. Maka keduanya diberi tempat yang satu dan sama dalam pengenangan dan perayaan liturgis gereja.


SIS B
CCRS UNPAR BANDUNG

MINGGU, 27 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. 1Raj.19:16b,19-21; Mzm.16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Gal.5:1,13-18; Luk.9:51-62.




Ada beberapa hal yang disampaikan injil kepada kita hari ini. Pertama, mengenai sikap Yesus terhadap Samaria. Dilukiskan bahwa dalam perjalananNya ke Yerusalem, Ia menugaskan para muridNya agar mampir di desa Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu. Tetapi orang Samaria menolak mereka karena tahu bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke Yerusalem. Para murid marah lalu mohon ijin kepada Yesus agar diperkenankan mengutuk kota itu. Tetapi Yesus tidak memperkenankan hal itu: Jika ada penolakan, janganlah menimbulkan masalah. Lebih baik pergi ke tempat lain dan mencari kemungkinan lain di sana. Itulah pelajaran yang penting dan berharga bagi kita. Kedua, mengenai beberapa segi dalam hal mengikuti Yesus. Salah satunya: Jika mau mengikuti Yesus, jangan berharap untuk menjadi kaya dan hidup mewah, sebab Yesus tidak mempunyai apa-apa. Yang lain: mengikuti Yesus harus total, sehingga tidak ada alasan untuk kembali. Segi yang lain lagi: mengikuti Yesus harus konsisten dan tegas. Kalau kita mengikuti Yesus, kita dipanggil menjadi orang merdeka. Tetapi jangan sampai kita menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk hidup dalam dosa. Melainkan kita harus hidup dalam saling melayani (Bc.II). Dalam Bc.I kita membaca mengenai kisah panggilan Elisa. Begitu ia dipanggil Elisa mengikuti Elia dan menjadi abdi bagi sang Abdi Allah itu. Ia menjadi abdi bagi sang Abdulah. Itulah martabat Elisa yang kiranya dapat menjadi ilham bagi kita semua.


SIS B
CCRS FF-UNPAR BANDUNG

Jumat, 14 Mei 2010

KAMIS, 24 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Yes.49:1-6; Mzm.139:1-3,13-14ab,14c-15; Kis.13:22-26; Luk.1:57-66,80.



Hari ini hari raya kelahiran S.Yohanes Pembaptis. Hari ini menjadi sangat istimewa bagi saya karena hari ini hari lahir puteri saya dan karena itu diberi nama sama. Injil hari ini amat terkenal dan kita akrab dengan teks itu. Dalam hidup ini selalu ada kemungkinan Tuhan mengerjakan mukjizat yang melampaui pikiran kita. Selalu ada orang yang tidak dapat dan tidak mau menerima adanya kemungkinan itu. Salah satu orang seperti itu ialah Zakaria. Karena itu ia mengalami peristiwa tragis-dramatis: menjadi bisu sejak kabar perkandungan Elisabet di masa tuanya. Masuk akal, karena dirinya yang sudah “mati pucuk” dan isterinya yang “kering sumber” tidak mungkin lagi mendapat anak di masa tua. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Elisabet mengandung. Tidak main-main: Zakaria kelu selama Sembilan bulan. Ketika anak itu lahir, barulah ia bisa bicara kembali. Perhatikan bahwa kata-kata pertama yang terucap dari bibirnya ialah untaian kidung: Kidung Zakaria yang terkenal itu (walau tidak menjadi bagian dari injil hari ini). Bc.II menyinggung hal ini secara singkat terutama mengenai karyanya yang mewartakan tobat. Campur tangan istimewa Allah dalam hidup Yohanes, sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Allah memanggil dia sebelum ia lahir. Seperti dikatakan dalam Bc.I: TUHAN memanggil aku sejak dari kandungan, dan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Jelas ini penyelenggaraan ilahi yang luar biasa bagi Yohanes dan bagi kita semua juga.


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

MINGGU, 20 JUNI 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
TEOLOG DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE. Za.12:10-11; 13:1; Mzm.63:2abcd,2e-4,5-6,8-9; Gal.3:26-29; Luk.9:18-24.



Injil hari ini sangat terkenal. Ia membentangkan di hadapan kita tiga pokok penting. Pertama, mengenai pengakuan Petrus. Pengakuan ini diawali dengan dialog antara Yesus dan para muridNya. Ia menanyai mereka tentang pendapat orang mengenai Dia. Ternyata ada beragam jawaban dan pandangan mengenai Kristus. Itu yang disebut keragaman kristologis dalam Perjanjian Baru. Tetapi di tengah keragaman itu para murid dituntut untuk memegang satu pengakuan pokok bagi mereka. Petrus melakukan hal itu dengan pengakuan: Engkaulah, “Mesias dari Allah.” Kedua, mengenai pemberitahuan pertama tentang sengsara Yesus: Ia akan menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh, tetapi kemudian dibangkitkan. Ketiga, mengenai syarat mengikuti Yesus. Menarik bahwa poin ketiga ini dikaitkan penginjil dengan poin kedua. Nubuat mengenai sengsara dikaitkan langsung dengan tuntutan menjadi murid. Syarat satu-satunya ialah kerelasediaan dan kemampuan untuk memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Tuhan. Ini sangat penting karena ini yang menjadi penjamin shalom bagi kita. Dengan caranya sendiri Paulus melukiskan kenyataan ini dalam Bc.II: kita semua yang sudah dibaptis, pasti telah mengenakan Kristus. Maka melalui iman di dalam Yesus Kristus, kita semua adalah anak-anak Allah. Melalui Yesus kita mendapat rahmat penebusan. Hal itu sudah dinubuatkan juga dalam Perjanjian Lama: Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga Daud dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran (Bc.I).


SIS B
CCRS FF UNPAR BANDUNG

Rabu, 12 Mei 2010

MINGGU, 25 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.13:14,43-52; Mzm.100:2,3,5; Why.7:9,14b-17; Yoh.10:27-30.




Hari ini hari Minggu Panggilan. Gereja mengajak kita agar turut menyuburkan panggilan hidup kaum beriman; itu berarti juga menyuburkan panggilan hidup kita masing-masing. Tentu gereja berharap agar di tengah kesadaran akan panggilan umum umat beriman itu, juga ditumbuh-kembangkan kesadaran dan penghargaan akan panggilan khusus, menjadi imam, biarawan-wati. Sebab itu adalah kesaksian hidup gereja yang dilandaskan pada nasihat Injil. Saya rasa, mungkin itu sebabnya Injil hari ini mengajak kita mendengar tentang relasi intim dan unik antara gembala dan kawanan. Dikatakan bahwa ada relasi saling mengenal antara gembala dan kawanan. Walau dulu gembala itu satu-satunya Yesus Kristus (sekarang masih demikian), toh imam berdasarkan martabat imamatnya berpartisipasi dalam tugas kegembalaan Kristus. Relasi saling mengenal itu tidak hanya berlaku antara kita dan Kristus gembala utama, melainkan antara umat dan pimpinan gereja setempat (uskup dan imam). Harus ada relasi saling mengenal. Kata mengenal ini dalam Kitab Suci mempunyai arti yang sangat mendalam: ia mencakup hal mencintai, mencakup kerela-sediaan berkorban, kerelasediaan mengikuti Yesus dengan setia, dst. Memang seharusnya demikianlah relasi gembala dan domba. Bc.I mengisahkan penolakan terhadap ajaran Paulus dan Barnabas, yang mengajarkan tentang Yesus. Hal seperti ini juga bisa terjadi dewasa ini: orang tidak mau menerima kita karena nama Yesus. Itu adalah risiko yang tidak terhindarkan. Tetapi itu bukan alasan untuk takut atau mundur. Itulah peluang bersaksi. Jika kita bertahan dalam cobaan ini, kita akan menjadi jemaat baru yang mengalami shalom baru karena dituntun Anak Domba (Bc.II, ay.16-17). Semoga kita pantas menjadi jemaat baru itu.

SABTU, 24 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:31-42; Mzm.116:12-13,14-15,16-17; Yoh.6:60-69.




Injil hari ini melanjutkan injil kemarin. Perkataan Yesus yang kemarin kita dengar memang cukup keras dan susah dipahami. Muncul reaksi baru di kalangan pendengar. Itu yang kita baca hari ini. Ada dua reaksi yang muncul. Pertama, ada yang mulai ragu. Mula-mula mereka merasa bahwa perkataan itu keras dan tidak masuk akal. Yesus masih sempat menantang mereka dan mencoba mengatasi situasi dengan mengulas wacana itu lebih jauh. Tetapi Yesus sadar bahwa memang tidak mudah untuk percaya. Di antara mereka memang ada yang tidak percaya. Hal itu wajar, sebab hal datang dan percaya kepada Yesus bukan sekadar peristiwa manusiawi. Hal datang dan percaya kepada Yesus adalah anugerah Allah: “Tidak seorang pun yang dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Jadi, itu adalah rahmat dari Bapa di surga. Rupanya tidak semua orang siap dan dapat menerima rahmat itu. Maka mereka mundur dan pergi. Kedua, Yesus menantang kelompok yang lebih kecil, kelompok Duabelas. Setelah melihat orang banyak pergi, Yesus tidak main-main dengan ajaranNya. Sekarang Ia menantang mereka: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Ini sebuah pertanyaan yang tidak main-main, pertanyaan yang mengandung tantangan, yang akan mempengaruhi totalitas hidup di masa yang akan datang. Itu sebabnya para murid diam. Mereka tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya tampillah Petrus menjadi juru bicara. Itulah yang ingin saya angkat sebagai pesan istimewa hari ini: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Engkau memiliki perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah.”

JUM'AT, 23 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.9:1-20; Mzm.117:1,2; Yoh.6:52-59.




Injil kita hari ini merupakan kelanjutan dari injil kemarin. Kemarin Yesus berkata bahwa Ia memberi dagingNya untuk hidup dunia. Perkataan itu menimbulkan perbantahan di antara orang-orang Yahudi. Muncul salah paham. Dikira ini sebuah ritual kanibalisme. Untuk mencegah salah paham itu terus berkembang tidak karu-karuan, Yesus melanjutkan wacanaNya. Wacana ini dapat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, mula-mula Yesus mengatakan bahwa syarat agar kita dapat memiliki hidup dalam diri kita sendiri ialah jika kita makan daging Anak Manusia dan minum darahNya. Hal makan daging Yesus dan minum darahNya, itulah yang menjadi prasyarat bagi hidup kekal dan bagi kebangkitan pada akhir jaman. Kedua, lalu Yesus memberikan alasan mengapa hal itu sangat penting. Itu tidak lain karena dagingNya adalah benar-benar makanan dan darahNya adalah benar-benar minuman. Ketiga, hal makan daging dan minum darah Tuhan, itulah yang menjadi prasyarat mutlak berdiamnya kita di dalam dan bersama dengan Tuhan. Bahkan itulah juga yang menjadi prasyarat hidup: “...demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Makanan istimewa inilah yang disebut roti yang turun dari surga, roti para malaekat, panis angelicus (panis angelorum). Roti ini istimewa karena tidak sama dengan roti di padang gurun dulu. Roti ini memberi kehidupan kekal bagi yang memakannya. Jelas sudah bahwa ini adalah tantangan rohani yang sangat besar yang dibentangkan di hadapan kita. Tinggal kita mau percaya atau tidak. Mari kita santap roti surgawi ini setiap hari agar kita hidup di dalam dan bersama Yesus, dan di dalam Yesus kita mencapai hidup yang kekal dan kelak pada akhir zaman dibangkitkan olehNya.

KAMIS, 22 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9,16-17,20; Yoh.6:44-51.




Injil hari ini masih melanjutkan tentang wahyu diri Yesus sebagai roti kehidupan. Tetapi sebelum sampai ke sana ada beberapa misteri iman yang dikemukakan. Pertama, rasa tertarik orang untuk datang kepada Yesus, ternyata bukan sekadar rasa tertarik yang alami, melainkan digerakkan oleh Bapa. Hanya Bapa yang memungkinkan orang tertarik dan datang kepada Yesus. Kedua, Yesus menegaskan bahwa siapa saja yang percaya akan hal ini, orang itu akan memperoleh hidup yang kekal. Itu terjadi setelah ia dibangkitkan pada akhir zaman. Ketiga, sekali lagi Yesus mewahyukan diri sebagai Roti Kehidupan: Akulah Roti kehidupan. Ego sum panis vitae. Atau ego eimi ho artos tes zoees. Lalu muncul perbandingan antara manna dan roti baru ini. Roti padang gurun itu memang telah mengenyangkan tetapi tetap berujung pada maut. Sedangkan roti baru ini, ialah roti yang turun dari surga. Siapa yang makan roti ini, tidak akan mati. Yesus sekali lagi menyatakan diri sebagai Roti kehidupan yang telah turun dari surga itu. Inilah misteri hubungan abadi antara Yesus dan orang yang percaya kepadaNya. Roti yang diberikan Yesus itu ialah tubuhNya sendiri. Yesus memberikan dagingNya untuk hidup dunia. Harus diakui bahwa sungguh tidak mudah mencari pesan praktis dari untaian wacana mistik dan spiritual ini. Namun demikian, saya dapat mengatakan sebagai berikut: Hanya Bapa yang bisa menggerakkan kita untuk datang dan percaya kepada Yesus. Begitu kita sudah percaya kepada Yesus, maka kita sudah masuk ke dalam hidup yang kekal karena namaNya. Tetapi ini bukan otomatisme shalom. Tetap dituntut agar kita benar-benar mau membangun mutu dan kematangan serta kedalaman relasi itu.

RABU, 21 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.8:1b-8; Mzm.66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh.6:35-40.




Injil hari ini dimulai dengan bagian akhir dari injil kemarin, yaitu wahyu Yesus sebagai roti kehidupan. Yesus sudah bisa melihat dan menilai motif kedatangan orang banyak itu kepadaNya. Rupanya mereka datang bukan untuk menjadi percaya, melainkan hanya datang untuk sekadar menjadi penonton yang pasif saja. Itu sebabnya Yesus berkata: “Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.” Tidak ada metanoia di sana. Tidak ada perubahan hidup. Tidak ada pembalikan nilai-nilai. Boleh jadi memang ada juga model orang seperti ini, yang datang hanya sebagai penggembira saja dalam hidup beriman, dan menjemaat. Tidak lebih dari itu. Tetapi sekaligus juga Tuhan menyiratkan bahwa ada yang memang sungguh datang untuk percaya kepadaNya. Tentang mereka ini Yesus menegaskan mengenai nasib mereka: mereka tidak akan disia-siakan. Injil sendiri mengatakan demikian: “Semua yang diberikan Bapa kepadaku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Di sini kita temukan satu kebenaran iman dan teologis: bahwa keinginan untuk datang kepada Yesus itu adalah sebuah anugerah. Itu sebabnya Yesus tidak akan menyia-nyiakan mereka karena Yesus mau melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya. Kehendak Bapa yang mengutus itu sangat jelas ditegaskan di sini: yaitu siapa saja yang diberikan Bapa kepada Dia, tidak akan ada yang hilang. Sebaliknya mereka akan dibangkitkan Tuhan pada akhir jaman. Mereka akan mendapat hidup yang kekal. Dan hidup yang kekal itu dimulai dengan peristiwa pembangkitan itu pada akhir jaman. Ya, hari ini mari kita sekali lagi membawa seluruh diri dan hidup kita kepada Yesus, mempersembahkan dan mempercayakannya sepenuhnya kepada penyelenggaraan Dia saja.

SELASA, 20 APRIL 2010

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
DOSEN TEOLOGI DAN PENELITI CCRS
(Center for Cultural and Religious Studies)
FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG
BcE.Kis.7: 51-8:1a; Mzm.31:3cd-4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh.6:30-35.




Injil hari ini melanjutkan injil yang kita dengar dan kita baca kemarin. Dilukiskan di sini bahwa orang-orang itu, agar bisa percaya, membutuhkan dan menuntut tanda. Itu sebabnya hari ini mereka meminta tanda ajaib. Rupanya mukjizat yang dikerjakan Yesus belum cukup bagi mereka sebagai tanda. Mereka meminta lebih. Dikasih betis, minta paha. Itu sebabnya mereka “memancing” Yesus dengan mengisahkan Manna yang diperoleh leluhur mereka di padang gurun sebagai karya mukjizat tanda penyertaan Yahweh. Terhadap hal itulah Yesus memberi jawaban. Di dalam jawaban itu Yesus mempertentangkan antara “roti dari surga” dan “roti yang benar dari surga.” Dikatakan bahwa bukan Musa yang memberi roti itu, melainkan Bapa yang memberikan roti yang benar dari surga. Roti yang benar dari surga ini mempunyai tiga sifat: pertama, karena diberikan Bapa, maka roti ini berasal dari Allah. Kedua, roti itu turun dari surga (tempat kediaman Allah Bapa). Ketiga, roti itu memberi hidup kepada dunia. Kemarin saya sudah menyinggung bahwa orang banyak datang mencari Yesus karena dihantui oleh hantu ketagihan dan penasaran. Sekarang kedua hantu itu datang lagi setelah mereka mendengar perkataan Yesus. Mendengar betapa istimewanya roti yang diberikan Bapa itu, maka mereka pun tidak segan-segan memintanya: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Di hadapan permintaan ini Yesus akhirnya menyampaikan salah satu perwahyuan diriNya yang unik: “Akulah roti kehidupan...” Di hadapan Yesus sebagai roti hidup ada dua pilihan: Pertama, datang kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan lapar lagi. Kedua, percaya kepada Yesus. Hasilnya, kita tidak akan haus lagi.